TRANSKRIP

EPISODE 5

Episode Lima

Keuangan Syariah:

Dima Djani dari ALAMI

2 Februari 2021

 

ALAN 0:11
Selamat datang semuanya di Season Dua, Episode Lima podcast Indo Tekno. Saya Alan Hellawell, pendiri konsultan teknologi Gizmo Advisors, dan Venture Partner Alpha JWC Ventures. Selamat berjumpa kembali semuanya. Saya berharap Anda dalam keadaan baik semuanya. Sekarang salah satu aspek utama yang paling menarik dalam kebangkitan ekosistem internet di mana pun adalah model bisnis yang unik yang ditawarkan kepada pasar yang berbeda di dunia saat ini. Dalam kasus di Amerika Serikat pada tahun 1995, Netscape adalah perusahaan internet publik pertama yang terdaftar, dan menawarkan kepada dunia, browser internet pertamanya. Tidak lama kemudian, Silicon Valley memperkenalkan portal online dan mesin pencari pertamanya di dunia. Sementara itu Internet Cina juga memperkenalkan paradigma yang sangat baru ke seluruh dunia, dari bidang e-commerce, bentuk pembayaran online yang benar-benar baru hingga pengenalan "zhibo" atau siaran langsung. Kami berharap Indonesia juga dapat membawa paradigma uniknya ke panggung global hingga menjadi seuatu keunggulan yang unik dan terkenal. Dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia akan selalu mendorong inovasi dengan skala global di berbagai bidang seperti layanan FinTech yang sesuai dengan ketentuan Syariah. Oleh karena itu, kami sangat bersemangat untuk mengeksplorasi potensi inovasi tersebut bersama tamu kami hari ini, Dima Djani, CEO ALAMI penyedia solusi keuangan Syariah online terkemuka di Indonesia. Senang sekali Anda bergabung dengan kami hari ini, Dima.

DIMA DJANI  1:44
Senang berada di sini, Alan. Terima kasih telah mengundang saya.

ALAN 1:47
Untuk memulai, dapatkah Anda berbagi dengan kami untuk yang belum mengetahui apa yang membedakan perbankan Syariah dari dari perbankan biasanya?

 

DIMA DJANI 1:57
Tentu, Alan. Pertanyaan yang sangat menarik yang ditanyakan banyak orang. Bagi saya pribadi (ada banyak sudut pandangnya) perbankan syariah hanyalah jenis perbankan yang lebih bertanggung jawab secara sosial. Ada tiga elemen yang membedakannya. 
Pertama, lebih bijaksana dan penuh kepastian. Mengingat bahwa semua aktivitas pembiayaan dalam perbankan Syariah pada umumnya perlu dikaitkan langsung dengan aset atau aktivitas yang mendasarinya, hal ini menciptakan sistem yang lebih bijaksana dalam kaitannya dengan "Wall Street" dan "Main Street". 
Kedua adalah transparansi, kami memiliki lapisan tambahan untuk kepatuhan, yaitu kepatuhan syariah. Hal tersebut dapat menambah kepercayaan ke dalam sistem. Dan yang tak kalah pentingnya adalah lebih banyak elemen sosial. Misalnya, profit tambahan dari keterlambatan pembayaran: Saya tahu beberapa FinTech memiliki biaya keterlambatan pembayaran sebagai pendorong pendapatan utama. Namun dalam syariah hal tersebut tidak bisa dicatat sebagai pendapatan. Sebaliknya, itu dicatat dan diberikan melalui program CSR (Tanggung jawab sosial perusahaan). Jadi menjadi lebih bijaksana, lebih transparan dan lebih social yang akan menciptakan jenis perbankan yang lebih bertanggungjawab secara sosial. Jadi bagi saya, itulah pengertian dan perbedaan bank syariah.

ALAN 3:13
Sangat menarik dan sangat bermanfaat. Terima kasih. Dan bagaimana lebih tepatnya membedakan P2P lending Syariah (peer-to-peer) dengan P2P non-Syariah dalam menjalankan bisnisnya?

 


DIMA DJANI 3:23
Mirip seperti perbankan, struktur pembiayaan perlu dikaitkan dengan aktivitas atau aset yang mendasarinya. Jadi konsep pinjaman masuk sebenarnya adalah jenis bantuan, membantu orang lain dengan bunga pinjaman 0%, bukan untuk mendapatkan keuntungan dari yang menjadi dasar konsep pinjaman. Tapi kemudian ketika kita melakukan pinjaman Syariah, seperti yang kita kenal sekarang, itu sebenarnya adalah struktur investasi yang berupa bagi hasil atau jual-beli. 
Jadi menjual dengan keuntungan yang terbuka serta transparan. Jadi ketika berbicara tentang P2P, dengan semangat yang sama seperti dalam keuangan syariah pada umumnya, semua platform P2P syariah biasanya akan beralih ke pinjaman berbasis aset atau berbasis aktifitas seperti yang kami lakukan saat ini (produk kami saat ini): invoice financing

ALAN 4:15
Dimengerti. Jadi saya ingin kembali ke perbedaan antara perbankan Syariah dengan perbankan konvensional. Namun saya ingin menanyakan pertanyaan yang mendasar. Riset terbaru menunjukkan bahwa hanya 6% dari aset perbankan di Indonesia yang syariah pada tahun 2019. Mengapa demikian?
DIMA DJANI 4:34
Itu kembali pada perkembangan terakhir di seluruh dunia. Saya kira, kalau tidak salah, itu dimulai sekitar tahun 1960-an. Dan di Indonesia, benar-benar dimulai pada tahun 1991 dengan berdirinya bank syariah pertama, Bank Muamalat. Fokus seluruh industri pada saat itu sama, yang dimulai dengan perbankan konvensional, dengan sudut pandang Syariah yang ditonjolkan. Sehingga berakibat pada rendahnya literasi di pasar selama lebih dari 30 tahun. Namun fakta menariknya, selama delapan tahun terakhir, dengan kekuatan media sosial dan generasi baru generasi milenial, sebenarnya permintaan dari pasar meningkat secara signifikan. Jadi menurut saya ini adalah momentum yang tepat bagi industri keuangan syariah di Indonesia.

ALAN 5:22
Sangat menarik. Jadi penggeraknya saat ini sebagian besar adalah media sosial, dan milenial. Ini mengejutkan. Apa yang saya anggap sebagai pendekatan yang sangat tradisional untuk layanan keuangan dianut oleh kaum muda melalui media sosial. Apa itu yang kamu maksud?

DIMA DJANI 5:38
Benar sekali.

ALAN 5:40
Fantastis. Sekarang, Apakah bisa dibilang bahwa konsumen di Indonesia terbagi 2 kategori secara umum; maksudnya, antara: a) benar-benar mencari solusi yang sesuai dengan Syariah, atau b) tidak mencarinya sama sekali? Atau lebih kepada banyak dimensi lain yang tidak hanya 2 ini?.

DIMA DJANI 6:01
Cara kami melihat pasar, kami membaginya menjadi dua segmen. Salah satunya adalah apa yang kami sebut segmen "Loyalis", dan satu lagi adalah segmen "Universalis". 
Para Universalis akan melihat produk yang sebenarnya, seberapa kompetitif produk dan solusinya, dan bagaimana produk tersebut dapat mengatasi masalah mereka. Dan jika cukup kompetitif dibandingkan dengan yang konvensional, maka mereka akan baik-baik saja dan terbuka untuk menggunakannya. Sementara di sisi loyalis, meskipun produk keuangan syariah tidak sekompetitif (mungkin sedikit lebih mahal, atau layanannya kurang baik), mengingat kesadaran mereka terhadap ajaran Islam, mereka tetap akan memilih memakai produk tersebut. Jadi para loyalis masih merupakan pasar yang lebih khusus. Tapi sebenarnya hal ini terus berkembang pesat didorong oleh, seperti yang saya katakan, kaum milenial di perkotaan. Karena ini adalah orang-orang, mungkin seusia saya, juga mencoba menemukan kembali agama mereka. Mereka mungkin pergi ke sekolah Islam untuk SD atau SMP tanpa benar-benar tahu apa yang mereka pelajari. Dan ketika mereka membentuk keluarga, memiliki anak pertama, maka mereka merasakan tanggung jawab untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Jadi mereka kembali untuk mempelajari kembali apa itu Islam. Jadi kami melihat tren yang kuat di sini. Dan inilah yang sebenarnya menumbuhkan pasar loyalis. Sekarang pasar universalis masih merupakan bagian terbesar dari kedua segmentasi tersebut. Dan orang-orang ini kurang lebih merupakan yang mudah untuk berubah (‘swing market’). Jadi jika mereka menemukan produk yang cukup kompetitif dalam keuangan syariah, mereka akan terbuka untuk menggunakannya. Jadi begitulah cara kami melihat pasar, Alan.

ALAN 7:33
Luar biasa. Baiklah, saya ingin melanjutkannya. Karena ada yang mengatakan bahwa bank syariah tidak bisa sekompetitif bank konvensional, mengingat beberapa prinsip yang Anda sebutkan pada awal podcast ini. Apakah ada yang dapat diukur secara spesifik baik itu secara ekonomi atau model bisnis jika saya ingin meminjam secara Syariah dibandingkan non-Syariah?

DIMA DJANI 7:55
Alasannya adalah, jika saya tarik ke belakang, adanya biaya yang lebih tinggi untuk bank syariah (sepanjang sejarah) karena terbatasnya infrastruktur dan literasi yang rendah. Seperti yang Anda ketahui, sebagian besar atau perbandingan jumlah giro dan tabungan dipegang oleh empat dari lima bank teratas di Indonesia. Dan mengingat rendahnya literasi bank syariah, masyarakat sebenarnya ragu untuk menaruh tabungannya di bank syariah karena mereka tidak mengerti apa yang akan mereka dapatkan. Serta jumlah ATM dan kantor cabang yang terbatas dibandingkan dengan empat bank teratas di Indonesia. Faktanya, sekitar 50% dari total liabilities di bank syariah merupakan deposito, hal ini yang menjadikan sangat mahal. Maka dari itu, biaya pinjaman mereka menjadi lebih mahal daripada bank konvensional; itu pertama. Dan kedua adalah inefisiensi; kami tidak melihat banyak efisiensi atau bergerak kesana dengan menggunakan teknologi di bank. Jadi, kedua faktor ini menciptakan harga yang relatif lebih tinggi. Tetapi fitur yang menarik adalah ketika Anda masuk ke produk mortgage dari bank syariah yang memiliki opsi suku bunga tetap, memang itu akan sedikit lebih mahal daripada opsi suku bunga mengambang (floating rate), tetapi ini lebih dapat terprediksi untuk seluruh jangka waktu pinjaman. Jadi menurut saya bagi mereka yang ingin lebih mempunyai kepastian, mereka akan lebih memilih untuk pergi ke bank syariah. Dan saya tahu bahwa bank syariah sedang bekerja keras untuk menurunkan cost of fund mereka. Dan sampai pada poin saya tadi dengan kesadaran akhir-akhir ini, ada produk wadi'ah yang secara menarik mampu menurunkan cost of fund bank syariah.

ALAN 9:34
Anda telah mendahului pertanyaan saya berikutnya, yaitu: dalam keuangan Islam, "Wadi'ah" mengacu pada penyimpanan dana atau aset oleh seseorang di bank syariah. Apakah benar bahwa pemberi pinjaman tidak mendapatkan bunga? Dan apa persepsi terbesar yang tidak tepat tentang Wadi'ah yang ada di benak Anda?

DIMA DJANI 9:52
Pertama-tama, konsep bunga tidak ada. Jadi biasanya, apa yang mereka berikan kepada deposan adalah pembagian keuntungan dari pendapatan bulanan bank, sebagai kompensasi bagi deposan untuk menaruh uang di sana. Di Wadi'ah, itu bukan skema bagi hasil. Ini sebenarnya skema pengamanan. Jadi tidak boleh ada pengembalian yang diberikan kembali sebagai janji kepada deposan. Namun beberapa bank syariah sebenarnya memberikan bonus di akhir bulan kepada mereka yang menggunakan Wadi'ah hanya untuk memberi mereka insentif, yang memang diperbolehkan. Tetapi jumlah bonus tidak dapat dijanjikan dimuka. Jadi salah persepsi terbesar menurut saya, pada produk ini adalah walaupun ini adalah produk tabungan syariah, karena memang tidak memberikan apa-apa, ada yang beranggapan bahwa bank syariah pun tidak sepenuhnya syariah. Dan ada sebagian orang yang berpikiran seperti itu, kemudian mereka akan masuk ke Wadi'ah ini karena menurut mereka sangat jelas bahwa uang mereka tidak akan bertambah, dan itu membuat mereka merasa lebih nyaman.

ALAN 10:53
Jadi menurut Anda, bagaimana seharusnya kita memperluas layanan keuangan ALAMI selama lima tahun ke depan?

DIMA DJANI 11:01
Bagi kami, kami bertujuan untuk menjadi penyedia keuangan syariah yang lengkap untuk UKM. Kemudian mungkin dalam dua hingga tiga tahunnya lagi, kami akan masuk ke pasar konsumen retail. Jadi sekarang kami memiliki produk pinjaman dan investasi, dan kami ingin memperluasnya dengan juga memiliki berbagai produk seperti tabungan dan lain-lain.

ALAN 11:20
Sekarang, bagaimana bank Syariah dan solusi berbasis Syariah lainnya memandang kami di ALAMI?

DIMA DJANI 11:27
Ya saya rasa begitu. Dan dari pasar, saya mendengar bahwa mereka memandang kami dengan baik, terutama sekarang karena sudah mendapatkan izin permanen untuk menawarkan pinjaman peer-to-peer berbasis Syariah. Saya rasa bagi mereka, mereka hanya memiliki opsi terbatas untuk bekerja sama dengan FinTech dan P2P. Karena bagi mereka, mereka perlu bekerja sama dengan P2P yang sesuai Syariah. Dan hanya ada dua di pasar saat ini. Dan ALAMI salah satunya. Kami sedang berdiskusi dengan beberapa dari mereka untuk bermitra; baik dari segi channeling, dari segi lending, dari segi operasional maupun dari segi joint-marketing. Saya rasa, butuh waktu bagi mereka semua untuk benar-benar merangkul FinTech sebagai mitra. Tapi saya yakin bank-bank Syariah sebenarnya bergerak lebih cepat dari sebelumnya untuk menjalin kemitraan dengan perusahaan FinTech.

ALAN 12:15
Dimengerti. Saya perhatikan bahwa pemerintah telah menyebutkan upaya untuk meningkatkan layanan keuangan Syariah dari sektor perbankan yang saat ini 6% menjadi 15% pada tahun 2023. Apa yang tiba-tiba mendorong untuk tumbuh tajam setelah tidak banyak bergerak selama beberapa dekade?

DIMA DJANI 12:33
Beberapa pendorong utama yang penting adalah, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, kemajuan media sosial hanya oleh milenial Muslim yang menemukan kembali Islam sebagai gaya hidupnya. Dan hal ini benar-benar mendorong perkembangan permintaan dari Keuangan syariah dan ekonomi halal. Karena apa yang saya pahami di seluruh dunia, banyak pemerintah di negara Islam dan negara mayoritas Muslim memiliki pendekatan "top-down". Namun di Indonesia, pendekatannya berjalan dua arah. Yang dimana pendekatan "bottom-up" menjadi cukup kuat selama lima hingga delapan tahun terakhir. Dan pendorong kedua adalah jelas bahwa pemerintah mendorong Indonesia menjadi hub global untuk ekonomi Halal. Hal ini ditunjukkan oleh literasi saat ini yang didorong oleh pemerintah, dalam memfasilitasi acara ekonomi Islam global oleh Bank Sentral, sebelum pandemiterutama dan selama pandemi oleh opsi online. Saya pikir inisiatif ini benar-benar menciptakan kesadaran secara tidak langsung kepada masyarakat. Jadi semakin banyak mereka mendengar tentang inisiatif ini tentang ekonomi Halal dan Keuangan Islam; terutama jika mereka bekerja secara efektif, semakin banyak orang yang akan ingin mengetahui bagaimana hal ini akan mempengaruhi kehidupan mereka dan menciptakan lebih banyak pilihan untuk mereka. Dan last but not least, tentu saja, dorongan teknologi dari bank syariah dan pelaku keuangan syariah agar sejajar dengan perbankan konvensional. Jadi menurut saya ketiga hal ini sebenarnya bisa memacu pertumbuhan Keuangan Islam dan ekonomi Halal di Indonesia.

ALAN 14:01
Itu masuk akal. Nah, apakah daya tarik perbankan syariah berbeda antara kota, pinggiran kota dan pasar pedesaan? Dan mengapa demikian dan bagaimana hal itu berimplikasi terhadap rencana pertumbuhan pasar kami di ALAMI?

DIMA DJANI 14:15
Kamu benar. Berdasarkan data OJK (Bank Sentral), sekitar 50% aset perbankan syariah masih berada di Jakarta. Dan baru-baru ini, Aceh telah mengejar ketertinggalan karena mereka baru saja mengubah seluruh wilayah menjadi Islam dari sisi perbankan dan keuangan. Selain itu, kami melihat Jawa Barat dan Jawa Timur juga tumbuh cukup pesat. Sehingga masih cukup banyak didominasi oleh Pulau Jawa, dengan pengecualian Aceh dan sebagian daerah seperti Sumatera Selatan dan sebagian Sulawesi. Saya rasa bagi kami, dengan izin nasional kami, kami dapat menggarap pasar lain di luar Jakarta. Dan kita akan melihat lebih detail tentang Jawa Barat mengingat kedekatannya dengan Jakarta juga. Ini juga poin menarik lainnya. Penduduk perkotaan memiliki literasi keuangan yang lebih tinggi, tetapi kesadaran Islam yang relatif lebih rendah, dibandingkan dengan sisi lain: penduduk pedesaan. Sekarang, beberapa generasi Milenial perkotaan menemukan kembali hal ini dan meningkatkan kesediaan mereka untuk merangkul dan lebih menyadari sisi keuangan Syariah. Dan karena mereka memiliki pengetahuan keuangan yang relatif lebih tinggi, lebih mudah bagi mereka untuk beradaptasi dengan sistem. Sedangkan di sisi pedesaan, sebenarnya adalah soal akses keuangan. Jadi saya melihat bahwa teknologi dapat menjembatani dua celah ini. Pertama, mereka dapat membawa branding dan identitas yang lebih kuat ke kancah startup keuangan syariah sehingga penduduk perkotaan dapat diterima dan beradaptasi dengannya, serta membawa akses ke pasar pedesaan. Kami mencoba membantu meningkatkan literasi keuangan Islam.

ALAN 15:59
Sekarang, bagaimana menurut Anda tentang pasar lain di Asia Tenggara?

DIMA DJANI 16:10
Malaysia adalah pasar yang menarik dan sudah lebih matang. Saya pikir penetrasi mereka dalam hal aset perbankan Keuangan Islam sudah mencapai sekitar 30%. Dan jelas Brunei Darussalam adalah pasar yang relatif lebih kecil. Tapi kemudian juga sangat familiar dengan konsep keuangan Islam. Jadi kedua pasar ini adalah pasar berikutnya di luar Indonesia bagi kami. Tapi yang menarik, Alan - dan ini juga fakta yang menarik bagi saya - ada satu bank syariah di Filipina. Dan saya baru-baru ini melihat berita bahwa pemerintah secara aktif mendorong bank-bank di Filipina untuk memiliki unit bisnis syariah di sana. Ada juga bank syariah di Thailand untuk melayani populasi minoritas Muslim di bagian selatan Thailand. Dan itu milik pemerintah, kalau saya tidak salah. Pasar di luar Tiga Besar Muslim; Indonesia, Malaysia dan Brunei; Sebenarnya, Filipina dan Thailand juga merupakan pasar yang menarik.

ALAN 17:05
Sangat menarik. Sekarang, bagaimana dengan pasar lain yang lebih jauh, seperti pasar Timur Tengah dan Asia Selatan seperti Pakistan dan Bangladesh?

DIMA DJANI 17:05
Saya pikir Pakistan dan Bangladesh pasti akan menjadi pasar berikutnya. Saya pikir penetrasi Pakistan mencapai 14%. Dan diperkirakan akan tumbuh antara 20% hingga 25% dari total aset perbankan. Jadi ini pasar yang menarik dan pasti pasar yang berkembang. Dalam hal pasar Timur Tengah, menurut saya aset perbankan Syariah Saudi sekitar 50% dari pasar Saudi. Dan saya tahu bahwa pemerintah sedang terbuka dan mendorong pengembangan FinTech. UEA adalah sekitar 70% penetrasi menjadi perbankan Islam. Jadi tiga dari setiap lima orang di sana memiliki rekening bank Syariah, dan mereka semua mencoba menjadi pusat keuangan Islam. Dan beberapa bank syariah terbesar berasal dari wilayah itu. Menurut saya dari Saudi, ada Bank Al-Rajhi yang terkenal. Dan di Kuwait, ada Kuwait Finance House. Jadi saya pikir pasaryang jelas ada di sana. Namun dalam hal pertumbuhan pasar dan populasi, saya yakin Asia Tenggara adalah salah satu negara besar selain Asia Selatan.

ALAN 18:07
Jadi sepertinya kita menggarap pasarregional selama beberapa tahun mendatang. Dan pasar global juga merupakan bagian dari rencana jangka panjang. Apakah itu benar?

DIMA DJANI 18:16
Iya. Semoga saja. Saya pikir itu akan menjadi rencana yang menarik bagi kami. Saya tahu bahkan London sedang mencoba untuk menangkap beberapa aset perbankan syariah, jadi itu akan menjadi sudut yang menarik untuk kami dalam beberapa tahun ke depan.

ALAN 18:32
Sekarang,bisakah Anda ceritakan mengenai proses perizinan seputar pinjaman syariah? Apakah sulit mendapatkan izin/lisensi? Berapa banyak dari mereka yang ada saat ini? Dan berapa banyak yang bisa kita harapkan dalam dua tahun ke depan misalnya?

DIMA DJANI 18:44
Ketika kita berbicara tentang industri FinTechdi Indonesia, pembayaran dan P2P diatur dan relatif matang. Segala sesuatu yang lain berada di bawah semacam pendekatan ’sandbox’. Di P2P, ada sekitar 160 atau 170 pemain yang terdaftar, dan hanya sekitar 35 hingga 36 yang sudah memiliki lisensi/izin permanen. Dan dari 35 atau 36 yang memiliki izin tetap, hanya ada dua yang syariah. Jika pertanyaannya adalah apakah sulit untuk mendapatkannya: Ya dan tidak. Pemerintah mendorong startup dan pengembangan untuk juga membantu perekonomian. Tetapi pada saat yang sama, mereka juga waspada dengan apa yang terlihat di China, misalnya. Jadi mereka mencoba lebih ketat dalam hal membuat peraturan dengan fokus pada perlindungan konsumen. Jadi mereka menaikkan standar. Dan menurut saya itu adil, karena hanya mereka yang serius dalam bisnis dan benar-benar ingin berkembang yang pada akhirnya akan berhasil mendapatkan izin/lisensi. Jadi prosesnya sendiri cukup ketat. Kita perlu diotomatiskan dari ujung ke ujung. Pusat data harus ada di Indonesia. Kami perlu bersertifikat ISO untuk perlindungan data. Kami perlu terintegrasi dengan beberapa layanan pendukung seperti tanda tangan digital, koneksi dengan biro kredit untuk memeriksa riwayat kredit. Dan juga mereka melakukan kunjungan situs. Mereka memeriksa pelanggan kami dan melakukan kunjungan acak dan semua hal ini. Jadi sudah cukup tuntas proses pemberian izin dari OJK.

ALAN 20:13
Oke, Anda jelas mendapatkan salinan playbook saya, karena Anda sekali lagi mendahului pertanyaan saya berikutnya. Pembelajaran apa yang kita dapatkan dari naik turunnya P2P lending di China dan pasar lainnya?

DIMA DJANI 20:25
Menurut saya pendekatan OJK sudah tepat, belajar dari apa yang terjadi di pasar lain, seperti China, di mana ada regulasi yang sangat longgar dan tiba-tiba mereka harus menindak industri. Di Indonesia, ini masih industri kecil tapi matang, dan saya cukup senang dengan bagaimana pemerintah dan regulator memfasilitasi inovasi ini.

ALAN 20:47
Dimengerti. Sekarang Dima, kapan bisnis ALAMI turun drastis selama pandemi COVID? Dan di mana kita posisi sekarang relatif terhadap tingkat sebelum COVID?

DIMA DJANI 20:56
Kami mulai mengajukan pertanyaan dari peminjam (beneficiaries) dan pemberi pinjaman (funders) potensial kami mulai akhir Februari lalu. Dan kami benar-benar merasakan dampaknya di bulan Maret. Dan yang terburuk adalah pada saat lockdown di bulan Mei. Kami sangat senang karena kami berhasil memilih peminjam (beneficiaries) yang berkualitas. Jadi NPL kita masih 0%. Ada beberapa pembayaran terlambat, tetapi itu juga dalam waktu dua minggu terselesaikan dan juga disebabkan oleh masalah administrasi. Tapi selain itu, semuanya cukup bagus dalam hal pembayaran. Masalah kami sebenarnya dari sumber likuiditas, karena tiba-tiba semua retail funders menyiapkan dana darurat. Dan dari sisi kelembagaan, mereka mencoba menyeimbangkan kembali portofolio mereka terlebih dahulu, sehingga mereka tidak memberikan lebih banyak uang untuk dipinjamkan atau diinvestasikan. Jadi pada saat itu, pencairan bulanan kami turun sekitar 50%, masih bagus dibandingkan industri lainnya. Semua pemain besar yang saya dengar turun 70% hingga 90%, dibandingkan dengan tingkat pencairan bulanan mereka sebelum COVID. Setelah Mei dan Juni, kami mulai pulih ketika lockdown dihentikan oleh pemerintah, dan pasar hanya sedikit lebih terbuka. Kemudian rasanya seperti musim semi bagi kami, sungguh. Orang-orang mulai berdatangan dan mereka ingin meminjamkan uang lagi. Dan kami kembali ke level sebelum COVID. Dan pada saat itu, pencairan pra COVID kami secara bulanan sekitar Rp15 miliar, setara dengan sekitar USD1 juta. Dan selanjutnya, kami berhasil meningkatkan pencairan kami. Dan saat ini pencairan kami sekitar Rp60 miliar per bulan. Jadi itu sangat berkembang pesat dan mencapai empat kali.

 

ALAN 22:37
Luar biasa. Senang mendengarnya. Melanjutkan pertanyaan, apa target pertumbuhan kredit dan ukuran bisnis Anda secara keseluruhan di tahun 2021, dan 2022?

DIMA DJANI 22:47
Kami menargetkan pada 2021, kami bisa menyalurkan pembiayaan sekitar USD80 juta hingga USD100 juta. Kami menargetkan pinjaman rata-rata sekitar Rp100 miliar per bulan di tahun 2021. Dan semoga di tahun 2022, kami dapat melipatgandakannya menjadi sekitar Rp250 miliar hingga Rp300 miliar per bulan di tahun 2022. Dan di atas itu, kami tentunya ingin menawarkan lebih banyak produk di seluruh pendanaan dan pinjaman kepada masyarakat. Sekarang kami melayani pasar UKM, dan kedepannya semoga bisa lebih berkembang dan melayani para mikro dan nanopreneur. Saya pikir ini adalah pasar yang kurang terlayani terlayani selama bertahun-tahun oleh lembaga keuangan tradisional. Jadi dengan pengetahuan yang kami miliki, kami akan masuk ke segmen itu.

ALAN 23:32
Nah Dima, adakah ketertarikan secara obyektif bagi non-muslim untuk menggunakan perbankan syariah?

DIMA DJANI 23:39
Untuk poin saya sebelumnya tentang pemahaman konsep perbankan Syariah, atau keuangan Syariah: itu sangat mirip dengan ESG (lingkungan sosial dan tata kelola). Faktanya, di ALAMI, dapat dikatakan bahwa 50% peminjam kami adalah non-Muslim, dan dari pemberi pinjaman ritel kami, mungkin sekitar 30% dari mereka adalah non-Muslim. Dan kami bertanya mengapa mereka tertarik berbisnis dengan kami, meminjamkan dan meminjam dari kami. Ini benar-benar nilai Syariah yang kami promosikan; yaitu transparansi, dampak sosial, dan kualitas kehati-hatian dan tanggung jawab, dan semua hal ini. Jadi, meskipun pengembalian (return/ujrah) kepada retail funders relative lebih kecil (katakanlah sekitar kami sekitar 14 hingga 15% per tahun, sedangkan P2P lain 17 hingga 18% per tahun) kami berhasil menjaga NPL kami tetap nol; sementara yang lain mungkin perlu berurusan dengan beberapa NPL (Non Performing Loan) di sana. Jadi saya rasa ini adalah trade off dari nilai yang ingin kami bawa ke pasar, terlepas dari Muslim atau non-Muslim.

ALAN 24:39
Luar biasa. Jadi ada daya tarik yang cukup luas dengan penawaran ALAMI di antara pelanggan Muslim dan non-Muslim. Aku tidak menyadari itu sebelumnya. Sekarangmerambah ke sektor secara luas, menurut Anda apa yang harus dilakukan oleh sektor publik dan swasta untuk menjadikan Indonesia hub keuangan Syariah global yang ingin kami lihat?

DIMA DJANI 24:58
Top-of-mind ada tiga hal. Yang pertama adalah menghasilkan data yang lebih kuat dan lebih komprehensif melalui pusat data atau sesuatu yang serupa dengan itu. Karena masalah kita saat ini, ketika kita mencoba menjelaskan bisnis kita kepada calon investor atau calon mitra, kita tahu apa yang terjadi di pasar. Tetapi kemudian data riil untuk mendukungnya terkadang tidak tersedia karena Bank Sentral atau OJK hanya mencatat, menurut saya, indicator yang tertinggal dibandingkan indikator utama. Jika sektor swasta dan publik dapat bersama-sama dan menghasilkan pusat data yang lebih komprehensif, saya pikir itu akan sangat membantu industri, membuka pandangan dan pemahaman oleh calon investor yang ingin masuk ke industri ini. Dan kedua adalah sinergi dan kolaborasi. Saya pikir pemerintah bisa memberikan insentif untuk kemitraan publik dan swasta tersebut. Misalnya, ada bank syariah milik negara. Ada dana Haji juga, dan ada banyak pemain FinTech swasta, atau lembaga keuangan Islam tradisional. Kolaborasi di antara mereka ini perlu diberi insentif, setidaknya untuk tahap pertama. Jadi ada banyak potensi sinergi di dalam industri, dan semoga bisa didorong keluar dari industri keuangan syariah juga. Dan terakhir, tapi tidak kalah pentingnya, akan menjadi pemasaran bersama, menurut saya, dengan fokus pada social-finance, untuk meningkatkan literasi dan pemahaman keuangan dalam masyarakat. Karena Ketika traditional bank Syariaha menjual konsep bank syariah, saya pikr sekarang mereka lebih fokus pada sisi komersialnya, daripada pandangan komprehensif tentang apa tujuan dari ini. Dan saat ini, generasi milenial sebenarnya merupakan sebagian besar angkatan kerja di Indonesia, disusul oleh Gen Y, dan juga Gen Z. Tapi kemudian, dari segi persentase, saya kira, milenial mendominasi saat ini dan akan terus berkembang. Dan mereka saat ini mempunyai perhatian khusus mengenai tujuannya, suatu nilai mengapa industri semacam itu ada. Jadi saya rasa cara kami menjual industri ini juga perlu diubah. Dan ini perlu dikoordinasikan antara publik dan swasta. Misalnya, beberapa hari yang lalu, pemerintah mendorong program Wakaf Tunai ("dana amanah yang didirikan dengan uang untuk mendukung pelayanan kepada umat manusia atas nama Allah"). Dan ini salah satu langkah yang bisa meningkatkan literasi. Setidaknya itu membuat orang mengemukakan pendapat, apakah mereka pro atau kontra, tentang inisiatif ini, dan juga untuk membuat orang berbicara dan mencoba mencari tahu apa itu Wakaf Tunai dan semua hal ini. Jadi ya, semua publisitas adalah publisitas yang bagus. Itu membuat orang sadar dan mencari tahu sendiri. Jadi saya pikir kita sedang berada di tengah momentum yang baik untuk maju.

ALAN 27:31
Senang mendengarnya. Terima kasih Anda sudah meluangkan waktu untuk berbagi dengan kami mengenai atribut unik dari keuangan Syariah. Sangat menyenangkan bisa mengerti model bisnis ini. Dan kami sangat menantikan ALAMI untuk dapat meninggalkan jejaknya di dunia keuangan Syariah, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia. Terima kasih telah bergabung dengan kami hari ini, Dima.

 

DIMA DJANI 27:53
Terima kasih, Alan. Saya harap ini bermanfaat bagi semua orang dan senang terhubung dengan orang-orang di luar yang tertarik dengan perjalanan kita.

ALAN 28:01
Saya yakin ada minat. Dan terima kasih kepada pendengar setia kami yang telah mendengarkan hari ini. Terima kasih telah mendengarkan. Sampai jumpa lagi!

DIMA DJANI 28:09
Sampai jumpa!
 

© 2021 by Alan Hellawell