TRANSKRIP
EPISODE 21

Episode Duapuluh Satu

 

Evolusi VC:

Adrian Li dari AC Ventures
 

18 Mei 2021

ALAN 0:12
Saya Alan Hellawell, pendiri konsultan teknologi Gizmo Advisors dan Venture Partner di Alpha JWC Ventures. Senang sekali Anda bergabung dengan kami hari ini. Selamat datang semuanya di episode ke-50 kami.
Tamu kita hari ini merupakan seorang praktisi investasi ventura terkemuka di Indonesia. Ia adalah seseorang yang saya kenal sejak saya menghabiskan beberapa tahun di Sea Limited. Sangat senang bisa bekerjasama dengannya dalam peran saya saat ini dengan Alpha JWC Ventures.
Ia merupakan seorang pebisnis yang memulai perjalanan karier di Tiongkok. Adrian Li kemudian mendirikan Convergence Ventures yang berbasis di Jakarta sekitar tujuh tahun lalu. Pada tahun 2019, perusahaan yang ia dirikan resmi bergabung dengan VC Agaeti Venture, dan saat ini dikenal dengan nama AC Ventures.  Selamat datang Adrian, senang sekali Anda bisa bergabung dengan kami hari ini.
ADRIAN LI 0:55
Suatu kehormatan bisa bergabung di kesempatan ini, terima kasih banyak Alan. Saya adalah penggemar podcast Anda.
ALAN 1:00
Anda sangat baik. 
Adrian, Anda memiliki latar belakang yang begitu beragam, baik dari sisi geografi, industri, dan dalam hal kepemimpinan. Namun, saya ingin fokus berbincang mengenai keterlibatan Anda di dunia EdTech. Mulai dari perjalanan mendirikan Idapted di Beijing pada tahun 2006, hingga saat ini berinvestasi di sebuah startup yang bergerak di bidang pembelajaran jarak jauh yang terbilang menjanjikan di Indonesia sebagai mitra pengelola AC Ventures. Bisakah Anda membagikan kisah menarik mengenai perjalanan ini kepada kami?
ADRIAN LI 1:29
Tentu saja, Alan. Terima kasih atas pertanyaannya. 
Sebagai sesama lulusan sekolah pascasarjana bisnis, Stanford GSB’er, Anda akan terbiasa dengan pertanyaan mengenai apa yang paling penting bagi Anda dan mengapa. Ini adalah salah satu pertanyaan klasik yang kerap muncul dalam esai Stanford. Saya pikir penting untuk memahami hal itu hingga ke akar, memahami bagian dari perjalanan saya, dan mengapa pendidikan menjadi hal yang begitu penting untuk saya. 
Jadi, salah satu hal terpenting bagi saya adalah memberdayakan orang untuk menciptakan nilai dengan memberikan mereka kesempatan melalui berbagai cara. Mulai dari berbagi pengetahuan, keahlian, dan sumber daya untuk membantu orang lain mencapai tujuan, hingga akhirnya bisa menciptakan dampak. Bagi saya, ini adalah tujuan hidup. Dan saya percaya, untuk dapat menemukan cara yang terukur untuk menciptakan perubahan positif di dunia, kita harus secara kolektif memberdayakan pengusaha tertentu. 
Ketika saya masih di GSB, pendidikan menurut keyakinan saya adalah salah satu hal terpenting yang dapat membantu untuk memberdayakan orang-orang. Dan karena itu, saya mengejar gelar bersama (joint degree) pada saat itu yang tidak saya selesaikan untuk mengejar startup saya.
Berangkat dari perjalanan hidup saya, hal-hal yang diajarkan oleh kedua orang tua saya, dan apa yang saya peroleh dari sekolah, perjalanan saya ke Harrow, Cambridge, Stanford, dan semua mentor yang saya miliki telah memberikan saya pengalaman formatif dan instrumental yang kemudian mengantarkan saya untuk berada di posisi ini, yakni membantu memberdayakan orang lain. Saya kemudian memulai perusahaan pertama saya ketika masih berada di GSB.
Saya membuat layanan pelatihan bahasa Inggris live on-demand di China. Pasalnya, saat itu saya melihat bahwa berbicara bahasa Inggris dengan mahir di Tiongkok merupakan penghalang utama bagi kemajuan karier, termasuk untuk masuk ke pendidikan tinggi.
Kami fokus untuk membangun platform teknologi yang dapat memberikan pelatihan langsung sesuai permintaan untuk  1.000 siswa. Faktanya, ketika kami memulai bisnis ini pada tahun 2006, kami tidak tahu jika enam tahun kemudian, sebuah perusahaan bernilai miliaran dolar yang menggunakan model bisnis yang sama dengan apa yang kami rintis (VIPKid) akan muncul di China. 
Sekarang, saya telah berinvestasi di perusahaan teknologi di bidang pendidikan (EdTech) di Indonesia, seperti CoLearn. Kami berpikir untuk melakukan investasi lebih sebagai cara untuk memberdayakan orang-orang melalui pengetahuan kolektif kami. Oleh karena itu, Anda akan melihat moto kami di AC Ventures, yakni memberdayakan para wirausahawan dengan pengalaman, jaringan, dan modal.
ALAN 3:48
Fantastis. Saya bisa melihat kesungguhan dari minat Anda untuk mendukung dunia pendidikan.
Nah, Adrian, ada banyak VC yang berbicara mengenai potensi Indonesia yang begitu besar, mengingat negara ini berada di posisi keempat sebagai negara terpadat di dunia. Hal ini jelas tak perlu diragukan lagi. Namun, satu pertanyaan yang kerap muncul adalah apakah pasar yang begitu besar ini benar-benar bisa menghasilkan uang? Apa tanggapan Anda atas pertanyaan ini?
ADRIAN LI 4:14
Saya pikir penting untuk dipahami bahwa meskipun perusahaan teknologi membutuhkan waktu untuk melakukan monetisasi, namun mereka memiliki model bisnis yang jauh lebih baik dan efisien dibandingkan para pemain lama dengan model bisnis yang bekerja dengan cara tradisional. Tak heran, jika perusahaan teknologi kerap dianggap mengganggu atau mendisrupsi cara kerja para pemain lama.
Jadi menurut saya, kue pendapatan potensial atau potensi monetisasi terkadang dapat dilihat dari mitra tradisional mereka. Jika Anda ingin memahami seberapa besar kue itu di masa depan, dan seberapa besar perusahaan teknologi tersebut dapat berkembang, Anda tidak dapat melihat lebih jauh. Pada kenyataannya, melampaui beberapa bisnis besar yang ada di Indonesia saat ini. 
Jika melihat industri perbankan, BCA merupakan salah satu bisnis paling bernilai, bukan hanya di Indonesia, melainkan juga Asia Tenggara. Sementara, jika kita melihat ke kategori konsumer (FMCG), maka terdapat perusahaan seperti Indofood atau Gudang Garam. Perusahaan-perusahaan ini merupakan deretan perusahaan publik terbesar bernilai miliaran dolar.
Jadi, kita dapat melihat dari mitra tradisional yang ada, apakah kita menangani FinTech atau e-Commerce, ada kemungkinan untuk membangun perusahaan sebesar ini. Namun, seperti China dan banyak pasar lain, banyak perusahaan teknologi di tahap awal fokus pada adopsi dan pertumbuhan sebagai pengganti monetisasi. Jadi, saya yakin untuk sebagian besar bisnis, tentu saja sebelum bisnis memasuki Seri C, mereka akan lebih fokus pada pertumbuhan dibandingkan monetisasi.
ALAN 5:38
Luar biasa. Saya dapat memahami dengan melihatnya dari sudut pandang evolusi. Maksud Anda dalam membandingkan peluang ini, tidak harus bertentangan dengan paradigma di China, tetapi mitra offline Indonesia. Ini penjelasan yang sangat baik.
Jadi, bagian mana dari ruang internet yang menurut pendapat Anda sudah menghasilkan uang dengan baik?
ADRIAN LI 6:00
Menjawab pertanyaan ini, saya ingin mendefinisikan terlebih dahulu mengenai apa yang dimaksud dengan menghasilkan uang dengan baik.
Ada perusahaan yang memiliki pendapatan agak besar atau bisa dikatakan memiliki margin yang sehat, ekonomi yang unik, bahkan beberapa memiliki profitabilitas yang baik. Namun jika saya melihat ke seluruh portofolio kami, saya dapat melihat beberapa contoh perusahaan yang menunjukkan monetisasi yang kuat di setiap definisi yang saya sebutkan sebelumnya. Mari kita mulai dari salah satu yang paling sulit, yakni profitabilitas.
Sebagian besar perusahaan tidak akan mengejar profitabilitas pada tahap pertumbuhan ini. Namun, dalam bisnis FinTech dan peminjaman, perusahaan yang menjadi portofolio kami telah menunjukkan monetisasi yang luar biasa melalui unit ekonomi yang hebat, dan struktur biaya yang ramping sehingga mereka dapat memperoleh keuntungan arus kas. Perusahaan tersebut adalah KoinWorks, sebuah neobank untuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang merupakan bagian dari portofolio kami.
Beralih ke sektor lain, seperti perdagangan dan perdagangan sosial (commerce and social commerce), kami telah melihat jika model di toko bahan makanan misalnya, mampu mendorong efisiensi dalam rantai pasokan. Perusahaan-perusahaan ini berhasil mendapatkan margin kotor yang sangat tinggi dalam bisnis mereka. Jauh lebih tinggi dari apa yang telah kita lihat di pasar (marketplace).  Mereka sering masuk ke kisaran margin kotor 10%-20%+. Bagi saya, hal ini mengindikasikan beberapa monetisasi yang kuat pada revenue-plus-margin. 
Terakhir, saya akan melihat ke bisnis lain yang secara histori sulit untuk menghasilkan uang. Namun, kami melihat kemampuan untuk melakukan monetisasi karena mereka mencapai skala yang dibutuhkan, dan itu dalam pembayaran. 
Salah satu bisnis tempat kami berinvestasi di dana awal kami, Xendit, telah berkembang pesat. Xendit telah menjadi salah satu pemain bisnis pembayaran business-to-business (B2B) terbesar di Indonesia. Dari sana, kita dapat melihat jika melalui volume pembayaran, mereka dapat menambah aliran pendapatan tambahan. Semua hal itu berkontribusi pada unit ekonomi dan margin yang sangat sehat pada bisnis mereka
ALAN 7:56
Sangat memuaskan. Ini adalah area yang banyak saya teliti. Dan menurut saya, akan sangat penting bagi model bisnis ini untuk tidak hanya growing eyeballs, tetapi juga memperoleh pendapatan yang berarti dari penggunanya. Senang mendengar Anda memiliki lebih dari segelintir contoh itu. 
Sekarang, bagian mana dari ruang internet yang belum menunjukkan monetisasi, namun Anda yakin akan sangat menjanjikan ke depan?
ADRIAN LI 8:21
Salah satu sektor yang sangat kami percayai adalah lini UMKM. Dari apa yang kami lihat sejauh ini, cukup sulit untuk mendorong pendapatan langganan yang berarti dari UMKM berdasarkan software-as-a-service (SaaS). Lantaran ukurannya yang kecil, para pelaku bisnis UMKM memiliki kesadaran yang rendah untuk membayar perangkat lunak atau alat yang mungkin mereka gunakan. Ini adalah salah satu area yang belum menemukan monetisasi yang solid. 
Area lain yang kami lihat mengalami tantangan dalam memonetisasi adalah model berbasis media digital. Seperti kita ketahui, ada begitu banyak pasar iklan digital di Indonesia yang dikuasai oleh bisnis global, seperti Facebook dan Google. Dari sisi konsumen, mengingat relatif baru lahirnya konsumen e-Commerce, mereka masih terlalu dini untuk membayar konten. Jadi, ini diterjemahkan ke dalam model yang mengandalkan pembayaran untuk konten atau mengandalkan iklan untuk menghadapi tantangan dalam dapat memonetisasi dengan cara yang berarti.
ALAN 9:25
Jadi, apakah Anda melihat perusahaan Indonesia membayar layanan di mana pun di seluruh spektrum SaaS B2B?
ADRIAN LI 9:32
Seperti yang disebutkan sebelumnya, kami yakin bahwa di Indonesia, model yang mengandalkan SaaS B2B memiliki batas pendapatan total yang rendah. Namun, kami melihat bahwa ada model yang lebih menjanjikan. 
Di saat UMKM menggunakan perangkat lunak, platform dapat memperoleh data yang sangat berkualitas dan membuat model bisnis alternatif.  Beberapa alternatif ini, misalnya terlibat dalam pembuatan platform untuk pasar, atau terlibat dalam menciptakan layanan keuangan untuk UMKM yang masih belum banyak tersentuh oleh lembaga keuangan konvensional. Masih banyak pelaku UMKM yang bahkan belum memiliki rekening tabungan.
Oleh karena itu, kami memiliki portofolio perusahaan seperti ESB yang telah membuat banyak kemajuan dalam hal memonetisasi layanan berlangganan mereka. Saya pikir, itu berbicara sampai pada titik bahwa jika Anda benar-benar menciptakan produk yang solid dan menangani beberapa perusahan besar, mereka akan membayarnya.
ALAN 10:20
Luar biasa. Masuk akal. Nah, Adrian, kami mulai berinvestasi dari dana ketiga kami beberapa waktu lalu. Apa perubahan paling besar yang terjadi antara dana I dan III dalam pikiran Anda? Apakah tesis investasi kita banyak berubah? Apakah kita melihat sasaran target industri yang sangat berbeda saat ini?
ADRIAN LI 10:38
Melihat dana yang kami miliki, kami masih sangat fokus untuk menjadi investor teknologi tahap awal yang berfokus pada Indonesia. Dan dalam hal tesis fundamental kami, kami melihat model bisnis yang menunggangi perubahan sekuler jangka panjang, seperti adopsi e-Commerce, infiltrasi dan penetrasi FinTech, UMKM yang mendukung teknologi, serta melihat model bisnis yang dapat terdisrupsi melalui penggunaan media digital. 
Jadi, ini adalah tren yang akan berlanjut selama 5-10 tahun ke depan. Oleh karena itu, kami adalah sektor agnostik di pasar Indonesia, tetapi sangat didorong oleh tematik dan melakukan banyak penelitian dasar yang mendetail. 
Sesuatu yang mungkin Anda sudah familiar adalah Deutschebank untuk memastikan waktu yang tepat bagi model digital untuk muncul dan mendisrupsi model tradisional mereka. Saya pikir secara keseluruhan, bagaimanapun, kami sangat fokus pada pendiri dalam melakukan pendanaan (founder-focused fund). Kami mencari para pendiri yang memiliki tujuan dan motivasi untuk membangun bisnis besar yang mendisrupsi, mencari mitra jangka Panjang yang tepat untuk mendukung usaha mereka. Saya pikir, terlepas dari dekade apa kami beroperasi, kami selalu mencari jenis pendiri dan mitra yang sesuai. 
ALAN 11:49
Adrian, apa saja perubahan dalam ekosistem tempat Anda berinvestasi hari ini dibandingkan dengan Fund I?
ADRIAN LI 11:55
Kami telah melihat beberapa perubahan yang sangat luar biasa sejak Fund I. Saya mulai mengerjakan Fund I sejak akhir 2013. Beberapa tantangan luar biasa yang kami lihat dalam berinvestasi dan melihat ekosistem dan Fund I adalah talenta. 
Kami tidak melihat banyak talenta di Indonesia terkait dengan pendiri berpengalaman yang membangun bisnis teknologi. Selain itu, kami tidak melihat ada banyak modal. Kami merintis dan memulai modal ventura sebagai kelas aset di Indonesia, bersama dengan Anda dan beberapa pemain lain di pasar. 
Dan terakhir, bicara soal infrastruktur, hanya ada sedikit infrastruktur untuk pembayaran dan logistik. Sebelumnya, kita terbatas pada perusahaan tradisional, kapabilitas ponsel cerdas (smartphone) pun jauh dari apa yang ada saat ini, dan tentunya tanpa penetrasi Gojek, Grab, dan Shopee, tingkat kepercayaan konsumen jauh lebih rendah saat itu. 
Sekarang, jika kita melihat posisi kita hari ini, saya rasa Anda akan menemukan mayoritas konsumen tidak lagi berpikir dua kali untuk membeli sesuatu secara online. Ada kepercayaan konsumen yang jauh lebih tinggi. Perangkat keras yang digunakan pada smartphone juga telah berkembang beberapa kali lebih baik, termasuk semua infrastruktur pendukung untuk e-Commerce, pembayaran, dan logistik. 
Kemudian ketika bicara mengenai ekosistem talenta, kita bisa melihat terjadi daur ulang talenta yang sangat besar, bukan hanya para pekerja yang kembali; orang-orang Indonesia yang lulus dari universitas ternama kembali ke Indonesia untuk memulai bisnis, melainkan juga para anggota tim awal yang lulus dari Tokopedia, Gojek, Grab, dan Shopee memutuskan untuk memulai bisnis mereka sendiri.
Hal ini telah mendorong pertumbuhan perusahaan baru dalam ekosistem. Di samping itu, kami juga melihat lebih banyak modal. Saat ini, ketika Indonesia masih berada jauh dari perhatian pemodal, seperti apa yang terjadi di India, kami telah melihat banyak multiple fund yang mengumpulkan dana berturut-turut, serta investor papan atas global yang menutupi celah ini di Seri B, Seri C, dan seterusnya. Jadi, lingkungan dan ekosistem yang akan diinvestasikan dalam bisnis ventura sekarang jauh lebih matang daripada beberapa tahun yang lalu.
ALAN 14:11
Saya sangat setuju dengan Anda. Adrian, apa satu bentuk nilai tambah spesifik yang paling Anda banggakan karena berhasil secara konsisten di seluruh portofolio ACV? 
ADRIAN LI 14:22
Saya pikir, ketika Anda melihat kemitraan yang kami bentuk antara Pandu Sjahrir, Michael Soerijadji, dan saya sendiri. Kami menyatukan kombinasi unik dari mitra dengan skala bisnis yang dimulai di pasar yang berbeda, membuat perusahaan tersebut diakuisisi, serta membawa perusahaan hingga IPO. 
Kami menyatukan banyak jaringan yang berbeda, pertimbangan budaya yang berbeda, serta jaringan peraturan dan perusahaan yang berbeda untuk bersama-sama membantu para pendiri kami. Jadi, salah satu hal yang paling saya banggakan adalah setiap mitra kami (Pandu, Michel, dan saya) selalu dapat diakses oleh portofolio perusahaan kami dan sangat berpengalaman. Dan menjadi pengusaha, menjadi pendiri sendiri. Saat kami terus melanjutkan untuk menjadi pendiri di perusahaan dana ventura kami sendiri, kami tahu ketika kami melakukan cek ke sebuah perusahaan, kami berdiri di sana dengan para pengusaha kami, dan bekerja bersama dengan mereka untuk menyelesaikan tantangan, serta membantu mereka meningkatkan pertumbuhan bisnis.
Sekarang, dengan dana kami yang lebih besar, kami juga terus berinvestasi ke dalam tim operasi dan platform kami sehingga kami dapat meningkatkan secara khusus cara-cara yang dapat kami lakukan untuk membantu wirausahawan kami. Mulai dari mengidentifikasi talenta-talenta penting untuk bergabung dengan tim mereka, menyampaikan permintaan pengembangan bisnis, atau memastikan bahwa kami dapat memperluas jaringan kami dan membawa semua manfaat dari jaringan tersebut untuk membantu para wirausahawan kami. Jadi, area nilai tambah ini adalah hal yang paling kami banggakan.
ALAN 15:49
Luar biasa. Adrian, jika saya memaksa Anda untuk mengisolasi satu peluang investasi yang saat ini Anda rasa out of this world, kira-kira apakah itu?
ADRIAN LI 15:58
Kami telah meraih beberapa kesuksesan besar dalam pendanaan kami sebelumnya di bidang FinTech. Namun, kami masih percaya jika peluang terkait inklusi keuangan dan dampak yang diberikan terhadap populasi yang lebih luas masih sangat besar. Tak heran, jika ini adalah peluang paling menarik untuk dilirik. 
Apalagi, terkait dengan penyediaan jasa keuangan untuk konsumen dan segmen pembiayaan bagi UMKM. Jika Anda berpikir mengenai seberapa besar pasar ini, melihat laporan, ada sekitar 90 juta orang dewasa atau lebih dari setengah total populasi orang dewasa di Indonesia yang tidak memiliki rekening bank.
Selain itu, UMKM mempekerjakan lebih dari 120 juta orang atau hampir 97% dari total angkatan kerja nasional. Ada kesenjangan pinjaman yang sangat besar di sini karena kurang dari 15% dari mereka memiliki akses yang layak ke pembiayaan. Jadi, terlepas dari semua pertumbuhan bahkan hanya dalam P2P dan segmen peminjaman dalam beberapa tahun terakhir, pencairannya hanya mencapai lebih dari 5 miliar pada tahun 2020. Itu pun masih jauh dari menutup celah peminjaman sebesar 70 miliar. 
Namun yang terpenting, saya yakin bahwa di sektor ini, jika kita dapat mendorong inklusi keuangan dan memungkinkan pemberian pinjaman yang produktif kepada konsumen dan UMKM, dampaknya terhadap perekonomian dan PDB Indonesia secara keseluruhan akan sangat besar. Jadi inilah satu-satunya peluang yang menurut saya out of this world di Indonesia
ALAN 17:33
Anda membuat argumen yang sangat meyakinkan untuk itu. 
Adrian, saya melihat AC Ventures juga berinvestasi di e-Commerce. Apa asumsi utama Anda seputar struktur industri di bidang ini? Bisakah hal itu berkembang menjadi struktur yang mirip dengan China, di mana tiga teratas secara harfiah 85% hingga 90% dari pasar? Jika ya, apa implikasinya bagi investasi Anda di e-Commerce?
ADRIAN LI 17:56
Menurut saya, meskipun terdapat dominasi beberapa pemain besar di segmen ini, e-Commerce tetap menjadi salah satu peluang terbesar di pasar.
Laporan memperkirakan, akan ada total addressable market (TAM) mencapai lebih dari US$ 150 miliar pada tahun 2025. Hal ini didukung oleh fundamental yang sangat menguntungkan dengan peningkatan penetrasi smartphone, serta tingkat pendapatan di seluruh konsumen di Indonesia. 
Terlepas dari semua itu, saat ini kami melihat jika penetrasi ritel online masih berada di bawah 10%, sekitar 7% atau 8% saat ini. Selain itu, kami juga melihat jika COVID-19 telah mendorong adopsi e-Commerce ke vertikal baru, seperti kategori produk segar. Melihat pasar yang ada, para raksasa, seperti Tokopedia, Shopee, Bukalapak, dan para pemain lain, kita dapat melihat jika mereka telah membangun skala ekonomi dan efek jaringan yang signifikan. Konsolidasi sudah mulai terjadi di antara para raksasa ini, bisa dilihat dari merger antara Gojek dan Tokopedia (GoTo), kemitraan OVO dan Grab, hingga kepemilikan bersama antara Lazada dan Bukalapak. 
Jadi, saya setuju. Saya pikir hal ini akan mengikuti China, dan Anda akan melihat konsolidasi terjadi seiring waktu. Terlepas dari itu, kami juga terus melihat peluang e-Commerce karena sejauh ini, bisa dikatakan masih jauh dari mayoritas total pangsa pasar potensial yang diperoleh para pemain dominan tersebut. 
Secara umum, kami melihat peluang ini dalam tiga lensa. Pertama, kami melihat permainan vertikal. Beberapa di antaranya telah dimainkan; permainan vertikal seperti kategori rumah dan tempat tinggal (home-and-living), mode, dan sekarang semakin bertumbuh direct-to-consumer brands di e-Commerce. Kami juga melihat permainan di berbagai model baru. 
Jadi, Anda melihat peluang di social-commerce. Pada kenyataannya, Anda telah melihat social-commerce, seperti Pinduoduo di China yang bahkan kehadirannya mengganggu para pemain yang sudah ada (incumbent).
Terakhir, kami juga melihat pasar-pasar baru. Saat ini, mayoritas e-Commerce masih didorong oleh konsumen tingkat satu di pasar tingkat satu (tier one).  Jadi, pasar perbatasan dari tingkat dua ke tiga dan empat adalah area di mana kita dapat melihat peluang e-Commerce. Kita juga bisa melirik UMKM sebagai konsumen e-Comemrce, dan melihat marketplace yang fokus pada B2B. Jadi, inilah area yang semakin kami fokuskan ke dalam e-Commerce. 
ALAN 20:13
Cakrawala peluang yang cukup besar, dan jelas bukan skenario pemenang mengambil semua, setidaknya dalam jangka pendek hingga menengah. 
Sekarang, logistik memainkan peran penting dalam keberhasilan e-Commerce, dan juga menunjukkan beberapa tingkat investasi swasta yang sangat sehat. Bagaimana Anda melihat evolusi pangsa pasar di ruang logistik antara pemain offline tradisional dan beberapa model bisnis baru?
ADRIAN LI 20:37
Saya pikir, penting untuk dipahami bahwa dalam hal logistik, Indonesia adalah salah satu pasar yang paling kompleks. Infrastruktur kita belum memadai untuk mendukung pengiriman logistik ke ribuan pulau di Indonesia.
Faktanya, sektor logistik berkontribusi terhadap 24% PDB Indonesia di tahun lalu, dan diproyeksi akan terus menunjukkan pertumbuhan yang sangat tinggi dalam beberapa tahun ke depan. Kami memperkirakan, nilainya akan menyentuh US$ 100 miliar pada tahun 2025. 
Kemudian, didorong oleh semua halangan ini dengan e-Commerce, pandemi, dan persaingan di semua pemain, ada banyak ruang bagi perusahaan logistik untuk memenuhi permintaan tersebut. Seperti yang saya sebutkan, lantaran kompleksitas geografis Indonesia (setidaknya untuk saat ini), tidak akan akan ada pemain yang dominan mengambil semua kue. Jika berkaca dari pasar yang lebih matang, seperti China, masih ada beberapa pemain yang dominan di seluruh ekosistem.
Jadi, saya proyeksi mungkin sekitar tiga hingga lima pemain akan mencapai skala yang sangat besar. Semua pemain harus memanfaatkan teknologi dalam beberapa cara atau bentuk. Namun, kita juga akan terus melihat ekor yang lebih panjang untuk masa depan skala menengah pada perusahaan yang jauh lebih efisien dengan basis biaya yang lebih rendah, dan mampu melakukan rute yang jarang digunakan. Tidak hanya itu, akan ada model alternatif seperti agregator yang akan membawa semua pasokan secara online untuk menciptakan logistik yang lebih efisien untuk meningkatkan permintaan.
ALAN 22:06
Masuk akal. Adrian, karier Anda telah menjangkau sejumlah geografi, termasuk China. Asumsi, pembelajaran, dan pengalaman apa yang Anda temukan dari China, dan siap Anda bawa ke Indonesia?

ADRIAN LI 22:22
Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari China. Pertama, ketika membangun bisnis besar yang mendukung teknologi, terutama di pasar negara berkembang seperti Indonesia, saya sangat menghargai pentingnya pasar yang besar dan homogen. Ini alasan mengapa kami fokus ke Indonesia, bukan ASEAN atau Asia Tenggara, melainkan benar-benar Indonesia. Ini merupakan cara kami percaya jika para pendiri pada akhirnya dapat membangun bisnis terbesar jika mereka mau di seluruh wilayah, tetapi pertama-tama memulai di pasar terbesar. 
Kedua, seperti yang telah kita lihat di China, lokalisasi sangat penting. Meskipun kami mengidentifikasi gangguan, seperti model bisnis disruptif yang bisa disaksikan di pasar India atau China, hal itu tidak semudah melakukan copy-paste sederhana. Anda harus melihat seperti apa kondisi pasar lokal, dan memastikan jika eksekusi lokal yang dilakukan perusahaan dalam mengembangkan bisnis telah memenuhi kebutuhan konsumen dan perusahaan. Sebagai contoh, Anda dapat melihat beberapa perbedaan yang sangat jelas antara Gojek dan Uber mengenai bagaimana kedua bisnis ini berevolusi.
ALAN 23:23
Menarik. Di sisi lain, bagaimana perbandingan China-Indonesia ini justru bisa membawa investor pada kesimpulan yang salah?
ADRIAN LI 23:32
Pertama-tama, mari melihat terlebih dahulu persaingan yang terjadi. Di China, ada sejumlah batasan bagi pemain global untuk menangani beberapa area, seperti pencarian dan media sosial. Oleh sebab itu, muncul perusahaan-perusahaan di bidang tersebut, seperti Baidu dan Tencent di China.
Namun di Indonesia, hal ini sangat sulit karena jenis pasar yang terbuka. Facebook dan TikTok sebagai pemain global berhasil mengambil pangsa pasar dominan di area ini. Dari sudut pandang persaingan lokal, persaingan di China begitu ketat. 
Saya ingat ketika saya berada di China, ada ribuan perusahaan bergaya Groupon yang muncul sekaligus. Ketika saya datang ke Indonesia dan melihat apa yang terjadi di sini, hampir tidak ada perusahaan yang seperti itu. Jadi, ada perbedaan besar dalam hal persaingan global dan lokal antara China dengan Indonesia. 
Hal kedua adalah peran pemerintah. Saya yakin pemerintah Indonesia telah bekerja dengan sangat inklusif dan proaktif untuk mendukung pertumbuhan ekonomi digital. Mereka menyadari hal itu penting, dan telah menempatkan kebijakan dan keterlibatan penting dengan para pemain digital untuk membuat peraturan yang dapat mendukung ekonomi digital. Anda dapat melihat ini dengan sangat jelas dalam hal pendekatan pemerintah Indonesia terhadap regulasi di bidang FinTech dibandingkan dengan apa yang terjadi di China.
ALAN 24:57
Sekarang, Anda terlibat dalam sejumlah peran mentorship. Di mana Anda paling banyak terlibat dan mengapa?
ADRIAN LI 25:05
Saya telah terlibat dalam sejumlah organisasi untuk mendukung ekosistem yang lebih luas. Termasuk, Antler, Endeavour, Entrepreneurs 'Organization. Namun, fokus utama saya adalah pada portofolio kami sendiri. Jadi, saat berinvestasi di sebuah perusahaan, peran kami bukan hanya sebagai investor. Kami juga pelatih dan mentor untuk membantu para pendiri kami. Saya kerap terlibat dalam portofolio AC Ventures sendiri, yang sekarang mencakup cukup banyak perusahaan.
ALAN 25:34
Dimengerti. Adrian, bisakah Anda ceritakan mengenai CNYTrust?
ADRIAN LI 25:39
Pasti. 
CNYTrust adalah organisasi yang saya mulai di tahun terakhir saya ketika menempuh pendidikan di Cambridge. Seluruh gagasan seputar CNYTrust adalah bagaimana kami dapat memobilisasi siswa di universitas, mengatur acara untuk mengumpulkan uang, dan menyumbangkannya kepada anak-anak yang membutuhkan pendidikan di Tiongkok. 
Hal ini berhubungan dengan gagasan dan keyakinan bahwa pendidikan adalah salah satu hal utama yang dapat kita lakukan untuk membantu memberdayakan masyarakat dengan masa depan yang lebih baik. 
Saat ini, peran saya sebagai Ketua tidak terlalu aktif. Organisasi ini didukung oleh rekan-rekan di Cambridge dan China untuk memfasilitasi pengumpulan uang dari siswa melalui sejumlah acara untuk kemudian disumbangkan guna mendukung pendidikan di China.
ALAN 26:25
Alasan yang sangat mengagumkan Adrian. Baik untuk mendapatkan akun yang begitu luas sebagai jalan Anda untuk menjadi pemodal ventura terkemuka di Indonesia, dan bagaimana Anda dan tim Anda menonjol dalam filosofi dan pendekatan investasi dasar Anda. Wawasan super bijaksana. Terima kasih sekali lagi, Adrian.
ADRIAN LI 26:41
Terima kasih banyak Alan telah menerima saya di acara ini. Dan terima kasih juga untuk podcast ini telah menceritakan kisah kepada dunia tentang semua kemajuan menarik yang terjadi di ekosistem digital Indonesia.
ALAN 26:56
Terima kasih atas masukannya. Ada banyak hal yang masih harus dikerjakan untuk itu. Kami berharap, para pendengar menikmati episode hari ini. Seperti biasa, mohon memberikan masukan apa pun yang Anda miliki tentang Indo Tekno Podcast kepada kami. Terima kasih telah mendengarkan. Sampai jumpa lagi!