TRANSKRIP​EPISODE 23

(Versi bahasa Inggris)

Episode Duapuluh Tiga

Pentingnya kredit:

Akshay Garg dari Kredivo

10 November 2020

 

ALAN 0:10
Selamat datang di Indo Tekno episode ke-23. Terima kasih telah bergabung dengan kami. Selamat datang kembali semuanya! Nama saya Alan Hellawell, pendiri konsultan Gizmo Advisors dan Venture Partner di Alpha JWC Ventures. Sekarang, jika kita mengesampingkan raksasa teknologi seperti Grab dan Gojek sebagai apa yang sering disebut permainan multi-vertical atau "super app", menurut Cento Ventures, bidang investasi VC terbesar di Asia Tenggara selama dua tahun terakhir adalah FinTech dan e-commerce. Beberapa kombinasi bisnis terbesar di dunia teknologi memang berada di antara FinTech dan e-commerce; Ant Financial dan Alibaba, serta PayPal dan eBay sebagai dua contoh. Tamu kami hari ini, Akshay Garg, lebih dari lima tahun yang lalu mendirikan FinAccel, yang beroperasi di persimpangan e-commerce dan financial services. Produk utama FinAccel adalah e-commerce financing, Kredivo, sebuah platform buy-now-pay-later untuk memberikan kredit pembelian. Saya sangat senang Anda bergabung dengan kami hari ini, Akshay.

AKSHAY GARG 1:14
Terima kasih telah menerima saya di sini Alan.

ALAN 1:16
Akshay, dalam mempersiapkan podcast hari ini, tim menemukan bahwa sebagian besar masa lalu Anda berputar di China. Bisakah Anda berbagi dengan kami apa yang membuat Anda tertarik pada studi China dan negara China itu sendiri?

AKSHAY GARG 1:29
Ya, tentu. Tim Anda melakukan penelitian mereka dengan benar. Ini dimulai dengan mengambil kelas bahasa Mandarin selama kuliah dan saya jatuh cinta dengan bahasanya. Saya selalu tertarik pada bahasa. Saya rasa saya tidak terlalu berbakat, karena saya harus bekerja keras untuk bisa mahir (berbahasa asing), tapi saya pikir mempelajari bahasa Mandarin di luar normalnya belajar Bahasa Latin dan Yunani-Romawi adalah pengalaman baru. Itu membuat saya mengambil cuti setahun setelah kuliah dan menghabiskan satu tahun di China—di barat daya, Yunan—bekerja sebagai asisten peneliti untuk seorang profesor, yang saya pikir pada saat itu adalah pekerjaan termanis di dunia. Jobdesc saya mengharuskan saya membantunya selama dua jam sehari dalam melakukan penelitian ekonomi dan juga menjadi asisten pengajar. Saya bisa melakukan apa pun yang saya inginkan di luar dua jam bekerja saya sehari. Saya benar-benar jatuh cinta dengan bahasanya. Saya akhirnya menghabiskan beberapa jam per hari di kelas bahasa Mandarin, dan beberapa waktu luang yang saya miliki bepergian keliling China. Jadi itulah awalnya; terjadi sekitar tahun 2000-2001, awal dari ketertarikan dan cinta dengan negara ini.

ALAN 2:32
Kami mungkin bisa mengabdikan sisa podcast kami untuk beberapa kesan Anda mengenai China. Nah Akshay, tolong ceritakan kisah Anda berada hampir delapan tahun di Komli Media.

AKSHAY GARG 2:43
Komli didirikan pada awal tahun 2007. Saya merupakan salah satu pendiri perusahaan itu bersama dengan Amar Goel dan beberapa orang yang kemudian memutuskan untuk membangun perusahaan lain bernama PubMatic. Komli didirikan dengan premis untuk meningkatkan inteligensi dunia pemasaran dan periklanan. Secara tradisional, periklanan berjalan sesuai dengan yang digambarkan oleh serial Mad Men, dengan banyaknya anggaran yang dialokasikan demi menjalin relasi serta boozy lunches. Namun di awal dekade terakhir, dunia pemasaran dan periklanan juga mulai jauh lebih terukur. Salah satu hal yang mulai muncul adalah inovasi yang disebut "RTB", real time bidding; yang pada dasarnya membawa kerangka atau struktur otomatisasi dan harga real-time yang sama seperti pada, katakanlah, pasar saham ke dunia periklanan. Kami mengumpulkan sekitar 80 juta dolar AS pendanaan modal ventura dari beberapa investor papan atas, baik di dalam dan di luar India, hingga akhirnya Komli exit ke Axiata, perusahaan telekomunikasi Malaysia. Jadi, apa yang disebut Adknowledge yang merupakan lengan digital Axiata sebenarnya adalah rebranding dari Komli Media. Mereka memperoleh aset bisnis itu pada tahun 2014. Itu adalah pengalaman yang sangat menarik. Saya belajar banyak tentang dunia data. Sejujurnya, itulah yang membawa saya ke FinAccel.

ALAN 3:58
Jadi Akshay, dalam situasi apa ide FinAccel dan Kredivo lahir?

AKSHAY GARG 4:05
Kredivo tidak akan berada di sini jika bukan karena waktu yang saya habiskan di Komli. Bagian dari apa yang saya lakukan di Komli adalah banyak pekerjaan di sisi data. Itulah latar belakang saya sebelum terjun ke dunia kerja. Saya terdaftar dalam program doktoral terintegrasi di bidang ekonomi di luar Eropa Barat. Program ini terbilang sangat kuantitatif. Dan secara umum, saya sangat menikmati dunia data. Saya selalu menikmati bermain-main dengan angka dan menemukan pola di dalamnya. Dan terus terang, itu sisi saya yang mulai muncul di Komli. Namun, yang sebenarnya menyebabkan berkembangnya ide mengenai apa yang akan dilakukan FinAccel sebenarnya adalah pertemuan dari beberapa "mega waves", benar. Pertama, jelas bahwa emerging market seperti Indonesia dari perspektif makroekonomi bukan lagi bisa disebut negara miskin. Indonesia adalah negara berpenghasilan menengah. Kita telah menyentuh ambang PDB $ 3.000 per kapita. Kedua, munculnya sejumlah besar data audiens melalui adopsi Android. Sepuluh tahun yang lalu, data tersebut tidak ada; tetapi hari ini hampir semua orang memiliki smartphone Android. Ketiga, ada peluang pasar untuk dapat memberikan kredit kepada individu yang secara historis belum disetujui oleh bank karena kurangnya data biro kredit. Jadi sebenarnya ketiga hal inilah yang menjadi latar belakang. Tapi sejujurnya, kekuatan pendorong dalam memutuskan untuk mengejar kesempatan ini datang dari keinginan membuat perbedaan. Sangat penting bagi saya pada saat ini untuk mencurahkan sebagian besar kehidupan kerja saya demi sesuatu yang benar-benar membuat perbedaan dalam kehidupan jutaan orang. Saya juga merupakan bagian dari studi mendasar yang dilakukan oleh Organisasi Perburuhan Internasional dan Bank Dunia pada tahun 2004. Itu adalah masa ketika saya bekerja di PBB sebagai analis statistik junior di mana kami melihat peran pengiriman uang di suatu market, seperti Senegal di Afrika Barat, Filipina di Asia, Meksiko di Amerika Utara. Dan seperti yang kita ketahui, ada banyak tenaga kerja dari negara-negara ini yang bekerja di negara lain dan mengirimkan uang kembali ke rumah. Faktanya, banyak dari pengiriman uang ini berperan sebagai kredit informal, disebabkan oleh tidak adanya akses jaringan perbankan formal di negara asal keluarga dari tenaga kerja tersebut. Jadi, ada banyak data di luar sana, dan saya adalah bagian dari studi yang sangat, sangat penting yang memvalidasi betapa pentingnya remitansi bagi kaum miskin produktif untuk membantu mereka membangun bisnis dan meningkatkan gaya hidup mereka selama periode waktu tertentu. Idenya di sini adalah bahwa ada celah di pasar; ada peluang untuk membuat perbedaan bagi kehidupan puluhan juta orang dalam jangka Panjang, dan peluang tersebut sangat besar pada saat ini. Jadi kenapa tidak? Itulah yang sebenarnya memulainya.

ALAN 6:33
Latar belakang yang sangat mencerahkan. Akshay, dapatkah Anda menjelaskan kepada kami produk Kredico yang sebenarnya, dan mungkin memberi kami gambaran tentang popularitasnya?

AKSHAY GARG 6:41
Kredivo ada di persimpangan e-commerce dan kredit. Kredivo lahir di persimpangan dua area permasalahan yang sangat besar. Salah satunya adalah kurangnya akses kredit. Saya baru saja membicarakan itu sebagai tanggapan atas pertanyaan Anda sebelumnya. Tetapi untuk menempatkan ini dalam perspektif; Indonesia, yang sebenarnya adalah satu-satunya pasar yang kita operasikan saat ini, merupakan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, ekonomi triliunan dollar yang memiliki 70 hingga 80 juta orang di kelas menengah yang memiliki sifat konsumtif. Tapi fakta yang sedikit diketahui, Alan: jumlah total pemegang kartu kredit tidak beranjak dalam hampir 10 tahun. Jumlahnya tujuh sampai delapan juta pemegang kartu kredit pada tahun 2008. Dan jumlahnya masih sama sampai sekarang. Saya tahu itu mengejutkan orang, tapi itu benar. Dan dalam periode yang sama, kelas menengah meningkat lebih dari dua kali lipat. Jelas ada sesuatu yang salah; yaitu bahwa bank pada umumnya tidak melakukan pinjaman tanpa jaminan di pasar ini (Indonesia) dan beberapa pasar lainnya dalam kawasan ini (Asia Tenggara). Tapi Kredivo tidak hanya menyerang masalah ini, tapi juga menyerang masalah banyak friction dalam hal pembayaran e-commerce. Dengan Komli, startup saya sebelumnya, klien terbesar kami adalah pemain e-commerce terbesar di wilayah Australia, Asia Tenggara, dan India. Dan salah satu tantangan yang saya temukan bekerja sangat erat bersama para pemain e-commerce ini adalah bahwa hambatan pembayaran berada di luar kendali. Mereka menghabiskan banyak uang untuk mendapatkan pelanggan ke situs web mereka untuk datang dan bertransaksi. Tetapi hanya dengan adanya hambatan yang terlibat dalam mengakhiri transaksi di kasir, banyak pelanggan memutuskan berhenti. Jadi, ide Kredivo benar-benar muncul dari pemecahan dua masalah: membangun pembayaran e-commerce yang sangat cepat dan sederhana, serta membangun pengalaman yang dari sudut pandang kami benar-benar membuat pelanggan ketagihan. Kedua, memberi sesuatu yang tidak dapat mereka akses di masa lalu, yaitu real-time credit. Itulah yang sebenarnya memulainya. Kami menciptakan produk ini berdasarkan pilar: aplikasi cepat, persetujuan cepat, dan pembayaran instan. Kami mengambil tiga area masalah inti dari waktu persetujuan aplikasi, kemudian checkout transaksi, dan menurunkan waktu tersebut sedekat mungkin ke nol dalam hal jumlah detik atau menit yang dibutuhkan. Latar belakang tersebut yang pada dasarnya memulainya (Kredivo), dan itu latar belakang tersebut juga lah yang membawanya ke posisi sekarang ini.

ALAN 8:42
Akshay, layanan tambahan apa lagi, atau produk baru apa, yang dipetakan FinAccel?

AKSHAY GARG 8:49
Pastinya kami memikirkan beberapa (layanan tambahan). Kami sangat fokus untuk membangun Kredivo selama empat setengah tahun terakhir. Sekarang perjalanan sudah hampir lima tahun; kami akan merayakan lima tahun bersama Kredivo pada April tahun depan. Kami sangat aktif menginkubasi dan membangun beberapa layanan lainnya. Beberapa dari mereka sebenarnya ada di dalam Kredivo. Misalnya, alih-alih hanya kredit e-commerce, kami mencermati peluncuran produk seputar pinjaman pendidikan dan perawatan kesehatan, di mana pelanggan dapat menggunakan batas kredit yang sama untuk, misalnya, mengambil pinjaman pendidikan dengan bunga rendah. Beberapa layanan berada di luar brand Kredivo. Tapi kami berpikir untuk menginkubasi beberapa layanan dan ruang lain dari spektrum kredit.

ALAN 9:28
Menarik. Kedengarannya itu seperti lahan yang sangat subur. Akshay, Anda menyebutkan bahwa fokus FinAccel saat ini adalah Indonesia. Apakah Anda memiliki rencana ekspansi?

AKSHAY GARG 9:38
Ya, dan sekarang kami seharusnya sudah hadir di setidaknya satu negara lain di kawasan ini (Asia Tenggara). Tetapi karena COVID-19, beberapa dari rencana itu telah ditunda untuk sementara waktu. Faktanya, beberapa negara masih dalam status lockdown. Jelas tidak ada perjalanan pada saat ini. Untuk tahun ini, kami benar-benar menarik diri dari rencana internasional. Namun dengan asumsi bahwa situasi mulai normal pada satu atau dua kuartal ke depan, kami berharap dapat memasuki setidaknya satu pasar lain, dan secara aspiratif kami ingin hadir setidaknya dua pasar di luar Indonesia pada akhir tahun depan. Pasar yang kami lihat pada dasarnya adalah pasar lain dengan akses kredit yang sangat rendah; negara-negara seperti Filipina, Vietnam, dan Thailand sampai batas tertentu—meskipun Thailand sebenarnya memiliki situasi yang jauh lebih baik dengan akses ke kredit daripada banyak pasar lain di bagian dunia ini.

ALAN 10:26
Sekarang, jika kita mengambil waktu di sekitar waktu berdirinya FinAccel, hampir lima tahun lalu, sebagai titik awal dari panggung FinTech hari ini, menurut Anda apa yang menjadi highlights dan lowlights dari keseluruhan industri selama lima tahun intervensi tersebut?

AKSHAY GARG 10:42
Sebelum saya membahas sorotan, mungkin penting bagi saya untuk memberikan beberapa latar belakang seputar mengapa beberapa hal ini menjadi sorotan. Asia Tenggara masih merupakan ekosistem teknologi yang sangat muda. Terdapat beberapa perusahaan lain; Tokopedia dan Bukalapak sudah dimulai bahkan sebelum kami ada. Ini hanya dua yang saya tarik di antara beberapa perusahaan lain yang telah ada selama hampir 10 tahun. Dan kami baru berusia lima tahun. Kami tidak memiliki akses jumlah modal atau jumlah talent seperti yang tersedia di AS, China, atau bahkan India. Sementara dua hal ini—talent dan modal—secara umum merupakan dua pilar yang benar-benar mendorong industri teknologi di dunia. Kurangnya akses ke modal ketika kami memulai adalah salah satu masalah, dan masalah itu kini sudah menjadi lebih baik. Kurangnya akses terhadap sumber daya manusia juga semakin baik. Namun, kami masih pada titik di mana secara general talent yang terbaik dan terpandai masih berpikir untuk bergabung dengan karir yang lebih stabil dibandingkan bekerja di startup. Jadi, jika disatukan; apa sajakah highlight-nya? Akses ke permodalan pasti meningkat. Ketika kami memulai, ada beberapa pemberi dana early-stage yang mencoba memecahkan masalah "Seed-ke-Seri-A". Beberapa tahun kemudian, ada beberapa pemberi dana yang mencoba untuk memecahkan masalah Seri B. Jika Anda melihat pasar, saat ini sudah ada banyak modal tersedia bagi startup tahap Seed, Seri A dan B. Masalah besarnya adalah apa yang Anda lakukan pasca-B? Anda masih menemukan kekurangan kumpulan modal yang berada di antara kategori tersebut dan kategori private equity. Itu bisa membaik nantinya—jadi, satu highlight adalah meningkatnya akses atas modal. Sorotan kedua, pasti ada lebih banyak talenta berkualitas tinggi yang tersedia di pasar seperti Singapura, tetapi lebih sedikit di beberapa pasar lain di Asia Tenggara, di mana secara umum, orang cenderung lebih enggan mengambil risiko (bekerja di startup). Talenta terbaik dan paling cemerlang masih berpikir tentang perbankan, konsultasi dan hukum sebagai pilihan karir tradisional. Kami hanya harus bekerja lebih keras untuk menarik talenta hebat. Tapi, kini situasinya membaik. Dalam hal lowlight industri: membangun perusahaan, baik itu di FinTech atau apa pun, tidak pernah mudah. Kami menyantap tantangan dan masalah sebagai makanan sehari-hari. Tetapi saya akan mengatakan salah satu kekurangannya mungkin berasal dari fakta bahwa ini masih merupakan ekosistem tahap awal. Saya sering merasa; baik itu investor atau karyawan, mereka pikir bahwa mereka bisa bertindak semaunya. Beberapa hal yang pernah saya lihat—dan jika Anda berbicara dengan founders mana pun yang telah membangun bisnis penting di belahan dunia ini—orang akan memberi tahu Anda bahwa Anda melihat perilaku tertentu yang tidak Anda miliki di pasar yang sudah maju, bahwa reputasi adalah mata uang yang sangat penting. Kami melihat banyak hal di sini: orang memutuskan untuk tidak bergabung setelah mereka menandatangani offer-letter, investor menahan diri setelah adanya kesepakatan atau bahkan langsung pergi begitu saja. Ada banyak jenis permasalahan early-stage, dan itu terjadi di Sebagian besar pasar early-stage. Semoga semuanya akan menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.

ALAN 13:13
Sebagai follow up, Akshay, saya juga ingin memahami tantangan apa yang lebih intrinsik bagi FinTech. Adakah pengambilan keputusan yang mencegah FinTech menjadi raksasa yang diharapkan semua orang?

AKSHAY GARG 13:30
Itu pertanyaan yang bagus. Pasti ada tantangan dengan rezim P2P (peer-to-peer). Namun kita tidak boleh melupakan fakta bahwa pasar semacam Indonesia telah berpikiran maju dan proaktif dalam menciptakan rezim P2P; lain dari Vietnam atau Thailand, di mana tidak ada yang seperti itu. Hal tersebut juga mengarah pada penciptaan permainan kredit tertentu, seperti kami (FinAccel). Begitulah cara kami memulai. Kami sekarang bukan lagi perusahaan peer-to-peer. Kami beroperasi di bawah lisensi multifinance. Tapi, awalnya, itu adalah jalur akses terbaik bagi kami dan banyak perusahaan lain. Kembali ke poin Anda: poin intinya adalah baik itu peer-to-peer, multifinance maupun payments, pada awalnya, salah satu area yang mungkin saya anggap remeh adalah kerumitan peraturan yang berkaitan dengan layanan keuangan. Hanya dengan definisi (layanan keuangan) saja, Anda harusnya bisa memprediksi pasti ada peraturan di dalamnya; dan regulasi itu rumit dan dalam. Seringkali, jika peraturan mengatakan bahwa Anda harus memiliki modal sebesar X sebelum Anda dapat memasuki ruang tertentu, tidak banyak yang dapat Anda lakukan. Semua peraturan ini dirancang dengan niat yang baik, namun salah satu konsekuensi dari hal itu mungkin adalah dampak yang sedikit negatif pada banyaknya inovasi yang bisa terjadi, karena banyak startup yang tidak dapat berkembang karena beratnya peraturan di bidang tertentu. Kenyataannya, ini adalah ruang yang sangat kompleks. Kembali ke poin sebelumnya, saya ingin mengatakan satu highlight adalah bahwa regulator di beberapa negara, terutama Indonesia, sangat proaktif dalam membuat perangkat regulasi yang tepat untuk mendorong inovasi.

ALAN 14:57
Sekarang Akshay, keputusan penting apa, baik itu produk perhitungan yang telah dipelajari atau sekadar keberuntungan belaka, yang dibuat FinAccel untuk bisa mencapai posisinya saat ini?

AKSHAY GARG 15:09
Saya mungkin akan menyoroti dua keputusan inti yang sangat penting bagi kesuksesan kami hingga saat ini (dan kesuksesan adalah istilah yang relatif; kami masih dapat melakukan banyak hal dengan jauh lebih baik, Alan). Jika saya dipaksa untuk menyoroti satu atau dua hal, yang pertama adalah mengembangkan kemampuan teknologi kami sendiri. Ada banyak perusahaan di dalam dan luar Kawasan ini, terutama dari China, yang menjajakan credit scoring dan automated collection software. Beberapa di antaranya adalah solusi luar biasa. Tetapi jika Anda benar-benar mendambakan sesuatu yang hebat, Anda harus benar-benar memahami apa yang terjadi secara menyeluruh dan mengontrol setiap aspek. Jadi kami telah mengambil pendekatan proprietary credit scoring and collections. Dengan hampir semua hal yang kami lakukan, baik dalam hal persetujuan kredit maupun mesin pengumpulan (kredit) yang kami jalankan, seluruhnya dirancang secara internal. Kami tidak benar-benar menggunakan lisensi perangkat lunak pihak ketiga eksternal dari orang lain. Kini (hasilnya) terlihat jelas, tetapi di awal kami memulai, itu adalah keputusan yang membuat orang "menggaruk kepala", baik dari tim manajemen maupun dari beberapa pihak investor. Tapi usaha itu kini terbayar, karena ketika kita melihat hasilnya, bahkan di tengah perlambatan ekonomi yang biasanya berdampak sangat negatif pada metrik kredit, kita dapat melihat "proof in the pudding". Mengenal pelanggan serta data pelanggan luar dalam dan mengetahui apa yang harus kami lakukan dengan algoritma yang kami punya sangat membantu kami mengendalikan dan menavigasi situasi dengan cara yang jauh lebih baik daripada pihak lain yang mungkin mengandalkan outsourcing . Itu nomor satu. Kedua adalah benar-benar memikirkan layanan kami bukan hanya dalam ranah pinjaman, tetapi sebagai pembayaran dan pinjaman. Sebagian besar perusahaan pemberi pinjaman cenderung benar-benar beroperasi sebagai penyedia pinjaman pribadi atau penyedia pinjaman angsuran, membantu pengguna mendapatkan akses ke modal ketika mereka akan membeli dalam jumlah besar. Tetapi faktanya, pengguna tidak melakukan pembelian dalam jumlah besar setiap hari. Mereka biasanya akan mengonsumsinya setiap tiga hingga enam bulan, bahkan lebih jarang. Ketika Anda memiliki frekuensi kecil untuk pembelian besar atau kebutuhan besar, Anda tidak menciptakan kesetiaan apa pun di basis pelanggan Anda. Pelanggan dapat dengan mudah berbelanja sekitar enam bulan kemudian untuk produk yang berbeda. Hal tersebut, secara umum, mengarah pada ekonomi unit yang mungkin tidak begitu kuat. Dalam kasus kami, panggilan yang sangat penting yang kami ambil di masa-masa awal adalah kami harus memikirkan retensi dengan sangat mendalam. Hal itu mengarah pada produk yang tidak hanya memberikan akses pinjaman angsuran atau pinjaman pribadi tingkat tinggi, tetapi juga menyederhanakan pembayaran. Dan itulah produk inti "pay later" kami, di mana Anda dapat melakukan transaksi serendah 5.000 Rupiah, atau sebanyak 1 juta Rupiah, dan membayar kembali selama 30 hari tanpa bunga sama sekali. Jadi fakta bahwa kami sebenarnya tidak hanya menyelesaikan akses kredit, tetapi juga kesulitan/hambatan pembayaran, akhirnya menciptakan salah satu metode pembayaran paling lekat dengan e-commerce di negara ini. Dan itu telah menghasilkan beberapa efek jaringan yang sangat positif untuk bisnis cicilan kami.

ALAN 17:48
Penjelasan yang masuk akal. Akshay, Anda telah menyebutkan bahwa platform e-commerce jelas berperan dalam kesuksesan FinAccel. Bagaimana hubungan itu berkembang ke depan?

AKSHAY GARG 17:58
Kami memandangnya sebagai hubungan simbiosis. Kedua belah pihak diuntungkan. Kami adalah penggerak e-commerce. Sesederhana itu; ayaknya PayPal bagi orang-orang e-commerce di AS, atau Klarna bagi pemain e-niaga di Eropa: pada dasarnya menyederhanakan pembayaran dan akses ke kredit. Dan itulah yang kami lakukan. Pandangan kami adalah bahwa kami di sini pada dasarnya membantu Anda sebagai pemain e-commerce untuk meningkatkan penjualan Anda. Itulah yang kami lakukan. Kami tidak menjalankan permainan e-commerce sendiri. Kami adalah platform pembayaran atau platform kredit yang sepenuhnya horizontal, yang sekarang diadopsi oleh lebih dari 300 pedagang. Delapan atau sembilan dari 10 pedagang e-commerce teratas di Indonesia sudah bekerja sama dengan kami. Jadi fakta bahwa kami tidak memiliki kepentingan selain membantu Anda sebagai pedagang e-commerce meningkatkan penjualan meningkatkan minat dengan cukup kuat. Kurang dari 3% populasi memiliki akses ke produk kredit formal. Jadi sudah jelas bahwa kami benar-benar memenuhi kebutuhan inti. Kedua, kepentingan kami selaras; (bisnis) kami membaik jika kami membantu Anda menjadi lebih baik—dalam arti meningkatkan penjualan Anda—benar-benar menguatkan hubungan FinAccel dan e-commerce. Hampir semua pedagang kami memiliki cara pikir yang sama. Kami tidak melakukan sesuatu yang unik di sini. Seperti yang saya katakan, tidak ada bedanya dengan bagaimana PayPal memungkinkan penjualan di AS atau Klarna melakukan hal yang sama di Eropa, atau yang dilakukan perusahaan lain di bagian lain dunia.

ALAN 19:15
Akshay, Anda tadi sempat membahas regulator. Apa peran regulator yang saat ini terkait dengan Kredivo?

AKSHAY GARG 19:23
Kredivo di Indonesia diatur dalam regulasi multifinance. Peran utama regulator adalah: a) untuk memastikan bahwa kami tidak melakukan apa pun yang merugikan kepentingan konsumen (praktik peminjaman dan penagihan kami sejalan dengan regulasi), dan b) bahwa kami melanjutkan sebagai sesuatu yang harus terus diperhatikan. Jadi ada beberapa metrik keuangan yang perlu kita laporkan kepada regulator seputar rasio kecukupan modal, leverage, dll. Dan semua ini pada dasarnya dimaksudkan untuk memastikan bahwa kita tidak akan melakukan hal-hal yang terlalu berisiko untuk kelangsungan hidup dalam jangka panjang. Peran regulator pada dasarnya adalah memastikan bahwa mereka mengatur lapangan bermain dan bahwa perusahaan tetap berada di dalam area tersebut. Menurut kami, dalam hal ini, regulator melakukan pekerjaan yang fenomenal. Kami terus terang sangat bersyukur menjadi perusahaan yang diatur karena itu juga membantu kami meningkatkan kepercayaan di mata pelanggan kami.

ALAN 20:11
Sekarang, seperti yang saya singgung sebelumnya, China telah mengalami perjalanan roller coaster yang cukup menarik selama pengembangan industri FinTech. Apa hal terpenting yang ingin Anda kutip dari preseden China?

AKSHAY GARG 20:23
Saya mungkin harus belajar mengenai Cina lebih banyak daripada sebelumnya. Salah satu yang sangat menonjol adalah bagaimana industri peer-to-peer di China benar-benar meledak. Satu hal yang sangat penting dari kejadian tersebut adalah baik itu dari sudut regulasi maupun dari sudut pandang membangun perusahaan, Anda hanya harus sedikit lebih memikirkan cara lain dalam membangun kredit bisnis yang lebih sukses dari model peer-to-peer, karena model tersebut pastinya memiliki beberapa tantangan. Saya bisa bilang itu adalah salah satu hal penting untuk dipikirkan; itu merupakan sebuah peringatan atau wake-up call bahwa model tersebut mungkin bukan model terbaik untuk membangun bisnis kredit. Hal menarik lainnya, Anda perlu menghormati hukum negara dan realitas setiap negara. Mengingat apa yang baru saja terjadi dengan IPO Ant, semua orang dikejutkan oleh fakta bahwa IPO terbesar dalam sejarah pasar publik baru saja ditarik 24 jam sebelum seharusnya dihentikan, menunjukkan bahwa saat kita hidup di dunia yang mengglobal dan kita sedang membangun bisnis di dalamnya; sangat penting untuk diketahui wilayah di mana Anda membangun bisnis tersebut, dan tetap berada dalam batas-batas yang ditetapkan oleh regulator. Ini bukan ruang di mana orang bisa melakukan apa pun yang mereka inginkan. Sesederhana itu.

ALAN 21:34
Untuk melanjutkan pertanyaan: adakah perbandingan kualitatif yang dapat Anda bagikan kepada kami terkait penetrasi atau adopsi produk keuangan online antara China dan Indonesia?

AKSHAY GARG 21:44
Secara kualitatif, dua hal yang akan saya tunjukkan adalah: 1) kecepatan dan 2) kualitas eksekusi. China sangat mengejutkan. Sebagai pendiri, sebagai pengusaha, saya benar-benar melihat apa yang terjadi di China dari perspektif seberapa cepat mereka bergerak, serta seberapa baik mereka bergerak dengan kecepatan yang mereka miliki. China adalah negara di mana waktu diukur, bukan dalam hal tahun, tetapi jam dan menit. Saya masih ingat betapa terpesonanya saya. Bangunan akan dibangun dalam hitungan bulan, bukan tahun. 24/7; perusahaan China mengambil pendekatan yang sama untuk membuat produk dan meluncurkannya. Adopsi sangat cepat, eksekusi cepat. Hal kedua yang akan saya katakan adalah mereka hanya membuat produk yang berkualitas tinggi. Saya rasa tidak ada ekosistem lain di dunia ini dengan keragaman layanan dan produk keuangan yang tersedia di seluruh spektrum. Dan itu membuat Anda berhenti sejenak, memikirkan bagaimana mereka bisa menciptakan masa depan dengan cara yang tidak dimiliki orang lain. China adalah tempat yang tepat untuk mencari contoh seperti apa masa depan dalam hal adopsi produk dan layanan keuangan, serta kecepatan penetrasi.

ALAN 22:48
Anda telah menyebutkan sebelumnya dalam percakapan bahwa credit scoring sangat penting untuk keberhasilan inisiatif peminjaman apa pun. Menurut Anda, bahan atau data penting apa yang dibutuhkan oleh credit scoring yang sukses saat ini?

AKSHAY GARG 23:02
Kualitas credit score Anda berkorelasi langsung dengan luas dan dalamnya data yang Anda miliki. Artinya apa? Memiliki lebih banyak sumber data, terutama data berkualitas tinggi, itu sangat penting. Itu (credit scoring) tidak akan bekerja jika Anda hanya memiliki satu dari keduanya. Kami tidak akan berada di sini jika kami tidak mengonsumsi data dalam jumlah besar di berbagai sumber yang sangat beragam. Dan yang penting bukan hanya keragaman, tetapi juga memastikan bahwa semua data ini benar-benar berkualitas tinggi. Jenis data yang akan masuk credit scoring saat ini adalah kombinasi dari data tradisional KYC ("know your customer") yang keluar dari kartu identitas Anda dan yang divalidasi oleh otoritas nasional, data e-commerce, data telekomunikasi, dan data lokasi sampai batas tertentu. Saya akan mengatakan itu mungkin empat hal yang sangat penting untuk masuk ke alternatif database credit scoring saat ini. Bagi siapapun yang ingin membangun bisnis pinjaman di pasar berkembang, sangat penting untuk mengakses sebanyak mungkin sumber data ini dengan berbagai kedalaman. Mendapatkan data telco, sebagai contoh, kedengarannya mudah; bukan karena Anda perlu terikat dengan masing-masing telco, bernegosiasi dengan mereka untuk berbagai data yang dapat Anda peroleh dan memastikan bahwa semua ini benar-benar sesuai dengan hukum yang berlaku; tetapi karena Anda jelas tidak bisa melakukan apa pun yang Anda inginkan tanpa persetujuan pelanggan. Semua masalah ini cukup kompleks. Kami membutuhkan waktu hampir lima tahun untuk sampai pada titik di mana kami benar-benar percaya bahwa tumpukan data kami lebih komprehensif daripada pemain lain di pasar. Secara umum, saya tidak bisa meremehkan pentingnya memiliki database berkualitas tinggi. Itu (data) adalah salah satu investasi besar kami.

ALAN 24:34
Akshay, dapatkah Anda memandu kami melalui berbagai tahapan tentang bagaimana COVID-19 telah memengaruhi bisnis Anda sejak awal tahun?

AKSHAY GARG 24:42
COVID-19 adalah tsunami yang cepat dan dahsyat bagi Indonesia. Kami telah melihatnya datang. COVID-19 telah menyentuh bagian Barat dunia sedikit lebih awal daripada di Indonesia. Di Indonesia, kami melihat beban terbesarnya berada pada bulan April. Jadi mulai bulan April, kami memperlambat pencairan secara signifikan. Peek-to-trough kami melambat sekitar 50%, atau sedikit kurang dari itu, dalam hal penyebaran. Satu-satunya alasan untuk melakukan itu adalah metrik risiko yang terlihat akan memburuk. Kami ingin mengurangi eksposur sebagaimana halnya pemberi pinjaman yang bijaksana. Jadi kami masih memberikan pinjaman kepada peminjam berkualitas tinggi; tetapi secara umum, kami hanya mengambil pendekatan yang lebih konservatif bagi area lain. Kami memperlambat pencairan. Kami melihat beberapa tekanan dalam portofolio kami di Kuartal 2, yang kemudian membuat kami bekerja sangat keras untuk Kelola dengan menggandakan collection, memperketat aturan penjaminan emisi, dll. Mulai di Kuartal 3, kami pada dasarnya telah kembali ke mode normal. Sejak September, akhir Kuartal 3, kami sudah berada di posisi lebih depan dibandingkan dengan posisi kami pra-COVID. Singkatnya; kami melewati tahap perlambatan, dan pada dasarnya hanya mengurangi eksposur ke pelanggan berisiko tinggi, kemudian di tahap kedua kami menyesuaikan ambang risiko dan hanya onboard pelanggan dengan risiko yang dapat diterima, lalu tahap ketiga—di akhir kuartal 3—kembali ke kondisi normal. Jadi dari sudut pandang kami, saat ini, bisnis sebenarnya lebih berkembang dibanding sebelum terjadi COVID, dan kami beroperasi normal sepenuhnya.

ALAN 26:02
Senang mendengarnya. Akshay, apa yang paling menginspirasi Anda tentang konsumen Indonesia? Apakah ada segmen demografis atau sosial-ekonomi tertentu yang membuat Anda sangat optimis?

AKSHAY GARG 26:12
Bagi konsumen Indonesia, yang paling memotivasi dan menginspirasi saya adalah kenyataan bahwa mereka sangat eksperimental. Mereka ingin mengadopsi produk dan layanan baru, dan mereka mengekspresikan lebih banyak lagi kebutuhan. Jadi, jika Anda membuat produk atau layanan yang hebat, Anda memiliki peluang yang luar biasa untuk sukses hanya karena pelanggan bersedia mengadopsi produk dan layanan baru. Ada banyak sekali pelanggan yang tidak terlayani oleh berbagai macam layanan keuangan. Kami hadir untuk berusaha dan melakukan yang terbaik untuk melayani sebanyak yang kami bisa—yang harapannya mencapai puluhan juta nasabah—dengan berbagai layanan keuangan yang membuat hidup mereka jauh lebih baik. Itulah yang membuat saya, dan perusahaan saya, tandai.

ALAN 26:52
Saya selalu menikmati percakapan kita selama bertahun-tahun, Akshay, dan sekali lagi, saya belajar banyak dari Anda melalui obrolan kita hari ini. Terima kasih banyak telah bergabung.

AKSHAY GARG 27:01
Terima kasih telah mengundang saya ke sini. Ini sangat menyenangkan. Terima kasih telah menerima saya, Alan.

ALAN 27:04
Terima kasih Kembali, Akshay. Podcast hari ini diterjemahkan dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia oleh Alpha JWC Ventures. Terima kasih telah mendengarkan. Sampai jumpa lagi!

Transcribed by https://otter.ai
 

Stay up to date with our latest podcast episodes

For general inquiries, please get in touch

© 2020 by Indo Tekno Podcast