TRANSKRIP
EPISODE 43

Episode Empat Puluh Tiga

Upskilling Indonesia:

Rohan Monga dari Zenius

2 November 2021

ALAN 0:11
Selamat datang di episode ke-43 Podcast Indo Tekno Season kedua. Saya Alan Hellawell, pendiri konsultan teknologi Gizmo Advisors. Saat ini, Indonesia memiliki lebih dari 135 juta tenaga kerja. Namun, menurut penelitian Asian Development Bank (ADB), 51,5% tenaga kerja tersebut tidak memenuhi kualifikasi untuk posisi mereka. Krisis keterampilan ini berakar pada sistem pendidikan, yang saat ini sedang mengalami transformasi besar-besaran. Untuk membahas transformasi ini, saat ini sudah hadir bersama saya CEO Zenius Rohan Monga. Zenius adalah salah satu perusahaan terbesar dalam industri pembelajaran online atau yang biasa disebut dengan “edtech”. Saya senang Anda bisa hadir di acara ini, Rohan. 

ROHAN MONGA 0:53
Senang bisa bergabung di sini. Terima kasih sudah mengundang saya, Alan.

ALAN 0:56
Rohan, saya pikir beberapa pendengar non-Indonesia kami, yang sudah membaca berita mengenai beberapa putaran pendanaan yang sukses, mungkin berpikir jika Zenius adalah startup yang berusia dua atau tiga tahun, tapi sebenarnya tidak. Zenius didirikan pada tahun 2004 sebagai pusat bimbingan belajar offline. Bisakah Anda menjelaskan sedikit tentang evolusi Zenius?

ROHAN MONGA 1:21
Tentu. Zenius sudah berdiri sejak lama. Pada tahun 2004, founder Zenius Sabda dan Pak Medy, mulai mengajar di bimbel offline menggunakan pedagogi Zenius. Dan pedagogi yang mereka tawarkan saat itu sangat inovatif. Karena sistem pendidikan Indonesia pada saat itu di mana ujian nasional untuk kelas 6, 9, dan 12, dipusatkan pada pembelajaran berbasis pengetahuan (knowledge). Jadi ketika kita memiliki sistem edukasi yang didorong oleh pembelajaran yang berpusat pada pengetahuan, maka akan ada banyak hafalan dan hafalan. Sementara para founder Zenius pada saat itu, sangat percaya dengan keterampilan daripada pengetahuan. Dan untuk melatih keterampilan, kita harus masuk lebih dalam untuk mengajarkan konsep, dan membangun keterampilan dasar tersebut. Dan Anda baru bisa menyertakan pengetahuan ketika para siswa memiliki keterampilan dasar tersebut. Jadi pedagogi tersebut adalah  sesuatu yang mereka coba di pasar dari tahun 2004 hingga 2007. Dan daya tariknya sangat bagus, sehingga orang tua dan siswa sangat senang dengan hasilnya. Lalu pada tahun 2007, saat itulah mereka menggabungkan brand Zenius, untuk mendorong ekspansi non-offline. Karena para pendiri merasa pedagogi ini sepertinya akan benar-benar memberikan hasil belajar yang menakjubkan, mereka lalu mencoba untuk menjangkau seluruh pelosok Indonesia dengan meluncurkan bisnis DVD yang bisa dipesan secara online, dan mulai mendigitalkan materi pembelajaran mereka. Dan masa-masa tersebut merupakan masa yang luar biasa untuk mereka. Karena selama tiga tahun ke depan, saya tidak apakah kamu masih ingat, Alan, di mana pembajakan DVD menjamur. Jadi bisnis DVD seperti itu seperti pedang bermata dua, di mana perusahaan tidak bisa mempertahankan pendapatannya. Tapi DVD bajakan ini dijual dengan harga sepuluh kali lebih murah dari harga normal. Dan jika Anda adalah anak yang ambisius yang ingin masuk ke salah satu perguruan tinggi negeri terbaik, maka Anda harus mendapatkan DVD ini untuk lulus ujian masuk. Dan itulah yang terjadi. Lalu Zenius tumbuh seperti kultus baru dalam tiga tahun berikutnya. Dan pada tahun 2010, untuk menjalankan model bisnis yang lebih berkelanjutan, mereka meluncurkan zenius.net. Dan itulah momen kunci dalam ekosistem edtech Indonesia, di mana Zenius menjadi pionir. Sembilan tahun berikutnya setelah zenius.net, pada pertengahan 2019, mereka meluncurkan versi mobile-nya pada bulan Juli. Dan kemudian pada bulan Agustus, saya bergabung sebagai CEO. Jadi pada saat saya bergabung, Zenius sudah berdiri selama 15 tahun.

ALAN 3:55
Sangat menarik. Sekarang fokus keterampilan versus pengetahuan sederhana memang telah menjadi perubahan yang cukup besar dalam pedagogi Indonesia. Dan saya ingin menjelajahi fondasi Zenius lebih jauh. Sekarang, dari sisi pendidikan, apa yang Zenius telah kembangkan selama bertahun-tahun? Apakah itu pendidikan sekolah menengah, pelatihan tingkat universitas, kelas kejuruan?

ROHAN MONGA 4:18
Jadi kami berkembang dari fokus kami di sekolah menengah. Dan di segmen tersebut, kami benar-benar fokus untuk menghadirkan konten untuk persiapan ujian masuk perguruan tinggi yang disebut UTBK, yang memberikan kesempatan para siswa untuk masuk ke 85 perguruan tinggi negeri dan 8 politeknik. Kini, hal ini menjadi bagian dari keseluruhan pasar. Jadi ada sekitar 800.000 siswa dari total tiga juta siswa kelas 12 yang mengikuti ujian, dan 10 juta siswa sekolah menengah, dan seluruhnya berasal dari 45 juta siswa K-12 yang terdaftar di Indonesia. Tapi bagian kecil dari pasar tersebut adalah masalah yang sangat penting untuk dipecahkan, dan kami telah memecahkannya. Kami sudah membuktikannya dengan hasil pembelajaran. Jadi sekarang dengan product-market fit di segmen ujian masuk perguruan tinggi, kami telah berkembang ke segmen yang lebih muda. Jadi kami akan memasuki segmen sekolah dasar dan menengah dengan aplikasi baru yang akan diluncurkan bulan depan bernama ZeniusLand. Dan kami juga akan masuk ke segmen yang lebih tua dengan masuk ke segmen pendidikan yang lebih tinggi untuk keterampilan atau pun mengasah kembali keterampilan orang-orang dengan ZenPro, aplikasi yang telah diluncurkan di Play Store.

ALAN 5:28
Kisah yang menarik tentang evolusi dan ekspansi Zenius. Nah Rohan, melihat Zenius hari ini, berapa persen bisnis Zenius yang masih bersifat offline learning center yang Anda referensikan di awal? Dan berapa persen yang online?

ROHAN MONGA 5:44
Zenius sudah 100% online semenjak 2007, ketika brand Zenius dibuat. Kami memiliki empat penawaran pembelajaran online utama untuk model bisnis kami. Yang pertama adalah fitur gratis automated doubt solving (ADS) dengan teknologi OCR untuk menggaet siswa. Kemudian ketika siswa datang ke platform kami, dan kami membantu menyelesaikan soal mereka secara otomatis, mereka mendapatkan penawaran berikutnya, yaitu pembelajaran adaptif tanpa biaya yang disebut dengan ZenCore. Dan fitur yang mirip game ini memungkinkan siswa untuk benar-benar fokus pada keterampilan dasar mereka; seperti matematika, penalaran verbal, dan Bahasa Inggris. Dan setelah kami benar-benar membangun keterampilan dasar mereka dan membawa mereka ke titik tertentu di mana mereka siap untuk mempelajari konsep yang lebih tinggi dalam Kurikulum Nasional Indonesia, kami kemudian memiliki penawaran yang ketiga, yaitu belajar mandiri secara freemium. Di mana mereka belajar menggunakan video dan pertanyaan yang sudah direkam sebelumnya untuk semua mata pelajaran dan nilai dalam Kurikulum Nasional Indonesia. Dan biasanya fitur ini dibeli untuk satu semester penuh, atau untuk satu tahun akademik penuh. Dan kemudian penawaran inti keempat yang kami miliki untuk pembelajaran adalah pembelajaran secara live. Jadi belajar langsung secara freemium. Dan di sini kita akan masuk lebih dalam lagi untuk mengajarkan konsep dan memberikan lebih banyak pelatihan melalui live class streaming.

ALAN 7:04
Nah Rohan, tadi Anda bilang Anda bergabung dengan Zenius sebagai CEO pada pertengahan tahun 2019. Secara umum, apa yang menjadi tugas Anda saat itu?

ROHAN MONGA 7:14
Jadi ketika saya bergabung, para founders telah mencapai beberapa hal yang benar-benar menakjubkan. Pertama, mereka mengembangkan perpustakaan konten di platform Zenius, dan saat itu jumlahnya adalah salah satu yang terbesar di Indonesia dengan 80.000 video. Dan kemudian kedua, dari video itu, sekitar setengahnya merupakan konten untuk persiapan ujian. Dan kurikulum persiapan ujian dan pedagogi tersebut mendorong kecintaan terhadap brand Zenius, dan membantu anak-anak ambisius untuk masuk ke perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Dan kemudian hal tersebut mendorong hal penting ketiga yang telah mereka capai, yaitu hasil pembelajaran. Ketika Anda adalah sebuah perusahaan pendidikan, pada dasarnya Anda mencoba memberikan kualitas. Dan apa yang telah para founder Zenius lakukan adalah pada dasarnya mereka membantu alumni-alumni yang cerdas ke kampus impian dan memiliki karir yang luar biasa. Dan tugas saya saat itu, selain memiliki aset yang benar-benar menakjubkan adalah untuk membawa perusahaan, yang pada saat itu memiliki sekitar 80.000 MAU dan menumbuhkannya 100x. Kami mencoba mengembangkannya menjadi 10 juta MAU. Karena kami merasa angka yang cukup gila ini mencerminkan besarnya dampak sosial yang ingin kami ciptakan dalam meningkatkan keterampilan pelajar Indonesia.

ALAN 8:19
Omong-omong, "MAU", artinya pengguna aktif bulanan. Sekarang, setelah lebih dari dua tahun sejak Anda bergabung, apa lika-liku yang menarik dari tugas yang anda miliki, dan perusahaan dalam dua tahun lebih tersebut?

ROHAN MONGA 8:33
Saya rasa lika-liku terbesar pertama dalam kurun waktu empat bulan setelah saya bergabung adalah ketika kami menggratiskan seluruh konten di platform kami. Dan ini terjadi pada bulan Desember 2019. Dan pada saat itu adalah minggu di mana hasil PISA diumumkan. Kemudian ketika hasil PISA keluar, Indonesia berada di urutan bawah dari 79 negara dalam hal keterampilan dasar. Jadi ini adalah pernyataan besar dan gila yang kami buat, bahwa kami benar-benar ingin membalikkan tren secara besar-besaran. Kemudian setelah menggratiskan konten, pada bulan Maret 2020, pandemi Covid-19 mulai muncul, dan semua orang belajar dari rumah. Jadi pandemi Covid-19 menjadi lika-liku terbesar berikutnya. Dan karena kami memang sudah menggratiskan konten sebelum pandemi, kami memiliki daya tarik yang luar biasa di mana jumlah pengguna kami bertumbuh berkali-kali lipat karena para siswa di Indonesia mulai beralih ke online. Salah satu hal utama yang muncul dari pandemi ini adalah lonjakan permintaan untuk live streaming. Jadi kami menghabiskan sekitar tiga bulan untuk membangun platform live class dengan cepat dan mengintegrasikannya dengan pustaka konten kami tanpa hambatan. Dan waktu itu adalah waktu di mana orang-orang bekerja keras dengan waktu tidur yang sedikit. Namun dalam tahun pertama kami meluncurkan live class, fitur tersebut sudah menghasilkan sekitar setengah dari pendapatan kami dan menunjukkan fakta bahwa pelajar Indonesia benar-benar sudah mulai bergerak menuju live streaming untuk tujuan pembelajaran. Itu adalah beberapa lika-liku yang menarik dalam perjalanan kami.

ALAN 9:55
Cerita yang menarik! Sekarang apa permasalahan utama yang Zenius coba atasi di tahun 2021?

ROHAN MONGA 10:04
Bagi Zenius, kami ingin membuat anak-anak menjadi ketagihan belajar. Dan misi utama kami adalah untuk memercikkan semangat kecintaan belajar pada semua orang di mana saja, dan untuk mempertanyakan segalanya. Jadi jika kita berhasil melakukan hal tersebut, maka konteks “memicu cinta belajar” artinya, kita perlu memikirkan secara mendalam tentang konten, produk, dan teknologi yang kita tawarkan. Konten yang kita tawarkan harus menyenangkan dan menarik. Produk harus digamifikasi dan dibuat seperti anak-anak sedang bermain game secara sosial tetapi sebenarnya sedang belajar. Dan teknologinya harus bersifat adaptif dan personal, agar anak tidak mudah bosan atau terlalu sulit sehingga kehilangan kepercayaan diri. Kemudian "setiap orang di mana saja" berarti memberikan akses yang setara. Dan itu menjadi panduan kami untuk selalu menghadirkan pengalaman belajar gratis yang terencana dan lengkap untuk setiap anak di Indonesia. Sementara “mempertanyakan segalanya” berarti memiliki keterampilan dasar dalam berhitung dan literasi yang merupakan dasar untuk menjadi pemikir kritis dan analitis yang mampu memecahkan masalah-masalah baru di masa mendatang.

ALAN 11:12
Fantastis! Sekarang, saya ingin bertanya tentang jalan Anda beberapa tahun ke belakang, dan seberapa sering beririsan dengan orang lain yang sebagian besar pendengar kita wajib tahu. Anda adalah teman sekelas Nadiem Makarim ketika kuliah di Brown University. Dan Nadiem, seperti kebanyakan dari kita, atau kita semua tahu, mendirikan GoJek. Anda bergabung dengannya di GoJek selama lebih dari tiga tahun sejak Februari 2015. Lalu sekarang, Anda menjalankan salah satu platform pendidikan online paling sukses di negara ini. Dan saat ini beliau menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Indonesia. Apakah hanya kebetulan bahwa Anda berdua akhirnya memainkan peran kepemimpinan di masa depan pendidikan Indonesia? Atau apakah Anda menyadari minat satu sama lain dalam industri ini?

ROHAN MONGA 12:00
Saya rasa kombinasi keduanya. Ketika saya bergabung dengan GoJek pada tahun 2015, selalu ada diskusi manajemen tentang mencari cara untuk meningkatkan talent pool yang tersedia untuk GoJek. Dan karena kami memiliki masalah dalam mencari talenta lokal, kami pindah ke Bangalore (India) dan membangun tim di sana. Keputusan itulah yang membuka mata saya pada masalah utama seputar kurangnya keterampilan dan bakat di Indonesia. Dan hal tersebut benar-benar melekat pada saya ketika berada di GoJek dan seterusnya. Kini setelah meninggalkan GoJek, saya  sempat menghabiskan waktu satu tahun untuk melakukan angel investing sambil memikirkan apa yang harus dilakukan untuk membangun startup ketiga saya. Dan saya sangat tertarik dengan pendidikan, dan kebetulan, istri saya menjadi CFO Zenius pada awal 2019, karena dia juga bersemangat tentang pendidikan, dan memperkenalkan saya kepada founder Zenius, Sabda. Jadi awalnya saya datang ke Zenius sebagai investor. Saya melakukan investasi tahap awal di Zenius pada Mei 2019 dan kemudian menjadi CEO pada Agustus. Jadi saya kira jawaban saya untuk pertanyaan Anda adalah keduanya.

ALAN 13:08
Saya ingin berdiskusi dengan Anda tentang realitas saat ini, sebut saja “hasil belajar” di Indonesia dibandingkan dengan negara lain. Skor PISA yang Anda sebutkan sebelumnya, adalah peringkat dari OECD atau Organization for Economic Cooperation and Development, beberapa negara anggota yang memberikan peringkat atas nilai tes siswa berusia 15 tahun dari seluruh dunia dalam hal keterampilan membaca, matematika, dan sains. Pelajar Indonesia berada di peringkat ke-74 dari 79 negara yang untuk keterampilan membaca. Orang-orang optimis mungkin akan mengatakan gelas tersebut “5/79 penuh” dengan melihat ke atas. Sementara orang pesimis mungkin akan berkata: “74/79 kosong". Zenius pasti memiliki porsi tersendiri untuk membawa Indonesia naik dari peringkat ke-6 terbawah. Bagaimana kita bisa melakukan hal tersebut secara realistis? 

ROHAN MONGA 14:05
Kami di Zenius berpikir cukup optimis. Dan saya pikir kita akan melihat beberapa peningkatan besar dalam dekade mendatang karena sektor publik dan swasta terus berinovasi untuk kepentingan siswa. Sekarang, saya pikir ada beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut. Tapi bisa dibilang, salah satu hal terpenting secara historis adalah kerangka ujian yang kurang tepat dalam sistem pendidikan. Jadi sistem pendidikan kita memiliki ujian tingkat tinggi sebelum 2019, yang menguji pengetahuan, seperti yang saya kemukakan sebelumnya. Dan itu mendorong siswa untuk menghafal. Artinya, para siswa tidak berfokus pada keterampilan dan pada dasarnya mereka melupakan semua pengetahuan tersebut setelah ujian. Yang saya maksud adalah, saya pikir Anda dan saya mungkin pernah mengalami hal seperti ini di masa lalu di mana kita melupakan segalanya setelah ujian. Tapi sekarang, yang kita saksikan adalah transformasi sistem pendidikan Indonesia dari sistem berbasis pengetahuan menjadi sistem berbasis keterampilan. Dan Kementerian mengubah format pengujian menjadi penilaian kompetensi minimum yang cukup selaras dengan PISA. Dan dengan menguji dasar-dasar pembelajaran ini, dan hanya memiliki sampel acak dari siswa yang melakukannya, bukan dari setiap siswa yang ada. Saya yakin transformasi semacam ini akan benar-benar bermanfaat untuk mendorong tingkat keterampilan yang lebih baik bagi negara. Dan saya pikir seluruh sistem sekarang dari pemerintah daerah, ke sekolah, ke kepala sekolah, ke guru, semuanya didorong untuk mengembangkan keterampilan ini, sehingga anak-anak dapat mempersiapkan masa depan. Sekarang, kami di Zenius mendukung tren ini dengan memberikan keterampilan dasar secara gratis. Dan karena, sejak awal, pedagogi kami selalu tentang pembelajaran berbasis keterampilan, kami merasa bahwa kami memiliki fondasi yang sangat kuat untuk membantu negara dalam membuat lompatan besar di PISA.

ALAN 15:57
Saya dapat memahami optimisme yang Anda maksud. Sekarang Rohan, seperti yang Anda sebutkan sebelumnya, salah satu layanan inovatif yang lebih luas cakupannya yang diluncurkan Zenius akhir tahun lalu adalah ZenBot, fitur automated-doubt solving berbasis OCR (atau Optical Character Recognition). Bisa ceritakan mengenai seni dan ilmu mengenai “doubt-solving” ini?

ROHAN MONGA 16:18
ZenBot, produk kami berbasis OCR untuk doubt-solving, memiliki hasil yang luar biasa di platform kami. Dan hari ini, kami memiliki lebih dari satu juta solusi yang disajikan kepada siswa setiap bulannya, dan terus bertambah. Jadi ZenBot membantu anak-anak yang terbelit soal dalam pembelajaran mereka. Melalui ZenBot, mereka akan bisa menyelesaikan soal mereka dalam hitungan detik. Untuk memberikan pengalaman yang luar biasa, kami benar-benar mengumpulkan beberapa alumni terpandai kami yang telah lulus ujian UTBK, dan masuk ke kampus impian mereka. Dan yang kami lakukan adalah membuat mereka mendapatkan uang saku tambahan di platform kami dengan membuat solusi video untuk soal yang diajukan oleh para pengguna. Dan saat kami membangun perpustakaan solusi ini, kami kemudian dapat meningkatkan akurasi kecocokan atau tingkat otomatisasi kami. Lalu intervensi manual semakin sedikit diperlukan. Dan kami dapat memberikan pengalaman yang jauh lebih cepat bagi pengguna. Jadi pasti ada “seni” di dalamnya, yang muncul dengan konten yang bagus dan menarik lewat video. Dan “sains” dalam ZenBot bekerja melalui metrik dan angka yang memastikan bahwa kami menjadi lebih efisien melalui teknologi machine learning dan AI kami. Dan saya pikir dalam jangka panjang, ini akan menjadi bagian penting dari bisnis kami, yang akan membawa siswa ke platform kami dan membuat pembelajaran mereka “tanpa hambatan”.

ALAN 17:37
Dipahami. Terima kasih. Sekarang Rohan, saya lihat di banyak kota di Asia, ada banyak iklan di bus umum yang mencari “star tutor” atau tutor bintang. Apakah itu juga yang mendorong diterimanya platform Zenius oleh masyarakat secara luas di Indonesia melalui afiliasi dengan kepribadian mereka atau KOL di dunia edtech? 

ROHAN MONGA 17:58
Nah, berdasarkan apa yang kami amati di platform kami, para tutor bintang adalah hal yang benar-benar nyata di sini. “Star Power” adalah sesuatu. Dan contoh terbaiknya adalah founder Zenius, yang merupakan star tutor. Dia memiliki banyak pengikut di Twitter dan Instagram. Dia adalah brand dalam dirinya sendiri, dan dia bisa mendapatkan mulai dari 500 hingga 1.000 siswa yang belajar melalui live class untuk persiapan ujian kami setiap Senin malam. Jadi tutor semacam ini memang memiliki kemampuan untuk membangun kredibilitas untuk sebuah platform. Dan tentu saja tidak mudah untuk mendapatkan orang-orang seperti ini. Jadi kami memiliki program pengembangan tutor, di mana kami berinvestasi dalam menemukan guru terbaik di masa depan, dan pada dasarnya merekrut, melatih, dan mengembangkan keterampilan mereka sehingga mereka menjadi guru yang fantastis bagi siswa.

ALAN 18:49
Bagus sekali. Jadi jelas, setidaknya dari percakapan kami sejauh ini, bahwa keunggulan Zenius yang paling mendominasi dan menunjukkan keberhasilan adalah dalam persiapan ujian masuk universitas. Bisakah Anda memberikan gambaran kepada kami seberapa lazim persiapan ujian masuk universitas di kalangan siswa, dan bagaimana hasilnya sejauh ini?

ROHAN MONGA 19:07
Persiapan ujian adalah bagian kecil dari keseluruhan pasar, yaitu kurang dari 2%, atau sekitar 800.000 siswa. Tapi kami menganggap bagian tersebut sebagai segmen paling penting untuk platform edtech. Karena keinginan untuk membayar yang tinggi, dan brand yang mampu mengatasi hal tersebut secara sukses dipandang memiliki kualitas yang baik. Dan pada akhirnya, begitulah pendidikan, bukan? Ini semua tentang menjual kepercayaan dan kredibilitas. Jadi sulit untuk memperkirakan seberapa lazim persiapan ujian masuk universitas di kalangan siswa.Tetapi ketika kami menggratiskan konten, kami memiliki lebih dari 200.000, atau sekitar 30% dari pihak yang membuat ujian menggunakan platform kami. Dan hasilnya, kami memiliki hasil pembelajaran yang luar biasa. Kami melakukan survei kepada 30.000 responden, dan 15.000 dari mereka lulus ujian dan masuk ke perguruan tinggi pilihan mereka dengan platform kami. Jadi tingkat kelulusan tersebut sebesar 50%, dan dua kali lipat tingkat penerimaan nasional. Dan baru-baru ini, kami menjalankan survei serupa tetapi ke pengguna premium kami, dan angkanya mendekati 70%. Jadi, menurut kami, kami telah memberikan hasil pembelajaran yang luar biasa, dan itu tergantung pada apakah siswa dapat lulus ujian dan masuk ke kampus impian mereka, bukan?

ALAN 20:13
Tentu. Sekarang, Zenius mengklaim memiliki perpustakaan konten terbesar di Indonesia dengan lebih dari 100.000 video pembelajaran. Bentuk pembelajaran dan pelatihan seperti apa yang paling kuat yang Zenius miliki?

ROHAN MONGA 20:24
Perpustakaan konten kami secara terbagi menjadi 90% untuk siswa SMU dan 10% untuk siswa SD dan SMP. Dan dari 90% konten yang berfokus pada SMU, sekitar setengahnya adalah untuk persiapan sekolah dan setengahnya lagi untuk persiapan ujian. Baru-baru ini, kami mulai mempercepat produksi konten kami di segmen yang lebih muda karena kami berencana untuk meluncurkan aplikasi baru yang berfokus pada sekolah dasar. Dan saat kami bertransformasi dari platform yang berfokus pada sekolah menengah menjadi platform pembelajaran seumur hidup (lifelong learning), saya pikir pangsa pasar di sekolah menengah mungkin akan berkurang seiring berjalannya waktu, tapi kami akan memiliki segmen untuk pasar yang lebih muda dan lebih tua dengan konten yang kami miliki 

ALAN 21:04
Lalu, apa yang dijanjikan, dan batasan dalam penerapan AI untuk edtech? Saya mengerti, misalnya, saat Zenius meluncurkan ZenCore pada bulan Juni 2021, Zenius mendeskripsikannya sebagai “permainan pembelajaran adaptif yang berfokus pada peningkatan keterampilan fundamental melalui pembelajaran aktif untuk mengatasi platform churn dari segmen yang kurang terampil”. Bisakah Anda menjelaskan lebih lanjut mengenai hal ini?

ROHAN MONGA 21:37
Tentu. Platform churn telah menjadi isu besar bagi edtech di Indonesia. Dan alasannya adalah karena adanya kesenjangan keterampilan. Sebagai gambaran, di kelas 12, hanya 25% siswa yang mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Jadi dalam sistem pendidikan, terdapat sekitar 25% siswa yang terampil, sedangkan 75% siswa lainnya kurang terampil. Nah, jika kita bandingkan dengan negara-negara seperti Singapura, Vietnam, atau Korea; persentase siswa yang terampil cenderung lebih dari 50%. Hasil ujian PISA dari negara-negara tersebut pun memperkuat hal tersebut. Jadi, jika Anda mencoba membangun sebuah brand di Indonesia, Anda perlu jutaan dolar untuk pemasaran dan membangun brand. Tetapi karena masalah struktural tersebut, retensi di edtech akan lebih rendah daripada industri lain. Pandangan kami adalah bahwa satu-satunya cara untuk membangun engagement dan retensi dalam industri secara berkelanjutan dan terukur adalah dengan menyelesaikan kesenjangan keterampilan ini secara langsung melalui teknologi AI yang mempersonalisasi pengalaman belajar pengguna dan membangun keterampilannya. Fitur permainan pembelajaran adaptif kami dirancang untuk melakukan hal ini. Dan yang kami perhatikan adalah bahwa konversi kami dengan siswa yang menggunakan permainan ini empat kali lebih tinggi daripada konversi platform kami secara keseluruhan. Insight awal kami dalam membangun produk ini adalah bahwa pengalaman learning-first yang aktif mungkin merupakan pendekatan yang lebih baik untuk anak-anak Indonesia daripada secara pasif. Perjalanan belajar pasif akan menunjukkan video terlebih dahulu, yang merupakan bagian pasif, diikuti dengan beberapa pertanyaan untuk melakukan penilaian di bagian aktifnya. Dengan pengalaman baru yang kami miliki sekarang, siswa dapat mengajukan beberapa pertanyaan dan identifikasi mereka terlebih dahulu, lalu platform akan menampilkan video penjelasan untuk jawaban-jawaban yang salah. Ini adalah cara belajar yang jauh lebih efisien. Sekarang, pendekatan seperti ini memungkinkan kita membangun pengalaman belajar yang lebih terasa seperti permainan. Selain lebih menyenangkan, kita bisa memasukkan elemen sosial ke dalamnya. Karena anak-anak Indonesia sangat sosial, mereka lebih termotivasi untuk belajar dengan teman-teman mereka ataupun secara mandiri. Meski kita belum tahu hasilnya, menurut kami, metode pembelajaran aktif lebih baik daripada metode pasif di waktu mendatang.

ALAN 23:46
Saya paham. Saat ini, bukankah tantangan terbesar kita untuk tumbuh dan sukses adalah kurangnya konektivitas internet di Indonesia, kecepatan yang rendah, serta terbatasnya jumlah smartphone dan komputer secara umum? Bagaimana Anda menyiasatinya?


ROHAN MONGA 24:06
Nah, hal tersebut tentu menjadi tantangan tersendiri di negara kepulauan yang begitu besar seperti Indonesia. Tetapi jika kita melihat beberapa metrik sederhana untuk pengguna aktif bulanan di YouTube yang mencapai 85 juta, atau Instagram yang mendekati 70 juta, hal tersebut menunjukkan fakta bahwa platform yang didorong oleh streaming dan konten tampaknya tumbuh dengan sangat cepat, dan hal tersebut didukung oleh penetrasi konektivitas internet dan perangkat di Indonesia. Jadi saya pikir masalah konektivitas internet dan perangkat bukan menjadi faktor pembatas. Menurut saya, faktor pembatas yang lebih besar adalah masalah akses, kembali lagi ke masalah fundamental; bahwa anak-anak memiliki keterampilan fundamental yang buruk. Dan jika kita memecahkan masalah ini secara tuntas, maka hal itu akan sangat membantu merevolusi pembelajaran di Indonesia.

ALAN 25:02
Masuk akal. Rohan, edtech telah mendapat modal ventura paling intensif dalam kategori teknologi di Indonesia, saya berasumsi sebagian besar disebabkan oleh dimensi masalah dan peluang yang telah kita bahas di bagian atas podcast ini. Apakah kami melihat adanya tekanan pada metrik-metrik seperti pengguna aktif bulanan (MAU)? Apakah tingkat retensi siswa menurun? Apakah lebih sulit untuk memperoleh pengguna baru? Apakah kita melihat persaingan telah berubah?

ROHAN MONGA 25:34
Yah, saya pikir metrik-metrik kami terus menunjukkan pertumbuhan. Dan sejak pertama kali saya bergabung, kami telah mencapai pertumbuhan sebanyak 10X. Dan sekarang kami fokus pada pertumbuhan 10X selanjutnya. Tingkat retensi kami juga terus meningkat, dan yang terbesar ada di segmen live streaming, diikuti oleh pengguna yang belajar secara mandiri, dan kemudian diikuti oleh pengguna gratis. Kelas belajar gratis tentu saja merupakan masalah yang sulit untuk dipecahkan. Tapi kami akan menyelesaikannya dan itu hanya masalah waktu. Retensi dari pengguna gratis akan benar-benar mendorong pertumbuhan pada seluruh kategori. Saya rasa biaya untuk mendapatkan siswa baru tetap stabil dibandingkan dengan tahun lalu. Dan hal tersebut didorong oleh akuisisi organik dari platform kami yang memiliki daya tarik sangat kuat dan turunnya CPI (cost per install) kami. Menurut saya, Zenius sedang menuju ke arah yang tepat, dan semoga tren ini akan tetap sama untuk tahun-tahun mendatang.

ALAN 26:28
Kedengarannya baik untuk bisnis saat ini. Rohan, mari kembali ke pembahasan "gelas setengah penuh” dan “gelas setengah kosong". Ini mungkin bukan pertanyaan yang adil, tapi menurut Anda, apa yang perlu dilakukan untuk peringkat matematika Indonesia, yang dalam survei PISA berada di peringkat 73 dari 79 agar bisa naik, mungkin 40 dari 79 dalam kurun waktu 10-15 tahun ke depan?

ROHAN MONGA 26:54
Sekali lagi, di Zenius, kami selalu melihat “gelas yang setengah penuh”. Dan saya pikir hal utama yang perlu dilakukan adalah membuat anak-anak kembali mencintai belajar, dan menjadi kecanduan belajar. Sekarang, walau mungkin terdengar terlalu dibuat-buat, tetapi kami pikir itu hal yang mungkin. Untuk mewujudkan misi kami dalam memicu kecintaan belajar pada anak-anak, kami perlu membuat metode pembelajaran dengan gamifikasi dan menyenangkan. Kami menggunakan teknologi AI untuk mempersonalisasi pembelajaran, dan kami menawarkan konten yang menghibur serta mendidik, atau yang kami sebut dengan “edutainment” untuk menjaga engagement anak-anak, terutama di zaman seperti sekarang ini di mana perhatian siswa semakin rendah. Platform yang dapat menghibur anak-anak akan memungkinkan peningkatan keterampilan. Dan saya pikir Zenius dapat membuat belajar menjadi sangat menyenangkan, menjaga engagement anak-anak, dan menyalurkan bakat yang dibutuhkan Indonesia untuk bersaing di skala global.

ALAN 27:47
Saya mengerti. Jika saya bersikap pesimis dengan prospek peningkatan standar pendidikan masyarakat Indonesia, dapat saya katakan bahwa saya merasa jauh lebih optimis mengenai prospek kemajuan ini di bawah inisiatif Zenius dan platform lainnya. Terima kasih banyak telah bergabung dengan kami hari ini.

ROHAN MONGA 28:04
Terima kasih banyak telah mengundang saya, Alan. Saya sangat menghargainya.

ALAN 28:07
Sama-sama. Kami berharap pendengar kami dapat menikmati episode hari ini. Seperti biasa, mohon berikan feedback yang Anda miliki tentang podcast Indo Tekno. Terima kasih telah mendengarkan. Sampai jumpa lagi!