TRANSKRIP

EPISODE 9

Episode Sembilan

 

Pandangan Investor:

David Halpert dari Prince Street Capital

9 Maret 2021

ALAN 0:13
Selamat datang kembali di Podcast Indo Tekno, Musim 2, Episode 9. Saya Alan Hellawell, pendiri konsultan teknologi Gizmo Advisors dan Venture Partner di Alpha JWC Ventures.
Hari ini saya senang sekali dapat mengundang seorang investor yang telah lama saya kenal baik. David Halpert, pendiri Prince Street Capital, yang juga dikenal sebagai seorang investor terkemuka untuk pasar 'frontier and emerging' (pasar negara perbatasan dan berkembang). Dan sebenarnya saya berhutang budi kepadanya, karena David-lah yang pertama kali memperkenalkan saya pada Indonesia melalui wawasan dan pengetahuannya yang luas.
Secara pribadi, saya pikir sudah waktunya kita mengadakan sebuah diskusi dengan investor institusional terkemuka yang dapat memberikan gambaran besar tentang begitu banyak tren teknologi yang telah kita diskusikan beberapa episode terakhir. Bagaimana Indonesia di mata investor pasar publik? Apa daya tariknya dibandingkan dengan pasar berkembang lainnya? Saya berharap kita bisa mendiskusikan hal-hal ini dan juga topik lainnya dengan David pada kesempatan kali ini.
Dan sebuah fakta menarik, David juga memperkenalkan saya pada musisi Bali, Wayan Belawan, yang menggubah musik pembuka kedua musim podcast Indo Tekno. Jadi terima kasih untuk itu David, dan selamat datang di acara ini.

DAVID HALPERT 1:16
Terima kasih, Alan. Senang bisa hadir.

ALAN 1:18
Baiklah, sekarang pertanyaan pertama saya. David, kapan dan di mana Anda mulai berhubungan dengan Indonesia?

DAVID HALPERT  1:23
Jadi hubungan saya dengan Indonesia dimulai pada awal 1980-an ketika saya datang sebagai backpacker, yang selalu saya anggap sebagai salah satu cara terbaik untuk mengenal suatu negara. Dari situ saya langsung tahu, bahwa saya ingin memiliki hubungan jangka panjang dengan tempat tersebut. Dilanjutkan dengan pertama-tama bekerja di sana, kemudian menikahi seorang wanita Indonesia yang luar biasa. Dan sekarang berinvestasi di Indonesia, yang selalu menjadi tantangan, tetapi sangat memuaskan.

ALAN  1:52
Anda adalah salah satu orang pertama yang pernah berbicara dengan saya tentang Gojek beberapa tahun lalu. Bagaimana asal mula ceritanya?

DAVID HALPERT  2:00
Ya, saya adalah pengguna layanan ojek yang setia ketika di Jakarta. Dan begitu saya mendengar bahwa ada seorang pengusaha yang mencoba mengatur dan menggabungkan para 'kontraktor mandiri' ini dalam produk yang lebih terstruktur, saya pikir, ini adalah nilai tambah yang sangat besar. Menurut saya, penting untuk memahami sifat Jakarta sebagai kota. Jakarta memiliki banyak penduduk dan lalu lintas yang buruk. Oleh karena itu urutan teratas dalam Gojek sebagai lini usaha adalah membantu pelanggan kelas menengah untuk pergi-pulang kerja tanpa harus terjebak kemacetan. Dan saya pikir terkadang orang asing tidak sepenuhnya menghargai betapa bermanfaatnya layanan itu. Jika Anda tinggal di kota dengan transportasi umum yang baik seperti Singapura atau Hong Kong, pengalamannya tidak sama.

ALAN  2:49
Jadi Anda menjadi investor awal di Gojek. Benarkah?

DAVID HALPERT  2:52
Iya. Saya amat bersemangat begitu memiliki kesempatan untuk terlibat. Saya seharusnya membeli lebih banyak (saham).

ALAN  2:57
Mengerti. Anda juga salah satu investor kami ketika saya menjabat sebagai Chief Strategy Officer di Sea Group. Bagaimana menurut Anda perkembangan mereka di Indonesia untuk e-niaga, gim, dan fintek ke depannya?

DAVID HALPERT  3:10
Sea melakukan pekerjaan dengan sangat baik. Maksud saya, eksekusi (kerjanya) di pasar tersebut agak unik. Saya belum tahu lagi apakah ada perusahaan teknologi asing lainnya yang berhasil mencapai status lokal sejauh (Sea) menyangkut keterlibatan pelanggan dan pembuat keputusan. Jadi, Sea telah melakukan pekerjaan dengan sangat baik. Sea berhasil menghancurkan Amazon dan Lazada. Mereka juga telah membuat Tokopedia 'keringat dingin' dengan (adanya) Shopee. Untuk bidang fintek, ini masih tahap awal, (walaupun) saya sudah melihat stiker ShopeePay di pasaran dan toko-toko di seluruh negeri. Tapi saya pikir setelah beberapa minggu yang lalu mereka melakukan pembelian lisensi perbankanlah baru kelihatan kemana tujuan mereka. Dan semakin saya melihat bahwa ini akan menjadi balapan dua pemain antara Gojek-Tokopedia dan Sea Limited.

ALAN  4:02
Sungguh menarik. Nah sekarang David, Prince Street pertama kali menciptakan istilah 'DigDec' beberapa tahun yang lalu. Istilah tersebut merujuk pada apa?

DAVID HALPERT  4:09
Ini mengacu pada "dekolonisasi digital". Sebenarnya, saya bukan orang pertama yang membicarakannya, tapi saya mungkin orang pertama yang menulis tentang hal itu. Ada semacam perasaan di antara para wirausahawan dan pengguna teknologi dan sudah pasti para pemrogram di dunia bahwa apa yang mereka kerjakan akan dapat melayani banyak pelanggan, pemegang saham, pengelola usaha, dan komputer-komputer di bagian dunia yang berbeda. Dan mereka merasa bahwa jaringan teknologi yang sedang dibangun; seperti misalnya Alibaba, Amazon, Tencent, Facebook, Google; adalah sebuah hubungan kolonial yang makin meningkat antara pelanggan, pemrogram, (dan) pembuat peraturan di negara berkembang. Untuk itu Anda harus memikirkan hal ini tidak hanya dalam konteks interaksi sehari-hari, tetapi juga di saat-saat krisis. Dan Virus Corona adalah contoh yang sangat menarik, di mana Anda sering mendapatkan informasi yang disebarkan dengan sangat dinamis dari AS atau Cina atau Eropa. Tetapi, informasi itu sering kali dalam bahasa Inggris dan merujuk pada perilaku manusia yang sebenarnya tidak selalu sama di seluruh dunia. Kehidupan sehari-hari kelas pekerja Jakarta, apalagi kelas pekerja Lagos, atau kelas pekerja Karachi, benar-benar sangat berbeda dari gaya hidup pada umumnya para konsumen Amerika yang tinggal di pinggiran kota. Jadi orang-orang ini membutuhkan hal yang berbeda. Mereka membutuhkan layanan yang berbeda. Di situs e-niaga mereka, dibutuhkan mata uang yang berbeda untuk pembayaran, terkadang mereka memerlukan aplikasi bandwidth rendah. Dan seiring waktu, saya percaya bahwa perbedaan mendasar dalam cara orang menjalani hidup mereka akan mengarah pada lanskap yang berbeda untuk investasi teknologi. Jadi saya pikir masih akan timbul lagi perusahaan-perusahaan global besar yang luar biasa seperti Alibaba dan Amazon, dan mereka akan sangat berharga dan sangat menguntungkan. Saya (juga) pikir ada peluang besar bagi perusahaan lokal untuk bersaing dengan mereka dan mengklaim kembali wilayahnya, baik di Asia Tenggara, Asia Selatan, Afrika, maupun Amerika Latin.

ALAN  6:13
Mengerti. David, apa dua tema favorit Anda dalam 'DigDec' sekarang?

DAVID HALPERT  6:18
Tema e-niaga sekarang sudah ramai. Menurut saya tahun ini, tema transisi energi akan menjadi penting. Dan tema teknologi kesehatan juga masih memiliki banyak ruang untuk dijalankan.

ALAN  6:30
Baiklah. Saya baru saja menonton vlog Indonesia Maju di mana Anda menawarkan pembaruan-pembaruan yang sangat menarik dari beberapa bulan yang Anda habiskan di Indonesia tahun lalu sebelum kembali ke Singapura awal tahun ini. Anda juga secara spesifik menyebutkan pendapat menarik tentang tambang nikel di Indonesia dan rencana untuk baterai/aki yang terintegrasi secara vertikal, serta akhirnya manufaktur kendaraan listrik. Bisakah Anda ceritakan lebih banyak tentang hal-hal tersebut?

DAVID HALPERT  6:54
Sudah tentu. Begini, tidak semua analis menyadari, namun Indonesia kini merupakan produsen nikel terbesar di dunia. Dan Indonesia mengambil posisi ini dari Rusia sejak beberapa tahun terakhir disebabkan adanya sejumlah proyek pembangunan baru yang cukup ambisius di Indonesia timur. Di bawah kepemimpinan pemerintahan Jokowi, Indonesia telah ‘memaksa’ perusahaan tambang untuk menyempurnakan produk mereka di dalam negeri. Dan itu cukup kontroversial, terutama para penambang tembaga yang mengeluh bahwa mereka dipaksa untuk melakukan investasi modal yang merusak nilai (jual). Namun dalam kasus penambangan nikel, tampaknya hal ini berhasil, dimana hasil nikel Indonesia dan juga Filipina diolah di dalam negeri dan diubah menjadi produk yang kemudian terlebih dahulu digunakan untuk industri baja, dan akhirnya untuk industri baterai/aki listrik. Rencana Indonesia, dan mereka cukup terbuka untuk hal ini, adalah mengembangkan kemampuan manufaktur baterai/aki listrik dengan memanfaatkan keunggulan bahan baku nikel. Ini taruhan yang cukup berisiko, dan saya tidak mengklaim bahwa ini akan 100% berhasil. Tetapi, saya pikir ini adalah sebuah usaha yang luar biasa. Saya pikir mereka memiliki peluang keberhasilan yang lebih baik daripada yang dihargai kebanyakan orang. Jika Anda melihat buku baru Daniel Yergin, "The New Map", yang berbicara tentang bagaimana peta itu 100 tahun yang lalu dibuat secara signifikan untuk kepentingan industri minyak dan gas, sekarang peta tersebut telah diubah dengan adanya perkembangan seperti gas serpih (shale gas) di Amerika Serikat dan juga dengan adanya transisi energi dan pergeseran menuju energi terbarukan; Daniel Yergin mengatakan bahwa pasokan sumber daya strategis seperti nikel, tembaga, kobalt, lithium, menurutnya akan menciptakan perubahan geopolitik yang bersumber dari kebutuhan untuk mengamankan rantai pasokan transisi energi. Dan Indonesia akan memiliki kekuatan yang besar untuk dimainkan sebagai produsen utama nikel dan tembaga, dan juga sebagai negara berdaulat dengan pemerintah pusat yang cukup bersatu dan kepemimpinan yang cukup dinamis. Walaupun tentu saja masih tetap ada kemungkinan untuk membuat semua ini berantakan seperti biasanya terjadi pada program-program industrialisasi yang diadakan pemerintah. Tetapi, saya percaya dengan reformasi ketenagakerjaan yang disahkan Jokowi menjadi undang-undang akhir tahun lalu, dan dengan adanya perkembangan ini, keadaan akan menjadi jauh lebih menarik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

ALAN  9:11
Baik, terdengar masuk akal. Tetapi, saya ingin menantang Anda dengan perkataan Anda sendiri: apakah Anda benar-benar percaya bahwa Indonesia bisa menjadi raksasa manufaktur yang sejujurnya saja belum kelihatan, walaupun mau tidak mau mereka harus tetap mengarah ke sana untuk bisa membuat EV (Electric Vehicle/kendaraan listrik)?

DAVID HALPERT  9:27
Saya pikir penting untuk diingat bahwa pertama-tama ada berbagai jenis kendaraan listrik dan juga kekuatan manufaktur Indonesia mungkin kurang dihargai. Indonesia sudah menjadi salah satu produsen sepeda motor terbesar di dunia. Ketika melihat sejauh mana kendaraan listrik akan diterapkan di sepeda motor, menurut saya posisi Indonesia cukup baik. Juga untuk produk lain di ceruk tertentu seperti furnitur, alas kaki, dan beberapa garmen, Indonesia berada di posisi terdepan di pasar. Jadi seiring dengan berjalannya waktu, Indonesia akan menjadi pemain penting dalam industri kendaraan elektrik. Apakah saya berharap Indonesia akan memiliki mobil sejenis Tesla yang akan bersaing di pasar Barat dengan Hyundai dan Volkswagen? Tidak, saya pikir tidak. Menurut saya, Indonesia akan lebih mungkin mendapatkan keberhasilan dan relevansi pasar jika mengambil posisi spesifik (niche) di bidang manufaktur. Jika seiring dengan waktu mereka bisa menangkap 5% -10% saja rantai nilai, hal ini  masih merupakan bisnis yang sangat menarik dari perspektif Indonesia, dan bisnis yang sangat menarik bagi investor.

ALAN  10:41
Ok. Saya percaya. Sekarang, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, Prince Street berinvestasi di sejumlah "pasar negara perbatasan" lainnya. Mana yang menjadi favorit Anda, dan bagaimana Anda membandingkan dan membedakannya dengan Indonesia?

DAVID HALPERT  10:56
Semakin kesini saya semakin yakin bahwa untuk mencapai masa kritis yang menurut saya diperlukan untuk perusahaan dan teknologi kelas dunia, kita benar-benar membutuhkan pasar domestik yang signifikan, dan (untuk itu) kita membutuhkan populasi domestik yang (juga) signifikan. Jadi saya semakin melihat (ke arah) negara-negara yang memiliki 100 juta konsumen, atau pada perusahaan dari sistem yang lebih kecil seperti Singapura tetapi mampu menjangkau pasar regional, seperti yang telah dilakukan Sea Limited, dan saya cukup agnostik tentang di mana negara untuk kantor-kantor pusat perusahaan seperti Sea Limited. Saya melihat ASEAN sebagai pasar untuk mereka, (sama seperti) Amerika Latin sebagai pasar untuk Mercado Libre, dan sebagainya.

ALAN  11:38
Sip. David, saya membutuhkan saran dan masukan Anda. Enam bulan lalu, kami semua membicarakan tentang daftar "yang diperkirakan" (akan menjadi) unicorn Indonesia seperti Gojek, Tokepedia, dan Traveloka. Saat ini, ketiganya tidak hanya diyakini sedang bergerak secara agresif menuju perusahaan Terbuka (Tbk), tetapi saya pribadi juga mendapatkan sejumlah pertanyaan bernada agak panik dari banyak perusahaan teknologi 'tingkat selanjutnya' (next tier) di Indonesia yang mengatakan: "tolong dong, saya baru saja diberi tahu oleh seseorang, yang baru saja mengajukan sesuatu yang disebut SPAC, agar perusahaan kami melakukan penawaran publik tahun ini. Sementara menurut rapat terakhir target kami untuk IPO adalah tahun 2023. Apa yang harus saya lakukan?" Apa pendapat Anda tentang situasi ini, David?

DAVID HALPERT  12:20
Nah, situasi saat ini seperti biasanya amat rumit, dan fenomena SPAC, revolusi SPAC, adalah salah satu berita terkini. Seiring dengani naiknya suku bunga di AS, mungkin saja semua ini akan terhenti. Namun, selama ini masih terjadi, saran saya untuk pengusaha start up (misalkan, teman Anda adalah teman saya - dalam hal ini, saya tidak berbicara tentang unicorn, atau decacorn, saya berbicara tentang tahap yang agak lebih awal ketika bisnis masih belum menghasilkan), Anda harus menanggapi ini dengan sangat serius, karena modal ini memiliki batas waktu. Mereka harus menggunakan uang tersebut atau mengembalikannya dalam jangka waktu tertentu. Ini memang bukan sesuatu yang transparan, tetapi proses IPO tradisional juga tidak begitu transparan. Dan gerakan SPAC ini mungkin tidak akan bertahan selamanya, tetapi sementara ada, masih tersedia modal yang bisa diambil. Dan jika seorang wirausahawan tidak mengambil modal itu, padahal dia membutuhkannya, ada risiko yang signifikan bahwa pesaingnya yang akan mengambil modal tersebut. Jadi saran saya adalah: sambangi pertemuan-pertemuan ini, lihat baik-baik, sadari bahwa ini tidak transparan, (dan) begitu juga dengan IPO. Dan jika masuk akal, (yang berarti) Anda harus mengubah rencana bisnis versus kapan Anda masuk bursa, ini tidak berarti kiamat.

ALAN  13:38
Dan selain itu, juga tentang kesiapan perusahaan-perusahaan start-up Indonesia untuk dapat bertindak seperti selayaknya perusahaan yang sudah Terbuka (Tbk). Seperti misalnya apakah mereka sudah siap menerbitkan laporan keuangan triwulan mereka kepada investor publik, dll?

DAVID HALPERT  13:51
Tiga perusahaan yang tadi Anda sebutkan, saya yakin mereka sudah siap. Dan setelah menghadiri rapat direksi dari salah satunya, saya lihat mereka sudah siap bahkan lebih siap dari banyak perusahaan terbuka yang saat ini berdagang di Bursa Efek Jakarta. Nah, sekarang jika saya melihat ke tier kedua dan ketiga, tentu saja, mungkin ada yang masih perlu merekrut CFO. Juga masih ada yang perlu menyelesaikan auditnya. Mungkin masih ada yang perlu melunasi pajak mereka. Mungkin masih ada yang harus mengeluarkan keluarga dekat pendiri perusahaan dari daftar gaji. Dan ini semua adalah proses-proses yang dilakukan dengan cepat ataupun lambat, tergantung dari kepentingan dan determinasi tim manajemen. Tetapi, saya yakin dengan standar Bursa Efek Jakarta, beberapa perusahaan ekosistem teknologi sudah siap untuk masuk bursa. Bagian dari tragedi 24 bulan terakhir adalah bahwa penciptaan nilai dari revolusi teknologi telah menyebabkan bursa saham secara lokal tertinggal. Sea Limited sekarang adalah perusahaan paling berharga dari Singapura, tetapi tidak terdaftar di Bursa Efek Singapura. Dan "GoToko" (penggabungan hipotetis Gojek dan Tokopedia) atau Traveloka ataupun beberapa perusahaan lain di Jakarta ini akan segera menjadi lebih bernilai daripada kebanyakan perusahaan yang sekarang sudah terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Jika mereka tidak terdaftar di sana, seiring waktu, hal ini menjadi tidak terlalu sehat untuk pasar modal. Coba pikirkan baik-baik: jika Anda adalah karyawan senior salah satu perusahaan ini yang memiliki ESOP (Employee Stock Ownership Plan/Rencana Kepemilikan Saham Karyawan). Opsi saham itu ditransfer ke akun dan akhirnya, ketika dieksekusi, ada uang tunai. Jika uang tunai tersebut dalam bentuk mata uang Rupiah di akun ESOP Indonesia, kemungkinan besar uang tersebut akan didaur ulang menjadi investasi lain lagi di negara tersebut. Jika uang tunai itu ada di akun perdagangan elektronik, atau akun Charles Schwab atau akun RobinHood di AS, uang itu mungkin akan didaur ulang ke Tesla dan Amazon. Jadi agar ekosistem betul-betul bisa membangun komunitas yang sehat dan berkembang pesat, akan lebih baik jika perusahaan masuk bursa lokal.

ALAN  15:51
Baik. Terlepas dari tantangan-tantangan ini, saya kira kita dapat mengatakan secara umum bahwa saat ini merupakan waktu yang tepat untuk menjadi investor bidang teknologi di Indonesia, baik di sisi ventura maupun di pasar publik (seperti yang Anda rujuk di vlog Maju saat diskusi tentang kinerja harga saham yang kuat seperti misalnya EMTek). Tapi kembali kepada pertanyaan saya kepada Anda adalah: apakah Anda yakin?

DAVID HALPERT  16:13
Selalu ada saja yang bisa salah dalam investasi teknologi, baik investasi teknologi Indonesia, maupun investasi teknologi lainnya. Ini adalah sekuritas yang tidak stabil, ini adalah bisnis yang tidak stabil. Penilaian pada dasarnya hanya di atas kertas. Ada banyak ruang untuk nilai-nilai dihancurkan dan secepat itu pula diciptakan. Apapun itu, Indonesia adalah negara yang sangat besar yang secara ekonomis amat signifikan. Kita bicara ekonomi triliunan dolar. Persentase pasar modalnya lebih kecil jika melihat PDB dibandingkan India, Cina, Singapura atau Malaysia. Dan Indonesia masih merupakan salah satu dari sedikit tempat di dunia di mana teknologi mengalami percepatan dan belum mandek. Jadi misalnya, Coupang di Korea yang akan masuk bursa minggu ini; sebuah cerita yang amat mengesankan. Saya bertemu mereka beberapa tahun lalu. Saya benar-benar jatuh hati dengan mereka, dan masih sampai sekarang sekarang. Tetapi, jangan salah. Coupang berada di pasar e-niaga yang sudah sangat matang. Dan sangat tidak mungkin untuk tumbuh selama beberapa tahun ke depan pada tingkat yang sama seperti GoToko atau Shopee, atau bahkan Mercado Libre, karena mereka berada dalam siatuasi yang sudah matang. Walaupun itu tidak berarti bahwa saham Coupang tidak bagus. Saham Coupang mungkin amat bagus, tetapi Anda harus menilai dengan cara yang berbeda, yaitu pada saat ekosistemnya sudah matang. (Sementara) saya amat tertarik pada ekosistem tahap awal. Baru saja pagi ini saya menerima telepon mengenai sebuah perusahaan Rusia yang sangat menarik. Saya juga berpikir masih ada banyak sekali peluang di Afrika.

ALAN  17:45
Ah, untuk itu masih harus menunggu podcast Russo Tekno dan Afro Tekno dulu!

DAVID HALPERT  17:50
Nah, Indonesia itu penting, (karena) Indonesia masih dalam tahap awal. Meskipun e-niaga telah meningkat, tetapi masih awal. Peluang bisnis tier kedua dan ketiga seperti makanan, kesehatan, dan lain-lainnya masih berkembang pesat di Indonesia. 

ALAN  18:06
Baiklah. Mari kembali ke nama-nama yang sudah Anda kenal selama bertahun-tahun, dan yang telah kami sebutkan beberapa kali sebelumnya di awal podcast ini. Jika Anda bertugas menggabungkan Gojek dan Tokopedia, hal apa yang akan menjadi perhatian utama Anda?

DAVID HALPERT  18:22
Itu adalah contoh khusus dari dua perusahaan yang telah mengenal satu sama lain dengan baik. Mereka memiliki investor yang sama. Mereka memiliki direktur yang sama. Seperti yang Anda ketahui, salah satu eksekutif senior Tokopedia pernah menjadi Board Director di Gojek. Itu adalah kisah unik dalam M&A (Merger dan Akuisisi) di bidang teknologi. Tapi, siapa mendapatkan apa tentunya akan sangat penting dan bagaimana kesinambungan manajemen dipertahankan, jelas itu juga akan menjadi penting. Selain itu, yang juga tidak kalah pentingnya dalam hal ini dan dalam semua transaksi yang terjadi di ASEAN adalah mendapatkan persetujuan dari pembuat keputusan. Saya yakin pemerintah Indonesia menginginkan kesepakatan ini. Oleh karena itu saya pikir inilah alasan utama mengapa (merger) ini akan terjadi. Sebagai pemegang saham, saya senang dan saya rasa ini adalah merger yang jauh lebih sehat daripada misalnya, Gojek-Grab atau Tokopedia-Lazada, yang keduanya juga sempat dibahas selama beberapa bulan terakhir.

ALAN  19:17
David - sesuai yang diharapkan, Anda telah memberikan pandangan-pandangan yang amat menarik untuk topik hari ini. Percakapan yang menyenangkan. Terima kasih hari ini Anda telah bergabung!

DAVID HALPERT  19:27
Sama-sama. Ini ada sekedar pesan untuk komunitas Indo Tekno: sekarang ini masih merupakan tahap awal. Tetapi Anda memiliki peluang besar di depan, jadi bersabarlah.

ALAN  19:38
Pesan kami terima dengan baik.

DAVID HALPERT  19:39
Saya masih optimis sekali mengenai masa depan negera ini dan saya (rasa) bersyukur saya dapat partisipasi sebagai investor.

ALAN  19:48
Oke, David. Sekarang saya benar-benar merasa telah diingatkan. Hebat. Kami harap pendengar dapat menikmati podcast hari ini. Seperti biasa, mohon memberikan masukan apa pun yang Anda miliki tentang Indo Tekno Podcast kepada kami. Terima kasih telah mendengarkan. Sampai jumpa lagi!