TRANSKRIP​EPISODE 5

(Versi bahasa Inggris)

Episode Lima

Dari Warung ke Wall Street:

Prospek IPO Teknologi Indonesia bersama

Andy Tai dari Goldman Sachs

IndoTekno Podcast, 23 Juni 2020

 

ALAN 0:10
Selamat datang kembali pada episode Indo Tekno kami yang kelima. Indo Tekno adalah podcast mingguan di mana kami mengundang para tamu untuk membahas semua hal yang terkait teknologi di Indonesia. Podcast akan tersedia dalam bahasa Inggris dilengkapi dengan transkrip Bahasa Indonesia. Kami akan memberikan transkrip Bahasa Indonesia di situs web kami. Nama saya Alan Hellawell. Saya adalah tuan rumah dari Indo Tekno. Saya juga pendiri konsultan teknologi bernama Gizmo dan merupakan Venture Partner di Alpha JWC Ventures.

Hari ini adalah hari pertama dari Fase Dua "Circuit Breaker" di Singapura, dimana gerai ritel, restoran, dan perusahaan lain mulai dibuka kembali. Nyatanya, terdapat banyak kesamaan antara pembukaan kembali ekonomi Singapura saat ini dan topik podcast kami; apakah jalur menuju Penawaran Saham Perdana atau Initial Public Offering (IPO) akan dibuka kembali ke Asia Tenggara dan khususnya perusahaan teknologi Indonesia, setelah tidak aktif untuk beberapa tahun. Untuk mengetahui dimana teknologi Indonesia berada pada jalur penempatan IPO ke bursa asing, kami telah membawa salah satu yang terbaik dan paling berpengalaman dalam bisnis ini, Andy Tai dari Goldman Sachs. Saya bekerja dengan Andy dan tim Goldman Sachs ketika saya menjadi Chief Strategy Officer di Sea Group menjelang IPO Oktober 2017 di New York Stock Exchange (NYSE). Goldman Sachs juga membantu kami di Sea Group dengan sejumlah penggalangan dana pasca-IPO lainnya pada tahun 2018. Andy, terima kasih banyak telah bergabung dengan kami. Maukah Anda berbagi mengenai latar belakang Anda?

ANDY, GOLDMAN SACHS 1:48
Tentu Alan, dan terima kasih atas undangan untuk bergabung dengan podcast. Halo semuanya. Sebagai latar belakang, saya seorang Managing Director dari Goldman Sachs. Saya sudah bersama Goldman sekitar empat 14 tahun. Belakangan ini saya menghabiskan sebagian besar waktu saya menjalankan bisnis teknologi kami di ranah Asia Tenggara; meliputi pengawasan dan memberi wawasan bagi perusahaan teknologi besar di Asia Tenggara.

ALAN 2:17
Jadi Anda adalah seorang investment banker. Bagi audiens yang bukan praktisi, dapatkah Anda menggambarkan apa yang sebenarnya Anda lakukan sebagai investment banker?

ANDY, GOLDMAN SACHS 2:27
Tentu Alan. Sebagai seorang investment banker, sebenarnya ada dua bagian bisnis. Di satu sisi adalah bagian penasihat bisnis yang melibatkan klien kami di mengenai merger dan akuisisi, terutama untuk perusahaan yang ingin menjual diri mereka sendiri atau mengakuisisi perusahaan lain. Menurut saya, hal tersebut adalah setengah dari bisnis yang sebenarnya kami lakukan. Bagian lain dari bisnis yang kami fokuskan adalah peningkatan modal. Hal ini bisa memiliki berbagai bentuk, seperti penawaran saham, penawaran utang, maupun obligasi konversi. Bagian ini adalah di mana saya menghabiskan sebagian besar waktu saya untuk menasihati perusahaan teknologi yang memiliki pertumbuhan tinggi tentang rencana mereka untuk meningkatkan modal, dan bagaimana hal itu sesuai dengan rencana pertumbuhan mereka juga.

ALAN 3:18
Fantastis. Nah, inilah topik yang kami harapkan untuk dibahas hari ini dengan Anda, Andy. Saya tahu Goldman Sachs merupakan investor aktif dalam sektor teknologi. Bisakah Anda berbicara lebih banyak mengenai hal ini?

ANDY, GOLDMAN SACHS 3:28
Tentu. Saya senang Anda mengangkat topik tersebut karena tidak banyak orang tahu ini. Semua orang menganggap Goldman Sachs sebagai bank investasi global besar. Kami juga memiliki bagian lain dari bisnis kami, yang mana—sejauh kami menyukai bisnis teknologi yang memiliki pertumbuhan tinggi—kami juga secara aktif menggunakan modal dan berinvestasi dalam bisnis tersebu. Beberapa contoh: kami adalah salah satu investor awal di Alibaba. Saat ini, secara global, kami adalah pemegang saham di Uber. Kami juga memiliki saham di Spotify. Lebih dekat dengan Asia Tenggara, kami merupakan pemegang saham di Momo Wallet, Spark Systems di Singapura, dan beberapa jenis investasi teknologi tinggi lainnya di Asia Tenggara.

ALAN 4:17
Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, saya mengenal Anda ketika bekerja dengan Anda di IPO Sea Group pada akhir 2017. Bisakah Anda berbagi dengan kami contoh pekerjaan lain yang telah Anda lakukan dalam skala regional di ranah teknologi?

ANDY, GOLDMAN SACHS 4:30
Banyak waktu kita dihabiskan untuk melakukan konsultasi peningkatan modal di pasar swasta. Beberapa penggalangan dana baru-baru ini kami lakukan untuk Ninja Van, Q Express. Bahkan untuk Sea Group, sebelum perusahaan menjadi publik, kami menyarankan dua putaran private financing.

ALAN 4:50
Sebuah pertanyaan besar untuk Anda, Andy. Ekonomi global jelas menghadapi masalah yang tidak diketahui dalam kehidupan kita, namun indeks yang mempertimbangkan teknologi seperti NASDAQ kini dekat dengan puncaknya. Apa implikasi dari hal ini, terutama yang berkaitan dengan sektor teknologi?

ANDY, GOLDMAN SACHS 5:05
Sebagain besar implikasinya sangat positif untuk sektor teknologi. Tetapi yang lebih penting, hal ini menyoroti gangguan digital dan teknologi yang sering kita lihat di ruang teknologi. Investor publik menyadari hal itu; dalam beberapa hal COVID, meski jelas menggantung untuk seluruh lingkungan ekonomi makro, dalam banyak hal telah mempercepat adopsi digital dari banyak layanan dan produk sehari-hari yang kita gunakan. Level tertinggi sepanjang masa yang Anda singgung di NASDAQ adalah refleksi dari hal tersebut. Orang-orang mengetahui adanya percepatan adopsi digital. Perusahaan teknologi di wilayah kami berada di posisi yang sangat baik untuk mendapat manfaat dari hal itu. Ada harapan bahwa sementara investor membayar valuasi tinggi hari ini untuk saham, terutama di sekitar teknologi, mereka sangat percaya bahwa perusahaan teknologi akan menjadi generator pertumbuhan yang tinggi dan akan memiliki profitabilitas jangka panjang

ALAN 6:11
... setidaknya ada hal baik yang bisa diambil dalam situasi yang sebaliknya menantang. Sekarang, Andy, seperti yang Anda dan saya tahu, pasar yang telah memberikan IPO dalam jumlah terbesar ke NASDAQ dan NYSE di AS jelas merupakan China. Saat ini ada lebih dari 160 perusahaan Cina yang terdaftar di AS. Kebanyakan dari mereka adalah perusahaan internet dan e-commerce. Menurut perhitungan saya, mereka memiliki nilai sekitar 1,5 triliun dolar AS, atau apa yang kita sebut "kapitalisasi pasar". Dari Asia Tenggara, terdapat satu perusahaan internet tunggal yang terdaftar di AS, Sea Group, dengan kapitalisasi pasar sebesar 50 miliar dolar AS. Mengapa perbedaan besar antara Cina dan Asia Tenggara di sini?

ANDY, GOLDMAN SACHS 7:00
Di posisi sekarang ini, jelas hanya ada satu perusahaan Asia Tenggara yang bersifat publik, seperti yang Anda singgung. Tetapi apakah di masa depan akan ada banyak perusahaan lain yang terdaftar di AS dari Asia Tenggara? Menurut saya jawabannya adalah ya. Menurut saya ini hanya masalah waktu. Jika kita duduk di sini melakukan percakapan ini 20 atau 30 tahun yang lalu, yang akan Anda tanyakan kepada saya adalah "Mengapa tidak ada perusahaan teknologi China nyata yang terdaftar di AS?" Dalam pikiran saya, ini hanyalah evolusi pasar. Secara alami, AS adalah yang paling matang dan berkembang dalam hal evolusi teknologi, dan Cina telah mengikuti itu. Kami sebagai perusahaan jelas memiliki proyeksi yang positif di Asia Tenggara, karena Asia kemungkinan akan menjadi area utama pertumbuhan dan adopsi teknologi. Jadi, sementara kita hanya memiliki satu perwakilan Asia Tenggara di pasar modal AS, saya pikir sebenarnya hanya masalah waktu bahwa pasar akan berkembang dan kita akan memiliki lebih banyak perusahaan Asia Tenggara yang terdaftar di AS.

ALAN 8:08
Sungguh menggembirakan mendengarnya. Mari kita kencangkan fokus ke Indonesia. Apa hal penting yang harus dicapai oleh perusahaan teknologi di Indonesia agar IPO mulai mengalir?

ANDY, GOLDMAN SACHS 8:20
Saya pikir Indonesia selalu berada di urutan teratas daftar investor dari sudut pandang pasar sebagai salah satu ekonomi terbesar di dunia dengan ukuran populasi yang juga sangat besar. Jadi dari hari pertama, pasar Indonesia telah sangat menarik bagi investor. Apa yang perlu dipahami lebih lanjut dari investor mengenai perusahaan teknologi adalah eksekusinya, dan bagaimana mereka mengarahkan konsumen ke lingkungan digital. Maksudnya saya bagaimana? Saya pikir, untuk menjawab pertanyaan Anda secara lebih spesifik, perusahaan teknologi di Indonesia jelas akan perlu fokus pada mempertahankan pertumbuhan pendapatan di baris teratas dan mempertahankan keterlibatan pengguna yang kuat; saya pikir ini semua hal yang biasanya kami fokuskan dengan perusahaan teknologi yang memiliki pertumbuhan tinggi. Tetapi yang lebih penting (dan saya merasa ini masalah waktu) adalah poros untuk profitabilitas yang nyata. Saya pikir itu akan menjadi penting karena perusahaan berpikir tentang rencana bisnis mereka untuk IPO adalah mengenai: kapan waktu yang tepat untuk mulai memonetisasi basis pengguna mereka? Kapan waktu yang tepat untuk mengurangi fokus pada pertumbuhan, dengan benar-benar berpaling ke pola pikir untuk menghasilkan keuntungan? Saya pikir, sejauh yang mereka bisa, itu akan memberi mereka valuation yang sangat kuat di pasar publik.

ALAN 9:48
Itu saran yang sangat jelas. Terima kasih untuk itu. Saya saat ini bekerja dengan sejumlah perusahaan saat mereka mempersiapkan IPO; mungkin selama dua hingga tiga tahun ke depan. Andy, bagaimana Anda mendefinisikan IPO yang sukses secara konvensional?

ANDY, GOLDMAN SACHS 10:01
Kami selalu memulai dari posisi dimana kami mencoba menciptakan situasi yang saling menguntungkan. Dari sudut pandang Sea Group, jelas mereka adalah perusahaan publik pertama yang terdaftar di AS dari Asia Tenggara. Jadi ada tonggak penting; ini adlaah IPO yang sukses, dalam arti bahwa kami membuat investor sangat bersemangat dengan bisnis ini, dan mereka akhirnya masuk dan berinvestasi melalui IPO. Ketika kami mendaftarkannya, Sea Group itu memiliki kapitalisasi pasar miliaran digit yang cukup tinggi. Dan saat ini, seperti yang Anda sebutkan, Sea Group adalah perusahaan 45 miliar dolar AS hingga 50 miliar dolar AS. Pemegang saham kami sangat senang dengan investasi mereka dan saya pikir itu benar-benar menentukan IPO yang sukses.

ALAN 10:43
Andy, pada hitungan terakhir, ada lebih dari 60 bursa saham utama di seluruh dunia. Menurut anda, mana yang paling layak untuk dicatat oleh perusahaan Indonesia?

ANDY, GOLDMAN SACHS 10:54
Ketika kami memikirkan lokasi atau tempat yang tepat untuk didaftar perusahaan-perusahaan Indonesia, kami memasukkan kombinasi faktor: 1) di mana basis investor teknologi yang paling cerdas dan berpendidikan tinggi, 2) yang memiliki likuiditas pasar yang kuat, 3) pasar mana yang memiliki peraturan dan kerangka kerja pemerintah yang bisa membantu perusahaan teknologi di Indonesia? Saya akan mengatakan bahwa tempat listing yang natural adalah di AS. Perusahaan teknologi Indonesia juga dapat mempertimbangkan listing di Indonesia.

ALAN 11:29
Nah, itu memunculkan pertanyaan saya berikutnya, Andy. Akankah listing ganda Indonesia-AS menjadi strategi populer? Dan jika demikian, mengapa?

ANDY, GOLDMAN SACHS 11:38
Saya pikir itu akan terjadi, dan itu juga masuk akal bagi perusahaan Indonesia. Hal ini menciptakan situasi unik di mana, di pihak Indonesia, seperti semua orang tahu, ada manfaat pajak tertentu untuk perusahaan Indonesia dengan daftar di Indonesia. Kedua, banyak perusahaan teknologi ini juga memiliki branding yang sangat kuat di Indonesia; ini juga membantu mendorong dan mempercepat banyak permintaan dan penilaian investor. Dalam hal menambahkan komponen AS ke dalamnya; seperti yang diketahui semua orang, pasar AS mungkin memiliki kumpulan modal terbesar dan investor yang mungkin juga paling cerdas di bidang teknologi. Terakhir, saya pikir, terdapat juga likuiditas yang sangat kuat di pasar AS.

ALAN 12:30
Andy yang Anda bicarakan, hanya beberapa menit yang lalu, apa yang membuat IPO sukses. Saya hanya ingin tahu, apakah ada pertanyaan mendasar investor yang perlu dijawab agar mereka dapat membeli IPO teknologi Indonesia?

ANDY, GOLDMAN SACHS 12:44
Itu pertanyaan yang bagus, Alan, dan kami selalu mendapatkannya. Kerangka kerja sederhana untuk dipikirkan: banyak investor memikirkannya dari pendekatan top-down. Pertanyaan pertama yang akan dimiliki sebagian besar investor adalah: berapa total addressable market yang ditangani oleh perusahaan? Kedua, bagaimana persaingan pasar? Bagaimana mereka benar-benar bersaing dan memiliki keunggulan kompetitif berkelanjutan dari waktu ke waktu? Ketiga adalah mengenai dorongan pertumbuhan. Di lingkungan ini, sangat mudah untuk memiliki rekam jejak pertumbuhan pendapatan yang kuat. Saya memang berpikir bahwa yang membedakan perusahaan dalam jangka panjang adalah, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, kemampuan menunjukkan ekonomi pengguna yang sangat kuat, kemampuan menunjukkan bahwa dalam hal branding dan retensi pengguna, mereka memiliki angka yang sangat kuat. Pada akhirnya, ini mengarah pada jalur yang jelas menuju profitabilitas. Saya pikir bahwa poin ketiga mungkin merupakan awal bagi banyak perusahaan di Indonesia saat ini, tetapi hingga mereka memiliki rekam jejak atau titik data untuk menunjukkan jalur menuju profitabilitas, itu akan membedakan mereka dengan pemain lain di pasar.

ALAN 14:05
Penjelasan tersebut sangat membantu. Saya ingin membahas asimetri aneh ini sekali lagi. Jadi, Asia Tenggara memiliki 600 juta penduduk dan 3 triliun plus dalam PDB. Indonesia sendiri memiliki populasi sekitar 270 juta dan lebih dari 1 triliun dolar AS dalam PDB. Dan, satu perusahaan terbuka, Sea Group, naik 165% sejak awal tahun ini dan menjadikannya salah satu saham dengan kinerja terbaik di dunia. Seperti kita ketahui, Sea Group meliputi e-commerce, game, dan fintech. Dengan asumsi bahwa kinerja harga saham merupakan cerminan dari sentimen investor di bidang besar ini, mengapa antusiasme investor tidak menyebar ke IPO lain dari wilayah ini?

ANDY, GOLDMAN SACHS 14:56
Saya pikir investor pada akhirnya senang dengan IPO Asia Tenggara, Alan. Saya sebenarnya akan berdebat: pertanyaannya adalah apakah perusahaan di Asia Tenggara benar-benar siap untuk terdaftar di AS? Sudahkah mereka menyiapkan diri secara internal untuk IPO? Rasanya seperti banyak perusahaan di Asia Tenggara masih sangat focus dengan membangun bisnis mereka, mendapatkan lebih banyak pangsa pasar, berusaha meningkatkan penetrasi digital bisnis mereka; dan IPO adalah sesuatu yang akan mereka pertimbangkan selama dua atau tiga tahun ke depan. Hal lain yang saya akan tekankan juga adalah, pasar modal swasta terus menjadi sangat kuat, dan itu adalah pengganti yang baik untuk modal publik. Ketika perusahaan siap untuk IPO, saya pikir mereka akan melakukannya, tetapi hingga pasar swasta ada untuk mendanai mereka, mereka jelas ingin mendorong kembali IPO selambat mungkin.

ALAN 15:56
Nah, Anda sudah mengantisipasi pertanyaan saya berikutnya, yang memang, bisa dikatakan bahwa selama 10 tahun terakhir, kami telah melihat percobaan yang sangat menarik di mana perusahaan teknologi menjadi private lebih lama, dan bukannya IPO—menjadi sarana untuk mengumpulkan miliaran dolar—mereka melakukannya justru secara pribadi. Bagaimana Anda melihat "percobaan" ini dimodifikasi untuk ke depannya?

ANDY, GOLDMAN SACHS 16:21
Saya pikir Anda benar. Untuk banyak perusahaan teknologi, kami telah melihat keinginan yang meningkat untuk tetap private selama mungkin. Seperti yang Anda singgung, dengan menjadi public, perusahaan akan mendapat akses tambahan ke kumpulan modal yang lebih besar. Tetapi menjadi perusahaan publik jelas memiliki rintangan atau hambatan bagi banyak perusahaan teknologi; seperti pemerintahan tambahan, pengawasan publik, dan hal-hal seperti itu. Dan begitu banyak perusahaan teknologi yang memiliki pertumbuhan tinggi secara global telah memilih untuk tetap private. Pada pertanyaan Anda tentang percobaan yang dimodifikasi, saya pikir saat ini kita sedang bergerak ke arah lain, di mana banyak perusahaan juga mencari IPO jauh lebih awal, karena saya pikir pemegang saham mereka, dalam hal modal swasta, meski selalu berada di sana, ingin perusahaan portofolio mereka go public dan memungkinkan mereka untuk mengkristalkan keuntungan sedini mungkin. Jadi saya pikir tekanan pemegang saham, atau fokus pemegang saham, pada kristalisasi pengembalian akan mendorong mereka ke IPO sesegera mungkin,

ALAN 17:29
Seperti yang Anda sebutkan sebelumnya, Andy, model bisnis baru biasa membakar modal ketika layanan mereka diadopsi lebih luas. Selain itu, seperti yang Anda rujuk sebelumnya, tonggak penting perusahaan dalam benar-benar mendapatkan komando atas takdirnya sendiri adalah dengan mulai menghasilkan keuntungan. Apakah ini salah satu hal yang ditunggu investor sebelum menyambut IPO dari wilayah ini?

ANDY, GOLDMAN SACHS 17:52
Apakah perusahaan perlu benar-benar memiliki keuntungan pada saat IPO? Saya kira jawabannya adalah tidak. Saya pikir apa yang menjadi perhatian investor adalah memastikan bahwa ada poin data yang cukup, apakah itu melalui traffic, keterlibatan pengguna, monetisasi, pengurangan penjualan, dan pemasaran seiring waktu. Ini semua adalah poin data yang baik bahwa ketika Anda mengkonsolidasikan dan mengemasnya sebagai cerita untuk investor, mereka merasa bahwa ke depan, bisa jadi bahkan pasca IPO, perusahaan itu sendiri memiliki jalan menuju profitabilitas. Saya pikir itu yang paling penting.

ALAN 18:32
Baiklah. Selanjutnya, Andy, banyak dari internet Indonesia yang berupa "to C": seperti "B to C" dan "C to C". "C" mewakili fokus pada konsumen. Apakah Anda yakin bahwa bidang-bidang seperti video online, jasa ride-hailing dan berbagai bagian fintech akan menghasilkan uang dengan baik? Karena kita tampaknya masih memberikan banyak layanan internet, atau setidaknya memberikan subsidi besar kepada mereka.

ANDY, GOLDMAN SACHS 18:56
Saya pikir dalam jangka panjang, jika Anda melihat AS sebagai contoh yang baik, banyak layanan yang Anda bicarakan akan dapat menghasilkan uang. Pertanyaannya adalah (dan mungkin harus jelas adalah) ketika maksud Anda menghasilkan uang, pada tingkat apa? Saya pikir untuk layanan yang memiliki permintaan konsumen yang sangat kuat, mereka adalah konsumen pokok dalam beberapa hal, dan memiliki adopsi pengguna yang kuat. Saya pikir mereka mungkin akan menghasilkan uang dengan tarif yang sangat menarik: video online dan jasa ride-hailing mungkin contoh yang baik. Ada juga bagian-bagian tertentu dari bisnis teknologi; ada yang berfokus pada konsumen, yang mungkin sebagai "rel" untuk melakukan hal-hal lain. Dalam pikiran saya, ‘pembayaran’ mungkin sesuatu yang menarik. Saya pikir itu adalah platform teknologi yang sangat kuat bagi semua perusahaan untuk mendapatkan keterlibatan pengguna. Tetapi dalam jangka panjang, apakah pembayaran akan menjadi sesuatu yang akan menghasilkan monetisasi tinggi? Saya lebih skeptis tentang itu, tetapi ini adalah bagian yang sangat penting dari infrastruktur bagi banyak perusahaan teknologi untuk melakukan hal-hal lain.

ALAN 20:07
Baiklah. Jadi pada kasus ini, pembayaran mungkin terlihat seperti mengarah pada kerugian, tapi hal tersebut juga bisa menjadi jalan bagi pasar yang lebih menguntungkan, dan bahkan pasar serta layanan finansial yang lebih besar. Begitukah?

ANDY, GOLDMAN SACHS 20:20
Ya benar. Dan dalam pikiran saya, hal terpenting adalah membentuk perilaku pengguna. Di Indonesia, terutama, seperti kita ketahui, banyak transaksi masih menggunakan uang tunai atau transfer bank. Jika kita, sebagai keseluruhan ekosistem, mendorong pengguna untuk melakukan pembayaran online, itu membentuk perilaku pengguna dan membuat semua orang lebih nyaman menggunakan jasa online.

ALAN 20:44
Baiklah. Andy, aku tahu kamu sudah setidaknya berdiri secara konstan sampai pandemi menyebar di seluruh wilayah. Apakah Anda memiliki pemikiran mengenai perusahaan internet yang berfokus pada satu pasar besar tunggal, seperti Indonesia, akan disukai oleh investor, atau apakah penting untuk menawarkan solusi regional atau platform multi-pasar melalui IPO?

ANDY, GOLDMAN SACHS 21:07
Saya pikir ada fleksibilitas untuk melakukan keduanya. Bagian praktisnya adalah perusahaan itu sendiri harus benar-benar melihat secara internal apa kekuatan mereka. Apakah mereka benar-benar memiliki bandwidth untuk beroperasi di seluruh wilayah? Semua orang selalu menganggap Asia Tenggara sebagai satu pasar, padahal kita terdiri dari beberapa negara yang tergabung dalam satu wilayah. Bahkan di negara yang sama ada beberapa bahasa dan perilaku budaya. Itu benar-benar menciptakan banyak tekanan dan overhead yang tidak perlu bagi perusahaan jika mereka benar-benar ingin melakukan bisnis regional. Di sisi lain, jika Anda hanya melihat Indonesia, misalnya: ini adalah pasar tunggal yang besar. Pasar tunggal selalu, menurut saya, lebih mudah untuk dieksekusi dan ditembus. Namun Indonesia sendiri juga merupakan negara yang sangat besar dan tersebar dengan banyak pulau. Ada banyak hambatan juga. Jadi saya pikir ringkasan utama untuk sebagian besar perusahaan adalah: melakukan apa yang menurut Anda terbaik untuk Anda. Apa kekuatanmu? Dan pada akhirnya hasilnya akan ditunjukkan untuk diri mereka sendiri, dari sudut pandang pangsa pasar, dari sudut pandang kepemimpinan pasar, dan dari pertumbuhan pendapatan dan akhirnya dari sudut pandang profitabilitas. Apabila Anda mencentang kotak untuk investor di semua poin data utama ini, mereka akan berinvestasi pada Anda terlepas dari apakah Anda berada di pasar tunggal besar atau regional di seluruh Asia Tenggara.

ALAN 22:37
Beberapa wawasan dan saran yang sangat berguna, Andy. Terima kasih untuk itu. Adakah saran khusus lain yang akan Anda berikan kepada wirausahawan Indonesia dengan aspirasi membawa perusahaannya ke IPO?

ANDY, GOLDMAN SACHS 22:50
Berdasarkan pengalaman saya, Alan, saya pikir sebagian besar founders berpikir bahwa mungkin hanya sekali dalam hidup mereka mereka akan membuat perusahaannya go public. Tetapi mereka seharusnya tidak menemukan proses IPO itu sendiri menakutkan atau sangat menakutkan. Saya pikir bagian praktisnya adalah bahwa ada preseden global yang sangat kuat. Ada penasihat berpengalaman seperti Anda yang dapat memandu perusahaan tentang langkah dan proses yang tepat untuk IPO. Pengusaha jelas harus menganggap IPO sebagai tujuan akhir, dan sebagai sesuatu yang bisa dicapai oleh perusahaan. Hal lain yang saya pikir kebanyakan founders lakukan adalah, kebanyakan founders kurang menghargai jumlah usaha dan waktu yang perlu didedikasikan untuk proses IPO. Para founders harus benar-benar memulai lebih awal, mendapatkan informasi sebanyak mungkin, dan kemudian mulai merencanakan IPO, yang pastinya akan memakan waktu.

ALAN 23:44
Baiklah. Jadi kesimpulannya, ini bukan proses yang tidak dapat diatasi, tapi pastinya merupakan proses yang membutuhkan banyak pemikiran dan persiapan. Dan untungnya, ini adalah proses yang dikelilingi oleh ekosistem advisors yang sangat baik dan berbagai penyedia layanan lainnya.

Baiklah, sekarang kita telah menyelesaikan episode kelima Indo Tekno kita. Selalu menyenangkan berbicara dengan Andy, terima kasih banyak telah bergabung dengan kami hari ini. Seperti biasa, kami menyambut semua umpan balik bagi acara ini. Email saya adalah Alan@gizmo-advisors.com. Kunjungi juga situs web kami di indo-tekno.com jika Anda ingin dimasukkan ke dalam milis kami untuk episode baru. Podcast diterjemahkan dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia oleh Alpha JWC Ventures. Terima kasih telah mendengarkan. Sampai jumpa lagi!

Ditranskripsi oleh https://otter.ai

Stay up to date with our latest podcast episodes

For general inquiries, please get in touch

© 2020 by Indo Tekno Podcast