TRANSKRIP​EPISODE 11

(Versi bahasa Inggris)

Episode Sebelas

Profil Kewirausahaan:

Bram Viktor dari Hangry

11 Agustus 2020

 

ALAN 0:10
Selamat datang di Indo Tekno episode ke-11. Selamat datang semuanya. Saya Alan Hellawell, Pendiri firma penasihat startup, Gizmo Avisors, dan Mitra Ventura di Alpha JWC Ventures. Bagi pendengar Indonesia, silakan membaca transkrip Bahasa Indonesia kami. Terkait dengan kehadiran bintang tamu minggu ini, saya merasa perlu kembali ke misi awal dari podcast Indo Tekno. Kami membuat seri ini: 1) untuk meningkatkan profil ekosistem teknologi di Indonesia, 2) untuk menambah gambaran analisa di kancah teknologi Indonesia, 3) untuk membuat profil model bisnis baru yang dapat tumbuh menjadi sub sektor bernilai miliaran dolar dan 4) agar wawasan para inovator teknologi terkemuka Indonesia dapat diakses oleh semua orang.

Menyambut kehadiran Abraham "Bram" Victor, salah satu pendiri dan CEO perusahaan multi-brand virtual restaurant pertama di Indonesia, Hangry, kita akan memenuhi keempat misi tersebut sekaligus. Menurut saya, Bram paling tepat digambarkan sebagai salah satu contoh pengusaha sejati Indonesia. Tidak seperti di Silicon Valley, yang dominasinya di dunia teknologi dimulai tak lama setelah Perang Dunia Kedua, atau Taman Zhongguancun China di Beijing, yang mulai hidup pada pertengahan 90-an, dunia kewirausahaan teknologi di Indonesia menurut sebagian besar data yang ada, belum melebihi dari satu dekade. Dan dengan demikian, ini masih dalam periode yang jauh lebih dapat terbentuk. Pengusaha awal seperti Bram lah, yang saya yakini akan membentuk pengalaman berwirausaha di Indonesia. Dan senang sekali Anda bergabung dengan kami hari ini, Bram. Jika Anda tidak keberatan Bram, mari kita mulai dari yang paling awal. Ceritakan tentang latar belakang Anda.

BRAM VIKTOR 1:50
Ya, tentu saja. Saya lahir dan besar di Indonesia. Saya belajar di Indonesia dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Dan saya akan mengatakan bahwa pengalaman saya tumbuh dewasa mungkin mirip dengan banyak orang lain di luar sana. Jadi saya masuk sekolah di sini, mempelajari 18 mata pelajaran sekaligus, yang tentunya banyak. Setelah itu, saya masuk ke salah satu universitas negeri, dan saya menjelajahi berbagai hal. Tapi saya pikir satu hal yang saya sadari sejak saya bersekolah adalah bahwa saya mungkin tidak cocok dengan sistem yang berlaku saat itu, karena saya belajar akuntansi, seperti yang direkomendasikan oleh orang tua saya. Alasan mengapa mereka merekomendasikan saya untuk belajar akuntansi adalah karena mereka mengatakan kepada saya bahwa hanya ada dua fokus studi yang akan memberikan kemudahan dalam mencari pekerjaan, yaitu Akuntansi dan Hukum. Banyak orang bilang kalau bekerja di industri keuangan akan menghasilkan banyak uang. Itulah mengapa saya memutuskan untuk memilih mengambil akuntansi dibandingkan dengan hukum, karena saya pikir akan lebih dekat dengan keuangan. Alan, menjadi seseorang sepertimu adalah mimpiku sebelum aku masuk perguruan tinggi. Itulah pola pikir yang saya miliki ketika saya mendaftar perkuliahan. Saya ingat sejak satu bulan pertama kuliah, saya mulai menyadari bahwa mungkin saya salah memilih fokus studi, karena saya sudah mengalami kesulitan sejak studi akuntansi bagian awal. Sampai-sampai, saya tidak bisa membayangkan bagaimana saya akan bertahan selama empat tahun untuk belajar akuntansi. Jadi, waktu saya kuliah adalah waktu yang paling membentuk diri saya sepanjang periode akademis yang saya jalani. Satu hal yang saya sadari adalah belajar di perguruan tinggi sama sekali tidak menggambarkan yang benar-benar dihadapi di kehidupan nyata, karena apapun yang saya pelajari di perguruan tinggi sangat berbeda dengan apa yang saya alami setelah saya lulus kuliah. Jadi, satu hal yang saya syukuri saat saya masih kuliah adalah saya memutuskan untuk terjun ke dunia wirausaha untuk pertama kalinya. Ceritanya berawal dari masa-masa sulit yang saya alami saat kuliah. Sayangnya, IPK saya di bawah tiga, sampai-sampai saya harus berbohong kepada orang tua setiap kali mereka bertanya tentang IPK saya. Karena IPK saya di bawah tiga, saya menyadari bahwa peluang saya untuk masuk ke perusahaan yang bagus sangat kecil. Jadi saya mencoba mencari jalan saya sendiri, sehingga saya bisa berhasil dengan cara yang tidak mengharuskan saya melamar ke perusahaan tipikal tempat pelamar kerja melamar setelah mereka lulus, seperti empat firma akuntansi besar, misalnya. Jadi saya mencoba mempertaruhkan peruntungan saya pada kewirausahaan. Saya ingat saya pernah mencoba berbisnis makanan kira-kira saat semester delapan studi saya di perguruan tinggi. Itu adalah pengalaman pertama saya dalam berwirausaha. Saya belajar banyak, tapi berakhir dengan kegagalan. Namun, saya tidak menyerah karena itu. Saya memulai bisnis lain setelah itu. Dan karena bisnis ini, saya harus lulus kuliah setelah lima tahun, dan yang ini juga berakhir dengan kegagalan. Jadi sejak saya masih kecil, hingga perguruan tinggi, saya merasa bahwa hidup saya telah mengalami berbagai kegagalan; kegagalan dalam akademis dan kegagalan dalam dua kali berwirausaha. Itu latar belakang saya. Jadi setelah usaha berwirausaha yang kedua sebelum saya lulus kuliah, saya memutuskan bahwa mungkin saya tidak ditakdirkan untuk menjadi pengusaha, dan saya memutuskan untuk menyelesaikan studi saya di perguruan tinggi dan mulai melamar pekerjaan di dunia profesional.

ALAN 5:02
Banyak hal yang terungkap ya. Perhatian pertama saya ada pada: Saya berasumsi orang tua Anda akan mendengarkan podcast ini. Apakah Anda sudah mengatakan kepada mereka bahwa ternyata Anda memiliki IPK di bawah 3,0?

BRAM VIKTOR 5:17
Untungnya, saya berhasil mengubahnya kembali ke sedikit di atas 3,0 pada semester terakhir; di semester 10 tepatnya. Bersyukur, saya lulus dengan IPK 3.1 bukan di bawah tiga.

Melanjutkan cerita yang sudah saya bagikan tadi: setelah gagal kedua kali, akhirnya saya putuskan untuk mengerjakan tugas akhir kuliah saya yaitu skripsi. Saya akhirnya lulus setelah lima tahun. Saya pikir orang tua saya sangat bersyukur akan hal ini dan saya memutuskan bahwa saya tidak akan pernah mencoba berwirausaha lagi, karena setelah saya telah gagal untuk kedua kalinya, saya cukup trauma. Pada saat itu, teman-teman saya sudah menghasilkan banyak uang dengan bekerja di perusahaan bergengsi seperti McKinsey, BCG dan Deutsche Bank; sedangkan saya hanya memiliki sekitar Rp250.000 di rekening saya, dan tanpa pengalaman kerja, tidak ada kemungkinan untuk memasuki perusahaan sama sekali. Tapi saya ingin berhasil. Jadi saya mencoba segera lulus, yang akhirnya saya lakukan. Dan saya mencoba melamar pekerjaan. Teman saya di perusahaan konsultan bernama BCG menawari saya magang di sana. Jadi saya magang di BCG sebagai karir profesional pertama saya. Di sana saya belajar tentang bagaimana membuat slide. Saya belajar menjadi seorang profesional. Saya mengasah pemikiran saya, dan menjadi lebih terstruktur dalam berkomunikasi serta lainnya. Bagi saya, itu adalah salah satu pengalaman profesional terbaik yang pernah saya jalani. Saya berterima kasih sekali kepada mentor saya di BCG saat itu. Kemudian ketika saya masih di BCG, saya masih mencari pekerjaan pada bidang perbankan investasi, karena yang saya tahu pada saat itu pekerjaan di bidang perbankan investasi adalah pekerjaan dengan bayaran tertinggi. Jadi saya ingin melakukannya. Setelah wawancara dengan banyak perusahaan, di mana ini adalah perjalanan yang sangat sulit bagi saya masuk ke bidang perbankan investasi, tapi ternyata Tuhan memberi saya kesempatan. Jadi saya bergabung dengan perbankan investasi Nomura. Itu adalah pekerjaan full-time pertama saya. Sudah bukan magang lagi. Ini adalah pekerjaan full-time dengan bayaran yang sangat baik. Karir saya di perbankan investasi dimulai sebagai analis sekitar awal tahun 2014. Saya ingat ketika saya mendapatkan surat penawaran (dan kali ini tidak dibatalkan) rasanya seperti mendapatkan kebebasan, akhirnya saya merasa aman secara finansial. Kemudian saya memulai pekerjaan itu. Saya sangat menikmati satu bulan pertama di sana. Saya belajar banyak saat bekerja dengan orang yang pintar. Melakukan kesepakatan secara langsung sangat mendebarkan. Tapi sayangnya, setelah bulan kedua, saya pikir saya mulai menyadari bahwa saya mungkin tidak cocok dengan pekerjaan itu karena perbankan investasi adalah pekerjaan yang sangat memperhatikan hal sedetail mungkin. Dan saya bukan orang yang detail. Satu-satunya hal yang saya tunggu adalah tanggal gajian, tidak ada yang lain. Maka saat itu saya banyak berdoa dan merefleksikan diri. Saya kemudian sadar bahwa mungkin saya masih berkesempatan menjadi seorang pengusaha karena meskipun saya gagal dua kali, saya sebenarnya melakukannya dengan cukup baik. Walaupun tidak menjadi sesuatu, tetapi sebagai seseorang dengan usia 17 atau 18 tahun pada saat itu, saya berhasil melakukan sesuatu yang membuat saya berpikir bahwa saya memang ditakdirkan menjadi pengusaha. Saya mulai beberapa gagasan untuk menjadi pengusaha lagi, dan secara paralel, saya melakukan penelitian kecil tentang apa yang bisa dilakukan. Entah bagaimana ketika saya berada di perbankan investasi (saya pikir ini mungkin rencana Tuhan), saya banyak ditempatkan pada kesepakatan layanan keuangan. Jadi saya melakukan banyak transaksi jasa keuangan. Hal ini membuka mata saya tentang bagaimana sebuah perusahaan jasa keuangan beroperasi dan juga membuka mata saya tentang minimnya inklusi keuangan di Indonesia. Jadi minat untuk melakukan bisnis terkait jasa keuangan muncul di benak saya, kira-kira sekitar pertengahan 2014. Saya mulai melakukan lebih banyak penelitian terkait hal ini. Sebagian besar usaha saya adalah refleksi diri dan berdoa, hanya untuk memastikan ke mana Tuhan mengarahkan saya. Kemudian pada akhir tahun 2014, saya merasa yakin untuk keluar dari Nomura dan memulai perjalanan baru sebagai pengusaha lagi dengan menjalankan layanan keuangan. Saat itu, bisa dibilang bahwa FinTech bahkan belum lahir, setidaknya di Indonesia. Belum ada perusahaan pinjaman peer-to-peer di Indonesia. Menurut saya pembayaran adalah satu-satunya FinTech yang ada di Indonesia saat itu. Saya bahkan tidak berpikir untuk memulai bisnis teknologi. Saya hanya memutuskan untuk berhenti bekerja. Kemudian saya ingin membangun bisnis terkait pinjaman. Saya berpikir karena banyak orang Indonesia memiliki pernikahan impiannya, mungkin saya sebaiknya memiliki bisnis terkait pinjaman untuk pernikahan. Itulah ide yang saya gunakan untuk berhenti dari pekerjaan saya. Hal ini terjadi di akhir tahun 2014.Pada akhirnya, ide itu perlahan berkembang, menjadi Taralite, yang merupakan perusahaan peer-to-peer lending yang berfokus pada pedagang e-commerce. Kurang lebih begitu ceritanya.

ALAN 9:44
Menarik sekali, Bram, Anda tidak mengambil jalan yang biasa. Anda tidak menjadi akuntan. Anda tidak menjadi pengacara. Anda menyebutkan kata gagal beberapa kali? Apa yang menyemangati Anda untuk berwirausaha lagi? Apakah itu optimisme terkait kemampuan Anda? Apa saja rahasia agar kita dapat menerima kegagalan berkali-kali?

BRAM VIKTOR 10:05
Pertanyaan yang sangat bagus. Salah satu pertanyaan yang saya renungkan saat melakukan refleksi diri beberapa waktu yang lalu. Menurut saya jawabannya adalah perpaduan antara kebodohan saya dan kepercayaan diri saya yang luar biasa. Jika Anda memahami apa yang saya lakukan saat itu, mungkin Anda tidak akan menyarankan anak-anak Anda untuk melakukan apa yang saya lakukan. Karena startup (wirausaha) pertama saya adalah selai srikaya. Saya tidak tahu apakah Anda tahu roti panggang dengan selai srikaya di Singapura dan Malaysia. Itu ada pada hampir setiap sarapan tradisional. Saya ingin membuatnya, karena saya pikir saya bisa membuat selai srikaya yang sangat enak. Tidak ada orang yang bisa membuat selai srikaya seenak yang saya buat. Dengan ini, saya bertujuan menyuplai perusahaan pembuat roti terbesar di Indonesia dengan selai saya. Itulah ide untuk startup pertama saya. Bayangkan, saya berusia sekitar 17 atau 18 tahun saat itu. Saya tidak memiliki pengalaman kerja sebelumnya. Saya bahkan tidak memiliki resepnya. Sebenarnya, ini adalah resep dari ibu teman saya, dan saya mulai bereksperimen di rumah, kemudian saya mulai menghubungi perusahaan roti sampai mereka mengajak saya bertemu. Sejak saat itu hingga muncul sedikit harapan bahwa kami benar-benar dapat maju dengan hal ini, perlu waktu sekitar delapan bulan sampai ada perusahaan roti di kawasan industri yang berjarak satu jam dari Jakarta yang mengajak kami bertemu, juga dengan orang-orang R&D di sana, dan mencoba mempromosikan ide roti panggang selai srikaya. Jika saya melihat ke belakang, sebenarnya tidak ada harapan bahwa ini akan berhasil. Tetapi entah bagaimana saya hanya merasa ini bisa berhasil pada saat itu, yang menurut saya adalah karena saya bodoh. Begitu pula dengan startup kedua. Startup kedua saya tentang alternatif bahan bangunan yang disebut sebagai beton ringan. Saat itu, hal ini menjadi sesuatu yang menjanjikan di Indonesia. Saya berpikir bahwa saya juga memiliki kesempatan dan bisa membuatnya menjadi sukses, namun nyatanya saya melakukannya tanpa mengetahui bahwa banyak pemain sudah ada pada bidang tersebut. Saya juga tidak mengetahui bahwa pembuatannya sangat sangat sulit. Mengelola tenaga kerja juga sangat sangat sulit, dan tidak mengetahui dengan baik bahwa bisnis seperti ini akan sangat padat modal dan tidak akan pernah bisa berkembang. Berkaitan dengan pertanyaan sebelumnya, saya pikir tidak ada penjelasan lain selain kebodohan saya dan juga kepercayaan diri saya yang menyebabkan hal-hal tersebut dapat saya lalui.

ALAN 12:08
Sekarang saya menyadari beberapa perjalanan wirausaha Anda sejak: Anda mulai dengan topping untuk sarapan, Anda kemudian beralih ke bahan bangunan ringan. Anda sepertinya bukan pemikir konvensional. Sekarang, Anda hadir bersama kami, karena kesuksesan Anda di Taralite. Bolehkah Bram bercerita mengenai bagaimana sebenarnya awal bisa kepikiran membangun bisnis seperti ini?

BRAM VIKTOR 12:30
Suatu hari setelah saya berhenti dari pekerjaan saya di Nomura, saya mencari tempat untuk bekerja. Kemudian teman saya memberitahu saya bahwa ada co-working space gratis di salah satu gedung perkantoran di Jakarta Pusat. Jadi saya benar-benar mulai mengerjakan ide itu sehari setelah saya berhenti, dan pada awalnya saya tidak tahu harus mulai dari mana. Sebagai awalan, sebenarnya saya sudah mencari beberapa partner. Jadi saya ingat, saya menghubungi sahabat saya saat itu. Sayangnya, dia tidak berpikir ide tersebut akan berhasil. Jadi dia tidak tertarik untuk bekerjasama. Selain itu, ada beberapa orang lain yang saya hubungi untuk bekerjasama juga menolak ajakan saya. Pada akhirnya, saya harus mulai sendiri.

ALAN 13:10
Sangat menarik. Jadi begitulah cara Anda sampai pada titik untuk memulai perusahaan FinTech. Bole ceritakan lebih banyak tentang masa awal Taralite dan bagaimana akhirnya bisa berhasil?

BRAM VIKTOR 13:21
Ketika saya mulai, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, Taralite adalah ide pembiayaan pernikahan. Jadi idenya adalah mendanai pernikahan. Saya bahkan belum tahu model bisnis yang tepat saat itu. Ini bukanlah sesuatu yang harus dilakukan oleh pengusaha baru. Jadi saya salah saat memulai. Karena anugerah Tuhan, maka saya tidak gagal. Tapi itu jelas bukan awal untuk startup yang ideal. Beberapa minggu pertama dihabiskan untuk lebih memahami apa yang pelanggan inginkan. Pada saat yang sama, saya juga melihat model bisnis berbeda yang mungkin bisa berhasil. Jadi saya melihat pilihan menjadi agregator untuk perusahaan dan pelanggan jasa keuangan. Saya hanya ingin menjadi perusahaan pemberi skor kredit. Ini semua adalah opsi yang terpikirkan saat itu. Hingga pada akhirnya, saya berkesimpulan pada dua titik balik, yaitu nomor satu: ketika saya berbicara dengan William Tanuwijaya, yang akhirnya menjadi mentor saya dan angel investor saya (di Taralite). Yang kedua adalah ketika saya berbicara dengan Cyberagent Ventures, yang akhirnya menjadi seed investor kami. Jadi ketika saya berbicara dengan William, dalam pertemuan pertama kami, saya ingat bahwa dia memberitahu saya bahwa gagasan saya sepertinya dapat berkembang menjadi seperti Ant Financial pada saat itu. Sebuah perusahaan yang tidak hanya melakukan pembayaran, tetapi juga meminjamkan ke pedagang Alibaba, karena visi kami di Taralite saat itu adalah membebaskan orang dari kekhawatiran finansial. Kami berharap dapat menjangkau siapa saja yang kurang terlayani, dan pedagang e-commerce pasti adalah salah satu kelompok orang yang kurang terlayani oleh lembaga keuangan. Lalu saat saya bertemu dengan tim Cyberagent di Jakarta, mereka juga memberikan tanggapan yang sama. Mereka mengira ini akan berkembang menjadi seperti Alipay. Saat itu Ant Financial belum menjadi Ant Financial. Masih bernama Alipay, dan Alipay, seperti yang kita ketahui saat itu, memberikan pinjaman ke pedagang Alibaba. Jadi menurut saya kedua orang ini memberi saya keyakinan bahwa model bisnis yang tepat untuk dikejar adalah dengan fokus pada sekelompok orang, yaitu pedagang e-commerce, dan fokus pada layanan pinjaman untuk mereka. Baru kemudian sejak itu, kami memutuskan untuk sepenuhnya beralih dari ide pembiayaan pernikahan ke pemberian pinjaman pada pedagang e-commerce, yaitu Taralite.

ALAN 15:29
Sisanya, seperti yang orang bilang, adalah sejarah. Sekarang, Ovo akhirnya mengakuisisi Taralite. Apakah itu benar?

BRAM VIKTOR 15:35
Itu benar. Tahun 2018, kami berbicara secara intensif dengan tim Ovo. Saya ingat, saat saya dan mitra saya, tim manajemen Taralite, yakin bahwa itu akan menjadi keputusan yang tepat untuk bergabung bersama Ovo adalah ketika kami menyadari bahwa misi kami dapat dicapai lebih cepat melalui kemitraan dengan Ovo. Kami juga percaya bahwa Ovo, dengan potensi pengembangan dan keluasan cakupan pelanggan yang dimiliki, dapat mempercepat Taralite untuk menjangkau orang-orang yang kurang terlayani. Maka kami akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan Ovo.

ALAN 16:08
Jika saat ini kita bisa mempercepat keputusan Anda untuk pindah dari Taralite: apa yang sebenarnya terjadi di balik keputusan itu?

BRAM VIKTOR 16:15
Jadi ketika kami bergabung dengan Ovo, kami semua sebenarnya berpikir untuk tetap di perusahaan untuk waktu yang lama. Jadi tidak ada dari kami yang berniat keluar dari perusahaan. Saya ingat saya pernah memberitahu CEO Ovo, bahwa bahkan jika mereka mengeluarkan pembayaran (saham) saya selama 10 tahun ke depan, tidak akan ada bedanya bagi saya, karena saya sama sekali tidak berniat meninggalkan perusahaan. Niat saya adalah tetap di perusahaan selama saya bisa. Tetapi ketika kami akhirnya bergabung dengan Ovo, ada hal-hal yang tidak saya pikirkan yang mulai muncul di benak saya. Kami, misalnya, pindah dari perusahaan dengan 60 orang ke 600 orang di Ovo karena tim kami digabungkan. Terus terang saya belum pernah bekerja di perusahaan besar seperti itu sebelumnya. Jadi saya ingat bahwa pikiran untuk berhenti mulai muncul di benak saya ketika saya menyadari bahwa motivasi saya dalam hidup, setidaknya saat itu, adalah menjadi pengusaha yang lebih baik dan pemimpin yang lebih baik. Saya merasa kesulitan menghubungkan aspirasi tersebut dengan pekerjaan harian saya di Ovo. Tentunya di Ovo saya belajar banyak hal. Kemudian saya mulai berpikir dan merefleksikan diri apakah Tuhan mungkin menginginkan saya untuk melakukan hal lain. Saya mulai berdiskusi dengan istri saya. Saya juga berbicara dengan mentor saya, William. Dari situ, setiap orang yang saya tanyai cukup terkejut. Mereka juga mencoba memberi saya masukan seobjektif mungkin. Maka saat itulah saya mulai menyadari bahwa saya merasa terpanggil untuk hal lain, yaitu perjalanan startup lainnya. Keputusan untuk berhenti tersebut akan mengorbankan seluruh pembayaran (saham) saya, karena pembayaran saya baru bisa dikeluarkan setelah tiga tahun, dan saya hanya mengambil sedikit uang di awal. Jadi ini menjadi keputusan yang mahal jika saya benar-benar memutuskan untuk berhenti. Tetapi saya pikir, pada akhirnya, saya menyadari bahwa uang tidak benar-benar memotivasi saya. Menjadi pengusaha yang lebih baik, pemimpin yang lebih baik, adalah hal yang benar-benar memotivasi saya. Saat itulah saya memutuskan bahwa saya harus berhenti dan memulai sesuatu yang lain. Dan pada saat itu, saya belum tahu harus mulai dari mana, jujur ​​saja.

ALAN 18:09
Ini membawa saya ke pertanyaan berikut, yaitu: bagaimana Anda beralih dari P2P lending di Taralite ke startup Anda saat ini, Hangry, yang merupakan multi-brand virtual restaurant, dan jelas berada di area yang sama sekali tidak terkait.

BRAM VIKTOR 18:26
Hal ini juga cukup menarik buat saya. Seperti yang Anda sebutkan sebelumnya, saya pikir saya memang pandai melihat peluang sejak masa kuliah. Perilaku ini bisa dibilang karena saya tumbuh di keluarga yang pernah mengalami krisis keuangan sebelumnya, jadi saya hanya ingin berhasil secara finansial, dan itulah motivasi ketika saya memulai Taralite. Ketika saya memulai dua usaha pertama yang saya lakukan dan tidak berhasil, motivasinya adalah karena saya melihat peluang dan kesempatan untuk menjadi besar. Sama dengan Taralite. Perbedaannya adalah saat itu saya sadar bahwa saya memiliki ketertarikan untuk menjadi pengusaha. Tetapi mengapa saya memilih untuk berwirausaha ada layanan keuangan adalah karena saya melihat peluang. Itulah mengapa saya melakukannya. Setelah saya keluar dari Ovo untuk memulai proses berwirausaha, saya melakukan brainstorming, dan banyak ide masih memiliki kerangka yang sama. Maka saya mencari ide yang bisa menjadi besar. Saya terpikirkan perdagangan sosial, logistik, dan cloud kitchen-as-a-service. Jadi saya terpikirkan segala macam hal. Tapi ada satu hal yang hilang dari kerangka saya. Dan hal itu, menurut saya, adalah sesuatu yang baru saya sadari saat perjalanan "baby-moon" dengan istri saya. Hal yang saya maksud adalah "founder fit to the idea". Satu hal yang pasti ada saat di Taralite adalah bahwa saya mampu melihat peluangnya, tetapi saya rasa tidak ada founder fit yang cocok antara Bram dan idenya. Ketika saya menyadari hal tersebut, saya mencoba mencari ide bisa cocok dengan saya. Maka pertanyaannya adalah, apa industri atau produk yang paling saya sukai? Kebetulan saya seorang foodie. Saya sangat menyukai makanan. Saya tahu sedikit cara memasak, tetapi saya sangat jelas tahu cara membedakan makanan yang luar biasa dan tidak. Maka F&B adalah industri yang hampir tidak ada batasannya. Ada perusahaan yang menghasilkan pendapatan sekitar $ 20 miliar per tahun, seperti McDonald's. Ada juga perusahaan yang sangat kecil. Nah, sekarang idenya sudah memiliki founder fit. Kemudian, industrinya juga memiliki potensi pasar yang sangat besar tanpa batasan. Oleh karena itu, saat itulah saya yakin bahwa saya harus berfokus pada wirausaha terkait makanan. Kemudian keyakinan saya ditegaskan kembali ketika saya bertemu dengan William. Saya cerita dengan William mengenai ide saya. Saya ingat dia tertawa dan mengatakan kepada saya bahwa "akhirnya, Anda menemukan apa yang sebenarnya harus Anda lakukan." Jadi saya rasa mentor saya cukup mengenal saya hingga bisa berkata seperti itu.

ALAN 20:51
Lanjut Bram, kesulitan seperti apa yang Anda hadapi dalam memulai perusahaan seperti Taralite, dan yang terbaru, Hangry?

BRAM VIKTOR 21:00
Kesulitannya berbeda antara apa yang saya hadapi di Taralite dibandingkan dengan apa yang saya hadapi di Hangry. Jika ada kesulitan yang sama, menurut saya yang pertama adalah menemukan product-market-fit. Menemukan product-market-fit sangat sulit, karena setiap wirausahawan bias, bukan? Kami pikir produk kami bagus, dan kami memproyeksikan produk kami kepada pelanggan. Jadi, produk yang bagi kami bagus atau dianggap baik juga bagi pelanggan, padahal mungkin tidak. Sayangnya, banyak orang terjebak pada hal ini dan percaya bahwa produknya sudah mencapai product-market-fit padahal belum. Terutama ketika pendiri berhasil mengumpulkan pendanaan untuk mendukung keberlangsungan perusahaan untuk sementara waktu. Jadi bagi kami saat itu di Taralite, saya tidak tahu produk apa yang cocok dengan pelanggan, dan saya menjelajahi banyak hal, mulai dari pembiayaan pernikahan hingga pembiayaan pembelian mobil sebelum akhirnya, kami menemukan bahwa ada yang membutuhkan pinjaman pedagang untuk e-commerce. Hangry pun sama. Kami memikirkan berbagai macam produk, dari ayam goreng Indonesia hingga beef bowl Jepang. Namun perjalanan menemukan product-market-fit selalu menjadi tantangan. Ya, tantangan yang paling penting untuk dilewati. Kemudian tantangan kedua adalah menemukan mitra atau orang yang tepat. Ini adalah salah satu bagian tersulit, bahkan lebih sulit daripada menemukan product-market-fit, karena sulit menemukan orang yang memiliki visi yang sama dan memiliki nilai yang sama.

ALAN 22:23
Melanjutkan pertanyaan tersebut, dalam membangun perusahaan, apa yang masih menjadi bagian tersulit dari proses rekrutmen?

BRAM VIKTOR 22:31
Satu-satunya tantangan terbesar dalam perekrutan adalah merekrut level kepemimpinan, karena jika Anda melihat susunan budaya perusahaan, biasanya budaya perusahaan dimulai oleh para pendirinya. Jadi para pendirinya akan menentukan budaya perusahaan. Kemudian ketika perusahaan tumbuh, level orang paling berpengaruh kedua yang menentukan budaya perusahaan adalah para pimpinan, karena para pimpinan pada akhirnya akan merekrut orang-orang yang memiliki nilai yang sama dengan mereka. Jadi bagi kami, karena kami memiliki ekspektasi yang tinggi, dan kami memiliki ambisi besar, kami juga harus merekrut dengan cepat; tantangannya menjadi bagaimana mempekerjakan orang yang sangat mampu, pekerja keras, sangat sangat tangguh, sangat baik dan berorientasi pada pelanggan, tetapi pada saat yang sama memiliki DNA yang sama dengan kami. Jadi itulah satu-satunya tantangan terbesar menurut saya.

ALAN 23:22
Nah, Bram, Anda telah membagikan beberapa anekdot yang benar-benar menarik seputar kedekatan Anda dengan William, Pendiri Tokopedia. Menurut Anda, apa nilai tambah terbesar dalam bekerja dengan konstituen besar lainnya, yaitu perusahaan Venture Capital? Nilai tambah apa yang mereka berikan kepada Anda?

BRAM VIKTOR 23:40
Hmm. Terkait dua nilai tambah terbesar yang kami dapatkan dari VC, menurut pengalaman saya, bagi saya dan tim pendiri, adalah pertama, VC yang baik selalu memberi kami tamparan di pipi kanan dan kiri untuk menyadarkan kami ketika kami tidak melihat semuanya secara benar. Misalnya, saya sering mengobrol dengan Eko dari Alpha, di mana Eko akan menantang pemikiran kami tentang cara kami memandang bisnis. Setiap pengusaha dan tim pendiri akan terjebak ke dalam perangkap karena terlalu fokus dalam melakukan pekerjaan sehari-hari, dan kehilangan helicopter view. VC memiliki keistimewaan untuk dapat melihat sesuatu dari helicopter view. Saya pikir VC yang baik selalu menyadarkan para pendiri untuk memastikan bahwa mereka selalu melihat hal yang sebenarnya terjadi. Jadi kami benar-benar menikmati tantangan dari Eko pada waktu lalu. Kami juga telah melakukan banyak percakapan dengan tim Surge, terkait tantangan yang mereka berikan, misal terkait unit ekonomi kami. Dari sudut pandang mereka, pertumbuhan menjadi segalanya. Pertumbuhan yang menguntungkan adalah hal yang perlu dipenuhi. Tidak hanya membuat kami menyadarinya, mereka juga mulai menawarkan pilihan berbeda yang dapat kami eksplorasi hingga ke titik tersebut. Menurut saya yang pertama, VC yang baik selalu mengarahkan kenyataan kepada para pendiri, karena para pendiri mungkin tidak melihat kenyataan tersebut. Kedua, VC yang baik juga berempati. Inilah perbedaan antara VC yang murni kapitalis, secara harfiah melihat wirausahawan sebagai angka dan dalam cara transaksional, dan VC yang berusaha menjadi mitra. Kenyataannya adalah menjadi pengusaha itu sangat sulit. Tidak bermaksud cengeng, tapi jujur ​​saja, memang ini sulit. Seringkali, kami tidak tahu harus berbuat apa. Kami menemui jalan buntu di sana-sini. Kami mencari tahu seiring dengan saat kami melakukannya. Dan jika, katakanlah, setiap VC yang bermitra dengan kami, memperlakukan kami dengan baik, hanya ketika kami berkembang dengan baik, dan tidak menganggap kami ketika kami tidak berkembang, maka tidaklah menyenangkan berada di hubungan seperti itu. Jadi saya pikir VC yang baik adalah sekelompok orang tetap mendukung kami jika kami tidak berkembang dengan baik, dan berempati dengan kesulitan yang kami hadapi.

ALAN 25:47
Bram, ceritakan lebih banyak tentang Hangry dan bagaimana posisinya sekarang dan bagaimana harapan Anda.

BRAM VIKTOR 25:52
Hangry dimulai dengan sebuah aspirasi, bahwa suatu hari orang akan menikmati merek (produk) Hangry di seluruh dunia setiap harinya. Kami melihat merek-merek F&B yang berhasil mencapai hal tersebut secara global; seperti McDonald's, Starbucks, dan semua merek yang didirikan pada tahun 1920-an dan 1950-an. Saya pikir generasi sekarang telah berubah. Saya mewakili generasi saya. Kami adalah generasi yang banyak menuntut. Kami menginginkan keunggulan dalam segala hal. Kami menginginkan makanan yang sangat baik, produk yang sangat baik, pelayanan yang sangat baik. Kami juga ingin merek (produk) yang dapat memiliki kedekatan dengan kami. Kemudian kami percaya bahwa kami dapat menyediakan merek-merek seperti itu dan membuatnya mendunia, hingga pada akhirnya orang-orang dapat menikmati makanan dan minuman kami ke mana pun mereka pergi. Itulah mengapa misi kami adalah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Kami memperkirakan bahwa "orang" yang kami maksud dalam pernyataan misi ini akan berkembang menjadi penduduk global. Itulah cita-cita kami. Kami memulai dari yang kecil. Kami memulai dengan beberapa merek berfokus pada layanan delivery-only di Indonesia. Makanan kami adalah makanan yang orang makan setiap hari. Kami berharap untuk dapat memulai ekspansi ke luar negeri pada tahun 2022 dan seterusnya.

ALAN 27:05
Lanjut ke hal lain, Bram, stres terbesar yang disebabkan oleh COVID-19 ke bisnis Anda?

BRAM VIKTOR 27:12
Berdasarkan yang kami ketahui, sepertinya industri F&B di Indonesia secara keseluruhan telah menurun. Pangsa pasar tidak loyal dalam membelanjakan uangnya untuk makanan seperti dulu sebelum COVID. Dan tentu saja, ini berkaitan dengan fakta bahwa banyak pendapatan yang berkurang. Bisnis tidak berjalan dengan baik seperti sebelumnya. Banyak orang di-PHK. Orang-orang memilih  pemotongan gaji, jadi orang tidak punya uang sebanyak dulu. Dan bagi kami, kami masih bertumbuh. Tetapi kami tidak bisa tidak memikirkan seberapa cepat kami akan tumbuh, jika tidak ada COVID. Bagi kami, COVID jelas bukan kejutan yang menyenangkan, terutama karena kami memiliki banyak proses dapur offline yang tidak dapat dialihkan ke cloud. Beberapa hal yang harus kami terapkan secara tiba-tiba adalah bekerja dari rumah. Itu berarti kami harus melakukan banyak hal yang sebelumnya kami lakukan secara offline, menjadi online. Misalnya, kami telah merekrut banyak staf dapur untuk outlet kami yang harus kami rekrut secara offline, dan kami juga harus melatih mereka secara offline. Kemudian kami telah melakukan orientasi untuk perekrutan staf dapur baru secara offline dengan melakukan pelatihan kelas, dan kemudian melakukan simulasi dapur, dan segala macam hal yang harus dilakukan di lokasi. Kami harus mengalihkan sebagian besar kegiatan tersebut secara online secepat mungkin. Ini adalah anugerah sekaligus musibah. Musibahnya adalah kami terkejut dalam beberapa minggu pertama karena kami dipaksa melakukannya. Tapi melihat ke belakang, saya pikir kami telah beradaptasi sebagai sebuah perusahaan. Saya pikir tim kami pantas mendapatkan semua pujian untuk itu, bagaimana sekarang, mungkin 90% dari proses perekrutan dan proses orientasi dapat dilakukan secara online. Dan itu adalah sesuatu yang tidak pernah kami duga akan dapat kami lakukan sebelumnya. Tetapi saya pikir COVID telah menghadirkan tantangan bagi beberapa anggota tim kami juga secara mental. Beberapa orang merasa kesepian dan saya pikir banyak juga yang merindukan bekerja di kantor. Jadi, kami dipaksa untuk mencoba melakukan hal yang berbeda untuk memastikan tim dapat bersemangat kembali, tetap menikmati pekerjaan mereka, dan orang-orang akan tetap bekerja dengan motivasi yang sama seperti sebelumnya. Jadi kami meluncurkan berbagai hal seperti Weekly Business Review, tempat seluruh tim dapat bertemu, dan kami mencoba melakukan komunikasi dan koordinasi setiap hari. Ini adalah hal-hal yang biasa kami lakukan. Tapi sekarang kami lebih disiplin melakukannya karena kami menyadari bahwa satu orang perlu bertemu orang lainnya juga. Dan ketika mereka melihat bahwa semua orang terpacu untuk memajukan perusahaan, maka mereka akan termotivasi untuk bekerja.

ALAN 29:37
Bram, saya menghabiskan sebagian besar karir saya menjadi pendukung perusahaan internet dan e-commerce di Tiongkok. Dan tampaknya ada pola umum yang dimiliki China beberapa tahun lalu, dan oleh sebagian besar pasar Asia Tenggara saat ini. Banyak pengusaha pertama kali yang kembali dari studi luar negeri. Sekarang individu seperti Anda dan salah satu mentor Anda yang lebih berpengaruh, William Tanuwijaya di Tokopedia, adalah apa yang Anda sebut "100% homegrown." Bagaimanakah wajah kewirausahaan Indonesia berkembang dalam beberapa tahun mendatang?

BRAM VIKTOR 30:08
Saya percaya bahwa pengusaha akan menciptakan pengusaha. Itulah yang dikatakan mentor saya. Setidaknya dari kedekatan saya dan mentor saya, saya bisa melihat hal itu terjadi. Saya pikir dia adalah mentor saya yang paling berpengaruh sampai sekarang. Saya melihat, mungkin di masa depan, semua perusahaan teknologi yang kita lihat saat ini, termasuk Hangry, akan melahirkan lebih banyak lagi wirausahawan. Sebenarnya jika kita melihat komposisi orang-orang yang bekerja di Hangry, mungkin 99% -nya adalah orang-orang yang pernah menempuh pendidikan di Indonesia: homegrown. Dan karena menurut saya secara statistik, ada lebih banyak orang yang berpendidikan di sistem pendidikan Indonesia daripada orang yang cukup beruntung untuk belajar di luar negeri. Jadi menurut saya kedepannya akan semakin banyak wirausaha yang tumbuh di dalam negeri.

ALAN  30:53  
Baik, Bram, dalam mengembangkan perusahaan Anda kini, apa satu faktor yang menurut Anda paling kurang di ekosistem yang ada sekarang?

BRAM VIKTOR  30:59  
Dalam benak saya, mungkin satu hal yang kurang, jika saya membandingkan posisi kita di Indonesia dengan Silicon Valley, adalah bagaimana sikap kita dalam menghadapi kegagalan. Saya telah bertemu dengan beberapa pengusaha Silicon Valley yang gagal. Beberapa dari mereka menjadi mitra YC, dan kemudian beberapa dari mereka memutuskan untuk memulai perusahaan lain. Saya melihat mereka mengapresiasi kegagalan dengan rasa hormat dan kekaguman. Ini adalah sesuatu yang menarik bagi saya. Karena saat ini, jika saya melihat orang-orang di sekitar saya, saya kira kegagalan masih kurang dihargai di sini. Saya pikir ekosistem di Indonesia adalah salah satu tempat kesuksesan sangat dirayakan. Dan kegagalan dipandang rendah, yang cukup menyedihkan, karena itu berarti 99% wirausahawan yang memutuskan untuk memulai perjalanan startup mungkin tidak akan diperlakukan dengan baik ketika mereka gagal ... dan 99% orang akan gagal. Sebenarnya, ada garis tipis antara kegagalan dan kesuksesan. Seringkali, itu hanya keberuntungan. Itulah mengapa saya berpikir jika, katakanlah saya berharap satu hal berubah, saya berharap ekosistem kita akan memperlakukan kegagalan dengan lebih ramah, hormat, dan kagum, daripada meremehkan kegagalan ini.

ALAN  32:10  
Wow, pemikiran yang sangat menarik. Apa masukkan terpenting yang bisa Bram bagikan kepada para wirausahawan?

BRAM VIKTOR  32:17  
Mungkin saya akan menjawab dengan dua hal. Masukkan terpenting pertama adalah product-market-fit, atau yang pelanggan sukai adalah segalanya. Banyak pengusaha yang saya temui memiliki aspirasi besar. Mereka punya impian besar, ambisi besar. Mereka juga memiliki model bisnis yang menarik di benak mereka. Tetapi banyak yang tidak memikirkan dari sisi pelanggan. Sedangkan bisnis paling sukses di dunia adalah bisnis yang berorientasi pada pelanggan. Saya langsung teringat Amazon ketika saya mengatakannya, karena Amazon adalah kesaksian hidup tentang bagaimana orientasi pada pelanggan membawa kesuksesan. Itu hal pertama. Kedua adalah sesuatu yang dikatakan William kepada saya, dan dia mengatakan kepada saya bahwa kita harus fokus melakukan hal yang benar. Ini mungkin tampak sepele, tetapi sebenarnya cukup rumit untuk berlatih setiap hari secara konsisten. Salah satu contoh yang akan saya pilih adalah bagaimana banyak pendiri memutuskan untuk mengalokasikan mungkin 10 hingga 15% dari perusahaan mereka sebagai ESOP, yang merupakan praktek pada umumnya. Tetapi jika prinsipnya adalah: kita harus berbagi keuntungan, untuk memberikan kredit kepada mereka yang benar-benar berusaha, maka menurut saya 10 hingga 15% dari sebuah perusahaan sebagai kumpulan ESOP tampaknya cukup kecil. Apa yang dikatakan William kepada saya adalah bahwa saya tahu, jauh di lubuk hati saya, bahwa perusahaan ini bukan untuk saya. Perusahaan ini adalah apa yang Tuhan telah percayakan kepada saya, untuk pelanggan kita dan untuk karyawan kita, dan juga untuk pemegang saham kita juga. Kami pasti harus bermurah hati dengan ESOP kami. Jadi menurut saya itu adalah salah satu masukkan terbaik yang pernah saya terima, yaitu selalu melakukan hal yang benar, bahkan ketika itu bukanlah hal yang umum.

ALAN  33:56  
Saran yang bagus, dan senang mendengar cerita Anda dengan lebih luas, Bram. Benar-benar membuka pemikiran dan menginspirasi. Kami berharap dapat mengikuti karya luar biasa Anda sebagai salah satu pengusaha serial pertama di negara ini. Sekian artikel Indo Tekno yang ke-11, terima kasih banyak telah bergabung bersama kami hari ini Bram.

BRAM VIKTOR  34:12  
Dengan senang hati. Terima kasih atas kesempatannya, Alan.

ALAN  34:15  
Podcast diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Alpha JWC Ventures. Terima kasih sudah mendengarkan. Sampai jumpa lagi!

Stay up to date with our latest podcast episodes

For general inquiries, please get in touch

© 2020 by Indo Tekno Podcast