TRANSKRIP
EPISODE 35

Episode Tigapuluh Lima

Hidup Sehat & Teknologi:

Shinta Nurfauzia dari Lemonilo

7 September 2021

ALAN  0:12  
Selamat datang di episode ke-35 Podcast Indo Tekno musim kedua. Selamat datang, semuanya! Saya Alan Hellawell, Pendiri konsultan teknologi Gizmo Advisors, dan Venture Partner di Alpha JWC Ventures. Saat ini, menurut laporan Food Industry Asia (FIA), dan firma riset IGD, hampir semua konsumen di Indonesia (atau 99%) tertarik untuk memperbaiki pola makan mereka dan mayoritas dari mereka (sekitar 89%) sangat ingin memiliki produk yang diformulasi ulang, namun tidak mengubah rasanya. Faktanya, selama pandemi COVID 19, kategori produk yang paling banyak dibeli oleh konsumen di Indonesia adalah produk kesehatan, yaitu sebesar 77%, berdasarkan laporan PwC di bulan Agustus. Kami dengan bangga mengundang Bu Shinta Nurfauzia, sebagai salah satu pendiri dan salah satu CEO merek makanan sehat terkemuka Lemonilo, ke Podcast Indo Tekno hari ini. Terima kasih telah bergabung bersama kami hari ini, Bu Shinta.


SHINTA NURFAUZIA  1:17  
Hai, Alan. Saya senang sekali berada di sini setelah beberapa waktu kita berbincang.

ALAN  1:23  
Baik. Nah, sekarang Shinta, perjalanan Anda dalam bidang wirausaha sudah dimulai sejak beberapa waktu lalu. Tolong jelaskan secara khusus tentang "The Pancake Company", dan “ComeBAGtome”.


SHINTA NURFAUZIA  1:34  
Tentu. Sudah lama sekali sejak terakhir kali saya membahasnya. The Pancake Company adalah cerita yang menarik. Saya memulai The Pancake Company sejak di akhir sekolah dasar hingga saya duduk di bangku SMP. Hal itu berlanjut hingga saya menuntut ilmu di SMA. Saya memulainya hanya sebagai sesuatu yang bisa saya jual kepada teman dan keluarga. Saya juga mulai menawarkannya di berbagai festival musik untuk remaja. "ComeBAGtome" juga sebenarnya sama. Ini adalah sesuatu yang awalnya dibangun untuk teman dan keluarga. Saya memulainya di media sosial, mengembangkannya dengan beberapa teman. Akhirnya saya menghentikannya karena terlalu sibuk dengan sekolah dan beberapa hal lainnya. Itulah yang menjadi awal pertemuan saya dengan kewirausahaan.

ALAN  2:27  
Dan itu terjadi di tahap yang sangat awal. Saya sangat terkesan. Sekarang, Shinta, jika saya hanya melihat pendidikan Anda dan beberapa pekerjaan awal Anda, saya akan meramalkan bahwa Anda akan menjadi pengacara perusahaan terkemuka di wilayah Jakarta. Tapi Anda tidak. Apa yang terjadi?

SHINTA NURFAUZIA  2:42  
Anda benar sekali. Saya sebenarnya seorang lulusan dari fakultas hukum di salah satu universitas di Indonesia. Kemudian, saya mengambil Magister Hukum di Amerika Serikat. Lalu saya memutuskan bahwa ini bukan sesuatu yang ingin saya kejar. Alasan saya ingin mengambil fakultas hukum adalah karena saya percaya bahwa hukum akan menjadi bidang yang bisa membawa saya lebih dekat dengan impian saya. Impian saya adalah, mungkin terdengar klise, ingin memberikan dampak yang baik bagi masyarakat. Dan pada saat itu, seperti remaja lainnya, saya bingung dengan apa yang ingin saya lakukan dalam hidup saya. Kebetulan, keluarga saya memiliki pengalaman di bidang hukum. Ibu saya lulus dari sekolah hukum, tetapi beliau juga berbisnis. Jadi saya selalu ragu-ragu untuk memilih antara bisnis dan hukum. Tapi akhirnya saya kuliah di fakultas hukum. Dan setelah saya menjadi pengacara selama lebih dari lima tahun, saya memutuskan bahwa ini bukanlah sesuatu yang cocok untuk saya. Di saat saya bingung dengan perjalanan hidup saya, saya memutuskan bahwa inilah saatnya untuk mengambil cuti dan mengambil gelar Master. Saya mengambil gelar Master karena saya sangat bingung dengan apa yang ingin saya lakukan dalam hidup, karena saya sudah memiliki pengalaman ketika saya memulai ComeBAGtome dan The Pancake Company. Namun di saat itulah, selama saya mengambil gelar Master, saya bertemu Johannes dan Ronald, yang membuat saya memiliki keberanian untuk memulai Konsula dan kemudian di Lemonilo.

ALAN  4:16  
Terima kasih atas penjelasan latar belakangnya. Kalau tidak salah, Anda memulai Lemonilo di awal tahun 2015. Bisakah Anda ceritakan lebih banyak tentang "kisah awal" berdirinya Lemonilo?

SHINTA NURFAUZIA  4:28  
Ketika saya sedang menyelesaikan gelar Master, saya bertemu dengan Johannes. Selama saya di sana, kami mengikuti beberapa kompetisi bisnis. Dan kemudian kami berpikir: "Hei, ini menyenangkan. Ini adalah sesuatu yang bisa kita lakukan bersama". Kemudian kami berdiskusi lebih lanjut dan memutuskan untuk membuat perusahaan bersama. Melalui seorang teman, kami diperkenalkan dengan Ronald. Akhirnya kami bertiga ngobrol lewat Skype waktu itu, karena Ronald sudah ada di Jakarta. Kami berbicara tentang sektor apa yang membuat kami tertarik, karena kami bertiga memiliki minat yang sama dalam hal menciptakan dampak dan memberikan kontribusi bagi Indonesia. Kami tahu bahwa kami ingin melakukannya melalui bisnis. Kami cukup agnostik dalam menentukan pilihan sektor. Tapi secara pribadi, saya selalu tertarik dengan kesehatan, karena menurut saya kesehatan adalah sesuatu yang belum cukup mendapat perhatian di Indonesia. Masih banyak orang di Indonesia yang belum melakukan gaya hidup sehat dan pada akhirnya menderita penyakit tidak menular seperti diabetes, atau penyakit jantung. Faktanya, tingginya angka kematian akibat penyakit-penyakit tersebut membuat Indonesia berada di peringkat atas. Jadi kami berpikir, "Hei, mari kita ciptakan sesuatu untuk kesehatan". Namun saat itu di tahun 2015, yang ingin kami lakukan pada awalnya adalah membuat direktori dokter, seperti Zocdoc di Amerika Serikat. Jadi kami membuat Konsula. Itu sebenarnya perusahaan pertama kami bersama. Setelah sekitar satu tahun, kami memutuskan bahwa ini bukan sesuatu yang ingin kami kejar. Dan kami beralih dari merawat orang sakit, menjadi merawat orang sehat. Karena kami berpikir bahwa yang bermasalah di Indonesia adalah gaya hidup sehat. Kita dapat mengatakan bahwa semua orang di Indonesia tahu bahwa mereka harus menjalani gaya hidup sehat. Tapi jika kita melihat ke dalam makanan khas Indonesia, makanan-makanan itu mengandung kolesterol, natrium, gula, dan pengawet yang sangat tinggi. Faktanya, makanan tradisional kita, misalnya, mengandung kalori yang sangat tinggi, serta beberapa hal yang tidak seharusnya Anda makan setiap hari. Jadi kami berpikir, apa artinya? Apa arti makanan khas Indonesia ini bagi masyarakat kita? Dan ternyata di Indonesia, jika kita lihat pada Januari hingga Maret 2019 saja, pemerintah telah menghabiskan sekitar USD400 juta hanya untuk menanggulangi penyakit tidak menular seperti stroke, penyakit jantung, dan diabetes. Dan pola makan masyarakat, serta kebiasaan untuk tidak menjalani gaya hidup sehat, telah mengakibatkan masalah nasional. Inilah yang menjadi dasar kami menciptakan Lemonilo, yang merupakan perusahaan barang konsumsi, didukung oleh teknologi, untuk menciptakan makanan sehat yang bisa dikonsumsi sehari-hari.

ALAN  7:36  
Jadi Bu Shinta, boleh ceritakan tentang target demografis Anda.

SHINTA NURFAUZIA  7:39  
Target demografis kami adalah ibu dan anak, khususnya ibu-ibu milenial. Saat ini para ibu milenial umumnya memiliki satu atau dua anak, dan berusia 30-an. Tapi sungguh, saat ini hampir semua orang di Indonesia sudah mengenal Lemonilo. Setelah survei yang kami lakukan dengan Nielsen, kami juga terkejut bahwa ternyata kami telah memperluas target demografis kami, bahkan untuk orang yang lebih muda dan juga orang yang lebih tua. Karena ketika Anda menargetkan para ibu, mereka adalah pengambil keputusan yang memberikan makanan untuk semua orang di keluarga itu. Jadi kami sangat bersyukur untuk itu.

ALAN  8:23  
Terima kasih atas penjelasannya, Shinta. Sekarang, apa tiga produk teratas Lemonilo saat ini?

SHINTA NURFAUZIA  8:27  
Tiga produk teratas berdasarkan kategori adalah: 1) mi instan, 2) makanan ringan, dan juga 3) bumbu. Jika kita berbicara tentang SKU (unit penyimpanan stok), tiga teratas adalah semua mi instan kami, yang meliputi rasa mi goreng, kari ayam, dan juga ayam bawang.

ALAN  8:51  
Fantastis. Dan Shinta, tolong jelaskan secara spesifik apa yang dimaksud sebagai "wiranilo"?

SHINTA NURFAUZIA  8:55  
Wiranilo adalah program reseller baru kami. Wiranilo dibuat dengan gagasan setelah sebagian besar komunitas kami bertanya kepada kami, baik melalui media sosial maupun email, tentang bagaimana cara menjual produk Lemonilo, dan apakah mereka dapat menjual produk Lemonilo kepada teman dan keluarga mereka. Kami melihat ini sebagai peluang untuk memberdayakan komunitas kami, yang sebagian besar terdiri dari ibu dan pelajar, untuk tidak hanya menjadi penggemar Lemonilo, tetapi juga menjadi duta Lemonilo dan memperkenalkan produk kami kepada teman, keluarga, serta komunitas mereka.

ALAN  9:36  
Mengagumkan. Jadi akankah Anda menggambarkan Wiranilo sebagai agen jaringan Lemonilo?

SHINTA NURFAUZIA  9:40  
Ya, benar sekali.

ALAN  9:43  
Fantastis. Itu merupakan area pertumbuhan yang sangat kuat dalam e-commerce secara umum. Sekarang, Bu Shinta, kami menyatakan bahwa: "Kami menerapkan teknologi, tidak hanya untuk menghadirkan pengalaman gaya hidup yang lebih baik kepada pelanggan kami, tetapi juga untuk memberdayakan UKM dalam mengembangkan produk, kualitas, dan skala mereka". Bagaimana tepatnya Lemonilo menerapkan teknologi sebagai bagian dari proposisi nilainya?

SHINTA NURFAUZIA  10:08  
Seperti yang sudah saya katakan, Lemonilo adalah perusahaan konsumen berbasis teknologi. Apa artinya? Saya rasa berbeda dari kebanyakan perusahaan FMCG di Indonesia, saat pertama kali meluncurkan produk kami, semuanya kami luncurkan secara online. Peluncuran semuanya secara online, khususnya melalui platform kami, telah membantu kami mendapatkan masukan dari komunitas online kami. Dengan meluncurkan produk tersebut, dan mendapatkan data dari pembelian, kami juga dapat mengirimkan survei konsumen kami untuk mengetahui apa yang mereka pikirkan tentang produk kami. Jadi, jika Anda membeli produk kami melalui platform Lemonilo, Anda akan mendapatkan survei dari waktu ke waktu yang menanyakan: "Apa pendapat Anda tentang rasanya? Bagaimana menurut Anda tentang harganya? Menurut Anda apa yang bisa kami tingkatkan? Bagaimana menurut Anda tentang tingkat kemanisannya?" Jika Anda menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, Anda bisa mendapatkan voucher, misalnya. Kami mengirimkan survei ini secara rutin, dan hasilnya menjadi masukan bagi kami untuk meningkatkan produk. Ketika produk kami berhasil secara online, kami mendorong dan meningkatkan produk ini secara offline. Alasannya adalah karena kebutuhan sembako di Indonesia pembeliannya sebagian besar dilakukan secara offline. Peluncuran produk secara online juga memungkinkan kami untuk bekerja sama dengan UKM. Apa yang saya maksud dengan UKM? Misalnya, pabrik skala kecil. Dan pabrik dengan skala yang lebih kecil ini akan mengetahui cara kerja Lemonilo, dan serta adanya kemungkinan untuk meningkatkan produk bersama kami.

ALAN  11:48  
Saya paham. Jadi dalam banyak hal, Lemonilo bisa dibilang dimulai sebagai produk digital native. Dan Anda menggunakan masukan dari pelanggan online Anda untuk kemungkinan memperbaikinya, dan kemudian Anda menghadirkannya secara offline. Apakah itu sering terjadi?

SHINTA NURFAUZIA  12:01  
Itu sering terjadi. Dan itu sebenarnya contoh kasus untuk produk kami yang paling sukses. Ini menjadi model di semua produk kami.

ALAN  12:11  
Sungguh mengesankan. Jadi itu semacam "O2O", model teknologi konsumen online ke offline.. Sekarang, Shinta, mengutip beberapa penjelasan dari situs web, yang juga menyatakan bahwa: "Kami bekerja sama dengan berbagai mitra, dari UKM hingga perusahaan skala besar dalam upaya kami menyediakan produk berorientasi solusi untuk memastikan gaya hidup sehat." Bagaimana sebenarnya UKM ikut berperan dalam hal ini?

SHINTA NURFAUZIA  12:36  
Ya, ketika kami pertama kali membuat produk, beberapa produk sangat membutuhkan penyesuaian. Untuk melakukan penyesuaian ini, kita lebih mudah bekerja sama dengan perusahaan berskala kecil, dalam hal ini UKM. Jenis perusahaan UKM ini masih menerima kustomisasi dan juga komitmen dengan volume yang lebih rendah. Tapi kemudian jika kita langsung terjun bekerja dengan pabrik yang lebih besar, biasanya melibatkan komitmen volume yang lebih tinggi. Pabrik-pabrik besar terkadang tidak mau melakukan kustomisasi. Jadi ini yang saya maksud dengan meluncurkan online terlebih dahulu. Kami melakukan berbagai penyesuaian bersama dengan mitra UKM kami. Ketika kami bisa berjalan dengan komitmen volume yang lebih tinggi, kami selalu bekerja sama dengan mitra UKM ini, memberdayakan mereka sekaligus meningkatkan kapasitas mereka. Jadi keindahan model ini sebenarnya adalah mereka bisa maju bersama dan ikut dengan kami. Jika kami berhasil meningkatkan produk mereka, maka mereka juga akan dapat meningkatkan pabrik dan kapasitas mereka.

ALAN  13:56  
Memukau. Jadi ada lebih dari satu dimensi untuk misi kami. Kami tidak hanya mendorong rekan-rekan kami menuju gaya hidup yang lebih sehat, tapi kami juga mencoba bekerja sama dengan UKM untuk membantu mereka tumbuh dan meningkatkan dampaknya.

SHINTA NURFAUZIA  14:12  
Ya. Merupakan kebahagiaan bagi saya secara pribadi ketika melihat bahwa mitra UKM kami saat ini dapat meningkatkan kapasitasnya dan juga kualitasnya. Proses pemilihan mitra kami cukup sulit, karena kami memiliki standar yang sangat, sangat tinggi. Meskipun kami bekerja dengan lebih sedikit UKM bila dibandingkan dengan pelaku e-commerce, saya pikir ini adalah komitmen yang lebih dalam, dalam arti tertentu, karena ini bukan hanya sekali, tetapi mereka dapat tumbuh bersama kami.

ALAN  14:43  
Mengagumkan. Sekarang, Shinta, apakah ada fakta dan angka yang berkaitan dengan keadaan kesehatan atau kebugaran di Indonesia; seperti misalnya tingkat obesitas, tingkat kejadian penyakit, dll, yang memotivasi Anda untuk mencapai lebih dalam kategori tersebut?

SHINTA NURFAUZIA  14:59  
Jika kita berbicara tentang penyakit tidak menular (PTM), di Indonesia melibatkan stroke, penyakit jantung, diabetes, 73% kematian di Indonesia disebabkan oleh PTM. Jika melihat kondisi saat ini, 90% kematian COVID-19 di Indonesia disebabkan oleh penyakit penyerta. Penyakit penyerta tersebut antara lain stroke, penyakit jantung, dan diabetes. Jadi inilah yang menurut saya sangat penting dan mendesak bagi kita bersama untuk mengubah cara kita mengonsumsi sesuatu dan melakukan aktivitas untuk menjadi bangsa yang lebih sehat.

ALAN  15:38  
Itu adalah beberapa fakta dan angka yang menarik. Seberapa penting pesan pemasaran bagi Lemonilo? Dan bagaimana Anda bisa sampai pada penentuan posisi hingga saat ini?

SHINTA NURFAUZIA  15:47  
Pesan pemasaran yang ingin disampaikan tentu saja sangat penting bagi setiap perusahaan, termasuk Lemonilo. Untuk Lemonilo, pemasarannya agak rumit. Kenapa saya bilang "rumit"? Karena di Indonesia, gaya hidup sehat bukanlah sesuatu yang alami. Jadi langkah pertama yang harus kita ambil dalam pemasaran kita adalah mengedukasi pasar tentang pentingnya gaya hidup sehat. Jika Anda melihat pesan pemasaran kami, hampir 60% sebenarnya tentang pendidikan kesehatan, dan 40% atau kurang tentang hard selling. Jadi kalau kita buat konten di media sosial, misalnya, tentu kita bicara soal hard selling, promosi, diskon, produk baru. Tapi kita juga berbicara tentang apa artinya menjadi sehat? Mengapa bahan-bahan ini buruk untuk Anda? Mengapa bahan-bahan ini baik untuk Anda? Apa artinya makan sehat? Dan semua itu, kegiatan yang harus kita lakukan agar sehat, pendidikan. Dan bahkan dalam sitkom-sinetron populer terpilih yang ada di Indonesia, kami tidak hanya berbicara tentang "Beli produk kami! Beli produk kami!" Tapi kami juga membahas apa masalahnya, apa solusinya, dan mengapa produk Lemonilo bisa menjadi bagian dari solusi itu. Jadi ya, pesan pemasaran sangat penting bagi kami. Penting melalui pesan pemasaran kami bahwa kami dapat mendidik pasar, tetapi juga tentang bersikap jujur. Kami tidak pernah mengatakan misalnya, bahwa Anda harus makan produk Lemonilo hanya untuk menjadi sehat. Apa yang selalu kami katakan adalah bahwa "Ini adalah fakta jika Anda ingin sehat". Dan jika Anda membutuhkan makanan instan, yang terbaik sejujurnya adalah produk Lemonilo karena bahan-bahan yang kami miliki bersih, dan kami memiliki proses yang lebih baik.

ALAN  17:46  
Dipahami. Jadi jelas, ada unsur pendidikan yang besar dalam dampak yang ingin kita berikan kepada masyarakat Indonesia. Sekarang saya ingin kembali ke referensi Anda sebelumnya tentang COVID-19. Bagaimana pandemi berdampak pada Lemonilo?


SHINTA NURFAUZIA  18:02  
Lagi-lagi, COVID-19 menjadi tantangan nyata bagi seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Beberapa bulan yang lalu, kami dihantam gelombang Delta dan kasus positif kami melonjak ke titik yang belum pernah kami alami sebelumnya. Perekonomian Indonesia terhenti sejenak saat gelombang Delta berlangsung. Ada laporan yang menyebutkan mobilitas negara ini tertahan sekitar 30% dan itu menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat besar. Untuk pasar FMCG, banyak perusahaan dan kategori yang mengalami penurunan. Tapi kami sangat berharap pertumbuhan Indonesia akan kembali. Dan faktanya, begitu pandemi bisa dikendalikan, ekonomi akan kembali berjalan.


ALAN  18:58  
Kita semua berharap demikian. Sekarang, Shinta, mungkin ini pertanyaan yang lebih pribadi. Maukah Anda berbagi bagaimana menyeimbangkan peran sebagai ibu dengan sambil berwirausaha? Saya menyimpulkan bahwa Anda adalah ibu dari seorang anak laki-laki yang sangat sehat. Dan saya percaya Anda sedang di jalan untuk memiliki satu lagi. Jadi, saran apa yang Anda miliki untuk calon ibu-pengusaha lainnya?


SHINTA NURFAUZIA  19:17  
Pertanyaan yang sangat menarik, Alan. Terkadang, seperti setiap ibu di dunia, saya juga tidak tahu bagaimana saya melakukannya. Saya hanya melakukannya begitu saja. Tapi saya pikir yang paling penting adalah mengetahui bahwa Anda tidak sendirian dalam melakukan ini. Baik Anda seorang pengusaha atau apakah Anda seorang ibu yang bekerja. Bila Anda seorang ibu yang tinggal di rumah, saya pikir penting bagi para wanita dan ibu untuk mengetahui bahwa Anda tidak sendirian dan Anda tidak boleh sendirian. Jika Anda pernah merasa sendirian, Anda harus mencari bantuan. Dan Anda harus menemukan teman untuk menjalaninya. Saya beruntung memiliki para pendukung yang hebat, yang dapat menemani saya dalam perjalanan "mompreneurship" ini. Saya juga memiliki mitra yang hebat. Menjadi seorang pemimpin, dani juga seorang wanita yang memiliki anak, saya pikir itu memberi saya perspektif yang unik. Hal itu membuat saya menyadari bahwa saya berada dalam posisi unik untuk benar-benar memberikan contoh bagi orang lain, tidak hanya untuk individu, tetapi juga untuk perusahaan lain, bagaimana kita seharusnya memungkinkan wanita untuk bekerja, sekaligus menjadi seorang ibu. Bahkan selama hari-hari buruk,  Anda tidak pernah bisa memprediksi apa yang akan terjadi dengan anak-anak. Apa yang mereka inginkan: terkadang Anda berada di tengah rapat, dan "bos kecil" ingin bergabung dalam rapat. Tapi saya pikir kita juga berada dalam kondisi di mana orang sekarang memahami dan lebih mengerti dari sebelumnya. Jadi setiap kali saya rapat, lalu kadang anak saya mau ikut rapat, biasanya kami hanya tertawa. Itu hanya bagian dari kehidupan. Kita harus bisa menerima bahwa hal ini pasti terjadi, dan itu normal.

ALAN  21:09  
Sangat menyenangkan mendengar bahwa kolega dan perusahaan Anda di sekitar ekosistem teknologi menjadi semakin akomodatif dan mendukung apa yang merupakan tantangan unik yang sejujurnya belum pernah saya lalui. Jadi, saya angkat topi untuk Anda. Sekarang Bu Shinta, apa saja kemitraan paling kuat yang telah kami bentuk di Lemonilo.

SHINTA NURFAUZIA  21:27  
Kami telah memiliki banyak mitra yang menemani kami selama perjalanan ini, dan memungkinkan kami untuk berada di posisi ini. Pertama tentu saja mitra UKM. Beberapa kini tidak lagi UKM, sebenarnya. Dan kami sangat senang dengan itu. Mereka telah menjadi perusahaan yang lebih besar. Kami juga memiliki mitra distribusi yang menyalurkan semua mi instan kami ke lebih dari 200.000 titik penjualan di seluruh Indonesia. Juga, hubungan dan kemitraan terpenting yang saya miliki tentu saja, dengan "Lemonions", yaitu orang-orang yang bekerja di Lemonilo, bersama dengan semua co-founder.

ALAN  22:08  
Baik. Jadi, banyak kategori mitra yang berbeda, yang membentuk kesuksesan kami. Bisakah Anda memberitahu kami tentang tujuan Lemonilo di masa depan?

SHINTA NURFAUZIA  22:17  
Saat ini di Indonesia, Lemonilo cukup terkenal sebagai merek mi instan sehat. Kami meluncurkan lebih banyak produk. Dan kami melihat Lemonilo menjadi merek unggulan dari banyak produk. Sekarang orang Indonesia mengenal "Chimi", camilan sehat kami. Kami juga akan meluncurkan lebih banyak produk dalam beberapa bulan mendatang. Dan kedua, Lemonilo juga berencana untuk berekspansi ke negara lain, dan masih banyak lagi hal lainnya.

ALAN  22:55  
Jadi Shinta, pasti ada sesuatu terus Anda pikirkan. Apa yang paling Anda khawatirkan sebagai pengurus bisnis?

SHINTA NURFAUZIA  23:01  
Sejujurnya, setiap hari pasti berbeda. Tapi yang saya pikirkan 90% dari itu adalah tentang Lemonilo, karena saya beruntung memiliki keluarga yang sangat mendukung, dan anak yang sehat. Hal itu membuat pikiran saya bisa diisi dengan segala sesuatu. Salah satunya adalah, akhir-akhir ini selama gelombang Delta, saya sudah berpikir, tentu saja, tentang dampak pandemi ini ke Lemonilo. Dan apa saja produk yang perlu kita kembangkan? Karena kita tahu kebutuhan masyarakat berubah dengan adanya pandemi, dan bagaimana Lemonilo bisa berada dalam posisi untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat.

ALAN  23:47  
Itu sangat masuk akal, dan Anda jelas berada dalam posisi yang sangat penting untuk memengaruhi perubahan semacam itu. Bu Shinta, kami sangat menghargai Anda berbagi dengan audiens kami tentang perjalanan pribadi Anda, bersama dengan kisah Lemonilo dan misinya untuk mengantarkan sesama orang Indonesia ke kebiasaan yang lebih sehat dan gaya hidup yang lebih baik secara umum. Terima kasih banyak telah bergabung dengan kami hari ini.

SHINTA NURFAUZIA  24:06  
Terima kasih, Alan. Sebuah kebanggan bagi saya bisa berada di sini.

ALAN  24:10  
Baik, kami berharap para pendengar kami menikmati episode hari ini. Seperti biasa, kami juga untuk memberikan masukan apa pun yang Anda miliki tentang podcast Indo Tekno dengan kami. Terima kasih telah mendengarkan. Sampai jumpa lagi!