TRANSKRIP​EPISODE 20

(Versi bahasa Inggris)

Episode Duapuluh

Memanfaatkan Sinergi Cina:

Benny Chen dari BAce Capital

20 Oktober 2020

 

ALAN 0:10
Selamat datang di episode ke-20 Indo Tekno ...

ART DICKER 0:13
... dan episode baru dari Gan Bei, serta episode ketiga dari Sino Indo Tekno. Saya Art Dicker, pengacara teknologi dan pembawa acara podcast Gan Bei di Shanghai.

ALAN 0:22
Dan saya Alan Hellawell, Pendiri konsultan teknologi Gizmo Advisors, dan Venture Partner di Alpha JWC Ventures.

ART DICKER 0:30
Sebagai bagian dari misi kami untuk menjabarkan konektivitas teknologi yang berkembang antara China dan Indonesia, kami sangat senang menyambut tamu podcast hari ini dari salah satu VC terkemuka yang terlibat dalam membangun koridor ini, Benny Chen, Managing Partner BAce Capital.

ALAN 0:42
Selamat datang Benny.

BENNY CHEN 0:44
Terima kasih Alan dan Art telah mengundang saya hari ini.

ART DICKER 0:48
Dengan senang hati, Benny. Bisakah Anda memberi kami gambaran tentang perjalanan pribadi Anda yang akhirnya mengarah pada peran Anda saat ini sebagai Managing Partner di BAce Capital?

BENNY CHEN 0:56
Tentu. BAce Capital didirikan oleh saya dan KK (Kshitij Karundia) pada awal tahun 2019. Lima tahun sebelumnya, saya dan KK bekerja sangat erat untuk Alibaba dan Ant Financial. Kami adalah bagian dari tim ekspansi pertama global untuk investasi dan membangun bisnis dari sejak awal 2015. Kami berinvestasi di banyak perusahaan atas nama Alibaba dan Ant dalam lima tahun itu. Kami melakukan banyak perjalanan ke China, India, Asia Tenggara, terutama Singapura, Indonesia, dan beberapa negara lainnya. Sebelumnya, saya berkecimpung di bidang pembiayaan hutang, dan juga telekomunikasi. Saya tinggal di India dan Singapura selama lebih dari tujuh tahun dalam hidup saya. Saya menyaksikan pertumbuhan infrastruktur seluler, terutama 3G dan 4G. Dan di tahun-tahun itu, saya melihat adopsi ponsel cerdas oleh orang-orang, dan bagaimana teknologi mengubah perilaku orang. Dan sebelum itu, saya berada di AS selama setengah tahun untuk mulai berkecimpung di bidang teknologi data. Jadi selama bertahun-tahun saya telah melihat bagaimana teknologi dapat mengubah kehidupan masyarakat dan bagaimana budaya startup telah tumbuh di pasar Asia, terutama Indonesia dan India. Awal tahun 2019, setelah melihat begitu banyak perusahaan, unicorn, dan sukses besar wirausahawan di wilayah tersebut; kami memutuskan untuk membuat perusahaan ventura yang sekarang adalah BAce Capital. Untungnya, kami mendapatkan Ant Financial sebagai anchor LP kami; kami sangat terkait dengan ekosistem Ant dan Alibaba.

ALAN 2:26
Terima kasih atas latar belakang yang telah anda gambarkan, Benny. Anda menyebutkan bahwa Anda menghabiskan lima setengah tahun sebagai MD untuk India dan aliansi strategis global di Ant Financial, saya berasumsi bahwa pengalaman tersebut telah merancang pembentukan BAce Capital. Bisakah Anda memberi kami lebih banyak latar belakang tentang waktu Anda di sana?

BENNY CHEN 2:43
Itu pasti salah satu pengalaman terbesar dalam hidup saya. Pada 2014-2015, ketika Alibaba baru saja terdaftar, Ant Financial dan Alipay masih tergolong perusahaan kecil. Pembayaran digital baru saja diadopsi di Cina. Pada saat itu, Ant Financial dan Alibaba secara kolektif memutuskan untuk mendunia, mencari peluang. Apa yang kami yakini di Ant saat itu adalah kami ingin melakukannya melalui investasi strategis atau aliansi. Kami tidak percaya bahwa bisnis harus dibangun sendirian, terutama di bidang FinTech. Jadi lima tahun itu memberi saya banyak pengalaman hebat, belajar dari tim Ali dan Ant Financial. KK dan saya bersama-sama berinvestasi di perusahaan seperti PayTM di India dan Zomato. KK juga terlibat dalam transaksi Lazada dan Tokopedia. Jadi yang kami lakukan adalah duduk di tim Ant Financial dan Alibaba yang berpengalaman tidak hanya dalam investasi modal. Kami juga dapat menjembatani perusahaan yang kami investasikan di Indonesia dan India, serta tim dengan orang yang tepat di ekosistem Alibaba, sehingga mereka dapat berbagi pengetahuan, belajar bersama, bertukar pikiran, dan bertukar ide dengan Alibaba serta Ant Financial. Jadi saya dapat berkomunikasi dan belajar banyak pengetahuan dari anggota tim Ant Financial di berbagai vertikal; dari pembayaran hingga manajemen kekayaan, asuransi, dan banyak lagi. Saya jadi sangat memahami sejarah pertumbuhan Ant Financial, dan saya bisa membawa informasi itu. Saya dapat memberikan pengetahuan tersebut kepada perusahaan investee yang kami miliki di wilayah ini. Saya menghabiskan 30% hingga 40% waktu saya di China untuk belajar dari berbagai anggota tim kami. Kami adalah bagian dari tim inti yang membantu Alibaba membangun jejak regional, termasuk Emerging Asia, terutama di India dan Indo.

ART DICKER 4:35
Benny, bisakah Anda menjelaskan sedikit tentang sektor favorit Anda untuk diinvestasikan?

BENNY CHEN 4:40
Ini adalah pertanyaan bagus yang ditanyakan banyak orang kepada saya. Ketika kami memulai BAce Capital, kami pikir kami harus menjadi sektor-agnostik. Smartphone benar-benar merupakan pendorong utama pertumbuhan adopsi internet. Jadi tesis kami sangat sederhana. Sektor kami sangat sederhana. Kami percaya pada teknologi seluler. Kami percaya bahwa penetrasi seluler—penetrasi smartphone—dapat meningkatkan efisiensi, mengubah distribusi tradisional dan sangat membantu orang untuk mendapatkan layanan Contohkan layanan perbankan; biasanya dalam sistem perbankan lama, Anda harus menyetor banyak uang, atau ada jumlah minimum. Tetapi hari ini dengan ponsel, Anda dapat melakukan hanya dengan satu Rupiah. Dan Anda dapat berinvestasi serendah satu Rupiah untuk produk wealth management. Jadi itu adalah perubahan yang dibawa oleh teknologi seluler, tidak hanya membuat aksesibilitas layanan lebih mudah, tetapi juga membuat biaya layanan lebih rendah. Kami tidak memiliki sektor tertentu. Namun semua yang kami lakukan sebenarnya terkait dengan smartphone atau teknologi seluler.

ART DICKER 5:45
Jika kita boleh berbincang sedikit mengenai tahap pendanaan yang Anda biasa investasikan, berapa ukuran investasi rata-rata BAce? Dan bagaimana pandangan BAce mengenai following on funding?

BENNY CHEN 5:54
Tentu. Fund One adalah $ 115 juta. Kami menyukai perusahaan tahap awal. Itulah alasan KK dan saya memulai pendanaan ini, karena kami melihat banyak pengusaha tahap awal menjadi lebih dewasa. Kita bisa berinvestasi sedini putaran pendanaan Seed hingga putaran Seri B. Saat ini, kami berinvestasi dalam kisaran setengah juta dolar hingga $ 5 juta.

ALAN 6:18
Benny, saya yakin banyak wirausahawan di antara hadirin yang ingin tahu: bagaimana hubungan operasional keseharian BAce dengan Alibaba dan Ant Financial? Dan manfaat apa yang mungkin tercipta dari hubungan tersebut bagi perusahaan investee?

BENNY CHEN 6:35
Ant Financial adalah jangkar dan LP terbesar di reksa dana, dan beberapa orang dari Ant juga bekerja sama dengan tim bisnis / investasi kami. Saya akan memberikan beberapa contoh: secara internal, di Ant, kami telah diperlakukan sebagai dana ekosistem untuk diinvestasikan di perusahaan tahap awal sektor-agnostik. Dan Ant sangat terbuka untuk berkolaborasi dengan perusahaan portofolio kami, untuk bertukar pengetahuan dan belajar dari satu sama lain dengan berbicara dengan para founders kami setiap tiga bulan sekali. Kami juga mengadakan pertemuan tahunan dengan Ant Financial. Bulan lalu, kami mengadakan Season Three CEO Club, yang diselenggarakan oleh Ant Financial, di mana semua CEO yang pernah berinvestasi di Ant Financial, termasuk CEO tempat kami berinvestasi, akan memiliki tiga atau empat hari bersama untuk berbagi pengalaman, pengetahuan, serta menceritakan kisah-kisah sulit tentang bagaimana mereka mengatasi COVID tahun ini. Sayangnya, tahun ini, CEO luar negeri yang berada di luar China tidak bisa terbang. Tapi sebenarnya kami melakukannya secara online juga. Jadi kami percaya bahwa, dengan pengalaman dan latar belakang kami sebelumnya di Ant, kami dengan senang hati membantu perusahaan portofolio untuk mendapatkan koneksi baik dengan tim bisnis Ant Financial atau perusahaan investee Ant Financial. Ke mana pun mereka pergi, ada peluang untuk belajar. Di mana pun mereka merasa akan ada sinergi di antara mereka, mereka dapat berkolaborasi sekarang atau di masa depan.

ALAN 8:02
Penjelasan yang baik; dapat dilihat beberapa bentuk kolaborasi dan dukungan yang sangat nyata. Benny, bisakah salah satu dari perusahaan ini atau afiliasi lainnya co-invest dengan BAce?

BENNY CHEN 8:13
Iya. Itu sangat mungkin. Saat ini, Ant merupakan ekosistem yang cukup mapan di China, dan juga telah berinvestasi di lebih dari 200 perusahaan di China dan secara global. Bukan hanya Ant, tetapi juga apa yang kami sebut sebagai "perusahaan ekosistem" dapat co-invest dengan BAce. Karena, begitu perusahaan tersebut menjadi lebih besar, mereka juga memiliki kebutuhan untuk menggunakan modalnya di pasar yang sedang berkembang. Saya melihat hal itu menjadi semakin populer di dalam perusahaan-peruahaan tersebut. Saya akan memberi Anda contoh lain. Tahun lalu, sebelum COVID, kami mengajak lima pendiri dan CEO dari perusahaan ekosistem Ant Financial untuk mengunjungi Indonesia. Kami bertemu dengan pengusaha lokal. Kami juga bertemu dengan konglomerat. Mereka pergi ke sana untuk belajar dan mencari peluang investasi, untuk melihat apakah ada perusahaan atau model bisnis serupa yang dapat mereka pahami, dan membantu perusahaan untuk tumbuh. Jadi akan ada banyak kemungkinan co-invest melalui BAce, baik itu dengan investor maupun perusahaan ekosistem kami.

ART DICKER 9:16
Benny, bisakah Anda ceritakan sedikit mengenai investasi yang dilakukan BAce Capital di Indonesia?

BENNY CHEN 9:22
Ya, tentu. Di Indonesia / Kawasan sekitarnya, kami telah berinvestasi di tiga hingga empat perusahaan. Alasan saya mengatakannya seperti itu, adalah bahwa salah satu perusahaan yang telah kami inkubasi berada di tahap yang sedikit lebih awal. Misalnya, kami berinvestasi di perusahaan bernama RoomMe di co-living space. Kami berinvestasi di sebuah perusahaan bernama Printerous, yang menggunakan teknologi cloud printing. Mereka mengumpulkan permintaan dari pelanggan individu, UKM dan korporasi; dan mereka memanfaatkan kemampuan pencetakan di seluruh negeri di ribuan kota dan lokasi. Mereka mencetak materi pemasaran, agunan, suvenir, bahan kemasan, dll, dll. Kami juga berinvestasi di perusahaan pengiriman uang lintas batas untuk UKM bernama Wallex. Perusahaan ini berbasis di Singapura, tetapi Indonesia adalah salah satu pasar terbesarnya. Mereka memiliki kantor di Indonesia. Jadi itulah tiga perusahaan yang selama ini kami investasikan.

ALAN 10:22
Terima kasih atas jawabannya, Benny. Saya tahu Anda berbicara tentang beberapa fokus investasi Anda yang luas. Namun jika kita fokus ke Indonesia, dan kita lihat apa yang Anda lakukan saat ini, apa yang akan Anda jelaskan sebagai tesis investasi paling menarik dalam berinvestasi di Indonesia?

BENNY CHEN 10:42
Saya pikir semuanya masih dalam tahap awal. Semua sektor masih cukup terbuka. Dan masih banyak wirausahawan tahap awal, atau wirausahawan pemula yang sudah mencoba masuk ke pasar. Entah mengapa, Indonesia mengikuti tren Cina juga sedikit dari India. Namun yang sebenarnya kami lakukan adalah, setiap kali kami menemukan sebuah perusahaan, kami akan berpikir apakah BAce Capital dapat menambah nilai. Apakah kita memiliki pengetahuan domain, dan apakah kita memiliki perusahaan terkait di China yang benar-benar dapat membimbing atau membantu perusahaan tersebut untuk memahami perjalanan mereka, sehingga mereka tidak melakukan kesalahan yang sama, dll. Saya akan memberikan contoh lain kepada Anda dari semua perusahaan yang saya sebutkan, termasuk tiga perusahaan tempat kami berinvestasi. Dengan beberapa perusahaan, bahkan sebelum kami menandatangani term sheet, kami membawa para founders ke China. Dan kami mengunjungi tiga atau empat perusahaan di sektor yang sangat mirip di dalam ekosistem; terkadang bahkan di luar ekosistem karena koneksi yang kami miliki. Kami berkomunikasi dan berbicara dengan pendiri dan CEO secara langsung. Dan kami merasa ini adalah proses yang menarik. Kami akhirnya bisa menerapkan ini ke Indonesia. Umpan balik dari para founders sangat positif. Tidak hanya skala di China yang luar biasa, tetapi pendekatan yang diambil oleh banyak bisnis, atau cara membuat produk, akan memberi mereka banyak inspirasi. Jadi, inilah cara kami memandang pasar. Saya pikir di pasar Indo, di luar Jakarta dan beberapa kota besar lainnya, internet seluler secara bertahap akan merambah ke pulau-pulau lain—ke desa-desa dan kota-kota. Hanya masalah waktu sebelum orang mengadopsi teknologi. Orang, misalnya, akan terbiasa melakukan pembayaran seluler, dll. Jadi bagi saya, (Indonesia) ini adalah pasar terbuka. Kita hanya perlu sedikit bersabar dalam menemukan pengusaha yang tepat. Saya juga melihat untuk kedua kalinya, third time entrepreneur juga muncul dari pasar, yang lagi-lagi sesuai dengan apa yang terjadi di China dan India beberapa tahun lalu.

ART DICKER 12:32
Terima kasih, Benny. Dapatkah Anda menelusuri sedikit pada satu atau dua contoh yang baru saja Anda singgung tentang sinergi spesifik, di mana, misalnya, Anda membawa CEO dari Indonesia ke Cina, dan beberapa poin pembelajaran utama yang mereka dapatkan?

BENNY CHEN 12:46
Tentu. Perusahaan dengan co-living space, misalnya, kami membawa kelima pendirinya ke China. Kami mengunjungi Hangzhou, Shanghai dan Beijing. Kami menunjukkan perusahaan serupa kepada mereka. Kami membawa mereka ke lokasi di mana perusahaan-perusahaan tersebut sedang membangun ruang koleksi dengan menggunakan pendekatan yang berbeda. Dan kami membawa mereka ke lima perusahaan co-living yang memiliki format berbeda untuk memahami perjalanan mereka. Jadi, beberapa perusahaan di Cina mengoperasikan satu flat. Beberapa perusahaan beroperasi dalam apa yang kami sebut format centralized co-living, di mana mereka mengambil satu bangunan dan menyusun ulang bangunan tersbut ke ruangan yang berbeda. Dan beberapa perusahaan melakukan co-living beserta layanan lainnya juga. Saya ingat perusahaan terbesar saat ini di China memiliki lebih dari 5 juta kamar. Kelima pendiri belajar tentang skala, cara mereka memilih lokasi, cara mereka memformat ulang gedung atau apartemen. Mereka mencari tahu bagaimana mereka memanfaatkan teknologi data untuk mengidentifikasi lokasi serta pelanggan yang tepat, dan bagaimana mereka melayani pelanggan dengan lebih baik. Itu adalah perjalanan yang membuka mata bagi para founders, bahkan sebelum kami setuju untuk berinvestasi di perusahaan tersebut. Jadi saya pikir melihat skala China dan melihat sejarah China itu penting. Namun yang lebih penting, kami menjalin hubungan antara para pendiri Indonesia dan banyak pendiri China di jenis bisnis yang sama. Jadi mereka sebenarnya dapat mengobrol dari waktu ke waktu untuk melihat apa mitigasi mereka terhadap COVID, dan hal-hal lainnya. Selain itu, terkait perusahaan percetakan yang saya sebutkan, kami juga menemukan perusahaan serupa bernama EZPYP di China. Mereka memiliki skala yang besar. Salah satu hal penting selain pengetahuan dan pembelajaran, adalah bahwa mereka mulai mendapatkan bahan mentah dari China untuk pengalaman pencetakan yang lebih baik. Itu adalah beberapa hal yang kami lakukan dan kami akan terus melakukannya. Di BAce Capital, kami bukan hanya venture capital yang berinvestasi dalam ekuitas, memasukkan uang, dan kemudian menghilang dalam perjalanan. Kami akan bekerja sangat erat dengan founders lokal, pengusaha lokal, untuk memenuhi kebutuhan mereka: apabila mereka ingin melihat sesuatu di Cina, di India, maupun jika mereka ingin mencapai sinergi yang lebih baik dalam jaringan yang saya dan BAce miliki.

ALAN 14:56
Contoh yang sangat menarik. Benny, beralih ke topik lain: bagaimana ketegangan yang meningkat antara India dan China memengaruhi fokus investasi BAce dan berbagai kegiatannya?

BENNY CHEN 15:08
BAce Capital sama seperti salah satu dari banyak dana di Cayman atau Mauritius atau yang berbasis di Singapura. Kami memiliki saya sebagai wajah bagi China. Kami memiliki KK sebagai orang India. Kami memiliki tim Jakarta. Kami memiliki tim lokal India. Jadi kami multinasional. Kami tidak mendefinisikan diri kami sebagai dana China atau non China. Tapi kami punya banyak koneksi dengan China. Saya masih sangat optimis terhadap pasar India. Saya pikir, sayangnya, karena COVID dan karena alasan lainnya, ketegangan telah tercipta. Tapi saya pikir seiring waktu, itu pasti akan terselesaikan. Selain itu, sebagai sebuah pasar, ekonomi India hingga hari ini telah terhenti oleh COVID untuk sementara waktu. Namun selama proses tersebut, adopsi teknologi seluler mungkin akan semakin merambah di dalam negeri. Orang-orang semakin terbuka untuk mengadopsi teknologi baru sejak karantina COVID. Di sisi lain, dalam proses ini banyak wirausahawan pasti akan semakin kuat. Mereka akan memahami bagaimana mengurangi risiko. Mereka akan mengerti bagaimana menjaga arus kas mereka. Mereka akan memahami bagaimana mengambil peluang jika aksesibilitas offline telah dilarang keras untuk sementara waktu. Jadi bagi kami, ini akan menjadi kesempatan besar untuk mengenal lebih banyak entrepreneur dan berbagi cerita dari China tentang cara mengatasi COVID atau bahkan mengubahnya menjadi dampak positif bagi usaha Anda sendiri. Jadi menurut saya, lama kelamaan ketegangan itu akan hilang. Kami masih memegang pandangan investasi yang sangat positif terhadap India. Faktanya, kami telah melihat bahwa pemerintah India membuat peraturan yang seharusnya mempermudah venture investment pada sektor noncritical. Jadi kami berharap itu akan terjadi secepat mungkin.

ART DICKER 16:49
Sangat menarik. Terima kasih, Benny. Beralih kembali ke Indonesia. BAce terhubung dengan jelas ke platform e commerce dan FinTech terbesar di China. Dengan cara apa Indonesia berkembang di dua sektor tersebut, dan apa perbedaannya dibandingkan dengan China?

BENNY CHEN 17:02
Saya pikir setiap pasar memiliki sifatnya sendiri. China adalah pusat manufaktur yang sangat besar. Indonesia masih mengejar ketertinggalan. Sedangkan Indonesia memiliki ribuan pulau. Saya pikir tesis bisnisnya akan sama: bagaimana menggunakan e-commerce atau FinTech untuk menawarkan layanan yang lebih baik. E-commerce sebenarnya adalah salah satu hal untuk membantu konsumen mendapatkan produk dengan lebih mudah, lebih murah, lebih cepat, dan membantu merchant atau penjual untuk menjangkau pengguna yang lebih luas. Saya pikir tesisnya akan sama, tetapi pendekatannya akan sangat berbeda dari perspektif logistik, perspektif pembayaran dan dari perspektif kode PIN. Karena algoritma geolokasi sangat berbeda. Intinya, nilai akan dikirimkan ke pengguna atau pedagang dengan adanya masalah yang diselesaikan oleh pengusaha Indonesia. Ini akan sangat berbeda, dan di situlah keindahannya

ALAN 17:53
Jika kita berpikir tentang fokus geografis BAce, dalam banyak hal berbentuk segitiga: menghubungkan Cina, India dan Asia Tenggara. Melihat hubungan lain dari segitiga itu, apakah Anda melihat jalur transmisi khusus yang menarik antara India dan Indonesia?

BENNY CHEN 18:10
Saya melihat Gojek memiliki pusat R&D di Bangalore. Dan Anda melihat beberapa manajemen senior, beberapa orang India yang bermigrasi dari India ke Indonesia untuk bergabung dengan perusahaan seperti Tokopedia atau perusahaan lain juga. Jadi ada komunikasi, jumlah wirausahawan dan ekosistem startup yang lintas batas. Dan kedua, saya juga melihat semakin banyak pendiri India yang memulai di pasar Indonesia. Mungkin bagi para pengusaha Indonesia, atau para pengusaha India, belajar dari China agak sulit dan agak terpencil karena kendala bahasa. China bisa menjadi pasar yang sulit untuk dipahami. Tapi India tidak. India sedikit di depan Indonesia, menurut saya. Model dari India bisa dengan mudah dipelajari oleh pengusaha lokal, atau bahkan bisa dibangun oleh pendiri India yang memulai di Jakarta, misalnya. Kami melihat perusahaan seperti Bukukas dimulai oleh para pendiri India. Dan Anda melihat lebih banyak perusahaan dengan pengusaha lokal dari Indonesia ditambah pengusaha dari India mendapatkan daya tarik di dunia investasi VC.

ART DICKER 19:16
Anda menyinggung ini sedikit lebih awal tentang COVID dan pemulihan di China. Jika kita menganggap China beberapa bulan lebih maju dari Indonesia dalam pemulihan pasca COVID, menurut Anda apa yang dapat kita harapkan di Indonesia ke depan?

BENNY CHEN 19:29
Orang-orang menderita. Ini bukan waktu yang tepat. Ini sebenarnya adalah waktu yang sangat sulit bagi semua orang di dunia saat ini. Tetapi jika Anda melihat perusahaan startup, selama mereka dapat mengelola arus kas mereka, dan memperluas landasan pacu mereka, mereka harus dapat mengambil peluang ini—terutama untuk perusahaan yang mengutamakan seluler—untuk mengedukasi pengguna mereka, untuk benar-benar menyelesaikan masalah dengan mengirimkan produk atau layanan secara online daripada offline. Jadi ini akan menjadi ujian yang bagus bagi perusahaan yang mengutamakan seluler untuk mendidik pengguna dan menarik pengguna baru. Namun, pengusaha harus memastikan bahwa model bisnis dapat memberikan nilai: pendidikan online, pengiriman makanan. Apakah Anda melakukannya dalam format yang benar? Edukasi pelanggan menjadi lebih mudah. Jika Anda benar-benar dapat mengembangkan model, menyesuaikan model, atau menyempurnakan model Anda untuk memberikan nilai yang nyata, Anda akan memiliki kesempatan untuk menarik banyak pengguna. Namun, dengan perusahaan tahap awal, pengusaha juga harus memiliki pandangan yang jelas tentang berapa lama COVID akan bertahan. Jadi cadangan arus kas sangat, sangat penting. Bisakah Anda benar-benar berdiri sampai penghujung hari ketika segala sesuatunya kembali normal dan aktivitas pendanaan kembali normal lagi? Saat ini di dunia VC, meskipun kami melihat ada peluang untuk berinvestasi, orang tidak dapat bepergian, orang tidak dapat bertemu satu sama lain. Jadi due diligence hampir tidak bisa dilakukan. Jadi saya melihat suntikan modal sedikit melambat, bukan karena orang tidak tertarik dengan pasar. Tetapi karena alasan fiskal. Banyak dana tidak dapat mengatur due diligence yang tepat, atau kunjungan ke lokasi. Jadi wirausahawan perlu bersiap untuk yang terburuk, tetapi membangun untuk yang terbaik.

ALAN 21:10
Masuk akal. Nah, Benny, kalau kamu punya tongkat ajaib, tantangan apa di Indonesia yang ingin kamu singkirkan? Apakah itu dari sisi input, seperti kelangkaan engineer yang terlatih? Akankah sebaliknya berada di sisi model bisnis, mungkin kelemahan dan monetisasi online? Apakah itu masalah seputar e-commerce seperti logistik? Apakah justru kurangnya literasi digital di perusahaan atau di antara konsumen? Masalah apa yang ingin Anda lihat diselesaikan terlebih dahulu?

BENNY CHEN 21:40
Sulit untuk mengatakannya. Perbaikan infrastruktur merupakan salah satu elemen kunci. Saya melihat pemerintah sedang melakukan pekerjaan yang baik untuk membangun jalan, bandara, daerah baru, ibu kota baru. Pembayaran digital dan jaringan logistik yang mulus; itu menjadi dasar yang sangat, sangat penting agar ekonomi online tumbuh. Jika kedua bagian ini bisa meningkat secara paralel, itu sudah cukup. Saya tidak khawatir tentang kemampuan monetisasi. Dengan pembayaran digital, jika orang dapat membayar dengan sangat mudah, jika pembayaran digital akan ada dalam kehidupan sehari-hari, saya pikir monetisasi akan jauh lebih baik. Hal lainnya adalah kesediaan untuk membayar dan kekayaan untuk dibayar. Tapi saya tidak terlalu khawatir tentang bagian itu. Karena sebagai pemodal ventura, kami berinvestasi dan semua orang melihat pertumbuhan PDB Indonesia. Itu salah satu yang terbaik di negara berkembang. Di sisi lain, logistik akan menjadi bagian yang menantang. Pembayaran digital adalah sesuatu yang dapat Anda lakukan dengan mudah menggunakan ponsel. Tetapi bagaimana Indonesia dapat menyelesaikan masalah logistik yang lebih baik sangatlah penting. Jakarta tidak hanya dapat menjadi pusat inovasi, tetapi infrastruktur dan teknologi data dapat meningkatkan efisiensi sistem di pulau-pulau lain. Anda menyebutkan kemampuan teknik. Saya pikir itu akan menjadi hal jangka panjang yang dibangun Indonesia. Tetapi saya melihat bahwa para wirausahawan menemukan cara tidak hanya untuk mendirikan pusat teknik di Indonesia sendiri, tetapi juga memiliki lebih banyak kolaborasi dengan negara-negara seperti India dan bahkan China ke depannya. Jadi akan ada tantangan. Tapi saya masih sangat optimis. Jika infrastruktur dapat terus ditingkatkan, termasuk hub fisik, jalan, bandara, dan teknologi data; Menurut saya, itu adalah parameter penting untuk menentukan seberapa cepat pertumbuhan ekonomi berbasis seluler di Indonesia.

ART DICKER 23:32
Benar-benar wawasan yang menarik, Benny, terima kasih. Nah, teman-teman, itu akhir dari episode kali ini. Kami sangat menghargai Anda bergabung dengan kami di sini sebagai bagian dari episode ketiga Sino Indo Tekno dan percaya bahwa Anda akan melihat Kembali ke sini saat BAce Capital terus maju di masa depan.

ALAN 23:46
Ya, terima kasih banyak telah bergabung dengan kami, Benny.

BENNY CHEN 23:48
Terima kasih, Benny.

Terima kasih, Alan. Terima kasih, Art. Terima kasih telah mengundang saya hari ini.

ALAN 23:53
Terima kasih telah mendengarkan. Sampai jumpa lagi!
 

Stay up to date with our latest podcast episodes

For general inquiries, please get in touch

© 2020 by Indo Tekno Podcast