TRANSKRIP
EPISODE 23

Episode Duapuluh Tiga

 

Jalan dari 2% menjadi 12%:

Brian Marshal & Andreas Thamrin dari SIRCLO
 

15 Jun 2021

ALAN 0:11
Selamat datang di musim ke-dua dari podcast Indo Tekno episode ke-23, Selamat datang semuanya!

Saya Alan Hellawell, Pendiri konsultan teknologi Gizmo Advisors dan Venture Partner di Alpha JWC Ventures.
 
Menurut portal penelitian online Statista, Tiongkok mencatat gross merchandise value, atau singkatnya GMV, untuk e-commerce pada 2020 dengan total RMB11,3 triliun yang luar biasa. Angka tersebut mewakili lebih dari 12% dari PDB (Produk Domestik Bruto) Tiongkok tahun lalu. Angka tersebut juga naik sekitar 0% dari 15 tahun sebelumnya. 

GMV e-commerce Indonesia pada tahun lalu mencapai USD40 miliar, yang mana hanya mencakup 1,5% dari PDB negara, dan dengan demikian menunjukkan keuntungan besar jangka panjang untuk penjualan online. 

Tamu hari ini, Brian Marshal dan Andreas Thamrin, adalah Co-founders SIRCLO, salah satu e-commerce enabler terdepan di Indonesia. Tujuan utama SIRCLO adalah membantu brands UMKM serta enterprise untuk berjualan online. 

Bapak-bapak, saya nantikan diskusi terkait prospek pertumbuhan e-commerce Indonesia di masa depan dengan Anda hari ini. Terima kasih banyak telah bergabung.


BRIAN MARSHAL 1:23
Hai, Alan. Terima kasih karena telah menerima kehadiran saya di sini hari ini. 


ANDREAS THAMRIN 1:25
Hai, Alan. Terima kasih karena telah menerima kehadiran saya. Sangat bersemangat untuk bisa mengobrol dengan Anda. Saya juga sudah lama menjadi pengikut podcast Anda.


ALAN 1:32
Kalian sangat baik. Saya mengetahui bahwa Brian hari ini berada di Jakarta. Dan Andreas, Anda berada di Sydney, jika saya tidak salah

Jadi kami memiliki forum yang benar-benar dari berbagai negara hari ini. Sekarang, Brian, mungkin dimulai dengan Anda: Bisakah Anda berbagi tentang latar belakang dari SIRCLO?


BRIAN MARSHAL 1:50
Jadi pada tahun 2013, tepatnya delapan tahun yang lalu, saya pikir saat itu adalah hari ketika banyak teman yang seumuran dengan saya, memulai bisnis mereka sendiri.

Ketika mereka memulai bisnis mereka, banyak dari mereka mencari peluang di ranah online. Banyak dari mereka mulai berjualan dari messaging apps atau forum untuk berjualan online. Tapi kemudian, setelah beberapa waktu, begitu mereka ingin menjadi lebih profesional, mereka akan mencari opsi untuk menjual di webstore; untuk berjualan online. Dan hal tersebutlah yang menjadi awal dari solusi pertama kami, yang kami sebut ke SIRCLO Store. 

Pada tahun 2016 atau awal 2017, saat itulah kami memperluas bisnis ecommerce enabler kami, yang berfokus pada marketplace, yang utamanya merupakan bentuk adaptasi dari situasi pasar saat itu, ketika marketplace mulai memimpin pertumbuhan e-commerce. 

Dan tahun lalu, kami memperluas lagi ke lini bisnis lain, yang pada dasarnya adalah solusi software e-commerce untuk enterprise, dengan mengakuisisi perusahaan bernama ICUBE. Setelah menerima banyak masukan dan permintaan dari klien enterprise untuk memiliki solusi yang lebih terkustomisasi dan canggih.


ALAN 2:56
Dan untuk memperjelas, Brian, ketika Anda menyebutkan marketplace, Anda mengacu pada Shopee, Tokopedia dan Bukalapak, apakah itu benar?


BRIAN MARSHAL 3:04
Tepat. Benar.


ALAN 3:06
Fantastis. Itu latar belakang yang sangat membantu untuk memulai diskusi ini. Sekarang Andreas, jika Anda tidak keberatan, dapatkah Anda memberitahu kita seberapa banyak pekerjaan yang kita jalankan hari ini portabel (dapat diadaptasi) untuk pasar lain di wilayah ini? Dan berapa banyak yang akan Anda katakan benar-benar bekerja hanya di Indonesia?


ANDREAS THAMRIN 3:23
Itu pertanyaan yang bagus, Alan. Saya pikir menjadi perusahaan teknologi, dan teknologi menjadi bagian dari solusi kami; adalah bagian pertama dari apa yang biasa disebut sebagai pekerjaan portabel, saya kira, yang seharusnya dapat berpindah ke berbagai wilayah berbeda atau atau berpindah dari bagian berbeda dari wilayah tersebut. 

Anda dapat menjual software yang sama hampir di mana saja, selama Anda memiliki tim lokal yang tepat, yang mendukung dan sebagainya. Tapi saya pikir jika kita berbicara tentang sisi bisnis enabler, SIRCLO Commerce, menurut saya itu membutuhkan pemikiran yang lebih dalam. 

Berapa banyak yang ingin Anda lakukan di pasar lokal ketika Anda membuka pasar baru, entah itu di Singapura, Malaysia, Vietnam, dan sebagainya? Berapa banyak yang ingin Anda masukkan ke sana? Apakah hanya BD (Business Development)? Atau apakah Anda ingin menyertakan account manager, customer service, store operation, dan sebagainya? 

Saya pikir topik ini telah banyak diangkat dari waktu ke waktu. Namun sejauh ini, kami tetap fokus pada Indonesia, sebagai pasar terbesar di Asia Tenggara.


ALAN 4:13
Hal tersebut sangat bisa dimengerti. Sekarang Brian, dapatkah Anda menyebutkan beberapa fakta dan angka tentang seberapa banyak kami dapat membantu menumbuhkan GMV (gross merchandise value) suatu brand, meningkatkan efisiensinya, mengurangi biayanya, dll?


BRIAN MARSHAL 4:26
Saya pikir pertama-tama, kami tidak dapat mengklaim atau menjamin bahwa kesuksesan klien hanya dikarenakan oleh kami; karena saya pikir hubungan kami dengan klien kami sebagian besar adalah dari kerja sama yang erat untuk mengembangkan bisnis mereka. 

Sekarang, saya pikir saya bisa memberi Anda beberapa contoh. Yang pertama adalah, kami memiliki banyak brand fesyen berskala kecil hingga menengah yang menggunakan produk SaaS (software-as-a-service) kami. Dan kami telah melihat banyak kasus di mana pertumbuhan dua kali lipat dari tahun ke tahun, merupakan hal yang cukup umum. Dan dalam beberapa kasus, kami bahkan melihat pertumbuhan dua kali lipat jika dilihat dari bulan ke bulan. 

Sekarang saya dapat berbagi dengan semuanya juga bahwa hari ini di sisi klien enterprise kami, kami membantu merek vitamin Australia yang sebelumnya sudah terkenal secara offline. Tapi kemudian kami membantu membangun presensi online mereka. Dan dalam beberapa bulan pertama itu sendiri, kami telah melihat bagaimana mereka dapat memperbesar basis pelanggan mereka, serta transaksi mereka, dan tidak mengkanibalisasi apapun yang telah mereka miliki sebelumnya secara offline.


ALAN 5:24
Luar biasa. Itu merupakan  beberapa poin data yang bagus. Andreas, di area metrik e-commerce untuk klien apa rata-rata yang paling meningkat dalam setahun terakhir? Apakah durasi pengiriman? Apakah penurunan tingkat pengembalian atau terdapat area lain di mana kita telah melihat peningkatan paling dramatis?


ANDREAS THAMRIN 5:41
Saya pikir secara umum, ketika (kondisi) pasar semakin matang, kita melihat ekspektasi konsumen juga meningkat. Hal ini didorong oleh beberapa pemangku kepentingan seperti marketplace, ketika mereka melakukan akuisisi merchants, mereka melakukan edukasi kepada para merchants untuk melayani konsumen dengan lebih baik. Atau platform pembayaran seperti Gojek melakukan promosi, sehingga memungkinkan banyaknya konsumen yang baru pertama kali memesan secara online dan untuk pertama kalinya merasakan apa artinya memesan secara online. 

Untuk klien SIRCLO Store kami, kami telah melihat tingkat pendaftaran yang juga mengalami peningkatan. Jadi seiring berjalannya waktu, sejak kami memulai pada tahun 2013, setiap tahunnya kami melihat pertumbuhan pesat di tahun-tahun berikutnya, di bagian akhir dekade ini.

Ini adalah produk SaaS dengan layanan mandiri. Jadi, hal tersebut menunjukkan bahwa saat ini para merchants semakin terdidik. Mereka lebih siap, atau mereka lebih berkeinginan untuk memasuki ranah online. 

Untuk produk SIRCLO Commerce kami, yang merupakan layanan manajemen kanal secara end-to-end untuk brands; karena berjualan di marketplace, kami dapat melihat bahwa ekspektasi konsumen juga telah meningkat secara drastis. Dalam lima tahun enam tahun terakhir, mereka puas dengan durasi pengiriman sepanjang tiga sampai empat hari kerja untuk wilayah Jakarta atau Jabodetabek, atau bahkan hingga satu atau dua minggu untuk beberapa pulau di luarnya. Tapi sekarang mereka mengharapkan pengiriman yang tiba di hari yang sama untuk berbagai pesanan.

Jadi sebenarnya, kami ingin mengikuti ekspektasi konsumen. Dan karenanya sejak dua tahun lalu, gudang kami sudah beroperasi 24 jam sehari. Biasanya pesanan kami akan diproses keluar dalam waktu 12 jam. Jadi, saya pikir saat ini semua metrik benar-benar mendukung fakta bahwa e-commerce sedang bertumbuh, dan konsumen senang untuk dapat menjadi bagian darinya. Begitu mereka berbelanja sekali, dua kali, dan seterusnya, mereka akan menjadi lebih terbiasa. Dan karena itu harapan mereka juga meningkat; baik itu untuk waktu pengiriman, atau kepuasan dari pengembalian, atau bahkan promosi. 

Jadi saya pikir seluruh hal tersebut sangat baik untuk ekosistemnya.


ALAN 7:30
Tentunya. Sekarang, Brian, saya pikir sebuah brand pada umumnya dapat menjual barang mereka melalui platform seperti Shopee, Tokopedia dan Lazada; atau melalui "situs dotcom" miliknya sendiri. Berapa persen dari GMV klien kami didapatkan melalui marketplace tersebut dan berapa persen yang didapatkan melalui situs dotcom mereka sendiri?


BRIAN MARSHAL 7:51
Nah, jumlahnya bervariasi, tergantung sifat bisnis Anda, serta kematangan bisnis itu sendiri. Kami telah melihat beberapa, bahkan dari brand kecil dan menengah yang memiliki pengikut setia di media sosial. Sehingga mereka lebih memilih untuk memiliki brand dotcom sendiri daripada berjualan di marketplace. Namun, di sisi lain, kami juga telah melihat contoh di mana brand offline yang sudah mapan ingin, Anda tahu, mencoba marketplace terlebih dahulu daripada langsung terjun ke brand.com mereka sendiri.

Sekarang, menurut saya yang menarik untuk dilihat adalah bahwa meskipun awalan atau titik awal dari brand ke brand bisa berbeda, pada akhirnya, kami percaya, dan kami telah melihat kasus di mana mereka akhirnya akan menggunakan seluruh kanal tersebut secara efektif bersamaan. 

Nah, menurut saya, selain fakta tersebut, saya juga ingin menggarisbawahi bahwa pilihan brand tidak hanya terdiri dari dua: dot.com, atau marketplace. Tapi saya pikir, di SIRCLO, kami juga percaya bahwa ini masih awal, dan kami masih akan melihat lebih banyak kanal yang dibawa ke pasar, seperti mungkin kanal social commerce.

Sekali lagi, saya akan mengatakan bahwa brand yang efektif ingin memanfaatkan seluruh kanal tersebut, daripada hanya memilih satu kanal secara khusus.


ALAN 9:03
Ya, saya dapat memahami gagasan untuk memanfaatkan kanal efisien manapun yang tersedia. Dan saya berasumsi itu berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Sekarang, Brian, mungkin dapat melanjutkan kembali. Apa model bisnis yang umum bagi kami? Apakah kami menagih sebagian persentase dari GMV? Dan jika demikian, perbandingan umum apa yang dapat kami sebutkan kepada audiens kami ketika memikirkan take rate (biaya) yang wajar dalam jangka panjang?


BRIAN MARSHAL 9:25
Saya pikir di SIRCLO, ini adalah salah satu area di mana kami telah berada di Indonesia, kami juga membawa inovasi, di mana kami menyederhanakan model bisnis menjadi hanya dua komponen, utamanya.

Salah satunya adalah biaya berlangganan. Dan di atasnya adalah biaya transaksi. Sekarang, saya pikir itu berlaku untuk semua unit bisnis kami. 

Jadi saya tidak hanya berbicara tentang penawaran SaaS kami. Tetapi bahkan solusi merchants kami, seperti solusi e-commerce enabler, juga menggunakan formula yang sama yaitu biaya berlangganan dan biaya transaksi. 

Sekarang, dalam hal take rate sendiri, saya akan mengatakan bahwa, saya pikir persaingan global juga akan mengatakan bahwa sekitar beberapa persen hingga persentase satu digit yang lebih besar adalah angka yang masuk akal sebagai take rate untuk bisnis kami dari total GMV yang kami bantu untuk dihasilkan oleh klien kami.
ALAN 10:15
Itu tingkat yang sangat sehat sebagai persentase dari GMV. Jadi itu cukup mendukung. Sekarang Andreas, apakah kita mengharapkan penggabungan yang lebih mengarah ke marketplace atau ke dot.com, dan apa alasannya?


ANDREAS THAMRIN 10:27
Saya pikir dengan konsolidasi marketplace di Indonesia, akan ada beberapa pemenang yang jelas di negara ini. Sama seperti di Tiongkok, mereka adalah Tmall, dan JD. Dan tentu saja, masih banyak lagi pemain niche lainnya. Itu berarti, mereka semua memiliki konsumen setianya masing-masing. Untuk brands yang menginginkan cakupannya, mereka harus hadir di sini di semua saluran marketplace. Tetapi, bagi brands yang ingin mempertahankan konsumen setianya, mereka juga harus memiliki brand.com yang kuat. 

Namun dalam hal pergeseran, ada dua aliran pemikiran. Ada model Tiongkok dimana, karena kekuatan dua marketplace utama dan paradigma "superapp", semua orang melakukan segalanya di superapps. Hal itu menyisakan ruang yang agak kecil untuk brand.com. Sedangkan model AS, di mana ada Amazon, ada eBay; pebisnis juga memiliki kehadiran mereka yang sangat kuat di situs web mereka sendiri. 

Jadi saya pikir pada tahap ini, untuk Indonesia, terlalu dini untuk memutuskan apapun. Bahkan terdapat peluang untuk saluran baru muncul; sesuatu yang mungkin unik untuk negara atau wilayahnya. Jadi kami terus mengeksplorasi hal-hal seperti social commerce, atau integrasi yang baik dengan WhatsApp atau TikTok. 

Saya pikir keduanya adalah kandidat potensial bagi Indonesia untuk memiliki kanal penjualan yang unik.


ALAN 11:43
Sangat menarik. Tampaknya Anda sudah sangat gesit, terutama mengingat naiknya ByteDance baru-baru ini melalui TikTok sebagai kanal e-commerce, Andreas, sebenarnya seperti apa kondisi naik turunnya klien kami sepanjang COVID 2020? Pada bulan apa puncaknya dan kapan berakhirnya?


ANDREAS THAMRIN 12:04
Ketika COVID melanda pada Maret tahun lalu, reaksi awal adalah perlunya mendistribusikan produk-produk esensiil, seperti hand sanitizer. Kami melihat banyak outlet offline yang seketika harus tutup. Kami melihat perusahaan distribusi tidak mampu mendistribusikan produknya ke konsumen. Dan ada permintaan besar yang tertahan oleh konsumen. 

Jadi kami bekerja sangat erat dengan beberapa prinsipal kami. Karena kami menangani banyak barang konsumen, brand fast moving consumer goods, kami juga bekerja sangat erat dengan marketplace; Tokopedia, serta Shopee dan Bukalapak. Jadi kami dapat mendistribusikan ratusan ribu sanitizers hanya untuk satu brand. Jadi April adalah puncak awal dari segala hal yang terjadi.

Hal ini terus terjadi selama berbulan-bulan. Tidak setinggi bulan pertama, namun terus berlanjut karena konsumen memiliki kebiasaan baru untuk memastikan keselamatannya. Tahap kedua adalah ketika pebisnis tiba-tiba menyadari mandat pemerintah terkait penutupan toko memiliki arti bahwa penjualan mereka akan menjadi nol. Mereka harus menemukan metode untuk berjualan online. Jadi, saat itulah dimana solusi SIRCLO Store kami mendapat banyak permintaan dan pendaftaran, serta onboarding. 

Dan perlu diingat bahwa ini semua terjadi bersamaan dengan staf kami yang harus bekerja dari rumah dan harus menyesuaikan serta melayani klien kami dari jarak jauh. Hal tersebut menurut saya merupakan satu hal yang cukup saya banggakan; perusahaan kami mampu menyesuaikan dan menjaga klien, bahkan ketika kami sendiri harus merasakan adanya penurunan. 

Meski lonjakannya tidak begitu terasa lagi, kami masih melihat pertumbuhan dari bulan ke bulan hingga saat ini.


ALAN 13:33
Itu berita bagus. Jadi Brian, apa permasalahan e-commerce terberat yang kita coba selesaikan saat ini di e-commerce Indonesia?


BRIAN MARSHAL 13:42
Saya pikir kata kuncinya adalah "fragmentasi" dari segalanya. Dalam hal kanal, kita memiliki kanal yang terfragmentasi. Dan dari segi logistik, secara geografis kita juga memiliki pulau-pulau yang terfragmentasi bukan? Jadi saya pikir itu adalah dua tantangan berat yang kita hadapi saat ini. 

Untuk kedua masalah tersebut, kami sedang mengerjakan beberapa solusi. Misalnya, dari sisi platform back-end, itu adalah salah satu area di mana kita akan berinvestasi lebih lanjut sehingga dari sudut pandang merchant atau penjual, terlepas dari berapa banyak kanal yang ada di Indonesia, mereka dapat menyederhanakan manajemen melalui satu back-end.

Sekarang di sisi lain, saya pikir untuk melayani konsumen internet yang banyak dan terus berkembang di Indonesia yang tersebar di seluruh pulau, kami juga bekerja sama dengan mitra logistik kami untuk benar-benar memberikan pengalaman sederhana bagi konsumen dan juga bagi para merchants. Kami memiliki akurasi dan ketepatan waktu, di mana pun mereka berada. Saya pikir itu adalah dua tantangan utama yang sedang kami kerjakan.


ALAN 14:47
Saya bisa mengerti. Jika Anda dapat memecahkan hambatan tersebut, Anda benar-benar dapat menambah pertumbuhan yang telah kita lihat baru-baru ini. Brian, apa target pertumbuhan kami dari sisi brands yang bergabung, GMV yang didukung; Pada akhir tahun 2021 ini, dan mungkin pada akhir 2022?


BRIAN MARSHAL 15:04
Dalam hal pertumbuhan, saya tidak dapat menyebutkan angka spesifik dalam metrik kami. Secara keseluruhan, kami telah melihat setidaknya 100% pertumbuhan tahun-ke-tahun di semua metrik kami dalam satu hingga dua tahun terakhir. Dan kami melihat bahwa tidak ada alasan mengapa kami tidak akan mendapatkan pertumbuhan yang sama dalam satu atau dua tahun ke depan juga. Faktanya, sejauh ini, hasil kami dalam lima bulan pertama memberi kami harapan bahwa kami dapat tumbuh lebih dari yang kami harapkan.


ALAN 15:31
Itu benar-benar mendukung. Sekarang Brian, kami telah melakukan M&A dalam beberapa tahun terakhir, dengan perusahaan seperti ICUBE dan Orami. Pertimbangan apa yang mendorong setiap transaksi? Dan apa yang telah kita pelajari dari kedua kesepakatan ini?


BRIAN MARSHAL 15:46
Pertama-tama, saya pikir di SIRCLO, apa yang kami lakukan adalah mencoba memberikan solusi, apa pun itu, untuk membantu brands berjualan secara online. Dan saya tadi juga menyebutkan tentang bagaimana sebenarnya kita ingin menyederhanakan semua kanal yang ada di Indonesia, melalui satu titik kontak, serta satu back-end. Saya pikir akuisisi kedua perusahaan, ICUBE dan Orami, yang terjadi dalam satu dan dua tahun terakhir, persis sama. Kami melihat bahwa kedua perusahaan tersebut juga telah memberikan solusi bagi brands untuk berjualan secara online, meskipun mereka melakukannya secara berbeda dari yang kami lakukan di sini. Tapi saya pikir itulah cara mereka melengkapi kanal yang saat ini kami fokuskan di SIRCLO. Sekarang dalam hal pelajaran, saya akan mengatakan hal itu setelah dua transaksi M&A ini, saya telah belajar bahwa memiliki lebih banyak pemimpin yang bekerja sama dalam sebuah kelompok cukup membantu. Di sini, di Indonesia, talenta secara keseluruhan juga menjadi salah satu tantangan. Dan kemampuan bekerja dengan lebih banyak pemimpin, pemimpin yang lebih berpengalaman di ICUBE serta Orami, bersama-sama menuju tujuan yang sama untuk membantu brands berjualan secara online dan untuk memecahkan beberapa tantangan terberat dalam e-commerce di Indonesia benar-benar memberi saya lebih banyak semangat positif untuk maju.


ALAN 17:04
Senang mendengarnya. Sekarang Andreas, sepertinya kami memiliki tiga penawaran umum yang telah kami diskusikan selama podcast ini. Ada 1) software, ada 2) services, dan ada 3) partnering. Sekarang apakah klien kami biasanya menggunakan ketiga layanan tersebut? Dan penawaran mana yang tumbuh paling cepat saat ini?


ANDREAS THAMRIN 17:22
Kami telah merancang solusi kami untuk memenuhi berbagai jenis klien di berbagai tahap bisnis mereka. Jadi beberapa klien mungkin mulai dengan Store, SIRCLO Store kami, dan setelah beberapa tahun, mereka bisa, "naik kelas" ke solusi yang lebih canggih berbasis Magento atau omnichannel untuk gerai ritel mereka. Kami juga memiliki klien yang membutuhkan kami untuk menjalankan semua saluran online mereka, baik itu toko web, atau toko di marketplace. Jadi kita lakukan secara end-to-end. Kami melakukan layanan pelanggan dan segalanya. Dan terakhir, tentu saja, kami juga memiliki klien yang masih di tahap awal, dan mereka membutuhkan sedikit lebih banyak dukungan erat, konsultasi, lebih banyak strategi, bahkan hingga seluk beluk pergudangan dan pemenuhannya. Jadi pada saat ini, ketiga produk atau solusi ini berkembang pesat karena beralihnya penjualan ke online.


ALAN 18:11
Senang mendengarnya, Andreas, Anda menyebutkan "solusi omnichannel". Apa artinya? Dan apa contoh bagus dari strategi omnichannel yang sukses di antara klien kami?
ANDREAS THAMRIN 18:24
Omnichannel adalah salah satu kata kunci yang digunakan oleh banyak pemain di industri ini. Kami sudah memiliki produk SaaS yang kuat yang melayani pengusaha dan UKM. Namun, ketika kami berbicara dengan banyak klien enterprise kami, poin kesulitan mereka atau kebutuhan mereka, sedikit berbeda. Banyak dari mereka datang dari dunia offline, di mana mereka telah berhasil membangun jejak ritel atau jaringan distribusi dengan banyak gudang di seluruh negeri. Jadi yang mereka butuhkan, daripada menggunakan e-commerce sebagai divisi terpisah lainnya, adalah upaya untuk meningkatkan jaringan mereka, dan memberikan pendekatan holistik bagi pelanggan mereka untuk berbelanja. Jadi salah satu contohnya adalah pemain nasional, brand kecantikan, dengan lebih dari 60 outlet yang telah bekerja sama dengan kami selama sekitar dua tahun sekarang. Situs web mereka, toko di marketplace, semuanya terintegrasi melalui sistem kami. Dan itu semua terhubung ke point-of-sale (POS) toko mereka juga. Jadi ini memungkinkan toko mereka pun untuk memenuhi pesanan online mereka. Jadi saya pikir inilah yang ingin kami definisikan sebagai solusi omnichannel. Dan ini adalah sesuatu yang kami investasikan secara besar-besaran setelah akuisisi ICUBE, yang memungkinkan kami untuk menjadi pemimpin di segmen ini di Indonesia.


ALAN 19:29
Itu terdengar sangat futuristik, setidaknya dalam konteks Indonesia, pada dasarnya, kemampuan dalam menggabungkan kesadaran akan hal-hal seperti inventaris, antara offline dan online. Saya tahu bahwa Tiongkok telah mengerjakannya dalam beberapa waktu, dan senang mendengar kemajuan yang telah Anda buat ini. Brian, seberapa banyak kita tumpang tindih secara kompetitif dengan Shopify? Dan dengan siapa lagi kita bersaing?


BRIAN MARSHAL 19:52
Saya pikir dalam hal Shopify, pertama-tama saya akan mengatakan bahwa, selain dalam lingkup persaingan, Shopify telah menjadi panutan yang baik. Inspirasi yang bagus. Saya pikir mereka telah melakukan pekerjaan luar biasa secara global. Dan saya pikir pada awalnya, kami memiliki banyak kesamaan. Apa yang mereka tawarkan, dan apa yang kami tawarkan di SIRCLO Store hampir sama. 

Sekarang, saya pikir dalam beberapa tahun terakhir, banyak orang akan melihat jalan kita berbeda. Sementara Shopify lebih fokus pada penawaran SaaS, di Indonesia, kami mencoba beradaptasi dengan kebutuhan dan tantangan lokal dan juga menghadirkan solusi lain, seperti solusi e-commerce enabler. 

Tapi yang menarik, prediksi saya adalah bahwa, saya pikir, kedepannya, kita akan melihat kembali bagaimana kita lebih mirip, dan bersaing, dengan Shopify. Saya pikir jika Anda telah mengikuti berita bahwa Shopify juga telah mengincar dan berinvestasi di area lain di luar penawaran SaaS mereka. 

Pada saat yang sama di sini, di SIRCLO, saya juga berpikir, akan juga melihat lebih banyak pertumbuhan terjadi di pasar UMKM. Dan dalam penawaran SaaS kami, saya memiliki prediksi bahwa ke depan kami akan lebih bersaing dengan Shopify. Tetapi pada saat yang sama, saya pikir kami cukup yakin bahwa jika perusahaan lokal seperti kami dapat memusatkan perhatian pada pasar kami sendiri, kami benar-benar dapat memberikan solusi yang lebih akurat untuk tantangan pasar kami.

Dan kami telah melakukannya juga, saya pikir, di tahun lalu dengan mengintegrasikan ekosistem kami dengan lebih baik, dengan pembayaran kami, dengan logistik kami. Dan kami akan terus melakukan itu.


ALAN 21:26
Fantastis. Andreas, layanan atau fungsi baru apa yang paling kami banggakan telah diluncurkan selama setahun terakhir?


ANDREAS THAMRIN 21:33
Saya pikir seperti startup lainnya, ada banyak momen membanggakan ketika kami membangun sesuatu dari awal, dan kami mampu mengurangi kesulitan yang dimiliki pengguna kami. Tetapi jika saya harus memilih satu, saya pikir salah satu yang utama yang kami miliki adalah ketika kami memperkenalkan SIRCLO Commerce, solusi kedua kami. Saat itu, saya ingat saya berbicara dengan Brian, dan bertanya: "Apakah kami ingin menjual layanan ini? Atau apakah kami ingin menjual software untuk digunakan pengguna"? 

Pada akhirnya, pada saat itu, kami memutuskan untuk memperkenalkan layanan, layanan end-to-end, pada prinsipal, kepada klien; daripada hanya memberi mereka software dan membiarkan mereka menjalankannya. Sehingga memungkinkan kami untuk memasuki prinsipal besar, pasar barang konsumsi, merek fashion. Karena mereka menyadari bahwa yang mereka butuhkan saat itu bukanlah software. Namun yang mereka butuhkan adalah mitra yang dapat bekerja dengan mereka, dan memenuhi semua pesanan, membangun toko, membuat SKU, deskripsi, foto, dan semuanya. 

Jadi agar dapat melakukannya secara efisien, kami sebenarnya membangun API pertama dengan banyak marketplace; Tokopedia, Shopee, dll. Saat itu, Matahari Mall dan sebagainya, memungkinkan kami melayani pesanan dengan efisien. Ini memungkinkan kami untuk memanfaatkan inventaris secara efisien. Dan mampu melakukan itu berarti kami dapat menawarkan struktur harga sederhana kepada prinsipal untuk berjualan online.

Bagian dari solusi itu juga mengharuskan kami untuk membangun OMS dan WMS kami sendiri. Karena pada saat itu, tidak ada perangkat lunak seperti itu di pasar yang memungkinkan kami untuk memenuhi pesanan B2C (business-to-consumer), pengambilan barang dan sebagainya.


ALAN 22:58
Mungkin Anda bisa berbagi dengan kami apa kepanjangan dari OMS dan WMS?


ANDREAS THAMRIN 23:02
OMS adalah Order Management System (Sistem Manajemen Pesanan). Kami dapat menarik pesanan dari setiap saluran dan marketplace dan mengkonsolidasikannya ke dalam pesanan berurutan yang kami masukkan ke dalam WMS kami, yang merupakan Warehouse Management System (Sistem Manajemen Gudang) kami. Ini adalah software yang digunakan tim kami di lapangan untuk mengambil setiap pesanan sebelum kami mengemasnya dan memasukkannya ke dalam nomor airwaybill dengan mitra kurir sebelum mereka diambil dan dikirim ke konsumen. Jadi itu adalah salah satu momen terbesar dan paling membanggakan selama saya bekerja dengan Brian dan SIRCLO.


ALAN 23:32
Fantastis. Brian, satu atau dua inovasi terbesar apa yang kemungkinan akan dihadirkan SIRCLO ke dunia e-commerce Indonesia tahun ini dan 2022?
BRIAN MARSHAL 23:44
Saya pikir saya akan menyebutkan bagaimana back-end yang terintegrasi sepenuhnya belum tersedia di pasar. Bahkan dengan pekerjaan kami dalam delapan tahun terakhir, saya pikir kami masih dalam perjalanan untuk benar-benar menyediakan pusat penjual atau merchant yang mulus dan baik. Saya pikir itu akan menjadi sesuatu yang lebih siap dari sebelumnya untuk membawa inovasi itu ke pasar. 
Sekarang, saya pikir terkait dengan itu, saya akan mengatakan bahwa kami juga akan membuat kanal baru selain kanal marketplace, dan brand.com. Kami akan memperkenalkan dua saluran lagi untuk brands agar dapat berjualan online. Dan itu juga akan menyambung ke presensi offline mereka. Jadi saya pikir, kembali ke apa yang Andreas sebutkan sebelumnya tentang konsep omnichannel kami, back-end yang terintegrasi secara penuh ini juga tidak hanya akan melayani saluran online-online, tetapi bahkan offline. Saya pikir masa depan online juga akan berlaku untuk merchants offline. Sekarang, poin kedua selain dari back-end yang terus saya bicarakan tadi, kita juga melihat bahwa setelah delapan tahun pengalaman kita, kita sebenarnya duduk di atas data yang cukup besar yang sedang kita kerjakan untuk berubah menjadi intelligence; sehingga kedepannya merchant dan penjual kami dapat dibantu dalam strategi pertumbuhan dengan intelligence yang dapat disediakan oleh software kami.


ALAN 25:06
Luar biasa. Jadi, terdapat beberapa inisiatif menarik yang akan datang  di berbagai bidang mulai dari O2O, integrasi back-end, serta big data and intelligence. 

Bapak-bapak, benar-benar menarik untuk mendapatkan wawasan ini tentang ragam inisiatif Anda untuk membawa ritel Indonesia ke ranah online. Saya menantikan laju inovasi dan fungsionalitas baru yang solid untuk penjual online dan O2O di Indonesia kedepannya. 

Terima kasih banyak telah bergabung dengan kami hari ini, teman-teman.


ANDREAS THAMRIN 25:35
Terima kasih Alan. Obrolan yang menyenangkan.


BRIAN MARSHAL 25:37
Terima kasih, Alan.


ALAN 25:38
Kami berharap pendengar kami menikmati episode hari ini. Seperti biasa, harap pertimbangkan untuk membagikan umpan balik apa pun yang Anda miliki tentang podcast Indo Tekno dengan kami. Terima kasih telah mendengarkan. Sampai jumpa lagi!