TRANSKRIP

SAAT INI

(Versi bahasa Inggris)

Episode Duapuluh Satu

Masa Emas dalam Fintech bersama

Claudia Kolonas dari Pluang

27 Oktober 2020

 

ALAN 0:12 
Selamat datang semuanya di Indo Tekno episode 21 kami. Salam semuanya dan selamat datang kembali di Indo Tekno. Topik hari ini berada di persimpangan dua tema yang sangat penting bagi kami di Indo Tekno: 1) FinTech dan 2) kewirausahaan wanita. Oleh karena itu, kami sangat senang untuk mengundang ke sesi minggu ini, Claudia Kolonas, Pendiri platform FinTech berorientasi inklusi keuangan, Pluang. Selamat bergabung, Claudia.
 
CLAUDIA KOLONAS 0:42 
Terima kasih banyak, Alan, telah mengundang saya di sini.
 
ALAN 0:45 
Terima kasih kembali. Mari kita mulai. Claudia, kami ingin sekali mengetahui kisah pribadi yang telah membawa Anda ke tempat Anda saat ini.
 
CLAUDIA KOLONAS 0:53 
Jadi ketika saya dan Co-Founder saya berada di sekolah bisnis di Harvard, kami memiliki seorang profesor, namanya Michael Chu. Dan dia mengajari kami pada kelas dengan judul "Bisnis di Piramida Bawah." Dan kelas ini sangat menarik, karena mengajari kami tentang membangun bisnis untuk para nasabah yang belum memiliki rekening bank. Dan salah satu proyek yang kami lakukan adalah mewawancarai sekelompok orang Indonesia dan mencoba memahami mengapa mereka tidak tertarik untuk menaruh uang mereka di bank. Dan jawabannya luar biasa. Orang Indonesia lebih menyukai dan mempercayai pemilik toko emas yang mereka sering ketemu dibanding bank. Jadi mereka memiliki kebiasaan dimana mereka lebih suka menaruh uang mereka pada seseorang yang mereka kenal. Atau misalnya, mereka lebih memilih menaruh uang pada koperasi di mana mereka tahu orang yang menjalankannya, dibanding pada cabang bank dimana biasanya ada program rotasi di mana manajer cabang selalu berbeda. Jadi kami mulai memahami perilaku ini... bahwa orang Indonesia sangat menyukai emas dan melihat emas sebagai alternatif perbankan. Jadi kami ingin memberikan suatu solusi yang dapat memenuhi hal ini, dan pada saat bersamaan meningkatkan imbal hasil bagi nasabah, yang penting untuk meningkatkan kualitas kehidupannya secara keseluruhan.
 
ALAN 2:15 
Sekarang, Claudia, inti proposisi nilai Pluang adalah produk tabungan emas ini. Khususnya bagi kita yang memiliki pengalaman di negara lain, yang jarang menganggap emas sebagai produk investasi sehari-hari, dapatkah Anda menjelaskan pemilihan kelas aset ini untuk konsumen Indonesia?
 
CLAUDIA KOLONAS 2:32 
Emas dilihat oleh masyarakat Indonesia sebagai produk yang cukup aman, Syariah, dan tahan inflasi. Rupiah cukup volatil, jadi emas menyediakan tempat investasi aman. Jadi terutama ketika adanya ketidakpastian, terutama naik turunnya perekonomian, orang benar-benar mencari emas untuk menyimpan uang dan menjaga tabungannya untuk masa depan. Jadi ide bagi kami di Pluang bukanlah untuk mengubah budaya atau perilaku orang Indonesia, tetapi untuk meningkatkannya. Pada sebelumnya, untuk investasi emas, tidak ada pasar yang transparan. Jadi misalnya, sebelum Pluang, emas biasanya tidak diperdagangkan di bursa. Jadi kami ingin mengubah hal ini, agar konsumen tidak dikenai biaya spread yang tinggi dan dapat beli emas, tanpa harus pergi ke toko emas fisik. Kami bekerjasama dengan bursa untuk menjalankan hal ini. 
 
ALAN 3:38 
Kisah favorit saya adalah tentang perusahaan teknologi yang secara unik mewakili kebutuhan pasarnya. Dan terdengar seolah-olah Pluang memang seperti itu. Dan seiring berjalannya waktu, tampaknya bagian dari kontribusi Pluang adalah seputar FinTech yang terkait dengan emas dan kelas aset serupa. Nah, kalau kita bisa mengupas isu sedikit lagi, Claudia, bagaimana gambaran umum imbal hasil produk investasi Pluang? Dan bagaimana hal ini dibandingkan dengan alternatif produk lainnya?
 
CLAUDIA KOLONAS 4:14 
Emas adalah kelas aset yang sangat stabil dan aman. Pada 1 tahun terakhir ini, telah memiliki imbal hasil sekitar 36%, terutama ketika ada ketidakpastian ekonomi, dan COVID juga... Jadi saya pikir emas memiliki imbal hasil yang lebih tinggi dibanding kelas aset lainnya terutama dalam beberapa tahun terakhir. Namun, saya pikir juga sangat penting bagi kami untuk melakukan diversifikasi dan memiliki kelas aset lainnya. Dan karena itulah di Pluang, kami baru saja meluncurkan produk indeks S&P 500, dan kami juga akan meluncurkan beberapa kelas aset lainnya. Kuncinya di sini adalah untuk Pluang, kami benar-benar ingin meningkatkan imbal hasil bagi sebagian besar konsumen kami, dan itulah mengapa kami bekerja dengan sumbernya, yaitu bursa dan kliring itu sendiri. Jika sebelumnya harga emas dipatok oleh ANTAM yang merupakan produsen emas utama di Indonesia, kini konsumen diberikan pilihan dengan harga yang sangat transparan pada bursa multilateral.
 
ALAN 5:05 
Menarik. Sekarang Claudia, Anda telah menyebutkan beberapa kali bahwa model bisnis Pluang berfokus pada mereka yang tidak memiliki rekening bank dan juga pada kaum milenial. Dapatkah Anda memberikan kami beberapa warna lebih lanjut di sekitar fokus ini?
 
CLAUDIA KOLONAS 5:15 
Konsumen utama kami adalah investor dan penabung pemula, terlepas dari apakah mereka seorang yang tidak memiliki rekening bank atau milenial. Jadi seperti yang sudah saya jelaskan, alasan kami mulai dengan emas adalah untuk mengawinkan sesuatu yang sangat asing, seperti FinTech, dengan kebiasaan sehari-hari.

Jadi sebelum Pluang, emas terutama diperdagangkan dengan cara bilateral, yang biasanya mengakibatkan harga yang tidak konsisten, dan juga spread yang lebih tinggi, yang mengurangkan keuntungan bagi konsumen. Dan belum lagi risiko kustodian, ketika Anda meninggalkan uang Anda di toko emas. Jadi kami ingin menyediakan layanan yang dapat menghubungkan konsumen yang tidak memiliki rekening bank kepada produk yang gampang diakses dan pada saat bersamaan, menguntungkan bagi pengguna. Jadi tujuan kami bukan untuk mengubah budaya, tetapi untuk mengubah perilaku. Dan saya pikir lebih mudah untuk para investor dan penabung pertama kali.
 
ALAN 6:14 
Claudia, mengingat fokus konsumen yang baru saja Anda diskusikan, literasi keuangan jelas merupakan komponen penting dari kesuksesan Pluang di masa depan. Bagaimana perusahaan yang relatif kecil meningkatkan tingkat literasi digital dan keuangan?
 
CLAUDIA KOLONAS 6:30 
Literasi keuangan adalah tujuan utama kami. Ketika kami melakukan survei, kami menemukan bahwa konsumen Indonesia pada umumnya tidak memiliki akses ke informasi keuangan yang benar. Jadi saluran seperti media sosial menjadi sangat sangat. Namun, media sosial juga menjadi pedang bermata dua. Kami melihat banyak informasi palsu atau tidak benar di media sosial, terutama terkait edukasi keuangan. Jadi, Pluang berusaha untuk mencerahkan, dan menunjukkan kepada orang-orang informasi keuangan yang benar dibanding yang salah. 

Kami sangat beruntung dan diberkati karena kami memiliki mitra seperti Gojek, Dana, Bukalapak, Lazada, dan Shopee, yang bersedia untuk bekerja sama dengan kami untuk membuat webinar, IG Live (Instagram Lives), dan mendistribusikan artikel. Kami percaya inklusi dan literasi keuangan adalah upaya yang kami harus jajaki bersama di Indonesia. Kita semua perlu bekerja sama untuk menyebarkan informasi yang benar ke masyarakat luas. 
 
ALAN 7:29 
Claudia, observasi apa yang menarik mengenai pelanggan Pluang?
 
CLAUDIA KOLONAS 7:36 
Saya pikir hal paling menarik adalah emas merupakan produk yang cocok bagi pemula. Mayoritas konsumen kami adalah orang-orang yang baru saja belajar cara berinvestasi, dan kami tidak hanya fokus pada kaum milenial. 70% pengguna kami adalah non-milenial. Jadi, sangat menarik bagi kami untuk melihat bagaimana perilaku orang dapat berubah, dan bahwa orang mampu mempelajari hal-hal baru, terutama meskipun mereka sudah terbiasa dengan perilaku seperti investasi emas offline. Hal lain yang kami anggap sangat menarik adalah kami melihat kebiasaan yang melekat. Orang dapat diajari untuk menabung secara rutin. Jadi menurut saya, bagi banyak pengguna kami, fitur seperti debit otomatis dan tabungan berbasis tujuan, dll, menjadi sangat penting.
 
ALAN 8:21 
Saat ini Claudia, saya ingin menanyakan mengenai kondisi terkini. Bagaimana perilaku pelanggan Pluang berubah di era COVID?
 
CLAUDIA KOLONAS 8:29 
Selama era COVID, mengingat ketidakpastian ekonomi global, banyak orang yang mencoba mencari aset keuangan aman. Jadi produk seperti emas meningkat. Kami telah melihat peningkatan pengguna lebih dari 20 kali lipat sejak COVID, dan kami masih terus berkembang. COVID telah meningkatkan keinginan untuk mencari aset aman. Dan bukan hanya emas, tapi juga produk lain seperti obligasi pemerintah. Jadi itu sangat menyenangkan bagi kami. Kami terus belajar menyesuaikan diri terhadap perubahan permintaan konsumen selama masa COVID.
 
ALAN 9:05 
Claudia, bagaimana penawaran Anda dibanding kategori keuangan Syariah online yang terus berkembang?
 
CLAUDIA KOLONAS 9:11 
Emas digital telah dinyatakan sebagai produk yang sesuai dengan peraturan Syariah. Jadi menurut saya produk kami sangat relevan. Dan alasan kami ingin memulai dengan produk yang sesuai dengan Syariah sejak awal adalah untuk memberikan akses kepada masyarakat luas di Indonesia. Banyak pengguna kami sangat peduli dengan konsep Syariah ini. Namun saat ini, kami juga memperluas produk kami ke produk keuangan yang diluar ketentuan Syariah. Tujuan sebenarnya adalah untuk memiliki produk yang luas, namun kami memulai dengan sesuatu yang diminati oleh masyarakat luas di Indonesia.
 
ALAN 9:47 
Claudia, Pluang menggambarkan dirinya sebagai marketplace. Bisakah Anda menjelaskan lebih lanjut apa artinya ini? Dan, apakah Anda memiliki rencana untuk mengambil posisi utama?
 
CLAUDIA KOLONAS 9:58 
Meskipun kami menjual beberapa produk marketplace, saya pikir disinilah Pluang sebenarnya sangat berbeda. Kami adalah peluncur dari produk keuangan yang kami jual saat ini, terutama untuk emas. Jadi, setiap produk yang kami luncurkan itu unik. Dan kami adalah market maker dari produknya juga. Kami adalah satu-satunya perusahaan jasa keuangan yang melakukan ini. Saat ini, kami terintegrasi langsung dengan clearing house. Dan untuk setiap produk yang kami luncurkan, kami bekerja dengan lembaga kliring utama, dan juga sumber utama produk itu sendiri. Jadi, sementara perusahaan lainnya mungkin mendapatkan uang dari komisi, kami memperoleh uang dari aliran pesanan dan bid-ask spread yang kami jual pada produk. Dan ini memungkinkan LTV kami dari pendapatan bersih menjadi 20 hingga 30 kali lebih tinggi dibanding pemain teknologi lainnya. Dan saya pikir ini sangat berharga untuk enam bulan hingga satu tahun ke depan, karena kami sedang beralih fokus kepada pemasaran B2C.
 
ALAN 11:02 
Anda telah tinggal di luar negeri di tempat-tempat seperti AS dan tempat lain. Apakah ada beda sikap terhadap pengusaha perempuan di Indonesia dibanding tempat-tempat lain yang pernah Anda kunjungi?
 
CLAUDIA KOLONAS 11:17 
Jadi selama saya di sekolah bisnis, saya dapat melihat bahwa hal ini berdampak pada orang di negara lain. Saya sangat beruntung karena sejauh ini tidak ada masalah dalam karir saya yang terkait dengan hal ini. Namun, saya menyadari bahwa ini adalah masalah, terutama mengingat bahwa pengusaha perempuan di Indonesia sangat sedikit. Saya berharap melihat lebih banyak wanita yang terjun ke dunia wirausaha. Kami memang melihat banyak representasi wirausaha wanita dalam industri seperti fashion dll. Namun, saya pikir untuk industri seperti FinTech dan beberapa industri teknologi lainnya, menurut saya jauh lebih sedikit representasi perempuan, sehingga saya berharap melihat lebih banyak perempuan bergabung dalam industri ini. Saya juga berpikir bahwa harus ada lebih banyak upaya oleh perusahaan dan VC untuk meningkatkan representasi ini juga.
 
ALAN 12:10 
Melanjutkan melihat realitas saat ini, laporan BCG yang baru-baru ini dirilis mengungkapkan bahwa perempuan hanya mewakili 22% tenaga kerja teknologi di Indonesia, yang jauh di bawah level 32% di Asia Tenggara yang lebih luas. Singapura sebagai perbandingan memiliki perwakilan 41%. Dan Vietnam berada di 34%. Claudia di mana kita dapat memperbaiki ketidakseimbangan ini? Apakah itu dimulai dengan kesempatan pendidikan? Sikap? Atau apakah itu faktor lain?
 
CLAUDIA KOLONAS 12:36 
Menurut saya masalah utama di sini Alan, adalah bahwa perempuan di Indonesia tidak mendapatkan dukungan yang cukup dari perusahaan untuk membesarkan anak dan memiliki karir pada saat bersamaan. Jadi harus dimulai dengan kesadaran pada tingkat perusahaan. Saya beruntung memiliki panutan dari seorang ibu yang bekerja sepanjang masa kecil saya, karena dia adalah seorang CFO pada perusahaannya. Tapi saya pikir dia berhasil karena perusahaan dimana dia bekerja memiliki tempat penitipan anak di kantor. 

Jadi nyatanya, masa kecil saya banyak dihabiskan di kantor. Dan bahkan beberapa pelajaran sekolah saya diadakan di kantor. Jadi menurut saya ini sangat bermanfaat. Dan saya rasa para ibu lainnya dapat menggunakan ini sebagai contoh karena menurut saya pengalaman saya pribadi di kantor pada masa muda saya penting bagi pertumbuhan dan minat saya terhadap bisnis. 

Ada banyak riset, terutama yang baru-baru ini dirilis oleh Harvard, yang mengungkapkan bahwa anak dari ibu yang bekerja biasanya lebih berhasil daripada anak dari ibu yang tinggal di rumah. Jadi saya pikir bekerja seharusnya bukan menjadi sesuatu yang dipermalukan oleh wanita. Wanita harus memahami bahwa ini malah merupakan hal yang istimewa bagi anaknya. Jadi saya pikir ibu saya sangat beruntung memiliki pilihan ini, dan oleh karena itu, dia dapat memiliki karir dan pada saat bersamaan menjadi seorang ibu. Saya pikir perusahaan dapat menggunakan ini sebagai contoh yang nyata sebagai alasan untuk menawarkan manfaat ini kepada wanita lainnya. Fasilitas sederhana seperti memiliki tempat penitipan anak, atau memiliki jam kerja yang lebih fleksibel, dapat sangat membantu, terutama bagi ibu muda.

ALAN 14:03 
Claudia, mari kita bicara lebih jauh tentang wanita dalam kepemimpinan. Hanya 15% dari posisi CEO dan dewan direksi adalah perempuan di Indonesia. Faktor apa yang mungkin mendorong persentase kepemimpinan yang lebih mencerminkan populasi secara luas?
 
CLAUDIA KOLONAS 14:16 
Khususnya di Indonesia, menurut saya masalah ini terjadi oleh karena dua alasan. Satu, seperti disebutkan sebelumnya, perusahaan tidak memberikan dukungan yang cukup bagi para ibu. Dua, ada juga kepercayaan bahwa wanita seharusnya lebih lembut berbicara dan tidak agresif. Saya yakin ini bukan hanya di Indonesia, namun juga terjadi di Asia secara umum dan bahkan global. Banyak orang belum terbiasa dengan konsep wanita sebagai “go-getter". Jadi menurut saya ini perlu diubah, karena Anda harus memiliki pola pikir yang cukup agresif atau "mengejar" untuk menjadi pemimpin. 
 
ALAN 15:12 
Apa sajakah perluasan produk untuk masa depan Pluang? Dan mengapa Anda memilih peta seperti itu?
 
CLAUDIA KOLONAS 15:25 
Saya pikir banyak orang suka mengklasifikasi kami ke dalam vertikal tertentu, namun Pluang sebetulnya sangat unik. Pada utamanya, kami adalah perusahaan jasa keuangan. Dan kedua, kami adalah perusahaan teknologi. Jadi, meskipun kami memiliki teknologi kelas dunia, kami juga memiliki tim keuangan kelas dunia di perusahaan kami. 

Artinya, strategi utama kami adalah berinovasi di tingkat layanan keuangan, karena menurut kami inilah yang paling diperhatikan konsumen. Sebagai sedikit latar belakang, untuk setiap produk yang kami luncurkan, kami terlibat dalam pembuatan produk dari awal, mendesainnya dengan mempertimbangkan konsumen kami. 

Jadi, produk keuangan yang kami luncurkan biasanya memenuhi dua kriteria: satu, yaitu benar-benar unik di pasar. Biasanya ini melibatkan spread yang sangat, sangat rendah. Dan kedua, kami tidak percaya untuk bersaing langsung dengan orang lain untuk menjual produk yang sama. Jadi kami tidak percaya pada model perang harga. Kami tidak menganggap ini sesuatu yang dapat terus berkelanjutan. Dan yang kedua adalah biaya rendah. Kami bekerja sedekat mungkin dengan sumbernya. Dalam kasus kami, ini adalah clearing house. Dan hal ini memungkinkan kami untuk mendorong spread kami mendekati nol dan membuatnya lebih menguntungkan dan aman bagi konsumen kami. 

Jadi kami mulai dengan emas. Dengan mekanisme khusus ini, kami awalnya ingin memperbaiki pasar emas. Namun, setelah menghabiskan waktu lebih dari setahun untuk membangun sistem ini dan bekerja langsung dengan clearing house, sekarang kami dapat memasang produk lain di dalam rel tersebut. Jadi kami akan beralih ke produk keuangan tradisional lainnya seperti indeks ekuitas, produk pendapatan tetap, dalam bentuk reksa dana, dll. Kami belum bisa menyebutkan terlalu banyak detail mengenai ini saat ini. Tapi yang bisa saya katakan adalah bahwa produk yang kami luncurkan benar-benar unik dan sama sekali tidak seperti produk lain yang Anda lihat di pasar saat ini. Di Pluang, kami suka menganggap diri kami cukup terobsesi dengan konsumen. Jadi kami benar-benar suka memikirkan konsumen daripada terobsesi dengan pesaing, dan oleh karena itu kami meluangkan waktu dan berusaha keras untuk memproduksi produk keuangan ini untuk konsumen.
 
ALAN 17:41 
Claudia apa risiko bahwa platform komersial besar “2C” - dari Gojek ke Grab hingga Shopee hingga Tokopedia - berusaha menjadi pesaing produk keuangan dengan cara yang sama seperti Alibaba melahirkan afiliasi fintechnya sendiri, Ant Financial?
 
CLAUDIA KOLONAS 17:57 
Ini pertanyaan yang sangat menarik. Kami pikir jelas akan banyak pesaing pada industri kami. Tapi kami tidak suka melihat mereka sebagai pesaing. Kami justru melihat mereka sebagai mitra yang dapat kami ajak kerja sama.

Kami adalah pencipta produk keuangan utama. Dan oleh karena itu, saya pikir tujuannya di sini adalah bekerja dengan mitra distribusi lain, daripada bersaing dengan mereka. Kami bekerja sama dengan Gojek, dan juga Dana, untuk meluncurkan produk unik bersama mereka. Dan di sinilah saya pikir, di mana kita menambah nilai dan di mana kita bersinar. 

Jika produk layanan keuangan kami suatu yang berupa komoditi, maka kami tidak akan memberi nilai lebih kepada mitra distribusi kami. Strategi bisnis kami sangat unik dan menambahkan nilai kepada mitra seperti Gojek untuk membantu mereka mengarah menuju peningkatan penggunaan dan profitabilitas. Jadi kami percaya, sekali lagi, bahwa literasi keuangan adalah upaya bersama antara mitra yang lebih besar dan kami. Di mana Pluang menambahkan nilai lebih adalah bahwa kami adalah inovator di sisi layanan keuangan. Sedangkan mereka juga inovator, karena memiliki kontrol atas distribusi mereka, dan kepercayaan dari konsumen yang sudah dibangun selama bertahun-tahun, serta sudah menghabiskan uang yang banyak. Saya pikir kerjasama antara kami dan mitra kami benar-benar dapat membantu menciptakan apa yang terjadi di China di Indonesia.
 
ALAN 19:24 
Sekarang Claudia, realitas terberat apa yang dihadapi bisnis saat ini? Apakah tersedianya jumlah staf yang terlatih secara relevan? Apakah kurangnya literasi digital yang kami jelaskan sebelumnya? Atau apakah itu tekanan persaingan atau sesuatu yang lain?
 
CLAUDIA KOLONAS 19:38 
Ini pertanyaan yang bagus. Menurut saya, untuk kami, human resource adalah sesuatu yang penting. Menurut saya, sebagian besar pembangun bisnis dapat memahami bahwa orang adalah bagian terpenting dalam bisnis, dan selalu sulit ditemukan dan dipertahankan, terutama mengingat persaingan yang tinggi di Indonesia khususnya. Terutama pada masa COVID, kami berupaya untuk mempertahankan tingkat budaya perusahaan kami. Bagaimana kami dapat menjaga sehingga motivasi semua orang tetap tinggi, dan memastikan bahwa kami selalu melakukan rekrutmen yang terus memenuhi standar, terutama saat kami mewawancarai melalui Zoom. Saya pikir ini adalah kenyataan yang sangat menantang. Hal lain yang tidak kalah penting adalah literasi keuangan di Indonesia. Dan ini adalah tantangan nyata. Jadi, meski banyak konsumen suka berpikir bahwa mereka memahami keuangan, ketika kami melakukan pengujian terhadap konsumen, dan kami mengajukan pertanyaan sederhana kepada mereka, banyak yang tidak tahu banyak. Dan banyak informasi yang menyesatkan di media sosial, karena tidak disensor. Banyak sekali kasus yang kami dapat lihat pada akhir-akhir ini, misalnya perusahaan tertentu di Indonesia ditutup, karena menjual dan mempromosikan informasi palsu kepada penggunanya. Dan hal itu menyebabkan banyak ketidakpercayaan pada bisnis FinTech secara keseluruhan di Indonesia. Jadi menurut saya kita semua sebagai perusahaan FinTech perlu bekerja sama untuk memperbaiki hal ini. 
 
ALAN 21:20 
Claudia, saran apa yang akan Anda bagikan dengan calon pengusaha wanita?
 
CLAUDIA KOLONAS 21:26 
Jangan menghindar dari kompetisi. Saya pikir sebagai wanita, terkadang, terutama di Asia, kita diajari untuk bersikap pasif. Kita diajari untuk tidak terlalu vokal. Namun sayangnya, sebagai wirausahawan, Anda harus siap meraih apa yang ada di depan Anda saat peluang itu muncul. Jangan terlalu khawatir mengenai apa yang orang lain pikirkan tentang Anda. Saya percaya kesempatan sebetulnya sama saja untuk pengusaha perempuan ataupun pengusaha laki-laki.
 
ALAN 21:56 
Senang sekali bertemu denganmu hari ini, Claudia. Kami sangat menghargai keterusterangan Anda, misi dan optimisme Anda dalam merefleksikan perjalanan Anda sendiri, dan perjalanan Pluang. Dan kami berharap yang terbaik untuk Anda di masa mendatang. Sekali lagi terima kasih telah bergabung.
 
CLAUDIA KOLONAS 22:10 
Terima kasih banyak, Alan. Ini adalah inisiatif yang bagus dan saya harap saya telah memberikan beberapa wawasan yang menarik.
 
ALAN 22:16 
Dan terima kasih telah bergabung dengan kami untuk episode Indo Tekno terbaru. Terima kasih telah mendengarkan. Sampai jumpa lagi!

Stay up to date with our latest podcast episodes

For general inquiries, please get in touch

© 2020 by Indo Tekno Podcast