TRANSKRIP​EPISODE 8

(Versi bahasa Inggris)

Episode Delapan

Media Streaming dalam Sorotan:

Edy Sulistyo dari GoPlay

21 Juli 2020

 

ALAN 0:11
Selamat datang di episode ke delapan dari Indo Tekno. Saya Alan Hellawell, pendiri konsultan teknologi Gizmo Advisors dan Venture Partner di Alpha JWC Ventures. Pendengar Indonesia dapat membaca transkrip Bahasa Indonesia kami. Minggu ini diskusi kita bergeser ke lanskap media online Indonesia. Kami sangat senang menyambut Edy Sulistyo, Kepala Eksekutif GoPlay, sebuah jasa langganan video premium pada on-demand platform di Indonesia. Senang Anda berada di sini hari ini, Edy. Dapatkah Anda memberi kami gambaran latar belakang dan jalan yang Anda lalui untuk menjadi CEO GoPlay?

EDY SULISTYO 0:50
Saya sebenarnya tidak pernah bermimpi menjadi CEO sebuah perusahaan. Saya selalu menjadi pengusaha sepanjang hidup saya. Saya memulai perjalanan ketika saya masih di sekolah menengah, dan yang saya inginkan hanyalah membangun produk yang dapat bermanfaat bagi banyak orang. Perjalanan wirausaha pertama saya di industri event-and-entertainment dimulai pada tahun 2009. Saya mendirikan sebuah perusahaan bernama eEvent. Perusahaan itu diakuisisi oleh perusahaan lain pada tahun 2013. Kemudian saya kembali ke Indonesia dan mendirikan perusahaan bernama LOKET. Perusahaan itu akhirnya diakuisisi oleh Gojek pada tahun 2017. Sejak itu, saya telah memimpin divisi entertainment di Gojek. dan sekitar tahun 2018, kami memiliki ide ini untuk membuat dampak dalam industri film di Indonesia. Gojek, sementara itu, memiliki visi untuk menghilangkan friksi harian. Ini adalah salah satu industry, serta salah satu vertikal, yang mungkin tidak benar-benar diperhatikan—dan kami percaya bahwa, karena jumlah layar di Indonesia sangat, sangat sedikit (kita hanya memiliki sekitar 2.100 layar di Indonesia pada akhir 2019), banyak konten Indonesia yang tidak pernah mendapatkan penayangan premier yang layak. Jadi dengan melakukan platform distribusi digital, kami berpikir bahwa kami dapat memperbaiki kualitas—meningkatkan saluran distribusi konten Indonesia—dan kami memutuskan untuk membangun GoPlay. Pada dasaranya, di situlah kami berada sekarang.

ALAN 2:30
Sekarang, banyak dari kita memiliki pengetahuan dasar mengenai pasar. Indonesia memiliki populasi lebih dari 270 juta dengan usia rata-rata 30 tahun. Dengan demikian saya berasumsi bahwa sebagian besar populasi tersebut adalah digital natives—mereka jauh lebih terbiasa dengan media online. Kita juga memiliki penetrasi mobile phone yang meningkat dengan cepat. Edy, dapatkah Anda menguraikan secara rinci bagian menarik dari segmentasi yang Anda bayangkan menjadi pelanggan GoPlay tersebut?

EDY SULISTYO 2:57
Ya. Sejak awal, kami menyadari bahwa kebersediaan orang untuk membayar konten di Indonesia cukup rendah, yang mana cukup dapat dimengerti, karena jika Anda melihat industri di China, atau mungkin industri di luar Indonesia, pada awalnya kebersediaan orang untuk membayar selalu serupa. Tidak ada yang benar-benar ingin membayar demi konten. Inilah yang kami lihat di Indonesia. Jadi, kami berpikir bahwa jika kami ingin membuat dampak, kami harus benar-benar membuat algo(ritma)nya—platformnya—sehingga kami dapat mendistribusikan konten premier dan premium Indonesia. Dengan melakukan itu, kami telah menargetkan sebagian besar A dan B di pasar "menengah ke atas". Kami percaya jika kami dapat melakukan hal terebut, maka kami dapat meningkatkan kualitas film Indoneia secara kolektif; itu akan membantu kami untuk menjadi platform distribusi sehingga kami dapat menjangkau lebih banyak pelanggan dan memperbesar industri ini. 

ALAN 3:51
Edy, dalam penelitian yang dilakukan baru-baru ini, "Media Partners Asia" menggambarkan lonjakan yang jelas dari streaming video dalam beberapa bulan pertama tahun ini, yang pada dasarnya merupakan awal dari pandemi COVID 19. Waktu-tonton-per-pengguna tumbuh sekitar 150%. Terlebih lagi, laporan McKinsey and Company mengungkapkan bahwa sekitar setengah dari responden Indonesia dapat diprediksi akan menghabiskan lebih banyak waktu menonton film dan pertunjukan online. Bisakah Anda berbagi dengan kami fakta dan angka menarik tentang pola konsumsi di era COVID di Indonesia?

EDY SULISTYO 4:24
Sebenarnya pandemi telah mengakibatkan peningkatan keterlibatan konsumen dalam lebih banyak hiburan online, terutama dengan berdiam diri di rumah. Bagi GoPlay, kami telah melihat peningkatan langganan dalam periode ini; kami telah melihat peningkatan yang signifikan. Akibatnya, konsumen menghabiskan banyak waktu untuk streaming konten film dan seri lokal berkualitas tinggi, yang ditunjukkan oleh peningkatan sekitar 10 kali lipat dalam total waktu yang dihabiskan oleh pengguna GoPlay. Sementara itu, dalam upaya untuk tetap produktif di rumah, orang juga berpartisipasi dalam berbagai acara online. Kami benar-benar melihat peningkatan 32 kali dalam jumlah acara online yang tersedia di platform GoTix, yang mana sangat menarik.

ALAN 5:05
Bahkan sekarang, pada bulan Juli 2020, sepertinya kualitas konten lokal di Indonesia masih terbatas pada sebagian kecil dari film layar lebar. Jika saya tidak salah, sekitar 35% film di Indonesia diproduksi secara lokal dalam hal penjualan tiket, dibandingkan, misalnya, dengan angka yang hampir mencapai 65% di Tiongkok. Edy, apa harapan Anda tentang pertumbuhan konten lokal yang diproduksi di Indonesia?

EDY SULISTYO 5:32
Saya sebenarnya melihat masa depan yang cerah terkait hal tersebut, karena pada 2015, angka itu berada pada kisaran 20%. Kemudian, pada 2016 meningkat menjadi sekitar 25%, 30%, hingga 2019. Berdasarkan tiket yang terjual, rasio konten Indonesia sekitar 40-an persen; kabar baik bagi kita. Jelas, kita semua ingin agar konten bahasa Indonesia berkinerja lebih baik dibandingkan konten asing, yang mana menunjukkan bahwa orang-orang mulai percaya pada konten lokal. Dan Indonesia sebenarnya sangat kaya akan budaya dan tradisi, jadi hal tersebut membawa banyak pengaruh pada film dan konten lokal di Indonesia. Kita memiliki banyak potensi. Berdasarkan data yang ada, kita juga tahu pasti bahwa film dan pembuat konten di Indonesia sangat berbakat, dan mereka dapat menghasilkan konten berkualitas tinggi. Dan faktanya, di antara semua pasar regional, Indonesia sebenarnya dianggap sebagai salah satu negara dengan potensi pertumbuhan tertinggi menurut diskusi di CineAsia 2018. Kami juga melihat bahwa industri kreatif lokal telah meningkat pesat selama bertahun-tahun. Dan ini sangat, sangat menarik, dengan bioskop yang sekarang baik berhenti beroperasi maupun ditutup sementara. Meski demikian, jika tidak ada pandemi, kami memprediksi bahwa tahun ini penjualan tiket konten lokal Indonesia akan melonjak lebih dari 50%.

ALAN 6:55
Baiklah. Ya, itulah kalimat kuncinya: "jika pandemi tidak ada di sini." Karena pertanyaan saya berikutnya berkaitan dengan infrastruktur hiburan offline. Jika kita melihat media online sebagai alternatif dari jaringan offline yang sudah ada, seperti bioskop, memang terlihat seolah-olah Indonesia siap untuk melihat lompatan menuju konsumsi media online. AS memiliki sekitar 12,4 teater per 100.000 penduduk, yang lebih dari 20 kali penetrasi Indonesia di hanya 0,6 teater per 100.000 penduduk. Ap aarti perbedaan ini bagi konsumsi media online di Indonesia ke depannya?

EDY SULISTYO 7:35
Jelas itu akan menciptakan peluang unik. Dan pada saat yang sama, terdapat kekurangan jumlah layer yang berdampak pada distribusi konten lokal Indonesia—konten lokal harus bersaing dengan konten asing. Kita perlu memiliki saluran tambahan; inilah mengapa kami membuat GoPlay, karena kami merasa bahwa GoPlay, atau saluran digital, tidak akan pernah menggantikan pengalaman offline. Namun pada saat bersamaan, platform distribusi online seperti GoPlay ini akan membantu mendistribusikan konten dengan cara yang lebih besar. Terutama sekarang, karena kami adalah bagian dari ekosistem Gojek, kami memiliki akses ke lebih dari setengah populasi Indonesia. Dan semoga, dengan melakukan ini, kita dapat menjadi platform untuk mendistribusikan konten lokal. Selain itu, dari sudut pandang pembuat film, atau dari sudut pandang pembuat konten, mereka akan memiliki cara untuk menunjukkan bakat mereka. Dan yang paling penting, sekarang kita memiliki akses ke sejumlah besar orang, maka kita berada dalam posisi terbaik untuk membantu memperbesar industri dan juga membentuk generasi masa depan Indonesia melalui konten positif.

ALAN 8:46
Sekarang, Edy, salah satu pertanyaan mendasar yang harus ditanyakan oleh penyedia konten, baik offline atau online, adalah: Apakah pelanggan Indonesia membayar untuk layanan ini? Orang Amerika seperti saya terkenal di dunia karena membayar hiburan dan media. PwC, misalnya, memperkirakan pengeluaran per kapita di AS hampir $ 2.300 pada tahun 2021, yang lebih dari 10 kali lipat pengeluaran per kapita Cina dengan angka $ 220. Indonesia diperkirakan akan menghabiskan $ 84 per kapita pada tahun 2021. Itu kurang dari 4% dari angka AS. Bukankah sulit untuk menyisihkan potongan pengeluaran yang dari awal sudah kecil? Apa yang bisa memberi kita keyakinan bahwa potongan pengeluaran itu akan meningkat bagi GoPlay?

EDY SULISTYO 9:31
Nah, untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita harus membedah, dan mencoba memahami, mengapa angka itu sangat rendah. Berdasarkan penelitian kami, kami menyadari bahwa ada dua hal yang terjadi di sini. Satu: secara umum, kesediaan orang untuk membayar konten masih rendah. Tetapi masalah lain adalah karena penetrasi kartu kredit di Indonesia juga sangat, sangat rendah. Inilah mengapa kami di GoPlay berada dalam posisi yang sangat unik untuk melakukan ini, karena kami dapat menyelesaikan masalah pembayaran dengan GoPay, yang merupakan salah satu dompet digital terbesar di Indonesia. Hal ini memungkinkan kami untuk memberikan biaya berlangganan, dan kami dapat melakukannya secara berulang. Ini juga memberi peluang untuk benar-benar mengidentifikasi orang-orang yang memiliki kemampuan belanja, yang kemudian memungkinkan kami secara unik memposisikan diri untuk memanfaatkannya dan menumbuhkan bisnis dengan cara yang paling efisien. Namun dalam hal konten—kemauan untuk membayar konten—berdasarkan penelitian yang juga telah kami lakukan, dan kami juga lihat di China, sebenarnya butuh waktu sekitar tujuh tahun dari China sejak OTT pertama (konten over-the-top) diluncurkan pada awal 2010-an. 2018 sebenarnya adalah tahun pertama ketika China melihat pendapatan dari langganan melebihi pendapatan dari AVOD untuk pertama kalinya dalam sejarah OTT.

ALAN 10:47
AVOD berarti advertising-video-on-demand, benar?

EDY SULISTYO 10:51
Benar, benar. Fakta bahwa pendapatan dari langganan melebihi pendapatan dari iklan pada dasarnya menunjukkan kesediaan orang untuk membayar konten meningkat seiring waktu. Salah satu faktor utama utama adalah banyaknya konten yang masuk; ada banyak konten berkualitas baik. Orang-orang mulai lebih percaya pada konten lokal. Kesadaran serta pengetahuan sebenarnya membantu orang untuk membayar konten. Di Gojek, untuk membantu mempercepat proses itu, kami melakukan banyak bundled pricing. Jadi kami melakukan strategi seperti Amazon Prime, jika Anda familiar dengan itu, di mana kami menggabungkan langganan Bersama dengan produk Gojek lainnya, yang lagi-lagi meJadi, kami lebih seperti strategi Amazon Prime, jika Anda terbiasa dengan hal itu, di mana kami menggabungkan langganan bersama dengan produk Gojek lainnya, yang lagi-lagi, memberi peluang bagi kami untuk berada dalam situasi sangat unik. Kami dapat menjadikan GoPlay sebagai platform yang sangat mudah diakses dan terjangkau bagi banyak orang. Sehingga mereka bisa mulai mendapatkan langganan dengan membeli, katakanlah, langganan GoFood dan GoPlay, dan kemudian mereka bisa mendapatkan akses GoPlay secara gratis. Dan dengan melakukan itu, mereka tidak hanya dapat memperoleh voucher atau manfaat GoFood, mereka juga dapat menikmati langganan GoPlay secara gratis selama 30 hari. Dengan melakukan itu, mereka dapat menonton konten dan kemudian mereka mulai menyadari bahwa, "Oh, sekarang konten Indonesia jauh lebih baik daripada sebelumnya." Dan keinginan untuk membayar mulai berkembang. Harapan kami adalah untuk bisa mempercepat proses itu.

ALAN 12:12
Menarik. Jadi ada prinsip yang sangat mendasar, yaitu, kemauan untuk membayar dapat didorong oleh kemampuan membayar dan kemampuan untuk membayar bukanlah pengalaman tanpa hambatan. Sepertinya komponen lain dari strategi Anda adalah mendorong perilaku dasar. Jika kita dapat melakukan bundling, atau berbagai strategi lainnya, kita dapat membuat konsumsi media lebih mudah diakses oleh pengguna. Begitulah cara Anda benar-benar memulai perilaku dasar yang Anda bicarakan tumbuh selama 10 tahun di Cina, benarkah itu? Melanjutkan sepanjang diskusi ini, saya ingat melihat survei orang Indonesia yang menjelaskan mengapa mereka tidak membayar untuk berlangganan OTT, atau "over-the-top". Respons paling umum pada 34% adalah "layanan ini terlalu mahal, dan saya tidak melihat nilainya." Sekarang, bagaimana kita mengatasi persepsi ini?

EDY SULISTYO 13:08
Ini merupakan tantangan yang berkelanjutan. Kami telah melihat bahwa kualitas konten Indonesia telah meningkat secara drastis dalam beberapa tahun terakhir. Tetapi kita perlu memberi tahu orang-orang bahwa kualitasnya telah meningkat sehingga mereka mau menonton. Jadi pandemi ini sebenarnya membawa banyak jenis peluang "berkah tersembunyi". Mungkin karena mereka kehabisan konten yang bagus untuk ditonton di OTT yang berbeda, dan banyak dari mereka memutuskan untuk mencobanya. Pada bulan Maret, kami menjalankan kampanye dan membuka akses. Kami memberikan uji coba gratis, kami membiarkan orang mencoba layanan kami, dan mereka mulai menonton beberapa konten kami. Kami telah melihat banyak umpan balik positif dari orang-orang yang belum pernah menonton konten Indonesia sebelumnya. Dan setelah mereka menontonnya, mereka mulai berkata bahwa "Wow, ternyata konten Indonesia jauh, jauh lebih baik daripada sebelumnya." Karena kebanyakan orang berpikir bahwa konten Indonesia, dari sepengetahuan mereka, selalu memiliki kualitas sinetron, seperti yang kita lihat di TV free-to-air. Dan setelah mereka melihat konten premium, mereka tidak hanya mulai jatuh cinta padanya, tetapi mereka juga mulai bangga dengan konten Indonesia. Dan mereka memutuskan untuk memberi tahu teman-teman mereka. Dan kami telah melihat bahwa orang mulai melihat keuntungan berlangganan. Ini sebenarnya menarik karena, setelah pandemi berakhir, kita bisa melihat harapan bahwa konten berkualitas lokal Indonesia akan tumbuh secara signifikan karena pasar telah berkembang.

ALAN 14:40
Edy, pertanyaan yang sangat mendasar. Apakah jaringan seluler Indonesia cukup kuat untuk melakukan streaming konten berkualitas tinggi?

EDY SULISTYO 14:48
Kami sangat percaya bahwa penetrasi internet dan infrastruktur digital jelas akan terus meningkat di Indonesia. Jika Anda melihat data tahun-ke-tahun, bahkan data dekade-ke-dekade, internet dan infrastruktur Indonesia telah meningkat pesat. Pemerintah Indonesia jelas juga meningkatkan infrastruktur digital dengan membangun, apa yang mereka sebut "internet highway" atau semacamnya. Mereka baru saja menyelesaikan jaringan fiber optic terakhir yang akan membawa internet berkecepatan tinggi bahkan ke daerah-daerah termiskin di Indonesia, termasuk Papua. Jadi, kita melihat jumlah pengguna internet pada 2019 juga meningkat sekitar 10% dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, dan ini pasti akan terus tumbuh.

ALAN 15:34
Edy, Google mengungkapkan beberapa angka 2019 yang menarik mengenai YouTube baru-baru ini. Misalnya, bundel streaming TV YouTube pada akhir tahun lalu memiliki lebih dari 2 juta pelanggan, dan YouTube Music dan YouTube Premium memiliki lebih dari 20 juta pelanggan berbayar. Pendapatan langganan YouTube sekarang memiliki rasio penjualan tahunan $ 3 miliar dan penjualan iklan YouTube tahun lalu, totalnya mencapai $ 15,1 miliar. Bagaimana pendapat Anda mengenai gabungan pendapatan di media online Indonesia; antara pendapatan iklan, langganan dan sumber jangka panjang lain?

EDY SULISTYO 16:08
Saya pikir itu harus digabung. Mengenai GoPlay sendiri, kami pada dasarnya adalah platform subscription-video-on-demand (SVOD). Jadi sebagian besar pendapatan kami berasal dari model berlangganan. Dan, jika kita membahasnya lebih dalam, kami sebenarnya mendapatkan sebagian besar langganan dari bundel. Kami menggabungkan produk di platform Gojek. Selain itu, tentu saja, kami juga memiliki pendapatan iklan di platform kami. Dan kami juga baru-baru ini memperkenalkan platform bayar per tayang juga, sehingga kami dapat membantu pembuat konten yang saat ini mengalami kesulitan dalam meraih penghasilan karena penutupan bioskop. Jadi kami membantu mereka menghasilkan pendapatan tambahan atau alternatif dengan memiliki fitur bayar per tayang di platform kami. Pada bagian konten, kami melakukan model pembagian pendapatan dengan pembuat konten dan production house. Karena kami percaya bahwa jika kami melakukan pembagian pendapatan ini, dan kami dapat melakukannya dengan cara yang benar, kami bisa meningkatkan pendapatan. Dan kami benar-benar menghapus batasan versus jika kami membeli konten secara langsung; itu tidak akan mendorong pembuat konten untuk benar-benar menghasilkan konten berkualitas tinggi. Namun jika kita melakukan pembagian pendapatan, kita memberi mereka insentif untuk menghasilkan konten berkualitas tinggi karena mereka ingin mendapatkan penghasilan praktis tak terbatas dari konten dan IP yang mereka hasilkan. Jadi, kombinasi dari itu akan memungkinkan kami untuk menghasilkan model bisnis yang cukup unik yang saat ini berlaku di Indonesia.

ALAN 17:42
Mengerti, jadi kita berbicara tentang keragaman aliran pendapatan.

EDY SULISTYO 17:46
Benar.

ALAN 17:47
Berkenaan dengan konten lokal, Edy, film atau seri yang dikembangkan secara lokal mana yang paling sukses di GoPlay? Dan apa yang bisa Anda bagikan dengan kami tentang pipeline-nya?

EDY SULISTYO 17:57
Sebelum pandemi, kami telah melihat banyak pengguna kami menggunakan konten kami dari perangkat seluler selama berada dalam perjalanan. Jadi biasanya, jika mereka melakukan itu selama perjalanan, jenis konten yang cocok biasanya adalah konten ukuran pendek, mungkin sekitar 10 hingga 15 menit lamanya. Dan jenisnya bervariasi: komedi, drama, dan sebagainya. Setelah pandemi terjadi, kita telah melihat pergeseran perilaku; semakin banyak orang mulai mengkonsumsi konten kami dari rumah, karena jelas mereka perlu berdiam diri di rumah. Kami telah melihat bahwa perilaku berubah, dan jenis konten yang mereka tonton juga berubah. Mereka suka menikmati konten yang sedikit lebih lama, mungkin sekitar 30 hingga 45 menit, satu jam. Dan mereka menikmati drama atau serial TV, genre thriller. Jadi saya pikir, bergantung pada perilaku orang-orang ini, mereka memiliki konten tertentu yang mereka sukai. Jadi kami memiliki beberapa konten original yang berkinerja sangat baik. Seperti Gossip Girl Indonesia, yang kami lisensikan langsung dari Warner, dan kemudian kami buat versi Indonesia-nya. Kami juga memberikan banyak sentuhan Indonesia. Kami memperkenalkan banyak budaya Indonesia melalui konten. Misalnya, dalam seri aslinya, mereka merayakan Thanksgiving. Jelas, kita tidak memiliki Thanksgiving di Indonesia. Jadi kami mengubahnya ke hari pertama Ramadhan, misalnya. Jadi, kami memberikan sedikit sentuhan unik; jenis konten Indonesia, atau sentuhan budaya. Ini sebenarnya membantu kami untuk menyesuaikan dan membangun konten yang unik untuk pemirsa Indonesia. Kami juga memiliki "Saiyo Sakato". Kami juga memiliki "Tunnel", yang kami adaptasi dari serial TV Korea. Dan kami juga memiliki "Bukan Keluarga Biasa", yang lebih mirip semacam reality show Kardashian. Kami memiliki beberapa lagi di saluran yang sangat, sangat menarik, termasuk Gossip Girl season dua.

ALAN 19:53
Menarik. Ada campuran yang menarik dari mengimpor ide dasar dari pasar lain, kemudian menyesuaikan secara signifikan dengan keunikan pasar Indonesia. Sekarang, Anda telah menyebutkan beberapa kali hubungan dengan Gojek. Bisakah Anda menghitung beberapa keuntungan dari hubungan Anda dengan Gojek? Bisakah Anda memberi tahu kami total pelanggan potensial, unduhan saat ini?

EDY SULISTYO 20:17
Gojek sekarang di Indonesia telah diunduh lebih dari 150 juta kali. Dan jelas, satu pengguna berpotensi juga memiliki akses ke beberapa orang di rumah itu. Dengan GoPlay, ini sedikit unik karena Anda tidak harus menggunakan akses yang sama dengan yang Anda miliki di Gojek. Anda juga dapat membaginya dengan saudara kandung Anda atau orang tua Anda atau siapa pun di rumah tangga Anda. Jadi kita telah melihat bahwa hubungan ini dengan Gojek sangat, sangat membantu untuk GoPlay, tidak hanya dari sudut pandang pengguna, tetapi juga dari bundling. Karena dari bundling ini, seperti yang saya sebutkan sebelumnya dalam diskusi ini, kami dapat menargetkan pengguna tertentu. Katakanlah kami ingin menargetkan pengguna GoSend. Kami telah melihat bahwa layanan logistik di Gojek juga meningkat, cukup menarik, selama pandemi, karena saya pikir orang lebih banyak tinggal di rumah. Ada banyak masakan buatan sendiri. Dan banyak orang sebenarnya menggunakan lebih banyak layanan logistik. Kami memanfaatkannya dengan menggabungkan layanan kami dengan GoSend. Jadi, sementara transportasi GoRide dan GoCar terkena dampak, kami melihat bundel tertentu juga meningkat secara signifikan. Selain itu, salah satu kelebihan hubungan dengan Gojek adalah akses data. Gojek mengumpulkan banyak data dari pengguna. Dan ini membantu kami membuat konten yang unik. Kami dapat menciptakan pengalaman unik untuk masing-masing pengguna. Kami dapat menyesuaikan pengalaman sehingga, ketika mereka membuka GoPlay, kami tahu apa yang mereka sukai, kami tahu preferensi mereka, dan kami dapat menyesuaikannya berdasarkan data yang kami miliki. Jadi sebenarnya ada banyak keuntungan.

ALAN 21:58
Jadi ada banyak aspek Big Data untuk kolaborasi yang belum saya pikirkan.

EDY SULISTYO 22:03
Iya.

ALAN 22:03
Adakah sinergi strategis jangka panjang yang lebih kualitatif dengan Gojek yang belum kita diskusikan? Apa yang memberi kita keuntungan relatif terhadap platform streaming masa lalu yang mungkin bermitra dengan pemain telekomunikasi atau raksasa media, dll?

EDY SULISTYO 22:19
Jelas yang terpenting adalah pembayaran, karena seperti yang saya sebutkan, penetrasi kartu kredit di Indonesia sangat, sangat rendah. Jadi, menjadi bagian dari ekosistem Gojek akan sangat membantu kami, terutama dalam ekosistem pembayaran. Kami memiliki akses GoPay. Kami dapat menargetkan demografi pengguna tertentu yang memiliki GoPay. Melakukan bundel produk ini, kami dapat mengetuk segmen unik pengguna yang mungkin hanya menggunakan satu produk, tetapi tidak menggunakan produk lainnya. Selain itu, saya pikir perusahaan telekomunikasi dan perusahaan media lain juga bisa bermanfaat, dan akhirnya kami mungkin ingin bermitra dengan mereka juga. Kami sangat terbuka untuk bermitra dengan semua orang, termasuk perusahaan telekomunikasi dan perusahaan media lainnya.

ALAN 22:58
Sekarang Edy, saya ingin membahas debat yang sudah lama terjadi, apakah media online bisa menguntungkan atau tidak. Mari kita mulai dengan kenyataan yang lebih menantang. Saya kira YouTube tidak menguntungkan setidaknya selama 10 tahun pertama keberadaannya sejak didirikan pada tahun 2005. Dan terus terang, tidak jelas apakah YouTube secara konsisten menghasilkan untung hingga hari ini. Lebih dekat lagi, kita telah melihat matinya setidaknya dua platform media streaming di Asia Tenggara. Apa yang salah di sini yang bisa kita hindari?

EDY SULISTYO 23:30
Saya pikir fokus pada konten lokal Indonesia adalah kuncinya. Saya pikir ini adalah sesuatu yang kami memiliki keunggulan yang sangat unik menjadi produk yang diproduksi sendiri. Kami memahami apa yang ingin dilihat oleh penduduk setempat. Kami mengerti bagaimana cara menceritakan kisah yang baik. Kami tahu siapa pemain lokal yang pada dasarnya dapat menghasilkan jenis genre tertentu. Dan saya pikir kombinasi baru itu pasti akan membantu kita. Dan kami sangat optimis tentang masa depan perusahaan hiburan online lokal dan Asia Tenggara. Jika Anda melihat area fokus GoPlay, OTT keseluruhan, kami memahami bahwa OTT bukan—dan tidak akan pernah menjadi—pasar "winner-takes-all". Seperti yang Anda lihat dari Netflix, misalnya, kita tahu sekitar 70% pelanggan Netflix juga berlangganan OTT lain. Hal yang sama di Cina: kita telah melihat bahwa banyak OTT di Cina juga memiliki banyak tumpang tindih dengan OTT lain. Jadi inilah mengapa kami percaya bahwa di Indonesia, atau secara umum, OTT tidak akan pernah menjadi pasar "winner-takes-all". Dan dengan berfokus pada konten berkualitas lokal Indonesia sekarang, kami telah melihat bahwa pemetaan dan lanskap kompetitif di Indonesia sudah mapan. Kami adalah satu-satunya yang berfokus pada konten lokal premium Indonesia. Dan tentu saja, kami juga memiliki sedikit konten Asia Tenggara di platform kami. Memilih segmen pasar yang unik ini memungkinkan kami untuk fokus, dan semoga kami dapat menghindari kesalahan yang sama seperti yang dilakukan oleh OTT lain di masa lalu.

ALAN 24:59
Anda telah menyebutkan beberapa kali, Edy, bahwa biaya konten adalah bagian besar dari model bisnis. Netflix tahun ini saja kemungkinan akan menghabiskan sekitar $ 17 miliar untuk pengadaan konten. Di Cina, Yoku dan iQiyi mengalami kerugian setiap tahun sejak didirikan pada awal 2000-an, hampir secara eksklusif karena biaya konten yang terus meningkat. Bagaimana untuk berhasil mengelola bagian P&L ini?

EDY SULISTYO 25:24
Kami melakukannya sedikit berbeda di sini di Indonesia. Saat kami memperoleh konten, kami memperoleh konten menggunakan basis bagi hasil. Jadi kami ingin dilihat sebagai platform digital yang dapat membantu pembuat konten tumbuh lebih dari sekadar pembuatan konten. Kami ingin mereka bisa mendapatkan penghasilan tambahan tidak hanya dari konten mereka, tetapi juga dari IP mereka. Jadi, seperti yang saya sebutkan dalam pertanyaan sebelumnya, karena kami menyediakan bagi hasil ini, kami sebenarnya memungkinkan mereka untuk mendapatkan lebih banyak pendapatan berdasarkan berita acara yang ditonton di platform kami. Ini lebih seperti model Spotify. Kami belajar dari Spotify. Jika kita dapat memberi insentif kepada pembuat konten ini dengan cara yang benar, memungkinkan mereka untuk menghasilkan lebih banyak uang dengan menghasilkan lebih banyak menit ditonton di platform kami, itu akan mendorong mereka untuk terus fokus dalam membangun lebih banyak konten berkualitas premium yang orang ingin tonton, daripada konten yang mereka membuat demi sekadar membuat konten. Dengan melakukan ini, kami berharap kami dapat bekerja dengan semua pembuat konten. Kami juga dapat membantu mereka menghasilkan lebih banyak pendapatan dan, pada saat yang sama, mereka dapat membantu kami menyediakan lebih banyak konten untuk pelanggan kami.

ALAN 26:33
Sekarang di sisi yang jauh lebih positif dari spektrum yang saya paparkan ini, kita kembali memiliki Netflix yang telah melihat keuntungan setiap tahun sejak 2005. Edy, aspek apa dari model bisnis yang akan cocok dengan kita?

EDY SULISTYO 26:46
Yah, saya pikir Netflix juga didominasi SVOD, atau subscriptin-video-on-demand. Meskipun kami juga SVOD, kami harus melakukan diversifikasi aliran pendapatan karena kesediaan orang untuk membayar konten di Indonesia belum ada. Dengan memberikan kombinasi berbagai aliran pendapatan, ini akan memungkinkan kami untuk tidak hanya menjadi berkelanjutan, tetapi juga membantu industri. Dan mudah-mudahan kita dapat menemukan cara untuk terus menjadi platform yang dapat digunakan oleh pembuat konten untuk menunjukkan bakat mereka.

ALAN 27:20
Edy, apakah kita melihat peluang dan pasar lain seperti Vietnam, Thailand atau Singapura?

EDY SULISTYO 27:26
Saya pikir selalu ada potensi untuk pergi ke sana. Tapi saya pikir untuk saat ini, berdasarkan data, kami hanya memiliki sekitar 51 juta tiket terjual di bioskop tahun lalu. Dan 51 juta itu terdiri dari sekitar 30 juta penonton unik yang benar-benar membeli tiket. Itu berarti bahwa, dari 270 juta orang, sekitar 240 juta orang di Indonesia tidak pernah membeli konten Indonesia atau tiket film, yang berarti bahwa potensi pasar di Indonesia masih besar, dan itu masih belum dimanfaatkan. Jadi kami ingin memastikan bahwa kami tetap setia pada visi kami tentang bagaimana memperbanyak industri film Indonesia, dan pada saat yang sama, kami dapat menjadi platform untuk membantu para pembuat konten untuk menampilkan bakat mereka. Dan semoga kita juga dapat menggunakan ini untuk membentuk generasi Indonesia masa depan melalui konten positif.

ALAN 28:11
Edy, diskusi ini telah menjadi tutorial yang sangat menarik tentang konten online di Indonesia, dan kami mengharapkan yang terbaik bagi Anda untuk dapat memenuhi semua pencapaian yang Anda telah targetkan. Nah, ini kesimpulan dari episode kedelapan Indo Tekno. Sekali lagi, terima kasih banyak telah bergabung dengan kami hari ini, Edy.

EDY SULISTYO 28:28
Terima kasih.

ALAN 28:28
Podcast ini diterjemahkan dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia oleh Alpha JWC Ventures. Terima kasih untuk mendengarkan. Sampai jumpa lagi!

Stay up to date with our latest podcast episodes

For general inquiries, please get in touch

© 2020 by Indo Tekno Podcast