TRANSKRIP​EPISODE 10

(Versi bahasa Inggris)

Episode Sepuluh

Grab and Go:

Edward Tirtanata dari Kopi Kenangan

4 Agustus 2020

 

ALAN 0:10
Halo semua! Anda sedang menyaksikan Indo Tekno episode 10. Saya Alan Hellawell, pendiri konsultan startup, Gizmo Advisors sekaligus Venture Partner di Alpha JWC Ventures. Untuk pendengar berbahasa Indonesia, kalian dapat mengikuti diskusi dengan membaca subtitle Indonesia yang tersedia.

Cerita minggu ini dapat dijelaskan dengan berbagai cara. Ini merupakan cerita munculnya, salah satu merek konsumen paling dinamis di Indonesia, dalam waktu yang sangat singkat, kurang dari 3 tahun. Ini juga dapat digambarkan sebagai salah satu kisah model bisnis "ritel baru" pertama dan terbesar di negara ini. Dan yang terpenting, kisah berikut merupakan satu dari sedikit model bisnis yang berhasil mencatat keuntungan dalam dunia teknologi startup Indonesia. Bersama kita hari ini untuk membagikan kesuksesan rantai kopi grab-and-go Kopi Kenangan, Co-founder dan CEO Kopi Kenangan, Edward Tirtanata. Ed, senang bisa bertemu Anda hari ini.

EDWARD TIRTANATA 1:09
Senang berada di sini juga.

ALAN 1:11
Jadi, Ed, bisakah Anda menceritakan kisah yang mendasari Anda untuk memulai bisnis Kopi Kenangan pada Agustus 2017?

EDWARD TIRTANATA 1:17
Tentu. Saya memulai Kopi Kenangan pada Agustus 2017. Tetapi sebelum itu, saya sedang menjalankan bisnis tea house premium. Namun pada 2015, ketika sedang menjalankan bisnis teh, saya dengan cepat menyadari bahwa, meski telah menjadi rantai tea house premium terbesar di Indonesia, bisnis tersebut sulit untuk dijalankan dalam skala besar karena secangkir teh seharga Rp40.000, atau secangkir kopi seharga Rp40.000 bukanlah sesuatu yang terjangkau bagi kebanyakan orang Indonesia: Rp40.000 dikali 30 hari. Itu sama dengan Rp1,2 juta, atau sekitar 30% dari upah minimum Jakarta, Ibukota Indonesia. Pada saat itulah kami menyadari bahwa Indonesia memiliki kesenjangan antara harga kopi instan dengan harga di kafe atau kedai kopi di seluruh Jakarta, yang sebagian besar mematok harga sekitar Rp40.000. Setelah saya mengidentifikasi kesenjangan tersebut, kami memutuskan untuk membuka sesuatu yang berbeda dibandingkan konsep kopi "third home" yang biasa Anda kenal. Third home adalah istilah yang dipopulerkan oleh Howard Schultz dari Starbucks dimana rumah pertama adalah rumah Anda. Rumah kedua adalah kantor Anda dan rumah ketiga adalah Starbucks. Dari situ lah kenapa Anda banyak melihat kafe-kafe dengan sofa yang bagus dan koneksi WiFi cepat, ketika sebenarnya, semua biaya tersebut dibebankan ke dalam segelas kopi Anda. Hal yang segera kami sadari adalah, bagi orang yang mengonsumsi kopi setiap hari, tidak semuanya menginginkan sofa yang nyaman atau WiFi yang cepat. Mereka hanya ingin secangkir kopi enak dengan harga yang wajar. Dan itulah sebabnya kami memulai Kopi Kenangan, di gedung Standard Chartered pada Agustus 2017. Kami sengaja membuka kedai pertama kami berdekatan dengan tiga pemain kopi global. Alasan mengapa kami sengaja membuka di sana adalah karena kami ingin menguji skalabilitas. Jika kami tidak bisa bersaing dengan merek global, yang memiliki 400 atau 500 outlet di Indonesia, maka tidak mungkin kami bisa mengembangkan merek ini. Dan yang mengejutkan adalah: pada Agustus 2017, kami berhasil mengembalikan modal dalam waktu tiga bulan. Jadi periode pengembalian modal adalah tiga bulan. Kami dengan cepat menggunakan modal tersebut untuk membuka toko kedua, toko ketiga, sampai toko kedelapan. Kami berhasil mencatat traksi dan pendapatan yang signifikan. Dan pada saat itulah kami memutuskan untuk melakukan fund raise ke Alpha JWC, dan menjadi bagian dari portofolio Alpha JWC yang membanggakan sejak saat itu.

ALAN 3:41
Jadi kalian memulai bisnis di "pusat" kompetisi. Anda memutuskan untuk mendirikan toko dengan sekelompok pesaing di sekitarnya. Anda jelas merupakan golongan dengan aliran pemikiran "Apa yang tidak membunuh Anda membuat Anda lebih kuat", benarkah begitu?

EDWARD TIRTANATA 3:57
Jika Anda startup, Anda tidak boleh menghindari persaingan. Anda harus mencoba untuk bersaing head to head dengan mereka, supaya Anda bisa menemukan produk yang paling cocok untuk pasar, atau dapat menguji apakah produk Anda cocok untuk pasar, karena jika tidak maka akan sangat sulit bagi Anda untuk mengembangkan perusahaan di masa depan.

ALAN 4:14
Bisakah Anda memberi kami beberapa fakta dan angka seputar skala dan tingkat pertumbuhan Kopi Kenangan saat ini?

EDWARD TIRTANATA 4:19
Tentu. Kami mengakhiri 2017 dengan satu toko. Pada 2018, kami memiliki 26 toko. Tahun 2019 adalah tahun rocket ship bagi kami. Kami berkembang dari 26 toko menjadi 223 toko. Dan, per Desember 2019, kami tidak memiliki satu pun toko yang tidak menguntungkan. Jadi kami bukan hanya berkembang pesat, tetapi juga menguntungkan. Dan di saat itu, berdasarkan hasil audit PwC, kami berhasil memperoleh persentase EBITDA dua digit. Di atas segalanya, saya yakin kami adalah perusahaan pengiriman kopi online nomor satu di negara ini, sama seperti pada Desember 2019. Dan saat ini, kami memiliki 354 toko. Jadi, meski di tengah pandemi, kami masih terus berkembang dengan laju 30 toko per bulan, tanpa menghitung periode Ramadhan. Jadi, di sinilah posisi kami saat ini. Ke depan, kami ingin terus mempertahankan momentum ini, jika tidak tumbuh lebih cepat.


ALAN 5:20
Anda telah berhasil mempertahankan profitabilitas di masa fase pertumbuhan yang sangat cepat ini. Atau dari sisi yang lebih kualitatif: Ed, apakah Anda khawatir untuk mengkompromikan berbagai elemen seperti budaya perusahaan atau kompetensi karyawan dengan berkembang terlalu cepat?


EDWARD TIRTANATA 5:36
Saya pikir budaya perusahaan adalah sesuatu yang harus Anda atur sejak Day One. Dan, selama Anda terus berfokus pada budaya perusahaan tersebut, budaya itu akan bertahan untuk tahun-tahun yang akan datang. Yang menarik, kami memiliki tiga budaya di Kopi Kenangan: 1) Mentalitas "Day One", 2) "One Cup, One Customer" dan yang terakhir adalah 3) kerja tim. Itulah cara kami memandang bisnis. Saya ingin menjelaskan lebih jauh mengenai mentalitas Day One. Saya rasa istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh Jeff Bezos dari Amazon. Dia mengatakan, Hari Kedua adalah penurunan, yang kemudian diikuti oleh kematian. Karena itu, kita harus selalu gesit, cepat, dan menerima risiko sebagai bagian dari keputusan kita sehari-hari. Jadi itu sebabnya kami sangat gesit, dalam membuka toko dan berinvestasi di teknologi, untuk menguji berbagai produk, baik dari perusahaan teknologi dan minuman. Kegesitan dan "mentalitas eksperimen" inilah yang memulai Kopi Kenangan pada bulan Agustus 2017, dan menjadi sesuatu yang telah kami pertahankan sejak Hari Pertama. Dalam hal kompetensi karyawan, kami percaya ada dua bagian dalam hal ini: pertama adalah karyawan toko, dimana kami banyak menginvestasikan untuk pembelajaran dan pengembangan, karena kami percaya pada akhirnya, mereka lah orang-orang yang akan melayani pelanggan. Karena itulah kami berinvestasi banyak dalam pembelajaran dan pengembangan. Selain itu, satu hal yang kebanyakan orang tidak sadari di Indonesia adalah bahwa tidak terlalu sering perusahaan membagikan saham kepada manajer toko. Saya rasa tidak demikian halnya dengan perusahaan QSR di Indonesia. QSR adalah singkatan dari "Quick Service Restaurant." Dan kami adalah perusahaan pertama di Indonesia yang melakukan itu.

ALAN 7:17
Ed di mana Anda melihat perusahaan ini pada akhir 2021? Dan apa visi jangka panjang dari Kopi Kenangan?

EDWARD TIRTANATA 7:24
Kami percaya kami bukan hanya sekadar perusahaan dengan satu produk atau startup di satu negara. Kami percaya bahwa, di masa depan, potensi pertumbuhan terletak pada kekuatan distribusi. Kami percaya bahwa "produk adalah raja," tetapi di atas itu, "distribusi adalah Tuhan." Itu sebabnya kami membuka lebih banyak toko, untuk lebih dekat dengan pelanggan kami, karena salah satu hal terpenting dalam bisnis kopi atau minuman adalah kenyamanan. Jadi semakin banyak toko yang Anda miliki, semakin dekat Anda dengan pelanggan Anda. Itu sebabnya kami membuka dengan laju yang sangat cepat, dan pada tahun 2021, kami ingin mengakhiri tahun itu dengan 1.000 toko. Dan tidak hanya sekadar menjual kopi. Kami ingin dapat menjual produk lain selain kopi. Dan itulah yang kami lakukan pada 2019, dimana kami telah berevolusi dari hanya menjual "Kopi Susu," yang merupakan "hero product" kami, menjadi menjual barang-barang lain seperti "Boba," "Macha," Thai tea dan minuman lainnya. Ke depan, dengan menyadari bahwa distribusi akan menjadi aset terbesar kami, kami ingin terus berinovasi dengan produk-produk baru, dari makanan ke barang-barang lainnya juga. Dengan memiliki lebih banyak pelanggan, lebih banyak produk, dan lebih banyak toko, kami akan bisa mengumpulkan lebih banyak data tentang kebutuhan pelanggan kami, sehingga pada akhirnya, dapat meningkatkan frekuensi dan "AOV" (nilai pesanan rata-rata) pembelian mereka di masa depan. 

ALAN 8:45
Ed, seperti yang saya sebutkan dalam perkenalan tadi, dan seperti yang juga Anda sebutkan, Keuntungan EBITDA Kopi Kenangan sangatlah mengesankan. Bagaimana Anda bisa mencapai hal tersebut di tengah periode pertumbuhan yang sangat, sangat kuat ini?

EDWARD TIRTANATA 8:58
Salah satu yang saya yakini adalah, jika Anda memiliki produk hebat dan sesuai pasar, Anda tidak perlu menghabiskan terlalu banyak untuk akuisisi pelanggan. Saya percaya bahwa sebagian besar perusahaan startup yang telah saya lihat di Indonesia, atau bahkan di Cina dan AS juga, menghabiskan banyak pengeluaran untuk "CAC" (biaya akuisisi pelanggan). Bagi kami, kami berusaha sangat hemat dalam melakukan hal tersebut. Sebagai contoh, pada tahun 2019, total biaya marketing di perusahaan kami kurang dari 10%. Dan itu telah meliputi biaya voucher, diskon dan berbagai bentuk promosi lain yang kami lakukan di Kopi Kenangan. Jadi, itulah salah satu kunci, menurut saya, untuk dapat mencapai profitabilitas EBITDA saat membangun startup Anda.

ALAN 9:46
Begitu banyak kisah Kopi Kenangan tampaknya berasal dari identitas unik yang telah Anda dan para co-founders ciptakan. Bisakah Anda berbagi dengan kami beberapa hal unik perusahaan yang disukai pelanggan?

EDWARD TIRTANATA 9:59
Pada dasarnya, di Kopi Kenangan, yang kami katakan kepada pelanggan adalah kami menjual kopi berkualitas tinggi dengan harga terjangkau. Tentu saja, kami tidak hanya sekadar mengatakannya. Kami juga menunjukkan hal tersebut di dalam tiap toko kami, dan ini sangat penting bagi perusahaan mana pun yang menjual produk langsung kepada konsumen. Itu sebabnya jika Anda pergi ke Kopi Kenangan, (Anda dapat melihat) kami benar-benar menggunakan mesin kopi berkelas dunia seperti La Marzocco dan Victoria Arduino. Selain itu, kami juga menggunakan susu berkualitas tinggi. Itulah mengapa di Kopi Kenangan Anda akan menemukan kami memajang karton susu kosong, karena kami ingin menunjukkan kepada pelanggan kami bahwa kami benar-benar menggunakan bahan-bahan berkualitas tinggi, dan itu sebenarnya adalah bentuk pemasaran juga, dengan menunjukkan, tanpa memberi tahu, Anda bisa menghasilkan brand ekuitas yang lebih signifikan.

ALAN 10:46
Oke, kopi bukanlah konsep yang sepenuhnya baru di Indonesia. Negara ini, kalau tidak salah, adalah pengekspor kopi terbesar keempat di dunia. Dan terus terang, orang-orang di Jakarta tidak perlu berjalan lebih jauh dari satu atau dua blok untuk menemukan warung, kafe kecil atau toko kopi dan mendapatkan “asupan kafein" mereka. Posisi pasar macam apa yang disasar oleh Kopi Kenangan?

EDWARD TIRTANATA 11:08
Saya rasa, jika Anda melihat datanya, pasar kopi seduh di Indonesia sebenarnya hanya sekitar 7% dari total konsumsi kafein Indonesia. Padahal, jika Anda melihat ke Jepang atau AS kami, sebagian besar pembelian di kedua negara tersebut justru adalah kopi seduh. Jadi, meski Anda melihat ada banyak warung dan toko serba ada di seluruh Indonesia yang menyajikan kopi, itu bukanlah kopi segar yang baru diseduh seperti yang bisa Anda dapatkan di Kopi Kenangan. Itulah sebabnya masih ada celah yang bisa dieksplor. Sebagian besar orang yang menjual kopi segar yang baru diseduh, mereka menjualnya dengan harga yang sangat mahal. Jadi belum ada titik temu antara yang kami lakukan saat ini sebagai perusahaan penjual kopi segar yang baru diseduh dengan harga terjangkau, dengan yang dijual di toko serba ada. Dan itulah yang kami lakukan di Kopi Kenangan.

ALAN 11:57
Seperti apa lanskap kompetisi saat ini? Apakah akan berubah ke depannya, dan mengapa?

EDWARD TIRTANATA 12:03
Untuk membedah pesaing kami; ada legacy brands dengan konsep "third home" mereka. Dan bukan itu konsep yang kami lakukan. Tidak mungkin mereka dapat berubah mengikuti model bisnis kami, yang merupakan coffee chain berbasis teknologi dengan konsep "grab and go". Sejak awal, mereka telah menyewa ruangan yang besar, kan? Tidak mudah untuk begitu saja mengecilkan ruang yang ada. Jadi itu sangat berbeda dengan model bisnis kami. Dan saya juga melihat ada banyak copycat di Indonesia, yang melakukan persis seperti apa yang kami lakukan saat ini, kecuali untuk bagian teknologi. Dan itulah kenapa kami ingin berinvestasi banyak dalam teknologi, agar kami dapat menjangkau sekaligus beriterasi dengan pelanggan kami. Ini akan menjadi faktor yang sangat penting di masa depan. Selain itu, fakta bahwa pesaing kami yang memiliki skala besar, kebanyakan melakukan model bisnis waralaba. Seperti yang dapat Anda bayangkan, jika Anda melakukan bisnis waralaba, sangat sulit bagi Anda untuk menawarkan kualitas tinggi kepada pelanggan Anda, karena ada "tambahan mulut yang harus diberi makan": franchisee juga perlu memperoleh sejumlah uang. Ada tambahan 7% hingga 10% biaya waralaba yang tidak dapat digunakan untuk memperbaiki kualitas, melainkan harus dibayarkan kepada si pemilik bisnis. Jadi itulah beberapa kelemahan dari model bisnis waralaba. Meski harus diakui, mereka dapat melebarkan sayap lebih cepat dari kami. Tapi, hal tersebut berbeda dari apa yang kami percayai karena kami bertekad untuk membangun perusahaan yang tetap bertahan selama bertahun-tahun bahkan dekade mendatang.

ALAN 13:30
Ed, jalur yang Kopi Kenangan tempuh memang, dari banyak hal, sangat curam. Dari sisi penggalangan dana saja, perusahaan berhasil menutup putaran besar senilah $109 juta pada Mei lalu, menjadikannya salah satu penggalangan dana terbesar di Indonesia, terutama di masa COVID. Apakah hal ini juga mengejutkan bagi Anda dan jika demikian, penyesuaian apa yang telah Anda lakukan terhadap rencana bisnis?

EDWARD TIRTANATA 13:55
Pada dasarnya, saya pikir putaran kemarin datang kepada kami sebagai sebuah kejutan, karena pada awalnya kami tidak berencana untuk mengumpulkan $109 juta. Faktanya, kami berencana untuk mengumpulkan $40-50 juta. Tetapi karena tingginya minat terhadap bisnis kami, kami berhasil memperoleh tambahan $50 juta. Mengapa hal tersebut terjadi, saya percaya, karena hasil sendirilah yang berbicara. Kami tidak mencoba untuk mengumpulkan dana sebanyak mungkin. Kami hanya berfokus pada metrik bisnis, yang merupakan bagian terpenting. Dan sebagai hasilnya, dengan dana tambahan ini, kami dapat mempercepat beberapa visi kami, seperti membuka lebih banyak toko, masuk ke bisnis makanan dan dalam jangka panjang, memasuki bisnis cloud kitchen. Dan tentu saja, selain itu, kami juga dapat berinvestasi lebih banyak di teknologi. Sayangnya, kami tidak belum dapat melakukan ekspansi regional sesuai rencana. Kami sebenarnya berencana untuk memulai ekspansi ke luar negeri pada 2020. Tetapi melihat kondisi saat ini, saya percaya bahwa jauh lebih baik bagi kami untuk fokus pada dominasi domestik.

ALAN 15:03
Selain Alpha JWC Ventures dan Sequoia Capital, cap table Kopi Kenangan juga berhasil menarik perhatian orang-orang seperti Jay-Z, Serena Williams dan perusahaan investasi co-founder Facebook, Eduardo Saverin, B Capital. Bisakah Anda membagikan beberapa tips menarik tentang bagaimana cara Anda membangun daftar investor yang begitu terkenal?

EDWARD TIRTANATA 15:20
Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, semuanya kembali kepada fokus terhadap metrik bisnis Anda. Setelah putaran pertama dari Alpha, kami tidak benar-benar mencoba menggalang dana dari Sequoia. Kami hanya terus bekerja sangat keras untuk mengembangkan bisnis kami. Setiap kali ada orang yang ingin bertemu dengan kami, kami dengan senang hati melakukannya. Dan sebagai hasilnya, Sequoia tertarik pada kami, dan kami melakukan putaran Seri A di 2019. Kami pun mendapat investasi dari Sequoia dan Alpha JWC. Keduanya, dengan reputasi mereka sebagai investor terkemuka, berhasil membuat beberapa investor global juga ingin berinvestasi pada kami. Jadi tidak lama setelah Sequoia berinvestasi di Kopi Kenangan, perusahaan investasi Jay-Z menghubungi kami, kami mempresentasikan bisnis kami, dan mereka menyukai apa yang mereka lihat. Lalu mereka mengundang Serena Ventures untuk menjadi bagian dari perjalanan ini juga. Menyangkut Eduardo Saverin, saya rasa B Capital pada dasarnya sangat bullish baik di Asia Tenggara dan India. Itulah mengapa mereka ingin berinvestasi dalam bisnis yang memiliki potensi untuk menjadi unicorn dan bertahan lama sebagai sebuah bisnis.

ALAN 16:24
Well, menurut putri saya cap table Anda keren banget. Sekarang, berbicara mengenai kejadian tak terduga, saya berasumsi Anda harus mengubah banyak rencana yang telah Anda buat sembilan bulan lalu, sebelum COVID dimulai. Apa hal paling dramatis yang telah Anda lakukan dalam mengubah cara Kopi Kenangan melakukan bisnis di tengah pandemi ini?

EDWARD TIRTANATA 16:46
Pada dasarnya, melihat apa yang telah kami lakukan, untungnya, bisnis kami telah berhasil mencatatkan keuntungan karena pendapatan kami berasal baik dari walk-in maupun delivery order. Satu hal yang harus diingat oleh siapa pun yang terjun ke bisnis makanan: kita harus menyadari bahwa walk-in akan selalu lebih menguntungkan. Jadi itu sebabnya, dulu, kami lebih fokus pada walk-in. Tapi sekarang, melihat kondisinya, kami harus fokus pada pesanan online terlebih dahulu, terutama di tahun ini. Itulah sebabnya kami masih melakukan ekspansi sebanyak 30 toko per bulan, atau satu toko per hari. Karena kami menyadari bahwa kami tidak memiliki jangkauan di setiap kecamatan di Jakarta. Jadi kami menggunakan teknologi heat map, untuk mengetahui di mana pelanggan kami berada. Dengan mengidentifikasi area di mana keberadaan Kopi Kenangan tidak ada, kami dapat membuka secepat mungkin; dan menghasilkan gerai dengan peluang delivery order besar.

ALAN 17:38
Kopi Kenangan juga memiliki tim di Cina. Bisakah Anda menceritakan hal tersebut?

EDWARD TIRTANATA 17:43
Satu hal tentang orang-orang yang berbakat di bidang teknologi: kita harus menyadari bahwa ada perang untuk mencari orang-orang ini di Indonesia. Dan mengapa demikian? Sederhana saja: tidak banyak lulusan engineering dan software engineering tersedia. Sebagai contoh, jika Anda membandingkan datanya, setiap tahun, ada ratusan ribu engineer lulus di India atau Universitas di Beijing Cina; sementara dari ITB, saya rasa hanya ada beberapa ratus orang. Dan dengan meningkatnya teknologi di Indonesia, permintaan terhadap bakat ini pun meningkat, sementara orang-orang yang tersedia tidak meningkat secepat permintaan. Jadi, itulah sebabnya sulit bagi kami untuk mendapatkan talent di Indonesia. Jadi, kami memutuskan untuk mencari tim di Cina di mana talent engineer berlebih dan bukan kekurangan.

ALAN 18:36
Selagi kita membahas tentang Cina, salah satu rekan dalam industri Anda mendapatkan publikasi cukup buruk terkait masalah audit sejak awal tahun ini. Apa yang muncul di kepala Anda saat mendengar hal tersebut, Ed?
    
EDWARD TIRTANATA 18:47
Jadi itu sebenarnya adalah masalah tata kelola yang sangat disayangkan. Dan, saya percaya hal tersebut tidak ada hubungannya dengan perusahaan kopi di AS maupun Indonesia. Kami akan terus mencoba untuk menjadi perusahaan yang menguntungkan, dengan menerapkan tata kelola berstandar tinggi.

ALAN 19:03
Apakah teknologi penting untuk kesuksesan Kopi Kenangan, dan di mana penerapan teknologi paling sukses yang telah Anda lakukan?
    
EDWARD TIRTANATA 19:09
Teknologi jelas sangat penting untuk kesuksesan Kopi Kenangan. Melalui teknologi, kami dapat berinteraksi dengan pelanggan, dan memahami pelanggan kami. Sebagai hasilnya, kami berhasil meningkatkan AOV (nilai pesanan rata-rata) kami. Selain itu, kami ingin meningkatkan frekuensi pelanggan memesan melalui aplikasi Kopi Kenangan juga, karena kami ingin terlibat dengan pelanggan kami. Kami perlu memahami mereka. Kami ingin dapat berkomunikasi dengan mereka. Misalnya, kami dapat dengan cepat menyadari, saat mengumpulkan data terkait pembelian pelanggan; bahwa banyak di antara pelanggan kami yang hanya melakukan pemesanan seminggu sekali, padahal jika Anda mengonsumsi kopi, kemungkinan besar Anda akan minum empat atau lima kali dalam seminggu. Hal ini didukung dengan melihat data Nielsen, kami segera menyadari bahwa banyak dari pelanggan kami yang membeli merek berbeda setiap harinya. Saat itulah teknologi loyalitas muncul: kami ingin memiliki program loyalitas yang bagus, yang akan membuat pelanggan kami terus kembali ke Kopi Kenangan. Dengan memahami pelanggan kami, jika mereka tidak memesan sesering yang kami inginkan, kami juga dapat memberikan beberapa voucher untuk membuat mereka lebih sering berbelanja. Selain itu, jauh lebih mudah bagi kita untuk melakukan penjualan bundel atau fitur tambahan. Hasilnya, kami juga dapat meningkatkan AOV dari pembelian para pelanggan.

ALAN 20:25
Apa tantangan terbesar yang Anda dan para pemimpin lain di perusahaan sedang hadapi saat ini?

EDWARD TIRTANATA 20:31
COVID-19 mengubah seluruh lanskap industri hospitality. Saya rasa industri hospitality tidak pernah menghadapi krisis eksistensial yang lebih mengerikan daripada apa yang kita hadapi saat ini. Saat ini kami hanya berfokus untuk melakukan pengeluaran seminimal mungkin setiap harinya. Di atas semua itu, kami berusaha untuk meminimalkan pengeluaran dengan melakukan dua hal: satu dengan memangkas biaya, tetapi tidak dengan memecat karyawan kami, karena kami percaya karyawan adalah aset terbesar kami. Jadi selama kami bisa, kami akan berusaha untuk tidak memecat karyawan kami. Dan kedua, salah satu yang mungkin banyak orang lupakan, cash burn merupakan komponen baik dari sisi pendapatan maupun biaya. Itulah sebabnya kami masih bertumbuh dan membuka satu toko per hari, karena pada akhirnya, hal tersebut akan membantu kami meminimalisir cash burn juga. Karena apa yang kami sadari adalah bahwa jika kami membuka toko dengan benar, kami sebenarnya masih dapat menghasilkan arus kas tambahan bagi perusahaan; dengan syarat, kami membukanya dengan mempertimbangkan kondisi yang ada akibat pandemi.

ALAN 21:38
Ed, saran apa yang akan Anda berikan kepada wirausahawan pemula di bidang produk konsumen dan teknologi?

EDWARD TIRTANATA 21:43
Sebagai seorang investor angel, yang saya lihat dari perusahaan consumer good yang melakukan pitching kepada kami, kebanyakan dari mereka menghabiskan banyak uang untuk marketing dan CAC. Hal ini menurut saya tidak boleh terjadi. Hal pertama yang perlu Anda lakukan sebagai startup, atau di Day One Anda, adalah branding. Di mana posisi Anda? Di mana Anda ingin berada? Siapa pasar Anda? Dan yang paling penting, bagaimana Anda bisa menangkap mereka tanpa melakukan diskon gila-gilaan atau membakar uang? Di Kopi Kenangan, kami memiliki proposisi nilai yang sangat jelas, dan kami juga dapat mengidentifikasi kesenjangan yang hilang. Karena itulah, untuk wirausahawan pemula, harap perhatikan ini. Jika Anda belum mencapai "Zero-to-One" Anda, jangan mencoba untuk memperbesar bisnis terlalu cepat, karena jika Anda belum memiliki zero to one, maka bisa jadi Anda justru malah membuat zero to minus ten. Jadi, peningkatan bisnis, atau "bitz-scaling" adalah tentang "One-to-N". Jangan terburu-buru. Pastikan saja Anda memiliki produk hebat yang cocok dengan kebutuhan pasar.

ALAN 22:47
Saran bagus. Diskusi yang menarik, Ed, dan sangat menyenangkan dapat mendengar kisah Kopi Kenangan secara langsung. Ini akan menutup Indo Tekno ke-10 kami. Terima kasih sekali lagi telah bergabung dengan kami hari ini, Ed.

EDWARD TIRTANATA 23:01
Terima kasih banyak atas kesempatannya. Suatu kehormatan berada di sini.

ALAN 23:05
Podcast diterjemahkan dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia oleh Alpha JWC Ventures. Terima kasih telah mendengarkan. Sampai jumpa lagi!

Ditranskripsi oleh https://otter.ai
 

Stay up to date with our latest podcast episodes

For general inquiries, please get in touch

© 2020 by Indo Tekno Podcast