TRANSKRIP​EPISODE 19

(Versi bahasa Inggris)

Episode Sembilanbelas

Daftar domestik:

Pandu Sjahrir dari Indies Capital

13 Oktober 2020

 

ALAN 0:10
Selamat datang semua di Indo Tekno episode ke 19 dan series ketiga dari “From Warung to Wall Street”, sebuah serial spesial yang dikhususkan untuk Startup teknologi yang sedang dalam perjalanan menuju IPO. Nama saya Alan Hellawell. Saya pendiri dari Gizmo Advisors sebuah konsultan startup teknologi dan Venture Partner di Alpha JWC Ventures. Kembali mengingatkan bahwa di episode 5 dan 18 Indo Tekno telah bergabung bersama kami Direktur Pelaksana Goldman Sachs Andy Tai yang membahas peluang dari para perusahaan startup teknologi Indonesia untuk melantai di bursa luar negeri seperti NYSE dan NASDAQ. 
Hari ini kita akan membahas mengenai perkembangan seputar pasar modal di Indonesia. Sebagai informasi di awal, Bursa Efek Indonesia atau BEI merupakan bursa terbesar ke-25 di dunia berdasarkan nilai, dengan kapitalisasi pasar lebih dari USD 410 miliar. Transaksi hariannya bahkan mencapai sekitar USD 400 juta hingga USD 450 Juta. Di sisi lain, NASDAQ yang terkenal dengan perusahaan teknologi menawarkan omset harian sekitar 10 kali lebih besar yakni USD4 miliar. 
Saya merasa senang karena telah mengenal bintang tamu hari ini selama beberapa tahun. Sedikit cerita mengenai fokus kita hari ini tentang IPO, Saya sebenarnya telah bertemu dengan Pandu Sjahrir pertama kali ketika kami berada di New York Stock Exchange saat SEA Group melantai di bursa tersebut. Saya ingat, waktu itu tanggal 20 Oktober 2017. Saya sebagai Chief Strategy Officer dan begitupun dengan pandu. Hingga hari ini Pandu menjabat sebagai Presiden Komisaris SEA Group induk Indonesia. Selamat datang di acara ini Pandu
PANDU SJAHRIR 1:42
Terima kasih. Terima kasih banyak, Alan. Itu tepatnya tiga tahun lalu. Dan saat ini disinilah kita.
ALAN 1:49
Dan disinilah kita. Sekarang Pandu, kami bisa menyebutkan sejumlah alasan untuk mengundang Anda ke Indo Tekno; apakah itu dalam kapasitas Anda sebagai anggota Dewan Direksi Gojek, ataupun sebagai Pendiri dari modal ventura tahap awal terkemuka yaitu AC Ventures, atau bahkan sebagai CFO dari perusahaan tambang terkemuka, Toba Bara Sejahtra. Namun alasan utama kami ingin Anda bergabung hari ini berkaitan dengan pengangkatan Anda baru-baru ini sebagai Anggota Dewan Komisaris di Bursa Efek Indonesia. Bisakah Anda memperkenalkan diri Anda dan juga menceritakan cerita penunjukan Anda sebagai Dewan Komisaris di Bursa Efek Indonesia?
PANDU SJAHRIR 2:21
Terima kasih, Alan. Anda mengenal saya sebagai investor, dan itu mungkin pekerjaan utama saya, tanggung jawab utama saya. Sehubungan dengan pekerjaan saya dengan Sea di Indonesia, saya cukup aktif dengan Sea dalam hal mengembangkan bisnis, dan juga mengelola berbagai kepentingan stakeholder, yang menurut saya tumbuh pesat selama tiga tahun terakhir. Dan saya pikir kami sangat beruntung. Kami memiliki lebih dari 8.000 orang di Indonesia yang membantu kami dalam membangun bisnis untuk Sea. Sehubungan dengan penunjukan terakhir ini (Dewan Komisaris BEI) - dan masih terbilang baru, baru sekitar dua setengah bulan - pengangkatan ini dilakukan oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan Indonesia) yang seperti FAS, atau mirip dengan MAS (Monetary Authority of Singapore), jika Anda berada di Singapura. Saya mewakili perusahaan yang terdaftar. Kami memiliki anggota dewan yang harus menjadi bagian dari perusahaan tercatat. Itu adalah peran penasehat. Dan ada dua tugas, menurut saya secara keseluruhan. Salah satunya adalah pendalaman pasar modal terkait dengan bertambahnya investor lokal, termasuk ritel. Dan nomor dua adalah memperdalam jumlah emiten. Saya kira yang menarik untuk diskusi ini adalah perusahaan Ekonomi Baru atau perusahaan terkait teknologi.
ALAN 3:30
Gambaran yang sangat menarik, terutama dari dua peran utama yang Anda jelaskan. Apakah ada penjelasan tambahan lainya seputar tanggung jawab dasar Anda dan fokus Anda sebagai anggota Dewan Komisaris BEI?
PANDU SJAHRIR 3:42
Anda tahu, BEI sendiri melayani dengan peran publik atau privat. Menurut saya, BEI mungkin lebih ke publik karena Anda melayani sebagai bursa saham. Dan ini tidak hanya terkait dengan ekuitas. Ini termasuk obligasi, dan instrumen keuangan lainnya yang diperdagangkan setiap hari. Jadi ada sejumlah penerbitan yang bisa dilakukan di BEI. Banyak yang mengawasi BEI. Di BEI juga banyak pengelolaan berbagai pemangku kepentingan, yang juga berkaitan dengan OJK.
ALAN 4:08
Nah Pandu, saya ingat Bursa Efek Indonesia pernah berencana meluncurkan sesi khusus teknologi pada 2019 untuk menyelenggarakan penawaran umum perdana atau IPO, untuk para startup, dan untuk memudahkan perusahaan teknologi agar bisa listing di BEI, karena mereka akan membutuhkan waktu hingga 6 tahun setelah listing untuk menjadi untung (profitable). Dimana dan sudah sampai mana rencana tersebut?
PANDU SJAHRIR 4:29
Rencana itu tetap ada. Tujuan kami hari ini adalah untuk melakukan apa yang saya sebut "Elephant Hunt". Kami harus mengejar perusahaan yang sangat besar. Apa yang kami lakukan sebelumnya adalah perusahaan di tahap awal. Yang ingin kami fokuskan adalah perusahaan yang menurut saya, sudah berada dalam tahap pertumbuhan; bukan lagi di tahap awal. Sebagai bagian dari ekonomi baru, dan perusahaan-perusahaan yang Anda kenal namanya, siap untuk mempertimbangkan pasar modal sebagai alternatif yang layak untuk meningkatkan modal, yang menurut saya saat ini memiliki ekosistem dengan proposisi nilai yang sangat kuat. Jadi yang saya sampaikan kepada teman-teman disana dan di BEI: "Hei, mari kita fokus pada perusahaan-perusahaan dengan nama-nama besar. Mari kita coba meyakinkan mereka untuk melantai di bursa kita. Dan kita beritahukan kepada mereka mengapa Indonesia dan BEI menjadi salah satu dari tempat terbaik untuk mereka melantai. Jadi kita harus datang kepada mereka dengan alasan yang tepat mengapa mereka harus mempertimbangkan melantai di Pasar Modal kami.
ALAN 5:23
Selain mengarah pada "Elephant Hunt", dapatkah Anda memberitahukan inisiatif lain yang mungkin terkait dengan menghadirkan lebih banyak jalur ke pasar modal bagi perusahaan teknologi Indonesia?
PANDU SJAHRIR 5:32
Jajaran Direksi BEI telah bertemu dengan perusahaan-perusahaan teknologi terbesar di Indonesia. Kami bertemu dengan para pendiri dan juga top manajemen. Dan kami datang dengan sejumlah daftar dan alasan mengapa BEI menjadi alternatif yang kuat. Dan disaat yang sama, kami bertanya kepada mereka: "apa tantangan utama yang Anda hadapi?" Dan dengan melakukan itu, ini hampir seperti cara konsultatif dalam melakukan sesuatu. Saat kami bertemu dengan para pendiri, ada tiga atau empat hal serupa yang harus kami selesaikan. Jadi itulah yang kami lakukan hari ini, bekerja sama dengan OJK untuk memastikan bahwa ini semua adalah masalah yang layak, sehingga mereka menyadari bahwa listing di BEI paling masuk akal bagi mereka. Jika Anda melihat lima perusahaan teknologi teratas di Indonesia, jika mereka mendaftar hari ini di Indonesia, maka menjadi bagian dari 45 perusahaan teratas Indonesia berdasarkan kapitalisasi pasar. Dan dengan itu, maka mereka akan menjadi bagian dari yang disebut Indeks LQ45, yang merupakan bagian dari MSCI. Anda akan segera menjadi bagian dari indeks, yang berarti investor indeks akan mulai berinvestasi pada Anda. Dan hal itu menciptakan keuntungan yang signifikan.
ALAN 6:34
Benar. Anda mungkin ingat bahwa salah satu tantangan Sea Group adalah tidak sesuai dengan MSCI, karena berdomisili di Singapura, namun memiliki perusahaan yang beroperasi di tujuh pasar yang berbeda, dan kemudian cara mengatasinya adalah dengan mendaftar di belahan lain. Jadi itu daya tarik yang nyata. Nah, tadi anda membicarakan faktor lainnya, Pandu. Jadi, saya ingin bertanya,  sebenarnya yang menjadi tantangan praktis terbesar dalam membuat perusahaan teknologi melantai di BEI? Kedengarannya seperti Anda mengulang-ngulang menyebutnya dengan “elephant”, atau sebut saja mereka "decacorn". Apakah ini likuiditas? Apakah itu valuasi? Apakah partisipasi ritel yang besar dalam perputaran? Apa itu?
PANDU SJAHRIR 7:12
Ada beberapa hal. Pertama, kita harus menjelaskan ke mereka apa daya tarik fiskal dari listing. Di Indonesia, kalau kamu listing, sebagai pendiri dan manajemen, pajak jual kamu, Pajak yang dikenakan atas keuntungan, adalah sekitar 0,5 persen untuk satu kali, dan 0,1 persen untuk selanjutnya. Dibanding kalau kamu sebagai privat dan kamu jual, itu sekitar 30 persen. Jadi segera Anda melihat perbedaannya. Jadi secara fiskal menarik bagi perusahaan untuk mendaftar. Dan kalau kamu menjual perusahaan itu sendiri atau bisnis itu sendiri, pemegang saham yang menjual hanya dikenai biaya 0,1 persen, dimana itu jauh lebih dibanding skema fiskal lainnya di luar sana. 
Dan nomor dua, perusahaan itu sendiri, setelah Anda mendaftar dalam dua tahun ke depan, kami menurunkan pajak penghasilan badan menjadi 22%, dibandingkan hari ini sebesar 25%. Ini sudah menjadi bagian dari regulasi. Dan kemudian akan menjadi 20% di 2024 kalau saya tidak salah. Jadi, beda dengan Singapura, misalnya, hampir de minimis. Singapura berada di posisi 19%. Dan yang ketiga adalah tentang masalah kontrol hak suara dan sejenisnya. Bagi beberapa pendiri, mereka memandang itu cukup penting. Tapi sebenarnya kami punya preseden. Misalnya, beberapa BUMN kita memiliki apa yang kita sebut saham "Merah Putih", saham "Merah Putih", yang pada dasarnya memiliki hak veto yang lebih besar dari pemerintah, misalnya, dibandingkan pemegang saham lainnya. Dan itu jelas akan tercermin dalam harga saham jika Anda adalah pemegang saham biasa. Jadi itu sebenarnya sudah dibenahi. 
Nah, yang besar itu jelas terkait likuiditas, valuasinya, dll. Karena kita sebagai BEI, harus kita akui saja, kita belum melakukan IPO yang besar beberapa tahun terakhir. Sudah sekitar tiga atau empat tahun sejak kita memiliki lebih dari setengah miliar; USD300 atau USD500 juta dari IPO. Dan menurut saya masalahnya bukan karena pasarnya tidak dalam. Hanya saja kami belum memiliki perusahaan besar yang mempertimbangkan untuk listing. Dan jika Anda melihat perusahaan teknologi, mereka benar-benar menjadi lebih besar hanya dalam dua atau tiga tahun terakhir. Jadi saya pikir ini adalah waktu yang tepat. Jika Anda melihat pasar saat ini secara global, sebagian besar perusahaan teknologi besar mempertimbangkan untuk go public karena mereka melihat publik sebagai pasar yang lebih dalam daripada swasta, pasar yang lebih besar daripada swasta dan terdapat permintaan terpendam yang kuat untuk perusahaan teknologi berkualitas tinggi. Dan mereka tahu ini. Jadi sekarang pertanyaannya adalah, pertanyaan umumnya adalah, bagaimana dengan valuasi, seberapa dalam pasar kita, dll? 
Dan argumen saya adalah jika Anda melihat ritel, investor ritel saat ini telah tumbuh dari 1,6 juta dari tahun lalu sampai hari ini, pasca-COVID, kami berada di 3,2 juta dalam rentang waktu kurang dari 12 bulan. Dalam 12 bulan juga, pasar itu sendiri telah beralih dari asing ke lokal, yang berarti peserta lokal sekarang menguasai 60% dari pasar. Sebelumnya sekitar 45% hingga 48%. Jadi dalam 12 bulan terakhir, mungkin berkat COVID, dan mungkin karena berbagai alasan lain, partisipasi lokal meningkat secara signifikan. Sejujurnya bagi investor asing, karena COVID, mereka telah menarik diri dari pasar negara berkembang. Mereka pergi ke pasar maju untuk berinvestasi. Dan yang bagus dari ini sebenarnya: arus di Indonesia tidak berubah, yang berarti dukungan dari penduduk setempat sangat besar. Sekarang, yang perlu kita lakukan adalah meningkatkan jumlah pasokan berkualitas tinggi. Jadi itulah tugas kami.
ALAN 10:29 
Ada beberapa fakta sangat menarik pada figur Pandu Sjahrir. Lanjut dari pertanyaan ini, menurut Anda, apakah ada critical mass yang dialami oleh smart investor institusi di pasar untuk mendukung perusahaan teknologi yang terdaftar? Dan jika tidak, menurut Anda apa yang perlu dilakukan?

PANDU SJAHRIR 10:43
Sebenarnya, critical mass itu pasti ada. Yang kami butuhkan adalah perusahaan smart investor institusi yang mencapai critical mass. Itulah yang kami butuhkan. Makanya saya bilang "elephant hunting" harus dimulai sekarang. Dan tugas kami adalah bisa menjawab apapun pertanyaan mereka, terutama untuk perusahaan teknologi yang sebagian besar pendapatannya atau seluruh penghasilannya berasal dari Indo. Kami harus berusaha mendorong mereka untuk listing di bursa. Namun, menurut saya, permintaan dan penawaran pastilah ada. Pada kenyataannya, untuk teknologi, partisipasi ritel akan sangat kuat. Karena banyak retail yang berasal dari kalangan anak muda. Rata-rata, kaum muda kelas menengah berusia 25 hingga 35 tahun yang melihat pasar modal sebagai tempat yang sangat tepat untuk menanamkan modal dibandingkan dengan kelas aset lainnya, seperti real estate. Dan hal baiknya adalah, beberapa dari nama-nama yang ada sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. Di generasi saya, saya akan berinvestasi di Coca Cola. Generasi sekarang mungkin akan berinvestasi di Gojek, karena itulah yang mereka lihat setiap hari. Merek hidup sehari-hari dengan merek-merek tersebut. Saya pikir ini adalah waktu yang tepat.
ALAN 11:43
Paham, paham. Jadi, sepertinya salah satu the biggest sea changes (maaf untuk permainan kata-kata), telah terjadi peningkatan yang sangat signifikan dalam partisipasi ritel di pasar partisipasi akun domestik. Benar seperti itu?
PANDU SJAHRIR 11:56
Tepat Sekali

ALAN 11:58
Namun, terkait dengan IPO tradisional seperti yang Anda dan saya ikuti, sebagian besar tentang mendidik investasi institusi dan memastikan bahwa modal jangka panjang mendaftar untuk IPO ini. Lalu, apa pendapat Anda tentang investasi institusi di Indonesia?

PANDU SJAHRIR 12:13
Untuk investor internasional pada umumnya, saya bisa bilang bahwa kami sebagai pasar harus melakukan lebih banyak edukasi tentang lanskap, tidak hanya tentang teknologi, tetapi tentang Indonesia. Misalnya,kami harus melakukan edukasi lebih lanjut tentang Omnibus Law yang baru saja disahkan beberapa hari lalu. Saya pikir ini adalah pengubah permainan, terutama pada saat COVID. Saya pikir kita adalah negara terbesar yang mengesahkan undang-undang untuk meningkatkan investasi di berbagai tingkatan, membuat kemudahan berbisnis jauh lebih baik, namun pada saat yang sama, tidak banyak marketing yang telah dilakukan. Dan sesuatu yang perlu kami tingkatkan adalah kualitas PR dan pemangku kepentingan kami. Itu juga tugas kami. Untuk komunitas investor, kita harus melakukan "teach in" tentang ini. Itu sangat penting karena Omnibus Law benar-benar pengubah permainan. Dalam dua dekade terakhir, ini mungkin adalah undang-undang terbesar yang telah disahkan oleh Indonesia, yang membuat kami jauh lebih kompetitif dalam hampir semua hal. Jadi itulah mengapa saya sangat senang karena UU tersebut disahkan, tetapi entah bagaimana, kami belum mengkomunikasikannya dengan baik. Dan itulah yang perlu kita lakukan sekarang. Saya pikir tantangannya adalah membuat orang nyaman berinvestasi di luar China dan AS. Kemudian mereka akan pergi ke India dan Asia Tenggara. Saya pikir itulah cara yang banyak dipakai oleh para investor Barat internasional. Jika Anda melihat investor China, pasti mereka sangat nyaman dengan kami.

ALAN 13:30
Ya, saya pernah bercanda saat roadshow IPO, sebagai warga Amerika, saya sadari, sebelum berbicara tentang kisah Laut, saya harus membantu mereka menemukan negara Indonesia di peta. Dengan kata lain, tingkat melek huruf di sekitar Asia Tenggara dalam komunitas investasi AS sangat rendah. Tapi, untungnya, suksesnya IPO Sea Group, dan kemudian maraknya nama-nama seperti Gojek dan Tokopedia dan lainnya, menurut saya, telah meredakan masalah itu. Tetapi saya percaya bahwa pendidikan masih kurang dalam kaitannya dengan investasi institusi. Sangat menarik. Bagaimana pendapat Anda tentang dual listing, Pandu?

PANDU SJAHRIR 14:12
Kami setuju dengan dual listing. Saya tahu banyak perusahaan teknologi besar juga memiliki pemegang saham yang tingkat internasional dan mereka tidak begitu mengenal BEI, artinya mereka belum memiliki pengalaman. Dan ini juga terjadi pada perusahaan teknologi yang terdaftar di BEI karena, kami belum memilikinya! Tetapi tujuan kami adalah jika Anda ingin melakukannya, atau senang melakukannya, pergilah ke pasar di mana Anda akan diprioritaskan. Dan Indonesia pastinya, Anda akan menjadi "A1" dalam cara kami berkomunikasi memperlakukan Anda. Dan jika Anda pergi ke pasar lain, pikirkan alasan strategis mengapa pasar tersebut adalah yang terbaik. Akankah mereka menghormati apa yang Anda lakukan dan apakah Anda akan cukup besar untuk mereka? Saya akan memberi Anda contoh yang bagus. Jika Anda berada di Hong Kong, memikirkan tentang Hong Kong, apakah Anda akan menjadi sebesar Ant Financial, karena Ant Financial adalah "A1" untuk Hong Kong misalnya. Apakah Anda akan menjadi bagian dari indeks jika Anda terdaftar di sana? Dan jika Anda berpikir untuk pergi ke AS, ajukan pertanyaan yang sama. Tingkat pendidikan investor apa yang akan Anda lakukan di sana? Hal yang baik dari kami adalah kami telah berbicara di Bursa Efek Hong Kong, dan mereka sangat ingin bekerja sama dalam berbagai cara. Mereka sangat berpikiran terbuka. Jadi, hal baiknya adalah komunikasi sudah ada. Dan dari segi waktu lebih mudah, karena hanya ada perbedaan satu jam. Jadi saya memberi tahu mereka, kami telah melakukan listing di AS, jadi kami memiliki kesempatan langka untuk melihat keduanya. 
Dan Anda juga harus siap secara struktural jika Anda berpikir tentang daftar dual listing Anda. Ini bukan tentang biayanya. Ini tentang sumber daya manusia yang harus Anda masukkan untuk dapat memenuhi biaya melakukan dual listing. Kedengarannya bagus, tetapi secara teknis, ini juga bisa membuat Anda lebih sulit dalam menjalankan bisnis. Jadi ini adalah pertimbangan yang kami coba bagikan kepada banyak pendiri. Bagi mereka, ini adalah pertama kalinya mereka berpikir untuk go public. Saya tahu itu keputusan yang sangat penting. Kedengarannya seksi pada awalnya, tapi saya beri tahu mereka, bagian seksi hanya datang sekali. Setelah itu ada banyak pekerjaan yang harus mereka jalani seumur hidup. Dan saya memberi tahu mereka saat Anda mulai berpikir untuk delisting, itu juga masalah lain. Jadi pikirkan baik-baik.

ALAN 16:09
Sekarang Pandu, saya tidak akan menahan Anda untuk jawaban ini. Tapi menurut Anda, bagaimana timeline untuk listing perusahaan teknologi dalam negeri yang sukses di Indonesia?

PANDU SJAHRIR 16:19
Saya memiliki pandangan yang cukup kuat tentang hal ini, mengingat apa yang terjadi di pasar saat ini dan pengalaman kami di Sea. Dan menurut saya, Sea telah menjadi preseden yang baik bagi siapa pun yang berpikir untuk listing. Pasar umum saat ini mencari pertumbuhan yang baik, dan terdapat kekurangan pasokan. Jadi siapapun yang datang lebih dulu akan menjadi pasokan itu. Ada permintaan yang luar biasa. Dan pada dasarnya, siapa pun yang lebih dulu; mereka akan menikmati demand tahap pertama. Dan bagi mereka, mereka akan segera menjadi bagian dari indeks yang besar. Investor indeks akan melihat Anda. Dan itu penting sehubungan dengan arus dan likuiditas saham Anda. Saya mengatakan kepada mereka: "Saya serahkan pada kalian." Tapi saya pikir semua orang bekerja sangat keras untuk mencoba menyelesaikannya tahun depan.
ALAN 17:00
Wow, bagus sekali. "Shot-in-the-arm" yang bagus, mengingat bagaimana 2020 telah berlalu?
PANDU SJAHRIR 17:04
2020 adalah tahun yang bagus untuk perusahaan teknologi!
ALAN 17:06
Betul.
PANDU SJAHRIR 17:07
Bagi mereka, ada akselerasi besar dimana orang beralih dari offline ke online. Banyak keuntungan ekonomi yang telah beralih ke perusahaan teknologi. Apa yang saya katakan kepada para founders adalah faktanya di pasar swasta, mungkin ada apresiasi yang kurang hari ini dibandingkan dengan pasar publik untuk pertumbuhan yang Anda miliki.
ALAN 17:24
Itu poin yang bagus.
PANDU SJAHRIR 17:25
Mereka seharusnya memikirkan hal tersebut. Dan itulah mengapa mereka semua beraksi sekarang.
ALAN 17:30
Baik. Sekarang Pandu, jika kita berpikir tentang penciptaan pasar publik untuk saham teknologi sebagai proses pematangan, bagian ekosistem mana yang perlu lebih matang menurut Anda? Apakah mengenai transparansi perusahaan? Apakah kebutuhan untuk meningkatkan kecanggihan alat keuangan yang tersedia? Apa yang Anda pikirkan?
PANDU SJAHRIR 17:49
Saya akan mengatakan ini lebih tentang kematangan anggota dewan, tata kelola, transparansi pelaporan, dan itu bagian dari pendewasaan sebagai sebuah perusahaan. Saya mungkin bisa mengatakan bahwa Sea merupakan salah satu yang perusahaan yang sudah matang di luar sana, karena SEA dipaksa bekerja di ruang publik, meskipun semua kompetisi bersifat pribadi. Dan itu agak tidak adil bagi mereka yang bersifat publik. Anda dilihat setiap hari dan diukur setiap hari. Untuk perusahaan-perusahaan teknologi ini, mari ajukan pertanyaan yang sama: Apakah Anda siap untuk hal seperti itu? Suka atau tidak, mereka harus siap. Mengapa? Karena sekarang Anda adalah bagian dari ekosistem yang lebih besar. Dan perusahaan Anda juga menjadi tumbuh lebih besar dan menyentuh banyak pemangku kepentingan yang berbeda. Dengan masuk ke pasar modal, Anda dipaksa untuk menjadi perusahaan yang jauh lebih baik bukan saja dalam hal bisnis, tetapi juga secara keseluruhan, dalam struktur, dan sebagai organisasi. Alat keuangan? Saya tidak terlalu khawatir tentang itu, karena disanalah bank masuk. Dan mereka sangat canggih dalam hal menyediakan berbagai kebutuhan alat keuangan yang tersedia bagi investor.
ALAN 18:48
Persis. Saya sepakat. Mempertimbangkan diskusi tentang kematangan ini, mari kita fokus pada pasar swasta. Tahap investasi apa yang menurut Anda berkembang dengan baik? Apakah itu di tahap “seed and early round”? Apakah itu di saat tahap pertumbuhan? Dan tahap apa yang menurut Anda relatif belum berkembang dan yang demikian menawarkan peluang bagi investor?

PANDU SJAHRIR 19:06
Saya pikir di tahap “seed and early round” di Indonesia semakin berkembang, artinya sudah ada beberapa pemimpin pasar, seperti perusahaan tempat Anda menjadi partner. Tahap pertumbuhan sejujurnya belum berkembang dengan baik. Saya pikir tahap B dan C relatif kurang berkembang. Hal yang baik tentang ini adalah bahwa ini masih merupakan tahap yang berkembang pesat. Dan satu lagi yang kurang berkembang adalah bisnis yang kami miliki, yang merupakan bisnis sekunder Indies Pelago, yang melakukan pembelian sekunder yang menyediakan likuiditas dalam tahap early stage dan early round pada investor dan para pendiri. Jadi itu semacam turunan dari modal sekunder. Jika Anda melihat kematangan, ada sedikit lebih banyak kematangan dalam pasar modal. Sangat sedikit perkembangan di pasar modal sekunder. Tapi saya pikir saat pasar semakin berkembang, kedua belah pihak akan meningkat dan tumbuh sangat cepat.
ALAN 19:55
Begitu banyak peluang pertumbuhan yang menarik kedepannya. Sekarang, Indonesia telah menjadi pusat untuk beberapa kompetisi paling intensif di dunia di bidang teknologi. Dan Anda, Pandu, mengambil bagian terdepan di bidang-bidang seperti e-commerce dan di sharing economy. Apa harapan Anda seputar persaingan di bidang ini ke depan?
PANDU SJAHRIR 20:14
Menurut saya, dalam e-commerce, saya pikir ada pemimpin yang berkembang dengan baik sekarang. Dan dalam hal ride sharing, menurut saya ini adalah bisnis yang seiring waktu perlu mengembangkan model ekonominya. Di Indonesia, mereka belajar sejak awal bahwa bisnisnya mungkin bukan tentang ride sharing. Ini tentang mengirim makanan, mengirim barang, memberikan layanan keuangan, dan terakhir, mengantarkan orang. Untuk Gojek pada dasarnya, memang begitu. Dan model bisnisnya sangat berbeda dengan yang ada di AS, misalnya, yang membuatnya menarik. Saya pikir medan pertempuran berikutnya ada di FinTech. Tetapi pemain besar, karena mereka memiliki skala ekonomi dan jumlah pengguna, akan mendapat keuntungan, terutama yang terkait dengan pasar C2C atau B2C. Akan ada banyak perubahan. FinTech juga telah banyak berubah dalam tiga tahun terakhir, secara positif. Dan mungkin ada lebih sedikit modal yang dihabiskan dibandingkan dengan e-commerce, dan khususnya berbagi tumpangan. Lebih hemat modal. Dan saya pikir pemenang akan datang lebih awal dari yang diharapkan, yang bagus karena investor mengharapkan monetisasi lebih cepat dari sebelumnya.
ALAN 21:19
Pandu, beberapa pertanyaan tentang gambaran besar. Tren teknologi apa yang paling Anda sukai? Apakah ada aspek vertikal tertentu yang sangat Anda fokuskan?
PANDU SJAHRIR 21:27
Menurut saya, e-commerce masih dalam tahap awal. FinTech sudah pasti dalam tahap awal. Saya akan fokus pada itu dan turunannya yang terkait dengan itu. Misalnya, logistik dan perdagangan sosial masih relatif baru, tetapi terus berkembang. Hubungannya dengan layanan keuangan. FinTech misalnya, terutama dalam pemrosesannya, tidak harus di sisi P2P, atau pinjaman. Hal lainnya terkait Indonesia yang saya suka, agak unik adalah Agritech, artinya hanya menggunakan teknologi dapat memodernisasi industri pertanian. Dan terakhir adalah perikanan, karena, agak unik di Indonesia, industri perikanan di sini sebenarnya sudah cukup tua dan tenang, dan Anda bisa menggunakan banyak teknologi, kebanyakan di aspek logistik untuk pergi dari nelayan sampai ke konsumen akhir. Saat ini, Anda mungkin perlu, seperti di Agri, menemukan empat sampai lima perantara sebelum Anda mencapai pasar akhir. Bayangkan jika Anda bisa membawanya menjadi satu. Jadi ada banyak inefisiensi yang coba diatasi oleh banyak perusahaan baru, dan itu luar biasa, karena itu semua adalah perusahaan ekonomi negara lama yang perlu di ‘disrupted’ untuk membawa keuntungan bagi mereka yang benar-benar menciptakan nilai.

ALAN 22:33
Pandu, bagaimana pandemi mempengaruhi pendekatan Anda sebagai investor, dan terus terang, berbagai peran Anda yang lain?

PANDU SJAHRIR 22:40
Pembelajaran besar datang dari perusahaan tempat Anda berinvestasi. Para founder mencoba memecahkan masalah dengan sungguh-sungguh, dan mereka tidak berubah. Dan mereka benar-benar berkembang pesat selama pandemi ini. Dan Anda kemudian mengetahui bahwa beberapa founder adalah orang-orang yang benar-benar melakukannya untuk keuntungan finansial dan tidak lebih. Dan mereka tidak bekerja dengan baik. Jadi menurut saya, pandemi menunjukkan karakter. Anda juga melihat investor seperti kami sedang diuji. Ketika waktu semakin sulit, apa yang harus kita lakukan? Ketika waktu lebih mudah, artinya lebih baik, semua orang adalah investor yang baik. Tapi apa yang terjadi ketika masa sulit? Saat itulah Anda benar-benar sedang diuji. Dan yang terbaik bukan hanya dalam hal kinerja Anda, yang mungkin paling penting (itulah mengapa Anda dibayar), tetapi juga dalam hal cara Anda mengelola perusahaan dan pemangku kepentingan yang Anda miliki. Jadi krisis biasanya menghasilkan yang terbaik atau terburuk pada manusia. Dan telah menjadi berkah bagi saya, karena di satu sisi, kita memiliki cara yang benar dalam menghadapi sesuatu.

ALAN 23:34
Terakhir Pandu, saran apa yang akan Anda berikan kepada calon wirausahawan yang menginginkan IPO?

PANDU SJAHRIR 23:41(indo)
Jadi sehubungan dengan calon wirausahawan : lihat di mana perusahaan Anda berada dan di mana Anda berada dalam siklus bisnis Anda. Jika Anda melihat bahwa Anda sekarang sudah terbukti dengan model bisnis dalam skala besar, Anda harus mulai mempertimbangkan pasar publik. Saya mencoba untuk menyemangati, jika Anda berpikir untuk melakukan penggalangan dana beberapa ratus juta dolar, pertimbangkan pasar publik karena pasar publik lebih besar daripada pasar swasta, dan lebih dalam dari pasar swasta. Dan jujur saja, sebagai pengusaha, Anda akan mendapatkan lebih sedikit permintaan yang diminta oleh investor Anda karena pada akhirnya mereka adalah investor minoritas. Satu-satunya hal adalah Anda juga harus siap dalam pengawasan dari pemangku kepentingan Anda. Yang saya maksud dengan pemangku kepentingan bukan hanya investor. Bisa juga regulator, publik, media, karena setiap hari mereka bisa melihat kinerja perusahaan Anda.

ALAN 24:31
Pandu, sungguh luar biasa bersama Anda hari ini. Kami berharap Anda dan para pemimpin lainnya di dunia teknologi dan keuangan di Indonesia mendapat sukses besar dalam ekspedisi "elephant hunting" ini, dan kami sangat berharap bahwa kita akan melihat hasil kerja Anda sebagai anggota dewan di BEI, termasuk dalam berbagai kapasitas investasi lainnya. Tak sabar rasanya untuk aktif di tahun 2021. Sekali lagi, kami sangat mengapresiasi Anda yang telah bergabung dengan kami hari ini. Pandu

PANDU SJAHRIR 24:57
Terima kasih.

ALAN 24:59
Nah, demikian penutup Episode 19 Indo Tekno. Kami sangat senang Anda semua telah bergabung dengan kami. Terima kasih telah mendengarkan. Sampai jumpa lagi!

Stay up to date with our latest podcast episodes

For general inquiries, please get in touch

© 2020 by Indo Tekno Podcast